๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jakarta
“Kamu kembali lagi tidak bilang-bilang?”
Aku terkejut, suara itu menembus keheningan kamarku. Aku bangkit, untuk duduk, keringatku menetes dari pelipis, turun di pipiku dan tetesannya jatuh membasahi baju kaosku.
“Aku sudah bilang tunggu, kenapa kamu pergi sendiri?” tanya dia padaku, dengan suara berat khasnya yang membuatku gemetaran. Dia mengenakan stelan kemeja hitam dan jeans itu lagi.
‘Jangan datang’, mulutku ingin mengatakannya tapi tak mampu. Rahangku bahkan tak bisa kugerakan. Membeku seperti melihat hantu.
“Aku sudah minta maaf…,” katanya, berjalan selangkah ke depanku.
‘Jangan mendekat’, aku belum bisa mengeluarkan suara dari mulutku yang menganga.
Sekuat tenaga aku memaksakan diri menahan kengerian yang muncul ketika kasurku bergerak saat dia menyentuhnya. Mataku terpejam erat dan begitu aku membukanya, wajahku tertutup bantal.
Aku hanya tertidur beberapa jam.
Hanya mimpi. Selalu mimpi yang sama.
Aku menggeliat setelah menurunkan ke dua kakiku dari tempat tidur. Menghadap jendela yang tertutup. Pantas aku merasa kepanasan karena kipasnya mati. Aku memeriksa benda itu. Ternyata rusak. Aku kesal, dan menendangnya sebelum masuk ke kamar mandi untuk membasahi tubuhku yang gerah.
Handphone-ku berbunyi aku tahu, tapi aku mengabaikannya dengan berdiri di bawah siraman hujan lebat dari shower di atas kepalaku.
Waktu, melambatlah…, aku ingin berada lebih lama di sini…
Suara ketukan pintu terdengar samar-samar antara gemuruh air keran yang teratur. Aku memutar gagangnya dan suara Rana yang memanggil terdengar jelas sekarang.
“Apa ?” aku mengeluh karena langkahku tidak bisa lebih cepat.
“Ada tamu!” seru dia sedikit gusar.
---
“Hello, Ayu!” Emmy melambaikan tangannya di depan pintu dan Isan berdiri di belakangnya dengan wajah canggung.
Dan tidak jauh dari mereka, Peter tengah memperhatikan sekitarnya –bunga-bunga yang di tanam Ibu di tepi pekarangan rumah.
Aku menarik nafas. “Kenapa kalian kemari?” tanyaku agak gusar. Dua hari tidak melihat mereka dan lembaran kuesioner itu memberi obat penenang yang mujarab, tapi kedatangan mereka ke rumah mendadak begini, membuat efeknya hilang seketika.
Emmy menyikut Isan untuk mengatakan sesuatu padaku. Tapi, Isan tampak ragu-ragu.
“Ke… kemarin…,” Isan memulai. “Kemarin Peter marah-marah…”
“Dia bilang pekerjaan kami tidak selesai karena kebanyakan main…,” kata Emmy, melirik Peter yang sedang memandangi kami. “Sampai Isan menangis…”
Isan menyikutnya. “Emmy!” bibirnya sewot .
Mereka jadi terlihat konyol.
“Terus?” tanyaku menunggu dan membiarkan mereka tetap berdiri di pintu.
“Besok kita mau ke Kabupaten Agam…,” kata Emmy. “Di kantor pasti tidak ada orang…”
Jadi mereka hanya memintaku menjadi penghuni kantor? Yang benar saja.
Peter menghampiri, setelah sepertinya cukup mendengarkan kami tanpa mengerti apa-apa. “You’ve signed the contract, remember?”[1], dia mengingatkanku. “ I can forgive you for shouting at me back then as your friend. But as your boss, I can take you back to sit there and accomplish your job”[2]
Dia membuatku tidak berkutik tanpa basa basi. Aku ingat, untuk itulah dia dibayar mahal. Dan aku hanya bisa menghela nafas sambil melihat Emmy dan Isan kembali cengengesan.
Sialan…
---
Setelah perdebatan panjang, aku kembali ke tempat-tempat yang hancur –idenya Peter supaya aku tahu kalau pekerjaan Emmy dan Isan di lapangan juga tidak mudah. Walaupun aku pernah tahu rasanya terjebak berhari-hari karena hujan di daerah bukit bekas longsoran tanpa listrik dan tempat berteduh yang layak. Langit kelam dan rembesan air lumpur mengotori pakaian. Setiap hari bergaul dengan orang-orang asing dan ibu-ibu kampung yang logatnya terdengar lucu, mengeluh tentang bantuan yang tersendat dan penyakit. Tapi, dulu, aku mungkin tidak benar-benar peduli pada semua itu. Aku hanya mencari tempat di mana Alan tidak pernah ada…
Namun, akhirnya aku harus mengakui, bahwa aku terlalu merindukannya. Dan sempat terpikir olehku untuk memberitahunya, bahwa aku masih hidup. Hanya saja… mungkin dia sudah punya orang lain di sampingnya saat ini. Aku mengerti jika memang harus seperti itu.
Dua hari mengurung diri di rumah, seakan aku ingin mati. Sudah lama aku tidak menangisinya, dan tetesan yang pertama sejak hampir setahun yang lalu terasa begitu pedih di pipiku. Saat memandangi satu-satunya gambar yang kutemukan di reruntuhan dan masih terus kusimpan dan kupeluk ketika mengenangnya, bayangannya tidak pernah meninggalkanku. Seolah masih memelukku.
“Siapa tuh?” wajah Emmy tiba-tiba berada di belakangku dan tangannya dengan cepat menyambar fotoku.
“Emmy?!” aku syok, sontak aku merampasnya kembali tapi Emmy sudah berlari menjauh dariku sambil mengangkat foto itu tinggi-tinggi.
“Isan! Isan!” suaranya yang jenaka memancing perhatian orang-orang yang tengah bekerja membangun rumah sementara mereka. Ia tampak girang saat Isan muncul entah dari mana. “Ternyata Ayu punya pacar!”
“Mana?!” Isan tampak bersemangat dan Emmy memperlihatkan fotonya.
“Hei!” seruku menyusul mereka. Tapi, seperti pengantar pesan bergilir, Isan membawa foto itu berlari dan dia mulai memanggil seseorang. “Peter! Look this out!”[3]
Peter yang sedang bicara dengan seseorang lain mengalihkan perhatiannya pada Isan yang berlari dan aku yang menyusul di belakangnya.
Terlambat, foto itu berada di tangan Peter dan ia melihatnya!
Entah! Setelah mereka membuatku menyerah pada pekerjaanku, sekarang mereka juga membuatku malu. Tidak!
“Give it back!”[4], kataku, terengah-engah di depannya.
Peter tersenyum, memandang foto itu lalu aku yang terlihat malu dan konyol.
“Give it back, Peter…”[5], pintaku, nada suaraku melemah. Mengulurkan tanganku sambil berharap bahwa dia sudah terlalu tua untuk bertingkah kekanakan seperti Emmy dan Isan –untuk menggangguku.
“Hei, Bro! Get this!”[6], serunya dan ia melemparkan fotonya ke arah Isan. Bodohnya dia yang mengira benda itu seperti soda kalengan.
Isan tidak bisa menangkapnya karena kertas terbang mengikuti arah angin. Dan sial bagiku, karena foto itu sekarang jatuh dalam genangan air lumpur di tanah –sisa-sisa dari hujan deras semalam.
Aku mengambil foto itu dengan cepat. Tapi, detik-detik itu terlalu cepat bagiku. Foto itu tenggelam di air lumpur! Begitu aku mengeluarkannya, lembaran itu terlihat seperti lukisan tersiram hujan.
Aku menatap Peter kesal. “You ruin it!”[7], teriakku, separuh menangis, tidak sadar bahwa ia cukup menyesal melakukannya.
---
“Pulang?” Isan mengernyit saat aku memasukan barang-barangku ke dalam ransel.
“Masa merajuk lagi ?” Emmy ikut mengernyit. Mereka berdiri membuat barisan seperti anak kecil yang menunggu hukuman.
“Masih banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan,” kataku, sibuk membereskan barang-barangku.
“Tapi…,” Isan ingin mengucapkan sesuatu.
“Kamu mau pulang sama siapa?” tanya Emmy. “Ini daerah terpencil”
“Aku bisa sendiri!” jawabku menatapnya tegas.
“Serius mau pulang sendiri? Jalannya berlumpur, tidak bisa dilewati motor. Lagipula juga mendung, sebentar lagi hujan. Kamu tidak akan bisa keluar dari sini sendirian”
“Oh ya?” cetusku sambil meraih ranselku. “Aku sudah sering bolak balik ke sini, kalau kalian mau tahu!”
“Ayu…,” Isan memanggilku dengan wajah merengut.
“Kalian bisa diam?!” celetukku sambil melangkah buru-buru, melewati pintu dan… hujan deras menyambutku selangkah aku keluar dari rumah sementara.
Kulepaskan ranselku dari pundak, dan tanganku menggenggam talinya dengan lelah dan putus asa. Menghadap langit hitam yang tampak memaksaku kembali ke dalam. Kubalikan badanku dan kedua orang itu menatapku dengan senyum aneh.
Ya Tuhan… aku sudah tidak tahan!
“Kamu marah bukan karena fotonya rusak, tapi karena orang yang ada di foto itu!” kata Emmy melompat ke atas matras tempat tidurnya.
Aku melempar ranselku ke sudut dinding kayu yang tak dapat menahan kerasnya gemuruh hujan di luar.
“Kami hanya tidak menyangka,” katanya lagi padaku. “Karena kamu dekat dengan Radhi ”
Aku menghela nafas. Memandangi sekitarku yang membosankan. Kami baru bisa pergi besok pagi, itupun kalau hujannya berhenti. Bayangkan saja, untuk menuju ke sini saja kami harus berjalan kaki lima kilometer menuruni bukit, karena jalanan berlumpur tidak bisa dilewati motor. Mereka harus menarik motornya untuk bisa melewati lumpur yang parah sekali.
“Tapi, dia ke mana?” tanya Isan yang berdiri di jendela yang tertutup karena hembusan angin. Ia membukanya kembali agar cahaya menerangi setiap sudut walaupun remang-remang –karena di sini tidak ada listrik.
“Yang jelas tidak di sini…,” jawabku. “Kita tidak pernah bertemu lagi sejak gempa.”
“Kenapa?” tanya Emmy.
Aku tersenyum. “Mungkin… dia masih mengira kalau aku sudah mati,” kataku.
“Tidak mungkin,” bantah Emmy, dan aku menatapnya terpana. “Itu tidak mungkin berlangsung selama ini.”
“Dia tidak pernah mencariku,” kataku tertawa sendiri.
“Memangapa alasannya tidak mau mencari kamu?” tanya Isan.
“Dia pasti mencari kamu sampai bertemu. Selama keluarga kamu masih ada di sana, memangnya ke mana lagi dia bisa memastikan kalau kamu sudah mati?” komentar Emmy.
“Dengar ya kalian…,” nada suaraku cukup diplomatis. “Dia itu punya orang lain. Maksudku… dia memang seperti itu”
Emmy dan Isan terdiam, tapi membuatku teringat akan sesuatu yang awalnya tidak pernah terpikir olehku. Aku tidak pernah bertanya pada keluargaku, adakah selama mereka mengira aku tidak selamat, Alan datang mencariku? Jika iya, orang tuaku memang beralasan untuk tidak mengatakannya padaku karena mereka cukup tidak menyukai Alan.
---
“Ayu, bangun….”
Aku mendengar suara samar-samar yang memanggilku seperti uluran tangan tak terlihat yang menarikku dari sesuatu yang sedang kupeluk. Meruntuhkan dinding pelindung yang tadi membuatku merasa hangat dan nyaman dari hujan yang bergemuruh.
Kubuka mataku perlahan, menahan beratnya godaan untuk terus terbuai di dalam tabir itu. Dan, menemukan seseorang duduk di dekatku, dimensi lain yang menawanku seketika menjadi semu. Terbangun darinya terasa mengecewakan begitu aku duduk seketika untuk mengamatinya lebih jelas. Ternyata hanya aku sendiri yang tertidur. Tempat di mana tadi ia ada mempermainkan kerinduanku hanyalah dinding kayu yang kosong dibiasi cahaya oranye yang menyerang lewat pintu yang terbuka. Pintu yang membiarkan angin dingin menyebar ke dalam, namun cahaya oranye itu seperti menawarkan kehangatan bersamaan dengan tawa dan nyanyian.
‘cause I’m leaving on a jet plane,
I don’t know when I’ll be back again,
Oh, babe, I hate to go…[8]
Peter menyanyi.
Aku mengintip malu-malu dari balik pintu. Mereka terlihat senang seolah mereka datang ke sini untuk berkemah. Mengelilingi api unggun bersama-sama. Orang-orang lokal dan asing menyatu dalam tawa yang sama. Emmy main gitar dan Isan mendapat giliran menyanyi.
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak 'kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Aku baru tahu bahwa dia bisa menyanyikannya dengan sempurna. Aku merasa sangat terhibur walaupun aku hanya berdiri di pintu, sangat lama untuk memikirkan semuanya kembali. Jika dia tidak pernah datang mencariku, akulah yang akan datang ke sana menemukannya. Untuk mencari jawaban dari pertanyaanku selama ini, masihkah aku menjadi bagian terbaik dari hidupnya seperti yang pernah dia ucapkan?
---
Kami meninggalkan kampung itu setelah empat hari terjebak. Meninggalkan musin hujan yang penuh petualangan, musim kering mendatangkan matahari yang begitu teriknya. Mengantarkan kami pada Hari Palang Merah Sedunia yang akan dirayakan oleh seluruh relawan setiap tanggal 8 Mei. Maka kami mulai sibuk menyiapkan semuanya. Susunan acara, makanan, dan perlengkapan penting lainnya. Semua orang kebagian tugas sehingga tidak ada seorangpun yang menganggur dan santai-santai –termasuk Emmy.
Aku memesan banyak menu untuk makan malam dan snack. Isan mengurus sound system dan dekorasi panggung untuk acara pembukaan dan hiburan. Sedangkan Emmy menyewa kursi dan meja lengkap dengan prasmanannya. Aku tidak pernah tahu bahwa mereka akan membuat perayaan itu menjadi begitu spektakuler. Butuh seminggu untuk merampungkannya.
Malam itu, semua relawan dari berbagi daerah datang dan mengambil tempat di kursi-kursi yang berjejer di depan panggung. Atau di sudut di mana mereka bisa berkelompok membahas sesuatu dan mencicipi makanan ringan –kue-kue tradisional. Panggung sudah dihias dengan atribut Palang Merah mulai dari spanduk dan banner. Pemain organ tunggal mengecek sound system mereka. Dua speaker besar berada di dekat panggung. Dan sebuah layar proyektor terbentang menayangkan dokumentasi yang kita miliki sejak bencana terjadi hingga hari ini, diiringi musik pelan dengan lagu background You are not Alone-nya Michael Jackson.
Aku memegang kamera saat acaranya dimulai. Isan naik panggung bersama partner-nya Lovi –seorang wanita cantik penyiar berita di TV lokal yang kebetulan istri dari salah seorang staf. Mereka membawakan acara pembukaan yang lumayan bagus walaupun Isan kelihatan agak gugup berdiri di depan sana. Emmy dengan handycam di tangannya merekam dari dekat saat-saat Bang Firman maju ke atas panggung memberi sambutan.
Di ujung kalimatnya, riuh tepuk tangan terdengar dari setiap undangan yang hadir. Isan dan Lovi memanggil Lance Bartove, perwakilan IFRC. Ia naik ke panggung bersama penerjemahnya –Uci yang berdiri di sampingnya mengartikan setiap kalimat yang ia ucapkan teratur. Tidak banyak yang ia sampaikan, ia hanya ingin kami merayakannya dengan semangat baru.
Beberapa nyanyian mengiringi acara makan malam yang dibuka bersama-sama. Hingga acara puncak saat Emmy akhirnya mengambil tempatnya di panggung. Ia membawa semua orang menari, mengikuti lagu Kopi Dangdut –ternyata dia penggemar dangdut juga.
Api asmara yang dulu pernah membara,
Semakin hangat bagaikan ciuman yang pertama,
Detak jantungku seakan ikut irama,
karna terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Irama kopi dangdut yang ceria,
Menyengat hati menjadi gairah,
membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu.
Emmy turun dari panggung dengan gaya centil mengajak setiap orang yang ia hampiri ikut bergoyang seperti gayanya. Aku tidak pernah tahu bahwa dia juga bisa lebih gila dan tak tahu malu dari yang pernah kulihat. Tapi, kali ini tingkahnya itu membuatku tidak bisa berhenti tertawa sampai tidak sadar semua orang –umumnya laki-laki, sudah membentuk lingkaran dan mereka menari sambil berputar mengikuti lagu. Satu persatu ditarik masuk ke dalam lingkaran, termasuk aku.
Ya, Peter meraih tanganku dan kameraku nyaris terlepas dari genggamanku karena terkejut.
“Come on!”[9] serunya dan bergoyang ala barat di depanku. Tubuhnya meliuk-liuk seperti robot –padahal itu bukan gerakan yang cocok untuk dangdut, tapi dia membuat semua orang tertawa.
Emmy ‘menggerayang’ di sekitarnya, menggerak-gerakan pinggulnya seirama dengan musik yang menyeruak dari speaker. Ia berputar dan juga bertingkah lucu hingga membuatku tertawa menjadi-jadi.
Peter meraih tanganku, mengajakku berputar-putar dan semua orang memperhatikan. Aku tidak mendengar suara selain dari suara Emmy dan sorak sorai orang-orang yang menari-nari. Aku juga bahkan tidak sadar bahwa sekarang, di tengah-tengah lingkaran hanya ada aku dan orang asing ini.
Sejenak, aku tertegun tak bergerak saat semua orang bahkan tidak menyadari bahwa aku merasa terganggu oleh sesuatu. Orang-orang bergerak memutar menyamarkan sosok seorang lelaki yang berdiri di seberang jalan.
Aku melihatnya lagi.
Dia berdiri di sana, memandang ke arahku.
Lingkaran tarian memecah saat aku ingin keluar darinya. Aku menyingkirkan beberapa orang di depanku agar bisa melewatinya. Tapi, begitu aku dapat melihatnya dengan jelas, sekali lagi, kusadari bahwa Alan yang kulihat hanya proyeksi dari rasa rinduku selama ini. Seperti biasanya.
Di akhir lagu, sorak terakhir menggema bersamaan dengan tepuk tangan. Aku tersentak dan menoleh ke belakang. Satu persatu dari mereka mulai menyebar dan Peter masih berdiri –dia tengah melihat ke arahku.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi kecewaku ketika itu, namun itu membuatnya menghampiriku. Tiba-tiba saja ada hal lain yang terpikir olehku saat itu juga.
---
Bang Firman akhirnya memberi kami liburan yang lumayan lama. Saat Peter kembali ke negaranya untuk berlibur, Emmy dan Isan mengajakku ke pantai.
Ya, sudah lama aku tidak melihat pantai. Dan, melihat pantai hanya membuatnya kembali. Tapi, mereka membuatku sibuk. Kita mengambang bersama-sama, menahan terjangan ombak, lalu tertawa. Saling berusaha menenggelamkan dan menghindar.
Daratan yang seperti ribuan kilometer jauhnya, mengingatkan aku pada perasaan ketika aku berenang sejauh yang aku bisa untuk lari darinya. Nyatanya aku tidak pernah sanggup untuk lari. Karena ketika pada akhirnya aku merasa rindu untuk kembali ke daratan, cintaku yang terlalu besar tidak bica hancur bersama kota yang porak poranda oleh bencana. Sekalipun terpisah sangat jauh dan lama, cinta itu tidak bisa hilang. Tidak akan pernah hilang.
Tapi, saat itu masa-masa sulit rasanya tidak separah saat aku tidak pernah punya teman. Menurutmu apa kenang-kenangan yang paling tidak bisa kamu lupakan khusus pada bulan Juni-Juli 2010?
Maukah kamu mengingatnya untukku?
Saat itu setiap cafรฉ dan tempat nongkrong lainnya menyiapkan acara nonton bersama. Di mana penggemar-penggemar fanatik sepak bola akan berkumpul dan bersumpah serapah nantinya sepanjang pertandingan diputar. Selama sebulan mata dunia tersihir oleh permainan tim yang datang dari penjuru dunia. Lagu Waka Waka Shakira dan Wavin Flag Keenan terdengar di hampir setiap lapak-lapak kaset bajakan. Kurasa lagu-lagu itu juga laris di situs download MP3. Penjual topi-topi aneh dan atribut khas piala dunia bisa ditemukan hampir di setiap tempat ramai. Rasanya jika kita tidak punya satu pasti ketinggalan. Aku, Isan dan Emmy membeli topi dengan model yang berbeda untuk dipakai saat acara Nonton Bareng final nanti.
Aku bukan penggemar bola. Aku bahkan tidak mengerti aturan permainannya sama sekali. Tapi, aku menyukai taruhannya. Tentu saja, apa lagi yang menarik dari pertandingan itu bagi seorang yang tidak mengerti sepak bola?
sebelas Juli 2010, Belanda dan Spanyol melaju ke final. Bisa kubayangkan betapa senangnya Peter menonton pertandingan itu bersama orang-orang sebangsanya di sana –itu pasti liburan yang menyenangkan baginya pada momen yang tepat. Walaupun akhirnya Belanda harus kalah, begitu ia kembali ke Padang, ia masih terlihat sumringah. Menyapa semua orang dan dia memberikan pelukan besar padaku.
“Hey! You look good!”[10] katanya menepuk-nepuk bahuku. Ia kelihatan girang dengan kaos oranye yang dikenakannya –warna baju tim Belanda saat Piala Dunia. sepertinya dia senang-senang saja walaupun hanya jadi runner up. Dan ia ingin memperlihatkan kebanggaan menjadi orang Belanda di tengah-tengah kami lewat tawa lebarnya.
Aku tertawa dari kursiku saat ia membuka kopernya di atas meja.
Peter mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia punya bungkusan plastik transparan yang isinya topi yang berwarna oranye juga. Ia memakai topi itu dan mulai bergaya untuk memamerkannya. Bahkan ia meminta Isan untuk memotretnya.
Alex menghampirinya “Hey, Man!” sapanya dan mereka berpelukan.
Semua orang di sana tertawa karena Peter memang gila saat ia mengeluarkan bendera-bendera oranye berlambang tim Belanda dan ia menggantungnya pada langit-langit di atas mejanya –menadai bahwa itu adalah areanya.
“Hey, Ayu!” panggilnya tiba-tiba dengan tawa lepas, dan menunjuk ke arahku. “I like your sticky notes!”[11]
Aku mengernyit. Kupandangi lembaran-lembaran kecil yang menempel di komputerku. Lalu tertawa sendiri. Sticky notes-ku berwarna oranye juga. Ada-ada saja.
---
Jakarta, Agustus 2010…
Jam 14.20, aku turun dari pesawat dengan perasaan gembira setelah 1 jam 50 menit yang terasa mendebarkan, membayangkan bagaimana nanti. Sebenarnya aku bingung, aku tengah menyusun kata-kata yang pantas untuknya tapi aku meragukan bahwa apa yang akan terjadi sudah ada dalam skema di kepalaku, dari hal yang bagus hingga terburuk sekalipun.
Rasanya aku tidak siap untuk mengahadapi keduanya. Langkahku yang ragu saat turun dari taxi yang membawaku dari bandara Soekarno-Hatta, sudah mengirimkan sinyal-sinyal kegagalan. Aku bahkan tidak tahu apakah Alan masih berada di tempat yang kutuju.
Terakhir dari penjelasannya soal Jakarta, seingatku dia menyebutkan sebuah nama perusahaan asing yang bergerak di bidang farmasi. Katanya dari sana ia akan memulai karirnya dari awal lagi. Aku menghargainya dengan membiarkannya pergi walau aku tak yakin dia akan kembali seperti janjinya. Tapi, kutegaskan sekali lagi, aku hanya ingin bertemu, bukannya memberi kejutan –orang yang dia kira sudah mati ternyata masih hidup.
Memang tidak sulit menemukan perusahaan itu. Aku punya informan terpercaya di internet bernama google. Dia menuntunku hingga berada di sini. Sebuah lobi gedung tinggi yang tak dapat kuhitung entah berapa lantai tingginya. Namun membuatku terpana pada langit-langitnya yang luas dan dikelilingi kaca-kaca tak terlihat.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” resepsionis menegurku tapi mataku masih memandangi sekitarku.
Hari itu, 12 Agustus. Hari ulang tahun Alan yang ke -31. Aku masih berdiri di depan meja resepsionis ketika dia baru saja keluar dari lift.
Aku tidak pernah melihatnya mengenakan setelan jas rapi dan kelihatan mahal, berjalan dengan angkuh. Dia selalu datang padaku dengan setelan kemeja dan jeans serta rambut yang acak-acakan. Jika aku memanggilnya Alan, itu akan sangat memalukan baginya di saat semua orang menyapanya dengan sebutan ‘Pak Dennis’.
Resepsionis bilang harusnya aku membuat janji lebih dulu jika ingin bertemu. Karena orang yang bernama Dennis itu benar-benar sangat sibuk dan tidak sembarang orang bisa menemuinya. Tapi, karena aku memaksa resepsionis itu pun menelpon seseorang untuk bertanya. Ia mungkin tidak melihat bahwa Pak Dennis yang dicarinya sudah melangkah keluar bersama seseorang.
Tapi, aku menyaksikan dari kejauhan seorang wanita berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi menggandeng lengannya. Mereka melangkah beriringan dam aku pun mulai menyeret langkahku mengikuti kemana langkah mereka pergi.
Di luar, mereka masuk ke mobil yang sama –mobil sedan Eropa berwarna hitam dan mengkilat. Sekuriti membukakan pintu untuk perempuan yang bersamanya setelah Dennis duduk di belakang setir. Ia menyalakan mesin mobil, dan suara mesin yang melaju hanya meninggalkan deru pelan yang kemudian menghilang.
Aku memandang diriku yang terpantul pada pintu kaca mengkilat. Aku mengenakan celana jeans, baju kaos dan kemeja yang tidak dikancing serta sepatu kets. Meskipun ini penampilan terbaikku, aku hanya gadis lusuh yang tidak bisa membuat orang lain terkesan.
Kupikir aku salah mengenali orang. Wajahnya boleh sama, tapi Alan dan Dennis itu benar-benar dua orang yang berbeda –seperti yang Tyas katakan. Atau… aku hanya tidak tahu bahwa Alan memang seperti itu –seperti yang Melani katakan padaku jauh sebelum itu. Mana mungkin seseorang yang biasa hidup di Jakarta dengan mengendarai mobil mewah ke mana-mana, mau saja berkeliling dengan gadis lusuh naik angkutan umum?
Aku menyaksikan mobil itu menghilang. Lalu melupakan, itu terakhir kalinya aku melihat Alan. Aku juga tidak pernah mendengar suaranya lagi. Dia benar-benar sudah pergi. Sekarang aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah menoleh ke belakang.
ooOoo
[1] Kamu sudah menandatangani kontrak, ingat?
[2] Aku bisa memaafkanmu berteriak padaku waktu itu sebagai temanmu. Tapi, sebagai bosmu, aku bisa menarikmu kembali untuk duduk di sana dan menyelesaikan pekerjaanmu.
[3] Peter! Lihat Ini!
[4] Kembalikan!
[5] Kembalikan, Peter…
[6] Hei, Bro! Tangkap ini!
[7] Kamu merusaknya!
[8] Karena aku akan pergi dengan pesawat jet, aku tak tahu kapan aku akan kembali lagi, Oh, sayang, aku benci harus pergi…
[9] Ayo!
[10] Hei! Kamu kelihatan sehat!
[11] Aku menyukai sticky notes-mu!
Komentar
0 comments