[Bab 11] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Gempa

September 2009…

Seseorang mengetuk pintu. Lagi-lagi aku terjaga dengan sakit kepala yang tidak kunjung reda sejak dua hari lalu. Mungkin karena terlalu banyak tidur siang dan aku menjadi sangat pemalas. Handphone-ku di atas kepala dan hal pertama yang kulihat layarnya yang tidak berubah sejak terakhir kali aku membiarkannya di situ. Tidak ada simbol amplop ataupun tanda panah memantul.

Dia tidak meneleponku lagi. Dia bahkan tidak mengirimku pesan hanya untuk membuatku tenang. Hampir seminggu dia membiarkanku seperti ini.

Orang di depan pintu mulai tidak sabar. Aku rapikan rambutku yang acak-acakan dan membukakan pintu.

Aida.

“Kamu sedang tidur?” dia bertanya padaku dengan nada segan.

“Ya…,” jawabku, tersenyum. “Aku ketiduran…”

“Aku pikir kamu lupa mematikan keran airnya, soalnya di sebelah tiba-tiba airnya mampet,” katanya.

Aku segera teringat, bak mandi pasti sudah penuh. “Oh ya, aku lupa!” kataku segera berlari ke belakang.

Lantai kamar mandi sudah tergenang, air meluap dari bak yang terus diisi oleh keran. Tingginya hampir menggenangi lantai, jika sebentar lagi aku tidak menutup aliran airnya, rumah menyedihkan ini mungkin akan kebanjiran.

Aida masih berdiri di pintu saat aku kembali.

“Maaf ya…,” ucapku sambil menarik nafas lega.

Aida tersenyum, dia tampak memakluminya. Bahkan ini sudah sering terjadi. Beginilah keadaan di rumah kontrakan.

“Tidak apa-apa,” balasnya. “Terima kasih ya…”

Dia meninggalkan pintuku dengan langkah yang hati-hati. Dengan kedua tangan di belakang pinggang, ia menyangga badannya agar dapat berjalan. Karena saat ini, ia harus berbagi dengan janin dalam dirinya yang sudah berusia delapan bulan.

Aida adalah tetangga sebelah yang usianya hanya berbeda dua tahun denganku –lebih tua. Dia sudah menikah. Rumahnya berada tepat di sebelah rumahku. Dia berbeda dengan seorang ibu-ibu yang tinggal di kontrakan ujung –yang suka bergosip dan setiap dia duduk-duduk di teras rumahnya, aku lebih suka di dalam rumah. Hanya Aida yang kadang bertandang untuk sekedar mengobrol –dia juga tidak suka dengan ibu itu.

Sebenarnya, aku tidak suka dengan lingkungan di sini. Lingkungan perkampungan dengan banyak rumah kontrakan sehingga orang-orang entah dari daerah mana berkumpul. Aku tidak bergaul dengan mereka sejak Aida mengatakan padaku bahwa mereka punya pandangan yang negatif terhadapku.

Aku mulai terbiasa menghadapi orang-orang yang tidak menyukaiku. Setidaknya masih ada Aida yang kadang menemaniku sore-sore dan ia menceritakan tentang bagaimana kisah cinta dan perjuangannya untuk bisa menikah.

Terkadang, aku jadi iri padanya. Dia tidak punya suami yang gagah dengan pekerjaan yang hebat –bertolak belakang dengan Alan yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di bidang farmasi. Tapi, dia punya suami yang selalu ada di sisinya dan melihat mereka berdua seperti melihat pasangan cinta sejati yang biasanya hanya kulihat di film-film.

Berbeda denganku. Aku ini bukan istri  dari siapapun. Tak bertuan. Aku hanya menunggu. Menunggu Alan membawaku ke tempat yang dia janjikan. Tinggal di apartemen –bukan rumah petak yang kotor ini. Di sana kita punya mobil dan bisa pergi ke mana pun yang aku mau. Tapi aku harus bersabar karena dia juga yang memintanya.

Aku tahu itu tidak akan pernah terjadi. Kenyataan telah berbicara padaku.

---

Aku melewati gang kecil yang dulu biasa aku lewati setelah pulang entah dari mana. Di depan pintu rumah aku mengucapkan salam dan aku akan mendengar Ibu menjawabnya.

Hari itu, aku memutuskan menemui keluargaku. Setidaknya untuk memastikan bahwa mereka sehat-sehat saja. Aku membawakan makanan dan jajanan untuk kedua keponakanku yang saat itu bermain di halaman belakang.

Ayahku sedang berada di kursi favoritnya di depan TV, menonton berita dan mengamati situasi politik –dia sangat menyukai itu. Sedangkan ibuku, seperti biasanya, berada di pojok halaman, mencabuti rumput yang menggerogoti tanamannya.

“Tante!!” suara Sarah berlari kepadaku membuat ibuku menoleh.

Amar, adiknya juga berlari dengan riangnya menghampiriku karena aku membawa banyak kantong belanjaan.

Awalnya, ibuku menoleh tapi seolah tak melihat apapun di belakangnya, ia kembali mencabuti rumput. Kusadari ayahku sudah berdiri di pintu sejenak untuk memastikan siapa yang datang –hanya aku. Lalu tanpa bicara ia kembali ke dalam. Kuingat ekspresi dinginnya ketika memandangku sama persis dengan yang ditunjukan ibuku yang memilih mengabaikanku.

Rana keluar, kaget melihatku. “Ayu?” mulutnya menganga. Dia pasti tidak menyangka, aku masih berani untuk pulang.

Aku berusaha tersenyum. Menghampirinya, menyalaminya. “Uni sehat?” tanyaku.

Dia mengangguk ragu, tanpa melepaskan matanya dariku. Mungkin karena aku terlihat sangat berbeda dari terakhir kali aku meninggalkan rumah dengan keras kepala. Sekarang, aku tidak berdandan, kembali polos seperti dulu, hanya saja aku mungkin lebih kurus. Dan wajahku yang tirus memang tak dapat menyembunyikan derita panjang yang kubawa.

“Kamu tinggal di mana sekarang?” tanya dia.

“Aku sudah tidak tinggal di Bukittinggi lagi,” jawabku.

“Terus kenapa tidak pulang?” tanya dia lagi.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa,” jawabku, tertunduk menahan tangis.

Sarah dan Amar sudah membawa semua belanjaan ke dalam rumah dengan gembira.

“Sudah ya… aku pergi…,” kataku.

“Ayu?” Rana memanggilku, ingin menghentikan aku yang ingin pergi lagi.

Aku berbalik, menoleh padanya setelah menghapus air mataku. “Aku pasti akan menelpon,” ujarku, dan kembali menyusuri gang kecil itu.

---

Katakan padaku, jika ada hal lain yang bisa kulakukan saat itu. Tak ada. Dunia tak berpihak padaku. Hanya bayangan di cermin yang ingin kupeluk saat menangis. Kusatukan jari-jariku pada kaca, bayangan yang menangis itu menyentuh ujung-ujung jariku yang gemetaran.

Kupikir ada bayangan lain yang menemaniku, tapi hanya dinding polos. Sudah lama seperti itu.

Aku tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya, Alan berada di sana, untuk sama-sama memperhatikan bayangan kami di cermin. Tertawa untuk sisa-sisa kebahagiaan yang pernah kami miliki. Dia akan memelukku, berbisik ‘Aku mencintai kamu, Sayang…’ tepat di telingaku. Beberapa hari setelahnya bahkan kata-kata itu masih terngiang selalu setiap kali aku berdiri di cermin, menatap bayanganku yang sendiri. Tapi, lama kelamaan, suara bisikan itu mulai pudar dan menghilang. Aku tak dapat mengingatnya lagi dan mulai meragukan bahwa apa yang aku alami bersamanya adalah nyata.

Dia menghilang lagi.

Aku memejamkan mataku, dalam pikiranku, aku memeluk bayanganku yang menangis. Kurasakan aku kehilangan keseimbanganku hingga aku tak dapat berdiri dengan tegak. Kepalaku pusing, dan pandanganku menengadah ke langit-langit kamar yang bergoyang.

Lantai berderak. Dinding putih yang terpantul pada cermin tiba-tiba retak, seperti ditarik ke arah berlawanan. Suara gemuruh seperti badai menggema, menggetarkan semua barang yang ingin jatuh. Debu seperti hujan dari langit-langit yang ingin runtuh.

Gempa!

Aku berlari keluar, selangkah kakiku beranjak dari pintu kamar, suara keras lemari yang menimpa lantai, membuatku semakin ngeri. Tetangga berlarian keluar sambil menjerit-jerit panik dan bersahutan.

Aku sudah ada di halaman depan, memandangi sebaris rumah kontrakan yang tidak dapat menahan goncangan yang membuatku tersungkur di tanah. Pohon-pohon seakan tercabut ke akarnya, kabel tiang-tiang listrik melambai-lambai seakan ingin putus –tarik menarik, dan orang-orang berlarian ke segala penjuru. Mereka bertabrakan, dan berdesakan.

Dalam hitungan detik jalan di depanku macet total. Kendaraan mulai ditinggalkan begitu saja oleh pengendaranya yang panik.

Goncangan berhenti. Tangisan makin jelas terdengar.

Aku lihat Aida keluar dari rumahnya, merangkak dan… Ya Tuhan, darah segar mengalir di kakinya! “Toloooooong!!!” serunya dengan suara parau, menjulurkan tangannya begitu langkahnya yang terseok tak dapat membawanya keluar.

“Aida!!” jeritku sambil berlari ke arahnya.

“HEI, JANGAN!!” suara seorang bapak memanggil aku yang berlari secepat mungkin.

Kuraih tangan Aida yang masih menggapai-gapai, dengan kedua tanganku yang gemetaran kutarik dia sekuat tenagaku. Tapi, mataku terus tertuju pada dinding rumah yang tampak tak kuat menyangga atapnya. Lalu debu mengepul, pintu dan jendela tidak terlihat lagi, berganti menjadi tumpukan besar tak berbentuk.

---

Jalanan mulai merangkak padat saat adzan maghrib berkumandang setelah jam-jam yang padat. Malam terasa menakutkan di antara mayat-mayat dan orang-orang yang terluka. Di rumah sakit, hawa itu terasa lebih mencekam. Emosi yang meluap dan tangis berlebihan menjadi hiasan paling menyedihkan ketika aku membawa Aida.

Di sekitarku adalah orang-orang yang menangis dan berduka. Jiwa-jiwa tak terselamatkan seolah menghantui setiap sudut kota lewat suara ambulans yang mondar-mandir sepanjang malam.

Aku masih bersama Aida yang mengalami pendarahan hebat dan kesakitan pada lorong yang penuh dan bising.

“Apa bayinya bisa selamat?” dia bertanya padaku, seolah aku dapat menolongnya.

Aku mengangguk, hampir menangis, sambil memegangi tangannya yang gemetar dan dilumuri darah merah pekat yang hampir mengering. “Ya, pasti selamat…,” ujarku.

Dia tersenyum penuh harapan.

Dokter perempuan yang merawatnya menatap padaku dengan cemas. Ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi tidak bisa ia katakan. Ia menggeleng dengan sangat pelan kepadaku.

Aku memandangi ekspresi sakit Aida dengan seksama. “Semuanya pasti baik-baik aja…,” ujarku sekali lagi.

Wanita itu mengangguk pelan dengan tetap memandangku. Entah seperti apa rasa sakit yang dia rasakan, aku tidak dapat membayangkan. Darah terus mengalir, hingga menetes di lantai. Perawat yang mengurusnya tampak cemas. Tangan yang menggenggam tanganku erat, mencengkram secara tiba-tiba saat hentakan rasa sakit membuat tubuhnya semakin gelisah. Detik-detik ia bertahan, terasa seperti jam-jam yang terasa amat lama. Aida masih tetap menatapku penuh harap. Tangannya lemas, begitu ekspresi yang menahan sakit perlahan tenang. Tangan itu lalu terkulai. Matanya menutup dengan gerakan yang sangat lambat.

Meski bukan kesalahanku, tak dapat menolongnya membuatku menjadi penyebab. Dokter yang bersama kami, menangis, begitu juga perawat yang cemas.

Aku rubuh seketika di sisi tandu berdarah. Andai Aida lebih cepat mendapat pertolongan…tapi kulihat di sekelilingku, tak ada satu pun petugas medis yang tidak bekerja. Mereka semua sibuk dan panik.

“Sudahlah, Ayu…,” ujar dokter wanita itu menepuk pundakku yang gemetar dengan pelan, setelah menyelimuti seluruh Aida dengan kain. Dia dan perawatnya meninggalkanku untuk mengurus korban lain yang tak dapat menunggu.

Fauzi, suaminya, datang beberapa menit kemudian –aku  pikir dia juga tidak selamat.  Ia  menelisik satu persatu orang-orang yang berbaring di sepanjang lorong yang padat. Aku mengangkat kepalaku, karena mendengar suaranya memanggil seseorang dengan tidak tenang. Hingga ia melihatku.

Matanya merah dan wajahnya pucat, dia terlihat sangat cemas dan lelah. Berhenti di dekatku, dan menemukan tandu yang berlumur darah, ia tidak dapat lagi menahan air matanya. Fauzi membuka kain putih dengan bercak darah di atas tandu di depanku. Tangisnya kemudian menyatu dengan ratapan yang dapat terdengar ke ujung lorong yang panjang. Mungkin suara-suara itu dapat menembus langit satu-satunya hingga surga pun ikut menangis.

Aku tak tahan melihatnya.

---

Orang-orang terluka bermunculan satu persatu tanpa henti. Ada yang tidak sadarkan diri dan ada yang sudah tidak tertolong. Aku tak dapat menangis. Meski ketakutan aku tidak dapat berlari pulang seperti mereka yang sempat berkelahi di jalan karena tidak bisa bersabar.

Di sepanjang lorong rumah sakit yang semrawut, mereka yang terluka tampak menunggu dengan menahan sakit. Seorang  anak kecil yang kakinya terluka dan ia menangis, seorang pria menemaninya dan berusaha menghentikan darah yang terus mengalir dengan membalutkan kain pada lukanya. Lalu ada lagi, seorang pria paruh baya di sampingnya yang bahunya terluka parah. Ia tampak meringis, menunggu dokter atau perawat untuk mengobatinya. Tapi, orang-orang terlalu sibuk dan panik. Aku tidak dapat menyebutkan satu per satu siapa saja yang akan tetap hidup atau mati karena tak tertolong, terlalu banyak orang.

Korban baru datang, diseret dari ujung lorong oleh dua orang petugas medis yang berteriak meminta jalan. Ada seorang pria sekarat yang sebagian wajahnya terluka.

Aku tidak dapat berpikir untuk beberapa saat. Yang jelas, aku tidak bisa pulang. Untuk saat ini. Ini pertama kalinya, aku memikirkan hal lain selain Alan yang sudah pergi mengejar mimpinya. Aku bahkan melupakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya.

---

Untaian doa terdengar seperti nyanyian pilu.

Aku merasa sangat lelah setelah berlarian ke sana kemari menolong dokter yang kewalahan. Setelah Aida yang malang akhirnya dibawa pulang suaminya untuk disemayamkan. Fauzi tidak mengatakan apapun saat meninggalkan rumah sakit dan aku juga tidak tahu harus bicara apa.

Begitu aku bisa duduk sendiri, beristrihat, menghabiskan roti yang diberikan salah seorang perawat padaku, aku baru menemukan matahari baru kembali dari belahan dunia lain. Kulihat keluar jendela, halaman depan rumah sakit dipenuhi orang-orang yang datang entah dari mana, di antara tenda-tenda darurat yang dipasang untuk menangani korban.

Di tengah-tengah suara riuh mereka yang meratapi keluarga mereka yang pergi, aku melihat seseorang dengan kertas di tangannya memanggil-manggil seseorang. Dia menyebutkan nama-nama asing di sepanjang lorong.

“Ayu Raima! Apa Ayu Raima ada di sini?!” seru lelaki muda itu saat ia berada dalam jarak beberapa meter dariku.

Aku berdiri, menatap ke arahnya. Dia mencariku?

“Kamu Ayu Raima?” dia bertanya padaku begitu sampai di depanku.

Aku hanya menatapnya tanpa langsung menjawab. Pasti keluargaku sedang mencariku.

“Hei, apa kamu Ayu Raima?” tanya dia sekali lagi, tapi mataku tertuju pada catatan di tangannya. Ada banyak nama yang tertulis di sana. Namaku pasti berada di antaranya.

Aku menggeleng. “Bukan…,” jawabku. “Aku bukan Ayu Raima…”

Ia menghela nafas lelah, lalu meninggalkanku dengan langkah terburu-buru. Sambil menyebutkan nama-nama  itu lagi, dia mengitari sekitarnya. Dia pasti relawan yang bertugas mencari orang hilang. Menyadarkanku, bahwa sudah dua hari aku berada di sini.

“Hei, tunggu!!” aku mengejar dia yang hampir menghilang di ujung lorong.

Dia berbalik. “Ada apa?” tanya dia.

“Aku bisa bantu!” kataku dengan semangat.

Awalnya dia tampak tidak yakin. “Benarkah?” tanya dia sangsi.

Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh.

“Oke,” jawab dia. Lalu mulai menjelaskan dan memberikan daftar yang sama.

Dalam daftar itu setidaknya ada 50 nama dan baru beberapa yang dicentang –artinya sudah ditemukan.

“Aku Radhi. Kamu?” dia mengulurkan tangannya.

Aku terdiam sejenak dan hampir saja membeberkan bahwa aku membohonginya. “Dennis,” jawabku, membalas uluran tangannya. Aku harap dia tidak merasa nama itu aneh untuk seorang perempuan.

“Oke, Dennis, supaya cepat selesai, kita berpencar. Kamu cari di lantai dua, aku cari di bawah, mengerti?” kata dia tampak menuliskan namaku pada kertas lain. “Dua jam lagi kita bertemu di sini”

“Iya,” aku mengangguk dengan sangat yakin.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments