๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kabut
Andai aku tahu apa yang sebenarnya dia rasakan...
Ketika aku terbangun, aku baru sadar aku ketiduran. Aku melihat jam dinding yang bergerak merangkak. Pukul sebelas.30 malam. Aku lapar, tapi semua itu tidak terasa ketika aku kembali melihatnya tertidur di ranjangku, di bawah selimutku. Aku merasa sedih, saat mengambil handuk basah di dahinya. Lalu kuusap dengan tanganku –panasnya belum turun.
Air dalam wadah plastik di lantai masih dingin –mungkin karena udara di sini memang dingin, aku tidak membutuhkan es batu lagi. Aku celupkan lagi handuk itu, memerasnya, hingga dinginnya merata, lalu melipatnya dan mengembalikannya ke dahi Alan yang panas.
Hujan belum lagi reda. Aku beranjak dari sisi tempat tidur untuk melihat ke luar jendela. Gelap dan riuh hujan terdengar seperti badai, menghantam atap rumah dan menjatuhkan daun-daun yang lemah dari rantingnya. Aku menurunkan gorden yang terlupa olehku karena ketiduran.
Di atas meja, aku melihat kantong belanjaan yang belum dirapikan. Aku ingat, siang tadi aku membeli semua yang Alan butuhkan karena dia sakit –makanan, obat, dan pakaian ganti. Dia rubuh begitu selangkah kami masuk rumah. Tega sekali orang yang membiarkannya sakit sampai begini. Aku menahan nafasku, menenangkan pikiranku yang merasa akulah penyebabnya.
Suaranya serak dan matanya merah tampak lelah seperti kurang tidur. Lebih dari itu, ia berantakan dan tampak tidak terurus. Dia datang padaku setiap dia menginginkannya dan kemudian pergi. Selalu seperti itu.
Ketika dia menggenggam tanganku, tangis itu sudah hilang dari wajahnya yang tampak memohon. Aku kembali pada saat cintaku padanya masih bertepuk sebelah tangan, dan tersenyum getir –tidak percaya, saat ini, Alan tengah memohon padaku. Alan memohon padaku agar tidak meninggalkannya.
Tapi,…
Aku kembali ke sisinya, kupikir dia terbangun karena mendengar suaranya meringis. Ternyata hanya mengigau. Dia membuatku cemas saja. Jika besok dia belum sembuh juga, aku harus membawanya ke rumah sakit. Aku sudah tidak tahan melihatnya seperti ini.
Aku mematikan lampu. Menyisakan cahaya dari lampu meja di atas kepalaku lalu mencoba tertidur. Aku memejamkan mataku, mengosongkan pikiran, dan mulai menghitung.
Aku mengangkat kepalaku, memandang Alan yang tidak bergeming sedikitpun dari tidurnya. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan mengatasi perasaan dingin di hatiku. Aku sudah memastikan pintu dan jendela terkunci. Aku tak tahu apa yang kurang sampai aku beringsut ke dekatnya. Dan mulai bersandar di punggungnya yang tenang. Aku memeluknya erat. Ketenangan mengisi rongga dadaku.
Begitu kusadari dia bergerak, aku merasa agak lega –lebih ketika dia menggenggam tanganku di dadanya. Aku mulai tenggelam, dalam hawanya, meski air mataku terus lewat tanpa permisi.
Samar-samar kurasakan Alan membuat gerakan yang membuat kesadaranku bangkit dari mimpi aneh, meski mataku sangat berat untuk dibuka. Kepalaku ada di lengan kirinya. Tapi, aku merasakan dengan pelan dia menariknya dariku, lalu memindahkan kepalaku ke atas bantal.
Aromanya menjauh dariku beberapa saat kemudian. Alan meninggalkanku.
---
Ternyata pagi telah datang. Aku menggeliat penat, dan di sampingku kosong. Hanya ada handuk terlipat yang lembabnya diserap oleh bantal yang sudah basah; dan jejak kerutan di seprai putih yang kusut.
Kuedarkan pandangan ke sekitar. Di rumah ini hanya ada aku sendiri, seperti biasanya –setiap aku bangun pagi aku merasa begitu kesepian dan malas. Aku menginjakan kakiku di lantai yang dingin hingga membuatku berjinjit dan menggigil sendiri. Hari ini hari Sabtu, semalam aku menelpon Pak Abdi untuk minta izin bahwa hari ini aku tidak bisa masuk kerja karena sakit –padahal itu hanya alasan; sepertinya aku kualat. Aku bersin beberapa kali saat menyeduh teh dan kepalaku agak berdenyut.
Mungkin ketularan.
Kutoleh pintu samping yang terbuka, mengirimkan udara dingin yang membuatku tidak ingin keluar. Tapi, aku tetap membawa cangkir tehnya melewati pintu itu untuk memberikannya pada Alan.
Dia berdiri di halaman belakang, yang tidak terlalu luas dan terurus tapi cukup membuatnya tercengang. Ada pemandangan Marapi tertelan kabut yang bisa terlihat dari sini, sehingga ia betah sedari tadi di sana.
“Sudah lebih baik?” aku menegur dan dia menoleh sambil tersenyum. Dia tidak menjawabku dan menerima cangkir tehnya. “Kamu tidak kedinginan?”
“Sedikit…tapi tidak apa-apa…,” jawabnya lalu minum tehnya dengan sangat pelan.
Aku masih memandanginya, seolah tidak percaya bahwa dia ada di sini.
Sadar, aku tidak bisa berhenti melakukannya, dia meraih tanganku. “Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi… aku janji…,” katanya padaku, lewat tatapan yang sungguh-sungguh.
Kita ini hanya manusia bukan?
Dia juga. Alan sudah tidak lagi segagah saat pertama kali aku melihatnya. Dia pernah mengatakan bahwa dia tidak seperti yang aku pikirkan. Baru saat ini, aku menyadari bahwa dia benar-benar seorang manusia biasa. Manusia yang tidak akan pernah jadi sempurna. Dia menderita. Aku tahu.
Dan aku tidak boleh meninggalkannya begitu saja. Dia sudah terlanjur hadir dalam hidupku. Sudah terlambat untuk lari dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja tanpanya. Kenyataannya, memang, tanpa Alan, aku tidak bisa hidup seperti orang yang hidup.
Maka aku kembali. Walau sedikit memaksa, aku yakin apa yang aku rasakan saat ini padanya, tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Meski orang bilang aku hanya membuang-buang waktuku karena perbedaan kita akan merenggut paksa segalanya dariku nanti.
---
"Aku tidak tahu entah kita masih bisa pergi seperti ini. Aku tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun bahkan hanya untuk tidur,” kataku, beringsut ke dekatnya, untuk bersandar di pundaknya dengan manja. “Walaupun kamu terus-terusan membuat aku mengantuk dan bosan... aku sudah biasa..."
Hujan mengurung kami seharian di dalam rumah yang terasa dingin. Dan di sini tidak ada apa-apa selain dari kabut yang menyelimuti kota, serta dingin yang menyusup dari celah jendela dan pintu, juga ventilasi.
"Aku separah itu?” tanya dia tertawa kecil.
"Yah...tidak terlalu buruk. Aku tetap suka,” kataku.
"Aku tidak akan ke mana-mana. Kenapa kamu takut seolah ini tidak bisa terjadi lagi?"
"Kita hanya manusia, Lan...kadang-kadang kita bisa berubah pikiran. Bisa saja nanti kamu bertemu gadis cantik, kamu akan melupakanku lagi,” kataku setengah merajuk. “Kita tidak pernah tahu..."
"Memang tidak ada yang tahu, Ayu...,” ia terdengar menghela nafas, sambil menggenggam tanganku. “Tapi, untukku saat ini, apa yang pernah kita lakukan dan alami, itu tidak akan mudah dilupakan..."
"Aku tahu...,” aku mengangguk-angguk, dengan bersungut-sungut "Mana mungkin bisa dilupakan, karena ini pertama kalinya untukku. Dekat dengan seorang laki-laki… tidak semudah itu."
"Berarti aku beruntung jadi yang pertama untuk semuanya,” Alan cekikikan, sambil mengusap kepalaku dengan sebelah tangan.
Aku mendengus lagi. “Berarti aku yang sial, karena kamu sudah sering...,” gumamku, sedikit kecewa.Tapi, kuhela nafasku –aku memang tidak berhak mempermasalahkan masa lalunya.
"Tapi, ini pertama kalinya dekat dengan gadis seperti kamu."
"Maksudnya gadis jelek seperti aku?” tandasku.
"Siapa yang bilang kamu jelek?"
"Aku. Memang iya ‘kan?"
"Aku tidak pernah berhubungang dengan gadis jelek karena kamu cantik."
"Jawaban mengecewakan…,” aku mendengus. “Kamu mau pamer sudah berapa orang gadis cantik yang pernah kamu pacari?"
"Sebaiknya jangan membicarakan soal itu. Aku tidak mau tiba-tiba kamu mengusirku dari sini…,” dia berujar, terdengar memohon.
Aku terdiam sejenak sambil memandang tawanya, dan jadi ingin bertanya sesuatu padanya. “Tapi, apa di Jakarta kamu punya pacar?"
"Kenapa?” ia malah balas bertanya dan itu membuatku gusar. Ia tidak menjawabnya, namun senyum masih belum hilang dari bibirnya. “Kamu tahu, ini pertama kalinya aku sakit dan aku sama sekali tidak ingat kapan terakhir kalinya aku demam parah,” katanya, setelah saling diam beberapa saat.
"Oh ya?” gumamku.
"Memang...,” jawabnya pelan, sambil menarikku ke dekatnya dan aku menghindar.
"Hm...separah apa kelakuan kamu sebelumnya?” aku tahu itu tidak ada hubungannya, tapi aku mulai cemburu entah pada siapa. Teringat pada gadis cantik yang kutemukan di sampingnya di mall waktu itu.
"Aku bukan laki-laki yang punya banyak kekasih hanya karena iseng,” katanya menolak kepalaku sekali dengan ujung jari. “Aku tidak seperti itu..."
Aku kembali duduk di tempatku sambil merengut, merapikan rambutku yang acak-acakan karena sentuhan tangannya. "Terus?” tanyaku.
"Aku sibuk bekerja,” jelasnya "Jarang memikirkan hal lain selain pekerjaan. Sejak lulus kuliah aku selalu memikirkan keluargaku. Aku begitu demi mereka"
"Terus kapan kamu mulai punya pacar yang cantik?"
Alan tertawa. “Kamu benar-benar mau tahu sekali ya soal itu?”
"Aku hanya bertanya, Alan. Tidak boleh? Kalau tidak suka kamu juga tidak perlu menjawabnya,” cetusku.
"Cemberut...,” ia bergumam, tapi terdengar seperti mengeluh di telingaku. Lalu menarik nafas. “Aku pacaran hanya saat ada waktu. Kamu tahu, kebanyakan gadis tidak suka itu. Saat aku tidak bisa menemani ke mall belanja, atau ke manapun yang mereka suka"
"Mereka? Kamu punya lebih dari satu ya?” aku menyipitkan mataku.
"Coba aku hitung dulu,” Alan bermain dengan jarinya, dia benar-benar menghitungnya!. “Satu... dua... tiga..."
Aku mendorong tubuhnya dariku –sebal. “Kamu memang menyebalkan!" teriakku dan Alan tertawa. Dia meraih lenganku, menarikku ke dekatnya lebih rapat.
Aku masih diam, menatapnya, menunggu apa yang akan dia lakukan padaku setelah ini. Ia juga sama, menunggu salah seorang akan membuka pintu tempat terindah yang pernah kami rindukan. Tapi, perhatianku terbagi, menyadari sesuatu pada dirinya.
“Kalung kamu mana?” tanyaku tiba-tiba. Aku tidak melihat Kristus yang biasa ia pakai di dadanya.
Alan melonggarkan pelukannya. “Aku tidak bisa pakai itu lagi…,” akunya, lalu melepaskanku dan tersenyum. “Itu pemberian Mami dan aku sudah mengembalikannya”
“Kenapa?” aku masih bertanya-tanya.
Sekali, ia menghela nafas. “Aku sama sekali tidak mau menyinggung masalah ini,” ujarnya. “Tapi, aku menikah sama perempuan muslim, ya…kamu tahu maksudnya, aku…aku…”
Perempuan muslim? Imajinasi tentang gadis Tionghwa yang cantik terbakar dalam pikiranku. “Apa itu sulit?”
Dia tersenyum. “Tidak… sama sekali tidak sulit…,” jawabnya tenang. “Aku menemui Ayah. Kamu tahu, aku dan adik-adikku terlahir muslim, dari orang tua yang dulunya sama-sama muslim? Meskipun waktu usiaku… sekitar 13 tahun, kembali dibaptis karena waktu Ayah pergi, Mami jadi kehilangan arah dan dibawa ke gereja oleh saudaranya”
“Apa kamu merasa ada perubahan?”
“Banyak…,” dia tertawa pelan. “Arsip kenegaraan. Data di KTP…agama, status, alamat…”
“Lalu sekarang... Bagaimana dengan…,” suaraku tertahan.
“Aku harus memutuskan…,” dia berkata, masih dengan senyum yang sama, dengan tatapan yang sama –memohon sebuah kepercayaan. Sebelum ia benturkan dahinya ke dahiku. “Begitu semuanya selesai, aku akan membawa kamu ke Jakarta…”
“Tapi,…,” aku sedikit bingung. Mau tidak mau, di sini, saat ini juga aku harus ingat –dia menikah. Rasanya sekarang itu lebih tidak mungkin lagi dari saat kita masih berbeda agama. "Kamu harus jujur kapan kamu… kamu melakukan kesalahan itu dan kenapa baru sekarang…,” pertanyaan itu keluar begitu saja. Saat aku mulai memusingkan semua masalah yang berusaha Alan tinggalkan sebelum ke sini.
"Empat tahun yang lalu, mungkin. Waktu masih kuliah,” jawab dia, tertunduk, memberiku sedikit jarak agar ia dapat mengatakannya tanpa menatap ke wajahku langsung. “Aku kenal Sania bukan setahun dua tahun.,” jelasnya, tenang seolah dia tidak akan mengatakan hal yang menyakiti perasaanku. Sementara aku hampir menitikan air mata. “Aku dan Sania tidak pernah pacaran..."
"Lalu kenapa bisa?” emosiku sedikit naik. Karena nyaris tidak percaya. Ada seorang perempuan lagi yang bernama Sania, yang menurut firasatku bukan perempuan yang dulu pernah kulihat.
"Aku yang salah. Hanya…keinginan lama yang tidak pernah terwujud. Karena perbedaan juga dan aku tidak pernah berani menyebrangi batas. Dulu, aku hanya anak miskin yang tidak punya pendidikan tinggi,” jelas dia. “Begitu bertemu lagi setelah dua tahun kuliah di Jakarta, aku terbawa sama keinginan sesaat. Aku akui, aku tidak tahu akan seperti ini... sama sekali tidak tahu. Tiba-tiba dikabari bahwa aku harus bertanggungjawab karena anak itu… mirip aku… aku langsung pulang untuk memastikannya sendiri, dan aku sama sekali tidak bisa mengelak."
“Terus kenapa kamu lepaskan?” aku nyaris tak bisa mengeluarkan suaraku, tenggorokanku kering.
“Sst…,” desisnya. “Apapun yang terjadi, semuanya bukan salah kamu…mengerti?”
“Alan, aku…”
“Ayu!” dia memotong kata-kataku, memintaku mendengarkan. “Jangan pikirkan semua itu…,” pintanya. “Aku mohon…”
Bagaimana kita bisa bahagia dengan menyakiti orang lain?
---
Alan terlihat gusar. Entah karena apa dia melempar handphone-nya ke atas meja.
“Mati. Sepertinya rusak karena basah,” kata dia, dan membiarkan benda itu di sana, lalu menghampiriku. “Kamu sudah siap?”
Aku mengangguk-angguk, tersenyum lebar padanya saat dia meraih tanganku dan kami segera keluar melangkahi ambang pintu di hari Minggu yang cerah setelah seharian kemarin tidak bisa ke mana-mana.
Aku berlari, dia mengikuti di belakang dengan langkah santai. Dengan baju kemeja yang masih kusut sebelum kami masuk ke toko baju pertama yang kami temukan di jalan. Aku memilihkan setelan kaos warna putih dan celana pendek untuknya.
Panas matahari tidak pernah menyurutkan semangatku. Sekali pun kulitku terbakar dan kering. Aku pasti akan sangat sangat merindukan hari ini, entah kapan pun itu. Namun pasti.
Aku melihat jam tanganku tiap sebentar, menghitung-hitung berapa jam dan menit yang aku punya sebelum ini tiba-tiba berakhir dan aku tidak siap.
Alan meraih lenganku. “Kenapa kamu selalu berpikir kalau ini tidak akan terjadi lagi?” tanya dia sedikit gusar mendapatiku mulai gelisah.
Aku belum ingin dia pergi.
“Waktu kita bukan hanya hari ini,” katanya.
“Bagaimana kamu bisa yakin?” tanyaku. Mengamati ekspresinya baik-baik.
“Lihat aku,” katanya, mendekat selangkah ke depanku.
Aku nanar beberapa saat karena sinar matahari meredup. Sudah sore rupanya. Kami sudah mengunjungi kebun binatang, melihat panorama, masuk Lobang Jepang, membeli jajanan dan tertawa sepanjang jalan.
“Apa aku kelihatan sama sekali tidak melakukan sesuatu sampai kamu memikirkan semuanya sendiri?” tanya dia.
Aku menoleh ke belakang sekali. Jam Gadang menyaksikan hari yang kulukis dengan indah bersamanya. Suatu hari ketika aku mengenangnya, mungkin aku akan menangis dan sakit. Tapi, aku juga akan merasa bahagia di saat bersamaan.
“Kamu tidak apa-apa?” tegur Alan.
Aku menoleh, kaget. Dan ia ikut terkejut melihat reaksiku yang berlebihan.
Ia tampak menghela nafas. “Dengar, Ayu, aku tahu kamu mungkin mengharapkan seseorang yang tidak akan membawa kamu dalam masalah,” katanya. “Tapi, tidak peduli dengan siapa pun, masalah itu akan tetap ada. Semua yang ada di pikiran kamu, hanya ada di buku atau di film romantis. Kenapa kamu harus cemas, kalau kamu tahu bahwa aku tidak akan membiarkan kamu sendirian?”
Hari itu kuingat dengan baik. Membuang semua kegelisahanku, aku memikirkan sebuah cara untuk bisa mengabadikannya dalam bentuk yang nyata. Aku menyeret Alan masuk ke studio foto dan dengan setengah terpaksa Alan menurutinya.
Setelah keluar dari studio foto, perut yang keroncongan sudah tidak sabar dan mengamuk. Aku melihat gerobak mie ayam yang punya tempat duduk dan hampir penuh oleh orang-orang yang ingin makan. Hawa dingin mulai merayap tatkala langit yang tadi cerah mulai berawan, perlahan mengirimkan titik-titik air yang menghitam di atas kami. Kabut menyeruak seperti raksasa yang mengembang terus dan terus, hingga langit menjadi berat dan keabuan. Seperti kesedihan tertahan yang meledak, tangisan berupa hujan membasahi setiap jengkal tanah.
Aku dan Alan berteduh di emperan toko karena dinginnya hujan pasti akan mengembalikan penyakitnya. Setelah perut kenyang dan rasa lelah mulai membuatku malas berjalan –lebih-lebih Alan yang mengeluh, harusnya kita di rumah saja.
“Begitu aku kembali ke sini, kita ke Padang bersama,,” kata Alan padaku, sedikit berteriak karena derasnya hujan menyamarkan segala bentuk suara –mesin kendaraan, pejalan kaki yang lewat dan gemuruh angin. “Kita pergi ke pantai”
“Ya,” aku mengangguk dan dia menggenggam tanganku.
Satu jam berlalu. Aku mulai menggigil dan mengeluh, kenapa tadi siang begitu cerah?
“Sepertinya tidak akan berhenti,” kata Alan.
“Terus? Kamu masih demam, Lan…,” balasku. “Kalau kita nekat, nanti sakit kamu jadi tambah parah”
Dia tertawa. “Kamu lupa kalau aku ini laki-laki?” dia mempererat genggamannya pada tanganku. “Lagipula… kalau sakit, masih ada kamu!”
Aku tertawa sebelum dia menarikku bersamanya, menerjang hujan. Sambil tertawa, saling berteriak, lalu tertawa lagi. Sejenak aku dapat melupakan badai yang tengah menuju ke arah kami.
Ketika malam melelahkan berakhir dengan tidur, pagi menunggu di ujung fajar yang dingin, kabut mengitari gunung, menutupi kota, dan saat itu aku terbangun dari mimpi yang indah.
“Alan?” kesadaranku telah kembali seutuhnya.
Dia sudah tidak ada di sampingku. Dia sudah pergi dengan meninggalkan sebuah pesan pada kertas di atas meja, ‘Lusa aku kembali. Aku mencintai kamu, Sayang. Alan’
Bulu kudukku berdiri saking senangnya. ‘sayang’?
Aku tertawa sendiri pada kertas itu. Tapi, tawaku hilang seketika melihat jam dinding yang menunjukan pukul delapan. Tahu hari ini hari apa? Senin! Aku harus bekerja!
Aku bergegas masuk kamar mandi, tapi aku melihat sesuatu di atas meja.
Handphone milik Alan yang katanya rusak. Entah sengaja ditinggal atau memang dia lupa. Jika memang rusak dia masih bisa memperbaikinya, tapi…
Aku tidak lagi memikirkannya dengan masuk kamar mandi karena aku tidak punya waktu!
ooOoo
Komentar
0 comments