[Bab 9] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Janji

Handphone-ku berbunyi beberapa kali sejak tadi. Aku terdiam di depan jendela, mengalihkan padanganku dari luar, menatap ke atas meja di mana benda itu terus memecah kesunyian yang seolah abadi dalam kesedihan. Pertama-tama, aku tidak mengeluhkannya sejak seminggu yang lalu, ketika Alan berjanji akan kembali, tapi sampai detik ini, dia menghilang misterius.

Pikirkanlah sekali lagi. Jika harus memilih, menurutmu mana yang lebih menyakitkan mengetahui orang yang kamu cintai menghilang tanpa pernah tahu keberadaannya, dibandingkan dengan menghilang tapi kamu tahu ke mana dia pergi –dan tengah bersama siapa.

Aku merasa seperti pencuri atau yang lebih buruk dari itu, merasa seperti pilihan terakhir –harga mati yang tidak bisa lagi Alan tolak. Itu merendahkan harga dirimu melebihi dari mengejar-ngejar orang yang tidak mencintaimu, bukan? Karena…begitu kamu tahu bahwa yang kamu cintai tidak mencintaimu, begitu lelah kamu tentu akan menyerah. Tapi, jika kamu adalah harga mati bagi seseorang yang mungkin saja masih punya orang lain di sampingnya, itu akan membuatmu merasa sangat tidak berharga.

Percayalah, sangat banyak ketidakadilan yang kamu terima saat kamu berpikir cintamu tulus dan dapat meluruhkan segalanya –hati yang dingin dan perasaan yang beku sekalipun. Pertanyaannya, apakah kamu sanggup dengan itu semua?

Jawabanku, aku tidak sanggup. Tidak sanggup sama sekali.

Jadi, handphone yang berbunyi itu membuatku ke kesal. Sehingga, langkahku dan tanganku meraihnya dengan cepat. Tiba-tiba aku menangis, memandang ke layar handphone. Bukan dia. Tapi, nomor lain yang entah siapa, berusaha menghubungiku.

Aku menarik nafas, agar suaraku tidak tertahan saat menjawab teleponnya.

“Kak Ayu ya?” suara di seberang terdengar asing.

“Ya…,” aku menjawab dengan ragu-ragu.

“Saya dari studio foto, Kak,” suara itu berkata dengan ramah padaku, mengembalikanku pada studionya yang mewujudkan kenanganku dalam bentuk nyata –lembaran-lembaran yang aku pikir hanya akan membuatku sedih jika aku melihatnya. “Fotonya sudah selesai, Kak. Sudah bisa diambil.”

Aku tidak menjawab. Aku mematikan telponnya dan melempar handphone-ku ke atas meja dengan gusar. Mungkin aku terlihat seperti Alan yang baru tahu bahwa handphone-nya rusak dan tidak ada yang bisa ia lakukan dengan benda itu lagi. Sehingga dia membiarkannya begitu saja.

Tapi, sebenarnya handphone itu tidak rusak. Hanya kehabisan baterai dan dia sengaja membiarkannya karena mungkin tidak ingin diganggu oleh telepon dan SMS dari orang yang mungkin saja tengah mencari-cari dirinya. Seperti Tyas.

Handphone-ku terhempas menimpa N73 milik Alan, menimbulkan suara keras dan mungkin handphone-ku lah yang akan rusak. Aku menjangkau benda itu, untuk melihatnya sekali lagi, dan itu membuatku benci.

Handphone-ku berbunyi lagi dan aku rubuh di dekat meja. Menangis seperti orang gila di lantai yang dingin, mengabaikan suara-suara yang memanggilku lewat nada dering lagu Takkan Terganti yang kudapat dari Alan.

Meski waktu datang dan berlalu,

sampai kau tiada bertahan,

Semua takkan mampu mengubahku

Hanyalah kau yang ada di relungku…

Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta,

Kau bukan hanya sekedar indah,

Kau tak akan terganti…

----

Aku mendengar suara-suara orang mengetuk pintu.

Mataku mengantuk, karena acara di TV sama sekali tidak menarik. Aku masih meresapi dinginnya lantai dengan tubuh kaku seperti mati. Tapi, otakku masih memutar hari-hari yang nyaris menghilang dalam ingatanku. Semua itu sudah berlalu, tak akan pernah kembali lagi. Sekalipun bisa mengulanginya lagi, rasanya tak akan sama.

Jam dinding masih menunjukan pukul sebelas siang. Hanya beberapa menit, sebelum aku benar-benar dapat tertidur, belaian tangannya mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.

 “Kenapa tidur di lantai?” tanya dia padaku.

Aku membuka mataku dan dia sudah ada di sana. Pasti mimpi…

 “Dingin… nanti bisa masuk angin,” katanya sambil merapikan helaian rambutku yang berantakan. “Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telponku??”

Dia tersenyum, sambil meraih belakang kepalaku dan membenturkan dahinya ke dahiku dengan pelan. “Padahal kita sedekat ini...,” matanya terpejam, sebelum memelukku dan aku menghilang dalam dekapannya.

Aku seakan menguap dan menyatu dengan hawanya. Tapi, betapapun ini menyenangkan tidak dapat menghalau semua pikiran buruk itu. Malahan pikiranku sendirilah yang jadi makin kacau.

Aku hanya tidak bisa membayangkan, hari-hari yang telah kujalani dengan menunggu dan merindukannya. Jadi aku menangis, meski dia memelukku dengan sangat erat dan lama, tidak dapat meredakan rasa takutku sama sekali. Hingga aku tertidur lagi dan dia masih ada di sampingku. Aku tidak ingin berbagi dengan siapapun.

---

Pikiranku menerawang entah ke mana. Perasaan hampa menghantuiku ke manapun aku melangkah.  Mengingat ekspresi senangnya ketika dia melihatku lagi, membuatku tidak berdaya. Seolah dia tidak pernah melakukan hal yang sangat menyakitiku.

Aku tidak pernah memeriksa handphone atau barang-barangnya yang lain karena awalnya aku merasa itu tidak terlalu penting. Tapi, kadang kita bisa tersandung oleh batu kecil.

Handphone kamu tidak rusak,” kataku dan dia terlihat kaget, selanjutnya tersenyum. Aku duduk dengan tegak, menjatuhkan punggungku pada sandaran kursi. Menatapnya lekat-lekat, karena tidak ingin melewatkan perubahan mimik wajahnya walaupun secuil.

“Oh ya?” balasnya santai. Dia meneguk Coca Cola-nya dengan tenang.

Kami sudah duduk di sini sejak sejam yang lalu dan aku belum mengatakan apa-apa padanya. Aku tidak menyambut kedatangannya dengan hangat, setelah seminggu lebih dia meninggalkanku dan mengingkari janjinya. Terlalu mudah baginya untuk mengendalikan perasaanku dengan sikapnya. Mungkin karena dulu dia tidak benar-benar mencintaiku sehingga sikap merajukku adalah hal yang amat sepele dan bisa diatasi dengan mudah olehnya.

“Harusnya kamu tidak meninggalkan handphone sembarangan,,” kataku. Masih berusaha tenang.

“Aku tahu, tapi aku pikir benar-benar rusak…,” katanya, mulai menyadari sesuatu di wajahku. “Aku sudah membeli yang baru”

Aku diam, dan dia ikut diam.

“Mana handphone-nya?” ekspresinya mulai berubah. Dia menatapku cemas setelah melihat riak di mataku yang tak bisa lagi menyimpan perasaan terlukaku.

“Bukannya kamu sudah mebeli yang baru?” balasku, mengalihkan tatapanku darinya, menghindar dengan berdiri dari kursiku.

“Ayu, mana handphone-nya?” suaranya meninggi hingga aku menolehkan wajahku hanya untuk memperlihatkan bahwa air mataku sudah jatuh dengan menyedihkan.

“Untuk apa?” tanyaku. “Apa karena kamu belum sempat membaca pesan-pesan penting yang dikirim Tyas??”

Alan berdiri dari kursinya; mulai tegang, dia mengulurkan tangannya. “Ayu, mana handphone-nya?” nada suaranya merendah dan hati-hati.

Aku mundur beberapa langkah, menjauh saat langkahnya perlahan mendekat. “Kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku dan aku... juga mengatakannya...,” kataku, membiarkan tetesan panas menuruni pipiku dengan cepat, mengalirkan sensasi rasa sakit tak tertahankan di dadaku yang bergejolak –jantungku yang berdetak cepat sekali, dan saking cepatnya bisa meledak ibarat mesin yang diforsir habis-habisan. “Tapi, bedanya… aku tidak pernah berbohong.

Aku mungkin belum dapat menerima bahwa sebenarnya ada hal yang aneh dengan sikapnya. Aku selalu berpikir bahwa dia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Tapi, sebenarnya aku keliru. Hanya beberapa saat aku bisa tenang dari perasaan curiga, karena memikirkannya. Aku punya firasat tentang segala sesuatu yang akan terjadi. Paling tidak, aku melihat pertanda yang sangat nyata.

Suara nada dering yang asing terdengar samar-samar. Seolah tahu saat-saat ini akan menghancurkanku. Alan terdiam sesaat sebelum, dia merogoh saku celananya dan membiarkanku semakin jauh. Aku menunggu, apa hal yang lebih buruk dari membaca pesan-pesan singkat yang mengukuhkan Alan seorang pembohong yang senang bermain cinta dan foto-foto dia bersama perempuan cantik yang kulihat di mall waktu itu.

“Siapa?” aku menanyainya.

“Gina,” jawabnya tenang. “Aku disuruh pulang”

Aku terdiam beberapa saat dan benda itu masih berbunyi. Dia mulai sibuk. Membelakangiku, dia meninggalkanku untuk mengangkat teleponnya.

Langkah cepatku menghalangi dia yang masih ingin bersembunyi. Pada saat aku merampas benda itu dari tangannya dia tampak terkejut. Alan menggapainya kembali dan aku mundur beberapa langkah selagi mataku berada di layar handphone-nya. Terlambat mengambilnya dariku, benda itu sudah menghempas lantai, hancur. Wajahnya berubah tegang saat dia mencoba meraih tanganku. Tapi, yang dia dapatkan malah tamparan keras di wajah.

Semua sudah tidak sama lagi.

“Pembohong!!” teriakku.

Alan baru sadar dari rasa kaget ketika aku menamparnya lagi dengan keras. Aku meringis karena tanganku sendiri juga sakit. Aku memukulnya lagi, dengan tanganku, mengerahkan semua daya yang aku punya. Tapi, dia tidak menghentikanku. Seakan membenarkan dia pantas mendapatkannya dan sikap itu membuatku makin kecewa.

“Kenapa kamu begitu, Lan…,” aku meringis tertunduk dan kedua tanganku masih mencengkram lengannya sementara dia tidak bergeming. “Apa…karena aku tidak bisa memberi apa yang kamu mau, makanya kamu begitu…?”

Dia tidak menjawabku.

Aku tidak berkata-kata lagi, hanya berteriak entah pada siapa. Dinding kamar memantulkan lagi suara-suara itu. Aku melihat sekitarku, seolah tidak ada yang nyata. Aku terperangkap dalam kekacauan dan Alan tidak bisa mengeluarkanku darinya. Bahkan sampai hari ini.

---

Alan mondar mandir di depanku.

Aku duduk di kursi, setelah dia memaksaku untuk mendengarkan semua pengakuannya. Tentang mengapa hubungan dia dan perempuan itu masih berlanjut. Salahku, yang membangun dinding tinggi di antara kami, sehingga dia tidak bisa ‘memiliki’ diriku seperti yang dia inginkan.

“Bukan berarti aku tidak pernah berusaha…,” katanya membela diri dan itu semakin menyakitkan ketika kurasa bahwa dia sebenarnya sama sekali tidak berhak untuk itu. Karena, akulah yang disakiti, tapi dia tampak tidak peduli. Entah berusaha untuk membuatku menerima atau malah memaksaku untuk melupakannya saja. Tapi, tidak. Dia hanya ingin aku mengerti.

Mengerti dalam artian yang dia inginkan. Membiarkan dia melakukan apa yang dia pikirkan. Padaku.

“Aku berusaha, tapi kamu masih saja keras kepala! Aku sudah pernah bilang bahwa itu sama sekali tidak mudah!” katanya lagi. “Selama ini aku bersabar, karena aku pikir kamu akan mengerti sendiri! Karena aku sudah mengorbankan semua yang aku punya hanya untuk bersama kamu! Dan aku tidak pernah mendapatkan balasan apapun! Aku pikir kamu bisa terima kalau aku memang seperti ini!”

“Jadi kamu merasa pantas tidur sama perempuan lain karena aku tidak bisa, begitu?!” teriakku sambil berdiri menghampirinya. “Aku seperti mau gila memikirkan kamu, tahu?!”

Alan meraih kedua tanganku. Dengan erat dia mencengkram pergelangan tanganku, memaksaku menatapnya dan aku melawan dengan mendorongnya ke depan beberapa kali. Ia bertahan dengan kedua kakinya yang berdiri dengan kokoh.

“Aku sama sekali tidak pernah merasa kalau kamu begitu sama aku!” teriaknya. “Aku hanya merasa bahwa semuanya baik-baik saja selama kamu tidak punya masalah! Kamu menolak aku berkali-kali, seolah aku sama sekali tidak pantas! Seolah aku laki-laki yang menjijikan di mata kamu!”

“Kamu bilang apa ?! Aku sama sekali tidak…”

“Selama ini aku berusaha memahami kamu! Dan kamu tidak peduli! Kamu beranggapan kalau apa yang terjadi sama aku hanya soal kebiasaan! Tapi, bukan itu! Aku ini sakit!”

Aku terdiam, menatap dalam-dalam matanya yang memancarkan kegelisahan dan amarah.

“Aku ini sakit! Aku berharap orang yang ada di sampingku mengerti! Kalau kamu pikir, aku bisa dengan mudah begitu sama orang lain, itu karena aku tidak ingin melukai kamu!” suaranya makin keras. “Aku tahu itu kedengaran tidak masuk akal tapi hanya itu cara satu-satunya mengatasi perasaanku! Dan harusnya kamu tidak membiarkan aku melakukan kesalahan yang sama!”

“Lepaskan akuAlan! Sakit!” jeritku, meronta dan dia melepasku karena aku mulai menggila.

Aku mengusap-usap kedua tanganku yang sakit, dengan menatapnya kecewa, aku menemukan dia berusaha mengendalikan emosi dengan membelakangiku.

“Sebaiknya kamu pergi dari sini…,” kataku, ingin segera mengakhiri pertengkaran.

“Memangnya seperti apa kamu memandang hubungan kita?” tanya dia, bergerak beberapa langkah dariku, tanpa menatapku. “Apa aku ini hanya tempat bergantung?”

Aku menjauhinya, karena suasananya makin menakutkan. “Kalau kamu tidak mau pergi, biar aku yang pergi dari sini!” kataku, melangkah ke pintu yang terbuka sedikit.

Pintu menutup rapat di depanku dengan bunyi keras. Belum lepas dari rasa terkejut yang sangat, Alan sudah berdiri di belakangku. Saat aku membalikan badanku yang tertahan tubuhnya, aku melihat raut menakutkan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Seketika tanganku ditarik. Dan pintu terkunci.

Aku tidak terlalu ingat bagaimana perlawananku untuk lepas darinya. Aku menarik diriku sekuat tenaga, dan mendorong dia agar tidak mendekat. Kuekerahkan semua tenagaku.

Siang itu perlahan memudar dalam ingatanku tatkala kepalaku menghempas lantai dingin yang keras. Dan wajah menakutkan Alan tertinggal bagai mimpi buruk yang abadi.

---

Aku bangkit. Sekujur tubuhku nyeri sekali. Dengan memandangi sekitarku aku berusaha menyatukan kepingan yang terberai dalam kepalaku yang sakit.

Aku tergeletak di lantai. Kaki kananku terasa nyeri. Menyadari bahwa aku mungkin pingsan karena terpeleset lagi. Dengan tertatih aku berdiri kembali, meski hampir tidak bisa.

Tongkatku tersandar ke sisi tempat tidur dan berada cukup jauh dari jangkauan. Dengan susah payah aku meraihnya dan kembali mendapatkan keseimbangan begitu bertumpu pada kaki alumunium itu.

Wajahku tepat berada di depan kalender di atas meja yang sebagian tanggalnya telah disilang. 20 Desember 2010, menunggu disilang dan itu besok.

Pintu kamarku terkunci dari dalam. Aku membukanya karena mendengar suara-suara dari luar.

Mungkin sedang ada tamu.

 “Ayu tidak cacat seumur hidup kan, Ni?” suara adik ibuku terdengar samar-samar sehingga aku kembali masuk kamar. Rupanya dia datang menjenguk.

“Yang namanya patah tulang sudah pasti parah. Mau Bagaimana lagi, namanya juga musibah,” jawab Ibu. “Untung dia bisa pulang, bisa dapat perawatan di rumah sakit”

“Terus apa dia tertekan atau bagaimana? Membayangkan kejadiannya kami semua benar-benar merinding.

“Dia kelihatan baik-baik saja, masih suka tertawa dengan kakaknya. Tapi, tidak tahu juga. Belakangan mulai suka mengurung diri. Kalau ditanya sering tidak dijawab,” jelas Ibu. “Anak itu…keras kepalanya minta ampun. Dulu nekat pergi dari rumah, disuruh pulang tidak mau. Waktu gempa 2009, kita semua pikir kalau dia meninggal. Semuanya mencari tapi tidak pernah bertemu. Tidak memberi kabar tahu-tahu sudah jadi relawan bencana. Pulang sebentar, lalu pergi lagi. Bapak-nya sempat larang Ayu ke Mentawai, tapi tidak digubris. Makanya jadi begini….

“Uni, sudahlah, sudah nasibnya… jadi pelajaran juga supaya dia lebih hati-hati…”

“Sampai sekarang juga tidak ada yang mengerti isi kepalanya. Sekarang, lihat dia, ada banyak bekas luka yang tidak bisa hilang… secantik apapun anak perempuan jadi hilang cantiknya…,” kata-kata Ibu terdengar mengiris.

Aku tertegun di dekat pintu. Dan rekaman itu terputar secara otomatis di kepala.

Bagaimana aku bisa hidup dengan ini semua?

Alan tidak pernah pergi. Dia tetap di sana. Memandangku. Dari dalam cermin.

Meski melihatnya menyesal, apa yang dia lakukan tetap tidak bisa dimaafkan. Dan setelah termaafkan pun, tidak akan bisa dilupakan.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments