๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Megathrust
Gempa 7.6 SR mengguncang Sumatera Barat jam 17.16 tanggal 30 September 2009. Seisi kota menangis. Ada banyak orang yang mencoba untuk tegar namun lebih banyak lagi yang tak sanggup. Aku menyaksikan banyak kematian dengan mata kepalaku.
Pengecut-pengecut yang takut mati itu benar. Tapi, tidak membenarkan bahwa dengan lari mereka bisa saja selamat. Mereka dengan pengetahuan seadanya menyimpulkan bahwa Padang bukan kota yang aman untuk ditinggali dan berinvestasi. Awalnya aku pun juga sama dengan mereka, yang tidak mengerti apa itu Ring of Fire.
Begini, seluruh Indonesia kecuali Kalimantan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Timor terletak dalam zona aktivitas seismik yang tinggi yang disebut Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Pernah mendengar istilah Sunda Megathrust? Itu bukan nama bencana, melainkan nama patahan yang memanjang sekitar 5.500 km dan melengkung dari Myanmar di utara, di sepanjang sisi barat daya Sumatera, di selatan Jawa dan Bali sebelum berakhir di dekat Australia.
Sunda Megathrust adalah salah satu struktur yang paling seismogenik di Bumi, yang bertanggung jawab untuk banyak gempa bumi besar, termasuk yang terjadi di Samudra Hindia tahun 2004 yang kita sebut tsunami Aceh yang menewaskan lebih dari 230.000 orang. Sunda megathrust dibagi menjadi Andaman Megathrust, Sumatera Megathrust dan Java Megathrust. Sedangkan Segmen Bali-Sumbawa tidak memiliki istilah ‘Megathrust’ karena jauh kurang aktif.
Sepanjang Sunda Megathrust, Lempeng Indo – Australia mengalami subduksi di bawah Lempeng Eurasia –jika istilah subduksi membuat bingung, aku akan menjelaskannya. Subduksi itu juga disebut penekukan yang terjadi ketika lempeng samudera bertabrakan dengan lempeng benua dan menelusup ke bawah lempeng benua tersebut ke dalam astenosfer (lapisan dibawah lempeng tektonik, yang menjadi tempat bergeraknya lempeng benua). Lempeng kerak samudera juga mengalami subduksi karena masa jenisnya yang tinggi, sehingga lempeng ini mencair dan menjadi magma. Ibaratnya seperti piring yang meleleh turun dan dilepaskan ke bawah kerak bumi.
Subduksi itu bisa menciptakan palung bawah laut seperti Palung Mariana di Filipina juga menyebakan terjadinya pegunungan seperti Puncak Gunung St. Helens dan Krakatau, serta gempa bumi biasa yang sering terjadi belakangan di pantai barat Sumatera setelah tsunami Aceh, tapi kebanyakan adalah tipe megathrust yang disebut juga dengan ‘The Big One’.
Sejak tsunami Aceh, segmen Sumatera mengalami masa peningkatan aktivitas gempa yang menambah tekanan untuk segmen batas lempeng yang belum pindah. Getaran gempa itu kabarnya bisa dirasakan hingga ke Ibukota, Malaysia dan Singapura. Bahkan, aku dengar di Singapura pengelola gedung tinggi bertingkat sampai mengevakuasi staf mereka.
Isu tsunami merebak seperti gelombang radioaktif yang memaksa orang-orang meninggalkan daerah pinggiran pantai. Kebanyakan hotel-hotel berbintang di Padang hancur dan komunikasi terputus. Selama seminggu listrik padam dan salah satu komplek di pasar yang berada di kota terbakar. Bangunan-bangunan besar dan bertingkat rubuh –ada yang turun satu lantai dan ada yang ambruk menjadi puing. Ada dua rumah sakit dan beberapa sekolah yang hancur. Beberapa pipa air bawah tanah juga rusak sehingga banjir di jalan.
Satu-satunya bandara yang kami punya di sini hanya mengalami kerusakan ringan yang mana hanya langit-langit runtuh dan kembali di buka pada tanggal 01 Oktober.
Gempa itu juga menyebabkan tanah longsor. Ada longsoran puing di perbukitan yang mengelilingi Danau Maninjau. Yang terburuk, di Gunung Tigo di Kabupaten Padang Pariaman, longsoran menimbun banyak desa dan banyak korban jiwa yang terkubur hidup-hidup. Akses jalan pun tertutup oleh longsoran.
Pemerintah mengabarkan kepada seluruh dunia bahwa jumlah korban akan terus bertambah. Karena banyak di antara mereka yang masih terjebak di dalam reruntuhan. Hari itu mereka juga megumumkan bahwa tim penyelamat sedang dalam perjalanan dan mereka butuh lebih banyak waktu untuk menjangkau daerah terpencil. Korban selamat dibawa ke rumah sakit yang sudah penuh sekali dan petugas medis sangat kewalahan. Tenda-tenda darurat mulai dibangun untuk menampung pasien korban yang terus berdatangan.
---
Satu lagi helicopter lewat di atas kepalaku. Aku menengadah, menantang terik matahari yang kejam. Panas. Hingga aku mengernyit dan melindungi mataku dari silaunya raja siang. Helicopter berlambang US Air Force itu terbang melintas menuju ke timur.
Aku menatap ke sekelilingku. Rasanya seperti berada di tengah-tengah syuting pembuatan film Hollywood. Orang-orang asing terus berdatangan dari penjuru dunia. Australia, Amerika, Inggris, Cina, Jepang, Denmark, Irlandia, Malaysia, Jerman, Estonia, Uni Eropa, Belanda, Norwegia, Rusia, Singapura, Qatar, Taiwan, Arab Saudi, Turki, Thailand, Swiss, Korea Utara, dan Hongkong.
Mereka mengirimkan tentara insinyur, tim Rescue, petugas medis, dan ahli teknologi informasi, lengkap dengan peralatan yang canggih untuk evakuasi.
Sejak kemarin aku sudah melihat banyak pesawat dan helikopter yang lalu lalang di langit kota. Hercules dan Navy C-12 membuat mata orang-orang yang belum pernah melihatnya terpaku pada langit hingga pesawat itu tak terlihat lagi. Biasanya kami hanya melihatnya di TV.
HMAS Kanimbla dari Royal Australian Navy yang dilengkapi dengan rumah sakit dan helikopter merapat di pelabuhan Teluk Bayur. Lalu The USS Denver dan The USS McCampbell juga dikirimkan untuk membawa delapan unit helicopter milik korps angkatan laut untuk mengantarkkan persediaan makanan, air bersih, obat-obatan dan penampungan darurat ke daerah-daerah terpencil yang tidak dapat ditempuh oleh jalan darat.
Radhi melemparku dengan sesuatu ketika kami beristirahat di depan reruntuhan gedung. Bersama petugas evakuasi dan alat berat yang sedang bergerak mengeruk-ngeruk reruntuhan.
Sebuah baju dibungkus plastik transparan. “Pakai itu,” kata dia dan telah memakai atribut yang sama.
Sebuah simbol yang identik dengan donor darah dijahit di bagian punggung dan dadanya. Palang Merah. Lambang-lambang itu tampak berada di mana pun dengan nama yang berbeda, Red Cross.
“Kamu yakin ingin jadi relawan?” tanya Radhi padaku dan aku masih tidak dapat berpikir.
Radhi mengajakku menyatu dalam barisan.
Posko pencarian orang hilang dipadati orang-orang yang kehilangan anggota keluarga setiap harinya. Terdapat di antaranya keluargaku. Aku melihat Ibu, Bapak, Rana dan suami serta anak-anaknya. Ternyata mereka selamat. Aku bisa dengan tenang, pergi ke tempat di mana orang-orang sepertiku dibutuhkan.
Aku membuang pandang ke tempat sekelompok orang-orang muda yang memakai atribut yang sama. Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam korps yang sudah pernah mendapat pelatihan. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Hari ketujuh, kami dikirim ke Gunung Tigo.
---
Padang Pariaman, Oktober 2009…
Aku nyaris tertidur dalam goncangan dan suara lagu daerah ‘Ayam den Lapeh’ dari tape mobil. Aku mengintip dengan sudut mataku yang belum dapat melawan cahaya siang yang terik dalam perjalanan. Lalu menemukan Radhi terlelap di sampingku. Aku melirik jam tanganku setelah menggeliat penat. Jam 9 pagi dan kita sudah memasuki Padang Pariaman yang luas.
Hawa panas membuat perjalanan ini menjadi melelahkan. Supir dan orang di sampingnya, Bang Firman, yang seorang koordinator relawan masih merekonstruksi tragedi 30 September menurut versi mereka masing-masing. Suara mereka lebih kuat dari lagu yang distel sangat pelan.
Aku dengar Pak Supir mengaku bahwa ia dan istrinya sedang berada di rumah sakit menunggui anaknya yang koma karena kecelakaan lalu lintas. Sedangkan Bang Firman lain lagi, saat gempa istri dan anaknya terkurung di rumah, nyaris tidak selamat dan beruntung diselamatkan tetangga sebelum ia datang.
Aku terjaga dari lamunan panjang soal keluargaku dan hal-hal yang telah aku tinggalkan, karena Radhi menggeliat. Dia membuat beban di bahuku menjadi berkurang drastis, karena selama hampir satu jam dia bersandar hingga aku nyaris mati rasa.
Entah sejak kapan, kita menjadi akrab. Meski tidak bisa disebut sahabat, istilah teman mungkin juga terlalu biasa. Hanya saja, kita ini seumuran tapi aku terlihat lebih dewasa daripada dirinya. Seorang gadis yang sudah pernah bekerja tentu berbeda dengan seorang mahasiswa yang masih senang bermain-main.
Radhi menguap. “Leherku sakit nih!” keluh dia. Rambut lurusnya yang agak gondrong dan berponi tampak kusut. Masih menggeliat, ia mencoba meluruskan kakinya yang panjang dengan hati-hati.
Bang Firman menoleh ke belakang. “Di belakang aman?” tegur dia.
“Saya pegal, Bang!” seru Radhi, menyandarkan seluruh bagian punggungnya ke belakang dan dia menoleh ke arahku. “Sempit ya?”
Aku hanya mendengus, kembali kepada pemandangan yang ada di sampingku. Bahu yang bertemu, membuatku tidak nyaman. Tapi, mobil ini penuh hingga ke jok belakang oleh kardus-kardus berisi perlengkapan kami. Aku berusaha bersabar setengah jam ke depan hingga mobil tiba di posko pengungsian.
Ratusan pengungsi korban tanah longsor akibat gempa di Gunung Tigo saat ini masih tinggal di tenda-tenda dan tempat penampungan darurat. Mereka adalah korban yang selamat dari bencana yang menimbun 5 dusun dibawah lembah Gunung Tigo. Mereka kini mulai mencari barang-barang rumah tangganya yang selamat dari timbunan tanah longsor seperti kasur, baju, kain dan lain-lain, yang masih bisa dipakai untuk dibawa ke tempat pengungsian. Ketika kami datang, Tim SAR masih melakukan pencarian terhadap 250 orang yang diperkirakan masih terkubur longsoran. Bisakah kamu bayangkan betapa semrawutnya perkampungan kecil itu?
Aku pun masih mengingatnya dengan jelas. Jika dulu aku pernah berpikir bahwa trauma adalah satu kata yang mengerikan, sekarang aku merasa bahwa itu belum seberapa dengan yang aku temukan di sini.
---
“Kamu gemetaran?” Radhi menegurku, dan aku menoleh pada dia yang tersenyum, mencoba menghibur.
Aku menatapnya sejenak. “Aku belum pernah lihat mayat sebelumnya…,” jawabku, berusaha tenang.
“Lama-lama juga biasa,” ujarnya, menepuk punggungku pelan, lalu meninggalkanku.
Tubuhku masih gemetaran karena merinding. Aku hampir menyerah karena ketakutan dan kepalaku sakit melihat darah di mana-mana. Entah bagaimana menjelaskannya, tubuh-tubuh teraniaya reruntuhan dan tanah padat yang eksplisit membuatku tidak bisa menelan makanan. Aku menghabiskan berbotol-botol air mineral untuk menghalau rasa mual dan jijik.
Tapi, bencana ini bukan mimpi buruk semalam yang bisa berlalu begitu saja. Ada proses yang harus dilewati. Dan inilah proses-proses itu.
Aku melihat keluarga yang kehilangan kerabat. Laporan-laporan yang aku terima dari orang kampung, semakin membuatku mengelus dada. Dalam seminggu jumlahnya menjadi berkali-kali lipat dari jumlah sebelumnya. Besok dan besoknya lagi, selalu ada yang datang menangis, membawa foto orang yang belum ditemukan.
Ada ratusan pemilik nama yang tak tahu di mana keberadaannya. Namun, perasaan lega sedikit membuatku tenang saat Tuhan mempertemukan keluarga yang terpisah. Meski haru, aku tetap berusaha untuk tidak menangis.
Aku hanya menangis ketika aku mengingat keluargaku.
Radhi melihatnya, tanpa sengaja, ketika kita sama-sama menyaksikan bersatunya sebuah keluarga yang terpisah selama berhari-hari dan dihantui kabar-kabar kematian yang tidak jelas.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku telah membohongi semua orang hanya untuk bisa berada di sini. Jadi aku hanya menangis.
“Kalau kamu lelah, pulang juga tidak apa-apa,” ujarnya. “Semua juga begitu…”
Aku menggeleng. “Aku tidak bisa,” kataku. “Aku belum ingin pulang…”
---
Rasa lelah yang sangat hampir membunuhku. Setelah berminggu-minggu pun, aku tidak bisa makan dengan enak. Aku tidak memperhatikan diriku sendiri lebih dari aku memperhatikan orang-orang di tenda darurat. Dan sekali aku melihat bayanganku di cermin, aku sangat kaget. Aku tidak bersentuhan dengan duniaku yang dulu selama itu dan perubahan yang sangat besar terlihat pada wajahku yang lelah.
Pemerintah sudah mengumumkan angka resmi jumlah korban pada tanggal 4 Oktober 2009. 603 jiwa tewas dan 343 dinyatakan hilang. Tapi pada tanggal 13 Oktober 2009 jumlah itu meningkat menjadi 6.243 orang. 135.554 rumah dan infrastruktur rusak berat. Padang Pariaman adalah daerah yang terkena dampak paling parah.
Orang-orang asing datang bergantian. Aku mulai dipindahtugaskan menjagai anak-anak yang sakit di pengungsian
---
“Aku tidak terlalu suka dengan anak-anak,” kataku, memandangi kaki-kaki kecil itu tengah berlarian ke segala penjuru dengan suara jenaka. Aku merasa tidak sanggup jika harus mengurusi mereka.
“Masa kecil kurang bahagia?” tanya Radhi, dan ia tengah menggendong seorang anak lelaki berusia 5 tahun di pundaknya.
Aku menghela nafas. Aku tidak tahu bahagia yang bagaimana. Seingatku kedua orang tuaku terlalu keras. Aku merasa benci karena pada saat itu aku tidak bisa melawan bahkan hanya untuk mengatakan aku tidak suka. Saat itu, aku berpikir, andai aku sudah besar, aku pasti bisa menghadapi mereka. Namun, sayangnya, setelah dewasa pun aku tidak dapat berbuat sesuatu. Aku hanya melakukan hal-hal seperti ini –bersembunyi untuk bisa melakukan apa yang aku inginkan. Dan kemudian merasa bersalah.
“Kamu sendiri?” tanyaku, melirik Radhi yang sedang bermain dengan bocah di pundaknya.
Wajahnya yang tersenyum padaku menunjukan bahwa ia punya kehidupan yang layak. Maksudku, dia sudah punya 75% kebebasan ditangannnya menjelang umur 20 tahun. Punya orang tua yang mendukung moril dan materi. Dia terlihat lebih seperti remaja sungguhan bila dibandingkan denganku.
Aku memikul beban yang harusnya belum ditanggung oleh seorang gadis muda. Sehingga keceriaan nyaris menghilang dalam tawaku.
Aku memperhatikan dia dengan perasaan iri. Aku tidak bisa seperti mereka. Karena aku sudah dilempari dengan berbagai persoalan rumit dan hal-hal menakutkan yang tidak lagi menjadi sekedar trauma, tapi mimpi buruk berkepanjangan. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku tertawa lepas dan bersahaja pada dunia yang menaungi hidupku. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa bahagia.
Aku tidak pernah menelpon orang tuaku. Saat kembali ke rumah kontrakan yang sudah hancur beberapa saat sebelum aku bergabung dengan tim relawan, aku tidak menemukan handphone-ku. Hanya sebuah tas yang isinya tidak terlalu berharga bagiku. Meski pun aku ingin sekali pulang atau paling tidak mengabari mereka bahwa aku masih hidup, aku merasa tidak yakin dengan itu. Orang tuaku pasti akan menyuruhku pulang. Aku sudah terlanjur berada di sini. Aku harus menyelesaikan apa yang aku mulai.
---
Padang Pariaman, Maret 2010…
“Nama kamu Dennis?” seorang perempuan, usianya sekitar 24-25 tahun. Cantik dan mencolok di antara relawan dan orang kampung. Karena dia bertubuh tinggi, berhidung mancung, berkulit putih dan berambut panjang, serta kelihatan berkelas. Tak khayal juga, perempuan itu adalah seorang dokter, tepatnya psikiater.
Dia bergabung menjadi relawan sebagai dokter yang mengurus posko trauma healing bagi anak-anak di pengungsian. Katanya dia datang bersama rombongan relawan dari Jakarta yang umumnya adalah tim medis pada hari ke empat dengan pesawat Hercules.
“Ya,” jawabku, ragu-ragu. Aku menatapnya curiga kalau-kalau dia tahu bahwa aku telah berbohong kepada semua orang. “Kenapa?”
Dia seolah mampu membaca rasa khawatir di wajahku. “Tidak…,” dia tersenyum, dan meninggalkanku dengan perasaan khawatir. “Seperti nama laki-laki”
Masa bodoh, pikirku mengabaikan kekhawatiran kalau seandainya semua tahu bahwa aku adalah salah satu korban yang dinyatakan hilang. Orang-orang tidak menyadari bahwa aku salah satu orang hilang aku sudah jauh lebih kurus daripada foto terakhirku yang dimiliki orang tuaku yang menyerahkannya ke posko.
Si Dokter Cantik, adalah orang yang menyenangkan. Meski dia terlihat agak angkuh, tapi dia tampak menyayangi anak-anak. Ia membuat permainan sehingga setiap anak bergerak, dengan nyanyian dan permainan. Anak-anak juga menyukainya. Apa memang orang yang ‘dididik’ oleh Jakarta selalu seperti ini?
“Sudah berapa anak yang dijemput oleh keluarganya?” tanya dia padaku.
Aku melihat daftar yang ada di tanganku, dan mulai menghitung. “Tidak banyak. Minggu ini hanya sembilan anak, Dok,” jawabku.
Aku tidak tahu persis dia berasal dari mana. Tapi, dari logatnya jelas dia bukan berasal dari kota yang sama denganku. Aku pernah dengar bahwa dia lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Pantas saja. Dia memang pintar bicara. Ketika dia sebutkan namanya saat berkenalan, aku tidak merasa asing.
Tapi, aku tidak meragukan bahwa wajahnya familiar –rasanya aku pernah melihatnya. Terlebih dia bernama Tyas Adriana. Aku memang pernah mendengar nama itu sebelumnya, namun juga bukan berarti bahwa dia adalah orang yang sama. Aku juga berharap bukan dia. Namun kenyataannya itu memang dia.
Apa yang sempat terlupa olehku kembali teringat. Entah kebetulan macam apa yang mempermainkanku kini. Ketika menyadari bahwa mungkin saja aku telah terbebas dari rasa sakit itu. Memandang Tyas yang sebegitu cantiknya, memandang diriku yang lusuh, pantas saja… pantas saja Alan tidak pernah melepaskannya…
---
Aku memandang foto itu sekali lagi –salah satu foto yang dikirim dari Bukittinggi dan satu-satunya ‘harta’ yang berhasil kubawa dari reruntuhan. Bodohnya, aku masih membawa foto itu ke mana-mana, menyelipkannya dalam lembaran buku catatan dan aku memandangnya ketika aku merindukannya. Aku berusaha mengingat, kapan terakhir kali masih bisa melihatnya sebelum dia meninggalkanku.
Ya, aku jadi ingat. Di suatu siang, ketika tanpa sengaja aku memecahkan piring dan Alan berlari dari ruang depan untuk melihat apa yang terjadi. Aku tertegun di depan serpihan kaca karena syok, kaca-kaca tajam itu nyaris melukai kakiku.
Dia terlihat cemas dan aku membatu. Kuperhatikan Alan membereskan semua kekacauan itu dan dia menyadari bahwa aku belum sepenuhnya tenang setelah hari-hari berat yang kujalani dengannya. Kudengar dia memohon, agar aku kembali seperti dulu, tapi aku hanya menangis, aku menepiskan tangannya dariku seolah itu pisau yang dapat melukaiku. Aku ingat aku berteriak padanya agar menjauh. Ya, dia mengambil langkah mundur yang sangat pelan. Wajahnya terlihat sedih saat menghilang di balik pintu.
Aku tahu, tapi yang kulakukan saat itu hanya menangis.
Satu kali, aku kembali tertidur di lantai dengan bantal dan selimut yang menutupi sekujur tubuhku. Kudengar suara-suara yang memecah keheningan dalam kepalaku yang sakit. Alan sedang berbicara di telpon. Dia kedengaran marah sekali, samar-samar kudengar dia menyebutkan nama itu lagi. ‘Tyas’.
Membuat detak jantungku melompat tak beraturan. Mereka bertengkar. Aku sama sekali tidak merasa senang mereka bertengkar. Malahan itu membuatku sadar, apapun yang pernah ada di antara mereka belumlah berakhir…
---
“Kamu?” Tyas menegurku dan aku segera tersadar. “Saya dengar kamu sudah berbulan-bulan di sini, apa… kamu sama sekali tidak pernah pulang?”
“Tugasku belum selesai, Dok,” jelasku, melempar pandangan ke tenda seberang yang terpisah oleh hujan dengan tenda kami. Dari sini kami bisa melihat anak-anak yang tengah berteduh menunggu hujan supaya bisa bermain. Suara hujan lebat lebih jelas terdengar daripada suara kami yang bosan.
“Kerjaan seperti ini tidak akan pernah selesai,” kata dia berkomentar. “Orang tua kamu tidak cemas?”
“Ya, akhir bulan ini aku pulang,” jawabku. “Mereka berpikir kalau aku tidak selamat.”
“Jadi…mereka sama sekali tidak tahu kalau kamu masih hidup?” Tyas tampak terkejut.
“Mereka pasti punya firasat kalau aku masih hidup,” aku tersenyum sendiri. “Karena aku keras kepala. Tidak akan mati semudah itu…”
Tyas tertawa pelan. “Tapi, kamu kelihatan seperti orang yang putus asa,” kata dia. “Apa kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi saat gempa?”
Aku mengernyit. “Kehilangan?” lalu tertawa pada langit-langit tenda penampung air. “Aku rasa orang-orang yang ada di sini kehilangan lebih banyak. Dan kehilanganku bukan sesuatu yang pantas ditangisi. Keluargaku masih utuh.”
“Terus?” dia tampak semakin ingin tahu.
Aku menatapnya sejenak dan tersenyum. “Dokter cantik sekali…,” kataku dan dia malah mengernyit. “Rasanya…aku pernah melihat Dokter sebelum ini.”
“Oh ya? Kira-kira di mana kamu pernah melihat saya sebelumnya?” ia bertanya.
“Aku tidak terlalu yakin. Tapi... apa Dokter punya pacar?” balasku dan dia tampak terkejut.
Aku menunggu jawaban iya atau tidak, agar menjawab pertanyaan di kepalaku saat ini, benarkah ia dan Alan masih bersama hingga detik ini?
“Kenapa kamu jadi menanyakan urusan pribadi saya?” kata dia. “Kalau di luar negeri, itu tidak sopan, Dennis. Apa kamu tahu?”
Tapi dia tidak menjawabku. Pertanyaanku ternyata membuatnya murung.
“Bukan. Aku hanya merasa laki-laki itu pasti beruntung,” kataku.
Tyas tampak menghela nafas. “Tidak juga, Dennis. Dulu ada,” jawab dia akhirnya saat aku sudah menyerah dengan kembali ke layar komputer. “Kita harus berpisah karena dia selingkuh.”
Aku memutar kursiku, menghadap ke arahnya. Untuk memastikan bahwa jawaban itu memang terlontar dari bibirnya.
“Selingkuh?”
“Ya, saya sendiri juga terkejut. Dia tipe yang setia dan tidak suka main perempuan,” jelasnya. “Kita sudah saling mengenal selama empat tahun.”
“Apa dia tampan?” kataku tertawa sendiri.
Tyas ikut tertawa. “Darimana kamu tahu?” tanya dia.
“Hanya tebakan…,” aku tertunduk menarik nafas, tak mampu menahan kesedihanku sendiri.
Tyas masih tersenyum sesaat sebelum ia mengambil sesuatu di atas meja. Tasnya. Ia membuka rislutingnya dan mengeluarkan dompet untuk mengambil selembar foto yang ingin ia tunjukan padaku.
Aku tidak terkejut sama sekali. Sebuah foto yang modelnya sama seperti yang pernah kutemukan di handphone rusak Alan.
“Siapa namanya?” tanyaku, dengan lidahku yang kelu, aku jadi tidak bisa lagi menahan perasaan sakitku.
Dia menatapku, terdiam sejenak. “Kebetulan… namanya Dennis,” jawabnya ragu-ragu. “Seperti nama kamu”
Aku membalas tatapannya, tanpa keraguan di wajahku. “Namaku bukan Dennis,” kataku menegaskan.
Tyas mengernyit lagi. Tanpa bertanya, ia menjuruskan tatapan ingin tahu tepat ke wajahku.
“Aku Ayu Raima dan sampai saat ini namaku masih ada di daftar orang hilang,” jawabku, lalu berpaling dan tertawa sendiri. Sebelum aku menoleh padanya dan mata indahnya membelalak memandangku. “Pernah dengar nama itu sebelumnya?”
ooOoo
Komentar
0 comments