[Bab 10] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kolase

Aku melihat cahaya, mengintip malu-malu di celah jendela yang terhalang gorden hijau tua dengan sudut mataku. Jendela rumahku tampak asing oleh keremangan. Tidak biasanya, udara terasa hangat di kulit.

Sore menjelang di suatu hari yang cerah berawan, meninggalkan musim hujan yang kelabu. Aku menemukan wajah yang menatapku sedih, di sisiku. Wajah yang merasa bersalah, karena mengurungku di suatu tempat mengerikan dan dia menghilangkan kuncinya.

"Aku mimpi aneh...,” kataku, di depan kaca.

"Mimpi?” suara Alan pelan. Dia berdiri di belakangku, dan bayangannya menemani bayanganku di dalam cermin.

Aku melihat diriku. Memperhatikan wajahku baik-baik. Adakah yang berubah belakangan ini? Aku terlihat pucat dan sakit, parahnya aku tidak percaya itu adalah diriku. Kulirik bayangan di belakangku, dia masih di sana, seperti hari-hari sebelumnya, menemaniku.

"Apa kemarin kita bertengkar?” aku menoleh ke belakang, memastikan bahwa ia bukanlah ilusi. Dan semua yang terjadi padaku –entah berapa hari yang lalu yang tak mampu  kuingat lagi, juga bukanlah ilusi.

"Ya...,” jawabnya, menggenggam bahuku perlahan seakan takut tangannya akan merontokan tulang-tulangku.

"Mimpi aneh… kamu... mana mungkin melakukan hal itu...,” aku tertawa getir dan tiba-tiba sesuatu menetes dari mataku. Tetesan panas yang membuat wajahku semakin menyedihkan. Hingga aku tertunduk, dan lengannya menahan tubuhku yang ingin jatuh. “Tapi, sakit... sakit sekali, Lan…”

“Maaf, Ayu…,” bibirnya berbisik di belakangku ketika ia memeluk tubuhku yang kehilangan semua dayanya. Masih kurasakan hangat nafasnya yang membuatku merinding dan takut. Namun dia menahanku, untuk tidak mendorongnya. Tetap berdiri, membiarkan kedua tangannya memelukku.

---

"Lan...,” mataku masih tertuju ke luar jendela, atap-atap rumah yang seperti kolase di kaki gunung yang kini bisa terlihat seutuhnya. Aku masih berusaha melupakan bahwa entah kapan itu –pada hari-hari yang telah berlalu tanpa pernah mengingat-ingat jam dan tanggal, kabut pernah menelan habis semua yang bisa dilihat oleh mataku saat ini dan direkam oleh akal sehatku –sebelum itu hilang, sebelum hujan dan…

"Tidak…,” Alan menggenggam tanganku, membuatku mengalihkan perhatian ke wajahnya yang masih tampak menyesal.

Harusnya dia bersikap biasa padaku.

"Kamu tidak mencintai dia kan?” tanyaku, dan rasanya bibir ini sudah putus asa bertanya hanya untuk menenangkan pikiranku.

"Tidak, Yu...,” dia menjawabku. “Sudah tidak lagi…"

"Bagus...,” aku menggumam, memejamkan mataku dan berusaha tidak memikirkannya lagi.

"Aku sudah bilang tidak akan kemana-mana,” dia berkata sambil merapikan helaian rambutku yang menutupi separuh wajahku. Menyapukannya ke belakang, dengan terus menatapku hingga aku menemukan diriku yang merana terperangkap dalam hitam bola matanya.

"Kamu kenapa, Lan?” aku tersenyum. “Biasanya kamu hanya tiga hari paling lama di sini."

"Kamu tidak suka aku lama-lama?” balasnya, dan dia mempererat genggamannya, mengembalikan perhatianku padanya. “Ayu?” panggilnya. “Kamu lihat apa?"

"Tidak...,” suaraku pelan dan aku berusaha untuk tersenyum.

“Harinya cerah… bagaimana kalau kita kembali ke Padang?” ujarnya. “Kita ke pantai?”

---

Padang, Agustus 2009…

Gazebo bergoyang diterpa angin. Aku merapikan rambutku yang acak-acakan dan memanjang dengan mengucirnya dan dia sedang melihatku. Orang-orang menikmati sore mereka dengan berenang. Aku pikir aku akan meninggalkannya karena dia malas bergerak. Selama satu jam aku hanya merasa tidak tahan berada di dekatnya. Karena semua yang dia katakan selalu terdengar menyakitkan, seperti sentuhan tangannya.

Aku bernafas dengan teratur, duduk dengan melipat kedua lututku. Menghadang angin laut sore hari yang menyebarkan wangi  asin.

Alan menutup hidung dengan menenggelamkan sebagian kepalanya dalam lengannya yang terlipat di atas meja. Menurutnya bau asin itu menjijikan. Dia berbeda denganku.

“Kamu mau ke mana?” tanya dia menarik lenganku saat aku berdiri dari kursiku.

Aku menunjuk pantai landai di depan kami. “Ke sana,” jawabku, menarik tanganku darinya pelan-pelan. “Kamu di sini saja”

“Kenapa?” dia bertanya dengan polos, seperti bukan dia melainkan, anak kucing yang basah yang tempo hari aku pungut dari jalanan saat hujan lebat.

“Karena kamu tidak bisa berenang,” kataku, melepas sepatuku. Meliriknya sebentar, sebelum pergi.

Ayu!!” panggilnya dengan suara keras.

Saat aku menoleh ke belakang, dia sudah berdiri dari tempatnya. “Apa kita tidak bisa kembali?” tanya dia, berseru.

Aku tidak punya jawaban yang pasti. “Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku,” kataku, berbalik sebelum berlari lagi. Dengan satu harapan, dia akan ikut berlari bersamaku seperti waktu itu.

Kutoleh ke belakang, ternyata dia tidak mengikutiku. Pasir hitam hanya terpahat sepasang jejak kakiku yang kemudian menghilang tersapu deburan ombak.

Dia tidak pernah mengikutiku.

Aku tidak melihatnya lagi saat aku menghilang dalam gelombang. Aku belum lupa, perasaan saat aku menenggelamkan diri di dalam air. Aku berenang ke tengah, dengan kecewa. Aku sempat menoleh ke belakang lagi. Alan sudah tidak terlihat. Aku terus berenang. Ombak berada di belakangku, aku menoleh sekali lagi, lalu menghilang.

Aku berenang ke tengah, menghilang ke dalam air. Mengarungi dunia di mana tidak ada dia di dalamnya. Perasaanku saat itu tercabik, aku tidak pernah menunjukan apa yang kurasakan, sejak itu. Dia tidak tahu sesakit apa diriku membiarkannya pergi atau tidak mengejarku sama sekali. Dia… tidak pernah benar-benar mencintai siapapun dalam hidupnya. Jika aku menghilang, suatu hari ia akan terlihat bersama orang lain. Tertawa dan berjalan bersamanya.

Aku memintanya meninggalkan Sania karena dia sama sekali tidak bahagia. Karena itu aku bertanggungjawab dengan membiarkan dia kembali ke dalam hidupku sekali lagi. Tapi, gambaran pertengkaran itu belum hilang dari benakku. Aku melihat diriku meringkuk di sudut kamar. Melipat kedua kakiku, memeluk diriku. Seperti selongsong kering,  bergeming. Wajahku tertutup rambutku yang berantakan.

“Maaf…,” suara itu terdengar berat, antara ringisan dan tangisan..

Aku sedikit mengintip di balik rambutku dengan ragu. Apa lagi yang akan dia lakukan selanjutnya untuk mengirimku ke ‘neraka’ setiap saat?

Dia tengah berlutut. Dengan rambut dan kemeja berantakan, mendongak kepadaku. “Aku janji tidak akan melakukannya lagi…,” katanya memohon pengampunan dengan sungguh-sungguh lewat tatapan dan rautnya.

Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak bergerak selain merapatkan diriku ke sudut seolah aku bisa menyatu dengan dinding lalu menghilang ke dalam tembok.

Aku ingin mengakhirinya.

Tapi, aku tidak bisa menolak semua yang diberikan oleh rasa bersalahnya. Yang kurasakan bukan lagi cinta yang biasa dia ucapkan. Hanya bentuk lain dari keterpaksaan atas apa yang  terjadi padaku berkat dirinya.

---

Aku tidak melihatnya di pinggir pantai beberapa saat sebelum ada sesuatu mengerikan menarik kakiku dan aku tenggelam.

Aku melihatnya di dalam air –tidak percaya dan dia memandangku sambil tersenyum. Mengambang di air lebih seperti terbang di udara ketika dia meraih tanganku. Waktu seakan melambat.

Tangannya yang dingin mendekapku beberapa saat sebelum aku memaksa melepaskan diri. Aku membawa diriku menembus permukaan air. Agar dapat menghirup udara walaupun nafasku sesak.

Kepala Alan muncul di depanku. Untuk sama-sama bernafas tersengal, lalu aku tertawa.

“Katanya… kamu tidak bisa berenang…,” kataku.

Alan mengibaskan kepalanya yang basah, dan percikan air dari rambutnya mengenai wajahku. Sebelum ia ikut tertawa, aku masih memandangnya tidak percaya. “Aku hanya malas…,” akunya.

Sebelum ini aku melihat Alan sebagai orang yang rapuh entah dari kaca mata yang dia pakai atau tubuhnya yang kurus. Tapi, dia tetap seorang laki-laki. Aku belum mengetahui dengan jelas bagaimana caranya hidup dan menghadapi orang lain selain diriku. Seperti misteri. Yang aku tahu Alan tetaplah seorang yang rumit dengan masa lalu yang buruk.

Berenang ke tepian terasa lebih melelahkan daripada berjalan sejauh satu kilometer. Aku tepar begitu kakiku menginjak pasir tempat ombak menghilang terseret kembali ke tengah. Di depanku langit mulai menguning, karena matahari yang dapat terlihat di atas Pulau Pisang akan segera pergi. Semua tenagaku sudah habis.

Aku mengatur nafas dan Alan terbatuk-batuk di sampingku. Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya seperti melihat mimpi indah yang tidak pernah kutemukan dalam tidurku. Tetesan air di wajahnya membiaskan rona kekuningan cahaya matahari yang hampir redup. Aku masih terkapar saat ia bangkit untuk duduk dan punggungnya dilumuri pasir basah.

Matahari tepat berada di depan wajahnya yang tampak kelelahan.

Aku tertegun. Jantungku berdetak cepat dan suaranya tersapu suara ombak yang menghampiri kami lalu pergi berulang kali.

Aku tidak pernah menganggapnya kacau, sama sekali tidak. Bagiku dia indah, seperti saat matahari  membentuk siluet parasnya yang menyamping dalam penglihatanku dengan tetesan air jatuh dari dagunya. Itu adalah hal terindah yang pernah aku lihat di dunia.

Aku memalingkan wajahku sambil menertawai perasaan bahagiaku yang tidak bisa disembunyikan lagi. Senja akan menjemput hari ini dan membawanya kembali ke pelukan malam, sebelum menyerahkannya kepada fajar. Aku pasti akan terus merindukannya sepanjang pergantian itu seperti siklus kehidupan. Lahir, tumbuh dan mati untuk dilahirkan kembali.

---

Orang studio foto meneleponku lagi. Hampir sebulan berlalu, dia terus mengingatkanku untuk menjemput barangku. Tapi, aku tidak bisa kembali ke Bukittinggi hanya untuk itu. Bagaimana pun, aku telah meninggalkan semua yang kupunya di sana –kehidupan baru dan pekerjaanku, dengan ikut Alan dan aku bahkan belum menginjak rumah keluargaku. Berat rasanya untuk pulang.

Akhirnya, aku meminta gadis di studio itu untuk memakai jasa pengiriman barang. Sehari kemudian, seorang kurir mengetuk pintu rumah baruku –yang disewa Alan supaya aku bisa tinggal sementara waktu dan ia sendiri tinggal bersama keluarganya. Dia berjanji, kita akan segera pindah, setelah dia menyelesaikan masalahnya. Tanpa rencana.

Aku menerima sebuah amplop putih dengan logo studio fotonya. Sebelum ini, aku merasa aku sudah tidak membutuhkan semua itu. Bagaimana  tidak, aku pernah melihat foto mesra Alan dengan pacarnya, Tyas –yang entah sudah dia tinggalkan atau belum. Sementara dia tidak punya satu pun foto denganku di handphone-nya yang rusak itu. Mau tidak mau, setiap aku mengingat hal itu, hatiku terasa sakit.

Tapi, memandang kenangan yang kami buat saat sebelum hari yang naas itu menghancurkanku, malah membuat sakit itu sirna. Betapa bahagianya kami saat itu –terpatri pada lembaran yang ingin kuperlihatkan padanya begitu ia datang.

“Ayu!” suara Alan memanggilku. Seakan tahu, inilah pertama kalinya aku merasa gembira sejak saat kembali dari Bukittinggi, ia datang padaku dengan ekspresi senang yang luar biasa, sehingga aku belum bisa menunjukan foto-foto  itu padanya.

Aku memandangnya dengan penasaran, senyum terlukis di wajahku dan aku masih menggenggam gambar-gambar itu di tanganku. Menunggu ia selesai bicara, hingga aku bisa menunjukan padanya bahwa aku sangat senang.

“Aku mau kembali ke Jakarta,” katanya, melenyapkan senyum di bibirku.

Foto-foto yang tadi kugenggam dengan penuh harap, sekarang tercecer seperti sampah di lantai.

Dia akan meninggalkanku lagi.

---

 “Kenapa kamu tidak tinggal di Padang?” tanyaku lagi lalu menemukan dia tidak menjawabku. “Aku salah ya?”

“Tidak…,” dia mulai terlihat seperti anak kecil yang pemurung.

Kurasakan dia berbeda dari kami berdebat dan bertengkar soal Jakarta juga hal mengerikan yang dia lakukan padaku.

“Kenapa?” kataku mulai menerawang, menghindari situasi di mana aku dan dia sudah menjadi orang asing. Tak punya jalan kembali. Jalan yang dia ambil sudah menjaga kita tetap terpisah.

“Aku tidak bisa dapat pekerjaan yang bagus di sini. Orang bilang kualifikasiku terlalu tinggi,” jelasnya. “Aku tidak bisa lama-lama di sini, kamu tahu kan?”

Aku tidak tahu harus bicara bagaimana. “Jarak jauh ya…,” pikiranku mulai menerawang, menembus awan kemerahan di puncak kepalaku.

“Di sini aku jadi pengangguran, aku tidak bisa bertahan lebih lama,,” jelasnya berujar. “Aku ingin mengajak kamu, tapi…mungkin ini belum saatnya jadi begitu aku dapat kerjaan yang baru di sana, aku pasti menjemput kamu…”

Apa yang dia katakan sama sekali tidak terdengar melegakan.

Aku segera bangkit. “Sudah senja, kita pulang,” kataku, lalu mulai melangkah meninggalkan pinggiran pantai.

“Ayu?”

Aku menghentikan langkahku, menunggu dia sampai di hadapanku karena aku ingin mengatakan sesuatu yang harus selalu dia ingat. Harus selalu dia ingat, apapun yang terjadi.

“Aku tidak bisa berhenti mencintai kamu,” kataku dan Alan menatapku sungguh-sungguh, seakan tak akan pernah ada hari esok yang menghancurkan kami. “Aku pastikan itu, Alan…”

Alan mengangguk-angguk, meraih tanganku, dia tampak tulus mengatakannya.

“Jika harus hidup tanpa kamu, aku lebih baik mati tanpa kamu,” aku melanjutkan kata-kataku. “Karena kamu satu-satunya alasan buat aku untuk terus hidup.”

Kulanjutkan langkahku yang hampa meninggalkannya setelah aku membuatnya berpikir. Saat  itu aku tidak pernah memintanya untuk tidak meninggalkanku, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku terlalu mencintai dirinya. Hanya itu dan aku tidak mengharapkan apapun. Aku bukan satu-satunya perempuan yang ia simpan di hatinya.

“Ayu?”

Aku nyaris tidak mendengar suaranya. Sekalipun aku mendengarnya, aku tidak akan berbalik untuk menunggunya. Setiap kali aku berlari kepadanya dengan sengaja, dia tetap akan pergi, lalu datang lagi. Rasa takut bilamana dia tidak mengikutiku lagi, tidak sebesar sebelum aku mencoba menghindar darinya. Aku hanya takut dia membiarkanku seperti ini terus menerus. Mungkin aku akan mati.

Ya aku akan mati. Dengan mengingat semua hal-hal indah yang dia tinggalkan untukku.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments