๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hilang
Padang, Maret 2010…
“Penipu,” celetuk Radhi, dia menolak kepalaku dengan ujung jarinya dan aku setengah merengut.
Bukannya itu kurang ajar sekali?
Aku merapikan rambutku yang sudah lebih dulu acak-acakan dalam perjalanan pulang. “Sakit, Radhi!” gerutuku, menyikut lengannya sambil menjauh selangkah.
“Kamu durhaka !” celetuknya lagi, kali ini menjitak kepalaku dengan siku-siku jarinya yang kurus.
“Aduh!” keluhku, memukul lengannya dan dia malah tertawa, lalu melakukannya lagi.
Radhi menarik rambutku, dan aku mendorong tubuhnya dengan wajah merengut.
“Radhi!” seorang gadis menghampiri kami yang sedang bercanda main pukul memukul.
Aku berhenti tertawa, karena perhatian Radhi seketika teralihkan. Dia menghampiri gadis itu, tidak lagi menghiraukan aku yang terpana, karena gadis itu manis sekali.
Rambutnya panjang dan ikal. Bentuk wajah bulat dan imut, dengan mata yang indah. Kulit putih dan tubuh mungil, sudah ada dalam satu paket cantik yang menggemaskan. Hingga Radhi yang menemukan dirinya dihampiri, terlihat begitu senang.
“Erin?” dia menyebut nama gadis itu.
Gadis itu juga terlihat gembira. Saat Radhi, mengusap puncak kepalanya, ia seperti kucing manja yang malu-malu.
Beberapa langkah yang aku ambil untuk mundur dari mereka, terasa sedikit menyesakan. Radhi hanya teman, tapi mungkin dia berarti lebih dari itu, saat di tenda pengungsian kami seperti kucing dan anjing yang tidak pernah sepaham. Tapi, kembali ke Padang, kami akan menjadi dua orang yang sebenarnya tidak pernah berteman. Radhi punya pacar, aku juga punya.
Daftar orang hilang hampir usang di dalam stopmap. Aku mendengar cerita-cerita legendaris tentang keajaiban Tuhan dan penantian orang-orang yang ditinggalkan tanpa kabar. Ceritaku juga adalah salah satu cerita legendaris itu.
“Ya ampun, Ayu…,” ibuku menangis ketika melihatku lagi di antara orang-orang yang memadati kantor PMI setiap harinya.
Semua kerabat menyambutku dengan gembira. Mereka membawaku pulang setelah hampir lima bulan mereka berpikir aku sudah tiada. Tidak ada yang berubah dengan tempat tinggalku. Rumah masih berdiri kokoh. Ajaibnya di lingkungan sekitar rumah tidak ada kerusakan parah sampai kehilangan nyawa.
Namun aku belum mengakhiri petualanganku. Aku terlalu mencintai dunia luar yang telah membuka mataku lebar-lebar hanya untuk bisa meninggalkan dia yang sudah meninggalkanku. Maka kubiarkan Alan menganggapku tiada. Dia tidak akan pernah menemukanku sekalipun dia mungkin akan mencariku…
---
Padang Pariaman, April 2010…
Tyas meletakan tumpukan kertas di atas meja dan aku sedang menulis.
Aku cukup terkejut karena tiba-tiba dia datang dengan sikap yang tidak bersahabat itu lagi. Awalnya aku mencoba untuk fokus dengan apa yang sudah lama kukerjakan sejak sebelum dia datang ke posko trauma healing dan aku menjadi lebih sering berurusan dengannya.
Tapi, aku tidak bisa marah. Posisinya jauh di atasku karena dia seorang dokter. Dokter yang disegani dan sosoknya sangat dielu-elukan terlebih karena dia cantik dan menarik. Jika berdiri di sampingnya, aku lebih terlihat seperti pesuruh dan dia menunjukan itu dengan memberiku banyak pekerjaan.
Hanya saja, kalau aku bilang dia jahat, juga tidak seburuk itu. Terkadang, aku merasa dia adalah Sania jilid 2 namun itu cukup berelebihan karena kenyataannya dia tidak pernah menyalahkanku atas apa yang terjadi padanya berkat Alan, secara kasar.
“Kamu sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Dennis sejak dia kembali ke Jakarta?” dia menanyaiku dan kita memulai obrolan yang alot lagi.
Rasa ingin tahuku tentang masa lalu Alan sudah tidak sebesar saat sebelum dia memohon padaku di tengah hujan lebat. Sekarang, Tyas membangkitkan keingintahuan itu, karena Alan pernah mengaku bahwa dia sudah tidak mencintai perempuan ini lagi. Dunia ini memang sempit, sesempit pemikiranku yang merasa bahwa dia akan membalaskan sakit hatinya melalui pekerjaanku.
“Tidak ada,” jawabku dengan tenang.
“Aku berani taruhan kalau dia juga pasti berpikir kalau kamu sudah mati,” kata dia. “Dan…dia sudah pasti mencari pengganti”
“Iya, Dokter benar soal itu,” jawabku.
“Apa kamu sama sekali tidak punya niat ke Jakarta buat bertemu dia?”
“Sama sekali tidak. Untuk apa?”
Aku selalu memberikan respon yang membuat Tyas senang karena aku tidak ingin membuat masalah.
“Kalian putus?”
Aku meliriknya dengan kesal supaya berhenti bicara. Tapi apa gunanya kesal padanya? Aku menyimpan emosiku. “Dokter pasti tahu kalau Alan itu biasanya tidak pernah meninggalkan, tapi ditinggalkan,” kataku. “Dia selalu menunggu sampai orang bosan dan pergi.”
“Saya ditinggalkan, Ayu,” kata dia menegaskan. “Dimulai dari saat dia pamitan pulang ke Padang gara-gara ibunya sakit dan tidak pernah kembali lagi sampai berhenti bekerja. Begitu aku putuskan menyusul ke Padang, dia bilang akan menikah karena punya anak. Aku berusaha supaya dia tidak perlu harus menikahi perempuan sial itu tapi aku justru lebih kecewa dari saat dia memutuskan hubungan karena tanggungjawab.”
“Dokter pernah bertemu Sania?”
“Bukan bertemu lagi namanya…,” jawab dia lalu tertawa getir, dan tiba-tiba menatapku dalam-dalam. “Kamu pernah dimaki sama perempuan itu juga?”
Aku hanya tertawa, kenapa semua perempuan jadi gila kalau berurusan dengan dia? Dan sebodoh apa kami berdua yang sekarang membicarakan dia seperti mengenang kenangan paling manis?
Dia kembali menatapku serius. “Asal kamu tahu,Ayu, yang bisa dibilang ‘merebut’ itu adalah kamu, bukan dia,” katanya. “Perempuan sial itu bilang ada orang lain. Aku sampai mau gila rasanya karena terus memikirkan siapa gadis yang sedang membuat Dennis meninggalkan semuanya.”
Aku sempat berpikir, bahwa satu-satunya yang pernah dia cintai adalah Sania yang dia kenal sejak masih berusia belasan; Ibu yang melahirkan darah dagingnya.
“Mungkin dia cantik. Mungkin lebih cantik dari saya,” jelasnya, mengisyaratkan bahwa perempuan lain itu bukan Sania. “Dennis ingin menikahi perempuan itu saking cintanya. Aku pikir yang namanya ‘Ayu’ itu mirip sama Dian, tapi ternyata jauh. ‘Ayu’ ternyata hanya gadis lusuh seperti kamu.”
Aku tertunduk. Hinaannya terasa manis. Ini baru pertama kalinya ada orang yang menghinaku terang-terangan. ‘Gadis lusuh’, aku memang seperti ini.
Bagiku, dia sudah lama pergi. Terakhir melihatnya dia sangat senang saat melambaikan tangannya hingga lupa mengatakan ‘Aku akan kembali’. Barangkali itu pertanda bahwa, betapapun aku merasa memiliki hatinya, seseorang akan mencurinya dariku dengan mudah suatu hari nanti.
---
Setelah bencana hampir berlalu, aku berusaha bertahan dengan melupakan. Bagaimana pun juga, Alan pernah mengkhianati cintaku demi alasan yang sederhana.
“Kenapa kamu tidak menghubungi dia?” komentar Tyas, terdengar mendukung.
Aku hanya menggeleng. “Setelah itu apa?” balasku.
Tyas diam lagi.
Aku telah menunggu akhir.
Begitu Tyas menyelesaikan tugasnya, kita harus berpisah. Dia hanya tersenyum dan kita berjabat tangan. Ketika dia memelukku dengan hangat aku terkejut.
“Saya tidak merasa kita selalu membicarakan orang yang sama…,” kata dia. “Dennis tidak pernah pakai setelan murahan. Dia jarang tersenyum apa lagi tertawa. Dia angkuh dan tidak suka diperintah. Lagipula… dia tidak mungkin tergila-gila sama gadis lusuh.”
Aku hanya tertawa lagi.
Kata-kata Tyas masih terngiang hingga setelah dia pergi. Setelah mengucapkan perpisahan, waktu bagiku untuk menyelesaikan apa yang aku mulai telah datang.
Aku kembali ke Padang setelah ada yang menggantikanku di Padang Pariaman. Sewaktu Bang Firman memberitahu bahwa salah seorang dari IFRC (Federasi Palang Merah Internasional) merekrutku, aku sangat terkejut sekaligus senang. Saat pindah ke ruangan baru rasanya begitu takjub dengan sambutan seorang pria asing yang tidak terlalu kukenal tapi kita pernah bicara beberapa kali di tenda pengungsian.
“Hi, Ayu!” dia memanggilku dengan gaya yang kusebut ‘American Style’, meskipun aku tahu bahwa dia bukan orang Amerika. Pria tinggi dan tegap itu menghampiriku untuk mengulurkan tangannya.
“Hi,”, balasku saat meraih tangannya.
Aku nyaris mendengus di depannya sebelum ia dengan isyarat tangannya mempersilakanku masuk, bergabung dengan hiruk pikuk ruangan baruku.
Dia, Peter Hersch, pria berusia 29 tahun berkebangsaan Belanda, keturunan Inggris juga. Aku mengenalnya ketika ia mengunjungi Padang Pariaman bersama timnya untuk melakukan survey. Kebetulan hanya aku dengan bahasa Inggris pas-pasan yang bisa memandunya ke tempat-tempat yang rusak selama hampir seminggu. Dan Peter sekarang ‘menarik’-ku kembali karena dia berpikir aku mampu untuk meneruskan project-nya, begitu ia kembali ke negaranya.
Aku?
Inilah yang menahanku untuk terus di sini.
Hari pertama dia mengenalkanku kepada Senior Officer yang lain. Aku masih menjadi bagian yang belum bisa dipisahkan dari Palang Merah meski pun pelatihanku belum cukup mampu mendidikku seperi korps yang berasal dari universitas. Mereka memperlakukanku seperti orang yang dikontrak –bukan relawan, untuk pekerjaan tertentu seakan aku mampu melakukan segalanya hanya dengan berbicara dalam Bahasa Inggris dengan Senior Officer asing. Hanya aku yang berani bicara dengan grammar berantakan dengan mereka. Sementara yang lain terlalu takut salah dan mereka tidak punya penerjemah pribadi. Entah darimana kudapat keberanian itu.
Satu lagi, referensi yang membuat Peter merekrutku adalah cerita legendaris tentang seorang gadis yang memalsukan namanya hanya untuk bisa jadi relawan. Sudah pasti juga Peter mendapatkan cerita-cerita tentang apa yang pernah aku lakukan di rumah sakit saat gempa baru terjadi. Sungguh, aku tidak tahu bahwa semua orang akan mengetahui hal itu dan mereka jadi tidak meragukanku. Bahwa aku orang yang loyal dan berpendirian –aku lebih suka istilah itu daripada sebutan keras kepala seperti selama ini. Padahal saat itu… yang kupikirkan hanya satu, menghilang dan lari dari kenyataan.
Kursi yang kududuki di ruang itu, seakan langsung memaku pantatku untuk terus duduk di sana. Berhadapan dengan layar komputer dan Peter yang mejanya berada di seberang mejaku. Dan ketika kutemukan dia sedang menatap ke arahku dari balik layar laptopnya, dia tersenyum.
Ya dia punya lesung pipi yang dalam. Kalau boleh digambarkan, mirip dengan Josh Hartnett. Bentuk mata dan tatapan dalam yang… Oh, Tuhan! Rasanya aku benar-benar berlebihan seperti gadis-gadis dalam novel remaja.
Aku kembali ke layar komputerku dan melupakan bahwa dia masih memandang ke arahku.
---
“Rekrut anggota baru?” Radhi mengernyit.
Aku mengangguk, dan meliriknya. “Aku tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri,” kataku. “Kalau aku yang sering pergi keluar dan juga harus ada di kantor kan tidak mungkin. Jadi…Peter bilang, aku perlu dua orang relawan lagi”
Radhi tampak berpikir. “Relawan banyak,” katanya. “Sejak masa tanggap darurat selesai banyak yang diistirahatkan. Mereka bisa dipanggil lagi.”
“Terus?” tanyaku. “Kamu tidak kenal relawan dari korps universitas lain?”
“Harus laki-laki atau perempuan?” tanya dia.
“Terserah…,” jawabku lesu. “Tapi, bukan sembarang relawan. Harus bisa Bahasa Inggris aktif. Di sini sudah terlalu banyak yang pasif.”
Radhi terdiam, seolah aku meminta hal yang sulit sehingga dia berpikir lama sekali. Lalu menatapku. “Ada satu,” kata dia, tapi kelihatan ragu. “Tapi,… aku tidak yakin dia bisa”
“Aku benar-benar membutuhkannya, Rad,”
“Oke…,” Radhi menatapku dengan keraguan yang sama. “Besok aku suruh dia datang…”
---
Seorang gadis, dia mungkin sebaya denganku. Mungkin.
Aku melirik Peter di sampingku dan Peter juga menoleh ke arahku, lalu gadis yang senyumnya sumringah itu. Sekarang aku mengerti kenapa kemarin Radhi ragu-ragu menawarkannya padaku. Dia terlihat agak berantakan.
“So…what’s your name?”[1], pertanyaan Peter terdengar meragukan bahwa selanjutnya pekerjaan kami akan berjalan sesuai harapan. Masalahnya kita punya tenggat waktu. Peter dibayar mahal untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Begitu juga aku.
“Emilia Amanda,” jawabnya. “Just call me Emmy”[2]
Nama yang terdengar kebaratan sesuai dengan logat Inggris yang terdengar dipaksakan. Tapi, dia tampak santai saat mengatakannya. Kupikir dia memang seorang native speaker.
“And you?”[3], Peter melirik seorang remaja lelaki di sebelah gadis itu.
“Hm…I’m Ihsan Al Farisy…”[4], bocah bersuara halus itu menjawab dengan ragu-ragu. “Just call me Isan”[5]
Kutebak, anak yang kemayu ini tidak semahir temannya Emmy. Karena dia mengulangi apa yang dikatakan temannya itu.
Peter melirikku sekali lagi, dan dia memastikan bahwa kedua anak ‘aneh’ ini akan bergabung dengan kami. Walaupun aku punya firasat buruk karena mereka itu norak sekali.
Emmy yang bergaya Punk Rock yang terkenal dengan istilah ‘emo’, selalu datang ke kantor dengan setelan kaos dan jeans ketat –meski itu tidak dilarang, tapi ia kelihatan seperti hendak nonton konser My Chemical Romance dengan dandanannya yang mengerikan. Terbayang bukan? Anak-anak beraliran ‘emo’ membuat lingkar mata mereka demikian hitam karena mereka pikir itu identitas yang keren –yang membedakan mereka dengan fans-fans musik yang lain. Dia penggemar Seconhand Serenade. Harusnya Emmy juga menindik atau mentato badannya secara permanen juga untuk menunjukan bahwa ia fans yang gila. Karena bertingkah gila di kantor dengan bicara tidak karuan bergaya American Style itu juga tidak berguna.
Sedangkan Ihsan Al Farisy –kupikir tidak ada yang salah dengan dirinya, adalah orang yang optimis dan menggebu-gebu. Awalnya kukira, cara bicaranya memang seperti itu. Lemah lembut dan teratur. Dia berbicara padaku dengan sikap yang sopan dan lebih sering membantuku daripada Emmy yang hanya mengajak Peter mengobrol –mereka semakin akrab saja.
Sampai tiba-tiba seminggu kemudian.
“Kita mau makan malam bersama,” kata Emmy padaku, dengan santai, dan untuk beberapa saat ia menunjukan bahwa ia menyepelekanku dengan gaya serampangannya itu. Entah itu memang gayanya atau hanya akulah yang berlebihan tidak menyukainya, entah. “Ada Peter, ada Marina juga”
Aku mengernyit. Aku tidak pernah tahu ‘anak-anak’ seperti kami diperbolehkan bersenang-senang ala orang dewasa –yang notabene orang asing yang tentu saja adatnya berbeda dengan orang dewasa lokal. Tapi, dari obrolan mereka yang sekilas terdengar di telingaku, sepertinya bukan Emmy atau Isan yang bergabung ke dunia ‘dewasa’ itu. Tapi, Peter dan beberapa orang asing lainnya yang bergabung dengan dunia Emmy dan Isan yang ceria. Dunia anak mahasiswa yang gemintang.
“You should join sometime…”[6], kata Peter dari tempat duduknya dan Emmy tersenyum membenarkan dengan satu anggukan cepat.
“Ya, kerja itu membosankan…,” kata Emmy membalikan badannya dan ia melenggang entah ke mana.
Aku hanya menatap Peter tidak yakin. Tapi, malam itu aku bergabung bersama mereka, duduk di pinggir pantai dengan satu krat minuman dan tertawa sepanjang malam. Ada tiga anak-anak lokal dan dua tiga orang asing –Peter dari IFRC dan Marina Suarez dari Spanish Red Cross, Alex Dogherty dari Swiss Red Cross.
Aku baru tahu bahwa kedua anak ini telah lama bergelut dengan roKenapa dan bir. Tapi, satu hal yang membuatku kagum dari mereka. Emmy sangat pandai bermain gitar dan Isan yang kebanci-bancian ini mempunyai suara yang merdu. Mereka adalah ‘stars wanna be’ yang mungkin akan mengasah kemampuan mereka di ajang pencarian bakat sekelas Indonesian Idol. Kudengar Peter dan yang lain sangat setuju untuk itu dan mereka mantap begitu musim audisi dibuka, mereka akan ke Medan untuk bertemu para juri yang sensasional itu. Karena untuk di wilayah Sumatera audisi hanya ada di Medan.
Aku mulai menarik bibirku untuk tertawa mengikuti cerita mereka yang ajaibnya menarikku keluar dari pekerjaan yang tidak ingin kutinggalkan. Malam itu menyenangkan. Tapi, tetap saja tidak boleh terlena terhadap Peter yang selalu mempunyai senyum lebar itu.
---
Orang pertama yang akan Peter marahi begitu ada masalah adalah aku.
“I need it now”[7], dia berkata padaku dengan tatapan menusuk. Sudah sering kulihat Peter bersikap ‘bossy’ kepadaku –sejak dua orang itu ada di ruangan ini dan mereka lebih sering melawak. Rasanya bule ini jadi tidak adil padaku karena aku tidak sedekat Emmy dan Isan terhadapnya.
Ketika kembali ke kursiku, aku merasa bahwa bos-ku mulai pilih kasih. Kulirik kardus berisi kertas di dekat kakiku –lembaran kuesioner yang dibawa Emmy dan Isan dari affected area. Mereka belum merapikannya dan entah bagaimana aku akan mengetik hasil survey-nya pada komputerku.
Yang ada aku hanya menghela nafas, dan Peter melihatnya.
“I thought that last night you were freed”[8], katanya, di sela-sela suara ‘tek tek tek’ dari keyboard komputernya. Dia tidak menatapku, sebelum jari-jarinya berhenti menekan keyboard. “But… I saw you were standing there like you were waiting for something. And… whatever it is, it never comes…”[9]
Aku pikir tak akan ada yang memperhatikannya. Semalam ketika aku berdiri di pinggir pantai yang gelap hanya diterangi lampu-lampu cafรฉ yang membias dari jauh di belakangku, aku sengaja memisahkan diri dari mereka yang tertawa sambil bernyanyi dengan gitar. Mataku hanya tertuju pada satu titik –bebatuan pemecah ombak di pinggir pantai, tempat aku dan Alan pertama kalinya datang berdua. Meskipun aku tak lagi bisa mengingatnya dengan jelas, tapi hatiku masih terasa sakit.
“I was just thinking”[10], jawabku, sambil mengambil lembaran dalam kardus dan menaruhnya di atas meja, untuk menegaskan bahwa aku tidak semenyedihkan yang dia kira. “How can I finish this with those hippies?”[11]
Jawabanku membuatnya tidak bertanya lagi. Aku rasa dia tahu bahwa aku sama sekali tidak ingin membicarakan masalah pribadi setelah dia memarahiku –bahkan bukan karena salahku.
Emmy dan Isan sudah tidak terlihat. Mereka beralasan keluar hari ini untuk mengumpulkan lebih banyak kuesioner yang kemarin mereka bagikan di daerah program pemulihan. Aku mulai meragukan itu karena ada yang bilang bahwa mereka hanya mengacau. Kudengar Isan punya masalah pribadi yang menyangkut hubungan ‘terlarang’-nya dengan sesama jenis dan Emmy lebih sering bermain-main ketimbang duduk di ruangan melakukan hal yang lebih berguna –daripada menggombali Alex.
---
“Saya sama sekali tidak meragukan kemampuan kamu,” kata Bang Firman dan aku menebak-nebak apa yang akan dia katakan selanjutnya. “Kamu direkrut karena rekomendasi khusus, langsung dari Recovery Manager, itu sesuatu yang hebat. Tapi, kita bekerja bersama. Sebuah tim, Ayu. Dan kamu harus bisa merangkul teman-teman kamu”
“Aku tidak bisa, Bang,” kataku menggeleng. “Sungguh, mereka itu sama sekali tidak bisa apa-apa. Aku juga tidak tahu harus bagaimana mengendalikan mereka”
“Yang harus kamu lakukan bukan mengendalikan,” katanya. “Saya tahu kamu bukan orang yang anti sosial, tapi bekerja sendiri itu hanya memperlama tugas kita. Masing-masing divisi punya target dan kalau kita tidak bisa menyelesaikannya banyak orang akan kecewa. Kita berada di sini, bekerja, menyampaikan donasi dengan harapan niat mulia para donatur bisa tersampaikan. Dan ingat, Ayu, kita bukan perusahaan swasta. Kita adalah perpanjangan tangan dari donatur sebelum pemerintah dapat membantu mereka sepenuhnya”
Bekerja sendiri? Jadi semua salahku karena bekerja sendiri? Ini memang tidak adil. Aku bekerja dan berpikir lebih keras daripada mereka. Tanggung jawab besar diserahkan padaku dan mereka mengacaukannya hanya dengan tingkah norak mereka?
“I quit!”[12], kataku di depan meja Peter sesaat setelah aku keluar dari ruang Bang Firman dan percakapan yang menyudutkanku membuatku kehilangan akal sehatku.
Jantungku berdetak tidak karuan. Kutemukan Emmy duduk di kursiku, main di komputerku dan Isan yang menutup telinga dengan earphone-nya –seakan mereka tidak punya sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan.
“What?”[13], Peter menatapku, begitu juga semua mata yang ada di sana –mengawasi langkahku yang berapi-api.
“Yes, I quit”[14], kataku menegaskan dan sudah tak ada keraguan untuk menimbang keputusanku yang emosional.
“What’s wrong with you?”[15], dia masih bertanya, seketika Emmy berdiri membelalak memandangku.
Kulirik Isan, dia yang tercengan melepas earphone-nya, lalu kembali pada Peter yang masih menatapku heran. “What’s wrong with me? I quit!”[16], hanya itu yang kukatakan.
Teriakanku seolah terpisah dari kegaduhan karena semua orang diam, memandang ke sudut. Ruangan menjadi hening karena suaraku.
“You can’t leave that way”[17], katanya, tampak ingin bernegosiasi.
“I’ll stay for only one condition”[18], balasku, melirik Isan dan Emmy. Lalu menunjuk diriku. “Just choose… It’s me…”[19], sambungku, lalu menunjuk kedua orang yang heran itu. “…or them!”[20]
Entah kenapa kukatakan hal yang begitu kekanakan.
“Listen, I’m not here to work!”[21], kataku, menunjuk diriku sekali lagi, dan suaraku melemah, menatap Peter. “I’m here to help…”.[22]
“Well, I have to say this”[23], Peter menghela nafas, menatapku serius dan ia tampak akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan menendangku keluar. “You’re not here to work or even to help. You’re just doing what you wanna do and it’s not something you can call a ‘help’. Look around you. Does people here think about their own self? Can you see how far we came across the sea just to make this city smile again? You don’t even care, do you?”[24]
Meskipun dia bicara panjang sekali dan aku nyaris tidak mengerti tapi aku tahu apa yang dia katakan. Tetap saja menyalahkanku.
“You complained, like what you’ve done has been disgraced….[25],” Peter melanjutkan. “Volunteer doesn’t need appreciation for what they’ve done, Ayu. That’s why it called volunteer. The only one reason they become a volunteer is an uneasy pleasure they couldn’t got in life before.”[26]
Aku tertegun, mencerna kata-kata itu dengan baik. Meski pun bisa mengartikannya dengan cepat, sungguh, aku tidak memahaminya. “I don’t understand… at all…”[27], kataku sebelum pergi, masih dengan perasaan kesal yang sama.
Aku melangkah secepat yang aku bisa di tengah tatapan heran yang menelanjangiku. Entah ada apa denganku. Kenapa pikiranku sangat kacau?
“Ayu?” Radhi menegurku saat aku melewatinya begitu saja di lorong. Dia pasti tahu apa yang baru saja terjadi di dalam.
Aku berhenti sejenak; hilang akal; ingin mengatakan sesuatu. Tapi, karena terlalu kesal, aku melanjutkan langkahku dan dia terdiam di tempatnya menegurku tadi.
“Ayu!” suara Emmy memanggilku. Ia berlari mengejarku, seakan ia mampu membuatku kembali ke sana dan mengakui kesalahanku.
Isan mengikuti langkahnya dengan wajah merengut seakan sadar sudah menjadi penyebab.
“Apa?!” sahutku, menghentikan langkahku, menunggu mereka berdiri di hadapanku.
Emmy baru hendak mengatakan sesuatu saat aku berteriak lagi.
“Puas?! Kalian mengerti Peter bilang apa?!”
Emmy tidak menjawabku. Kelihatan cemas, ia mengatup bibirnya rapat-rapat dan di dahinya bertuliskan ‘merasa bersalah’ dengan hashtag. Itu pun juga sudah sangat terlambat.
“Aku tidak kelihatan sedang butuh penghargaan! Aku tahu apa yang aku lakukan!” teriakku lagi hingga keduanya tidak sempat bicara. “Aku hanya… aku hanya mau menyelesaikan apa yang sudah aku mulai… dan kalian… kalian…,” tak sanggup melanjutkan kata-kataku, aku hampir menitikan kekonyolan –air mata di pipiku. Tapi betapapun kujelaskan semuanya, mereka tidak akan mengerti.
Aku melangkah lagi. Kutinggalkan semuanya di belakang. Tapi, sekali aku menoleh lagi, pada lorong-lorong kantor itu, aku sadar bahwa aku… aku sebenarnya hanya merasa lelah. Sangat sangat lelah…
ooOoo
[1] Jadi… siapa namamu?
[2] Panggil aku Emmy saja
[3] Dan…kamu?
[4] Hm… saya Ihsan Al Farisy
[5] Panggil aku Isan saja
[6] Kamu harus pergi sesekali
[7] Aku membutuhkannya sekarang
[8] Aku pikir semalam kamu sudah terbebas.
[9] Tapi, aku melihatmu berdiri di sana seperti sedang menunggu sesuatu. Dan apapun itu, tidak pernah datang…
[10] Aku hanya sedang berpikir.
[11] Bagaimana aku bisa menyelesaikan ini bersama hippy itu.
[12] Aku berhenti
[13] Apa?
[14] Ya, aku berhenti.
[15] Ada apa dengan kamu?
[16] Ada apa denganku? Aku berhenti!
[17] Kamu tidak bisa pergi seperti itu.
[18] Aku akan tinggal dengan satu syarat.
[19] Silakan pilih… aku…”
[20] …atau mereka
[21] Dengar, aku di sini bukan untuk bekerja!
[22] Aku di sini untuk menolong!
[23] Baik, aku harus mengatakan ini.
[24] Kamu tidak di sini untuk bekerja atau bahkan membantu. Kamu hanya melakukan apa yang ingin kamu lakukan dan itu bukan sesuatu yang bisa kamu sebut ‘bantuan’. Lihat di sekelilingmu. Apakah orang di sini memikirikan diri mereka sendiri? Bisakah kamu melihat kita datang jauh-jauh ke sini hanya untuk membuat kota ini tersenyum lagi? Kamu bahkan tidak peduli, bukan?
[25] Kamu mengeluh, seolah apa yang sudah kamu lakukan tidak dihargai.
[26] Relawan tidak membutuhkan penghargaan untuk apa yang sudah mereka lakukan, Ayu. Karena itu disebut relawan. Satu-satunya alasan mereka menjadi relawan adalah kepuasan yang tidak mudah yang sebelumnya tidak bisa mereka dapatkan dalam hidup.
[27] Aku tidak mengerti… sama sekali…
Komentar
0 comments