๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hujan
"Kamu baik-baik saja?” dia bertanya, terselip 'rasa bersalah' di antaranya.
Udara di dalam mobil yang parkir di pinggir jalan, membuat sesak –entah karena hatiku yang kacau sejak mengikutinya ke sini dar minimarket di seberang jalan. AC yang terlalu dingin dan hidungku jadi sakit.
Aku tak pernah merasa lebih sehat lagi dari ini sejak tumbang gara-gara anemia beberapa waktu lalu. Ibuku saja tahu bahwa aku tak akan pernah mengenalkannya pada keluargaku dengan cara yang wajar. Omong kosong apa yang telah kukatakan pada ibuku yang menunggu? Aku menyiksa diriku terlalu sering karenanya dengan tidak pernah mengatakan bahwa kami berakhir dengan cara yang paling buruk.
"Aku...,” Alan dengan gayanya yang kikuk tampak memikirkan sebuah kalimat yang masuk akal. Apapun yang mau dia katakan aku tetap akan menangis.
Aku sudah mulai. Satu tetes, dua tetes, lalu aku menarik nafas, memejamkan mata, satu tetesan besar merusak seluruh dandananku. Aku mulai sibuk mencari tisu di dalam tasku. Aku makin frustasi karena tidak ada.
Tangan Alan tepat berada di depan wajahku, aku terkejut karena tangan itu gemetaran. Dan dia memperlihatkan ekspresi yang tidak kusukai sama sekali. Dia sudah kehilangan semua sikap tenang dan misterius itu.
"Maaf...,” ucap rasa bersalahnya ketika aku menyentuh tangan itu dan dia tetap panas seperti api. "Aku benar-benar minta maaf."
Dia mendekatkan wajahnya padaku, seperti biasa saat kita tidak berbuat sesuatu untuk memecah kesunyian yang membosankan. Kata-kata apa yang dia punya untukku saat ini?
"Aku tidak ingin kita pisah seperti ini,” kataku, suaraku tertelan tangisanku. “Aku tidak ingin kehilangan kamu..."
Alan mengangguk-angguk, dia membelai puncak kepalaku. "Aku juga tidak ingin,” dia memaksakan senyum di bibirnya. Kupandangi setiap kata yang keluar dari sana.
Aku mengangkat tubuhku, agar aku bisa memeluknya. Aku keluarkan semua tenagaku, dan itu malah menyakitiku karena tak cukup kuat untuk menunjukan posesif-ku.
"Aku mencintai kamu, Alan...,” ucapku serak.
Dia tersenyum. “Aku tahu...,” balasnya dengan menatapku lembut di balik kaca matanya. “Kita berbeda dan banyak orang akan menentangnya, lagipula…aku merasa tidak pantas… untuk gadis seperti kamu, Ayu...."
"Memang kenapa?” cetusku merajuk. Apa yang aku takutkan bukan lagi perbedaan, tapi bila mana aku tidak bisa melihatnya lagi. Tanganku mengepal kuat, kupikir itu bisa meredakan ketakutanku.
"Aku punya seorang anak dan untuk memberinya perlindungan, aku harus menikah dengan ibunya…,” dia kembali mengamati wajahku. Menyimak baik-baik perubahan rautku. “Aku pikir itu akan membuat kamu malah menderita…”
Dan aku tertunduk, rasa takut tersangkut di tenggorokanku sehingga tidak mampu berkata 'Jangan pergi'.
"Dan aku… punya seorang kekasih yang ingin aku kembali,” kata dia, terdengar samar-samar antara putus dan bertahan entah untuk berapa lama.
Aku menyesal tidak menutup telingaku sesaat sebelum dia mengucapkannya. Setengah dari diriku sudah menangkap sinyal bahwa aku tengah dipermainkan. Tapi, ...aku harus bagaimana?
"Aku tahu kamu memang tidak pernah memikirkan aku,” celetukku. Aku ingin menangis di tempat lain. Aku ingin menggigit sesuatu untuk menahan rasa sakit yang aku tak tahu entah di bagian mana. Yang jelas terasa sangat menyiksa.
"Apa aku pernah melakukan hal yang tidak wajar jika kamu kira aku sedang mempermainkan kamu?” tanya dia, agak ketus karena ucapanku barusan.
Setetes kekonyolan di mataku jatuh lagi. Aku tertunduk, berkamuflase dengan menahan nafas di balik rambutku yang menutup wajahku. Jika aku menarik nafas, akan ketahuan bahwa aku menangis. Aku sudah lama tidak menangis. Berkatnya. Tapi, terima kasih, berkatnya juga, aku bisa menangis dengan ekspresi yang pasti amat sangat jelek.
Jadi, aku membuka pintu, melompat dari mobil dan kabur.
Tapi dia menghentikanku. Tubuhku ditarik saat dia dengan cepat meraih lenganku. "Tunggu!"
Aku sudah tidak tahan, hembusan nafasku yang pertama sejak aku memahannya terdengar seperti rengekan anak kecil. Aku kembali duduk sambil berharap kata-katanya tak akan lagi menyayatku. Aku sangat takut.
"Aku orang yang rumit. Denganku, kamu tidak akan bahagia,” kata dia, menatapku tapi aku tak mau menatapnya.
"Kalau kamu tahu itu harusnya kamu tidak usah datang lagi ke sana!” teriakku, teringat pada saat kami bicara pertama kali. "Aku tidak akan pernah memohon supaya kamu tidak melupakanku! Dan aku tidak akan seperti orang bodoh mencari kamu ke mana-mana"
"Aku bisa apa, Ayu?” dia terdengar putus asa. “Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku kembali ke sana. Aku tidak tahu, dengan kamu aku akan lebih banyak tertawa dan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan."
Aku masih menunggu; sebuah alasan logis. Semenyakitkan apapun itu sekalipun dia bilang, aku hanya pelarian sementara dari masalahnya. Aku akan menepuk dadaku nanti.
"Aku sedang berpikir...,” kata dia, tatapannya kosong, tapi jelas sangat bingung. “Waktu membaca semua pesan yang kamu kirim. Aku memang menghindar, aku akui, aku ingin membiarkan semuanya seperti itu. Aku tahu apa yang kamu rasakan dari cara kamu memandangku dan aku sama sekali tidak siap jika kamu terjerat denganku. Tapi...di sisi lain, aku yang tidak pernah bertemu dengan gadis seperti kamu merasa, kalau aku masih bisa melakukan sesuatu... makanya aku kembali ke sana, karena aku senang saat kita pertama kali bicara dan duduk bersama."
Aku menoleh padanya, memperlihatkan wajahku yang menyedihkan. “Kenapa?"
Alan membalas tatapanku. Sedikit mendongak, ia menyentuh kedua pipiku yang basah dengan kedua tangannya. Aku tidak bicara. Sepatah katapun dan yang keluar dari bibirku hanya ringisan sakit. Dan begitu aku tak sanggup bertahan hanya dengan mengepalkan tanganku kuat-kuat, tangisanku menghambur bagai kelelawar gua.
Aku hanya berharap bisa dicintai. Dan sekarang, aku makin mengutuk diriku. Kenapa aku dipaksa menerima keadaan ini?
"Ayu...,” Alan memanggilku, dengan suaranya yang berat.
Aku menghapus air mataku, ketika jari-jarinya menyusup di antara helaian rambutku.
"Ada apa sebenarnya, Lan?” aku memaksanya bicara. "Apa semuanya benar?"
Hembusan nafas berat Alan terdengar jelas. “Aku pernah melakukan kesalahan. Dulu,” jelasnya. “Aku tahu itu tidak bisa dimaafkan. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk melibatkan kamu, maksudku... aku bahkan tidak pernah tahu, kita akan bertemu dan... punya sebuah hubungan."
"Kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu mau menikah?!” tuntutku.
"Karena aku tidak mau kamu pergi...,” akunya, menatapku dalam-dalan menembus kaca matanya. “Selama ini aku terus berpikir, Bagaimana mengatasinya."
Aku mencoba mengatakan sesuatu, sesuatu yang harus terus Alan ingat. Sesuatu yang membuatku tidak berdaya ketika mengingatnya. “Kamu punya seorang anak, Lan...,” aku bahkan tidak bisa mengucapkannya dengan baik. “Aku sama sekali tidak percaya…”
"Aku sudah mengacaukan semuanya,” ujarnya.
"Aku harus bagaimana?” aku semakin bingung, berputar dalam pikiranku. Satu-satunya yang aku takutkan hanyalah kehilangan dia. Tidak bisa lagi melihatnya, itu mengerikan.
"Apapun yang terjadi, tidak akan mengubah apa pun,” rasanya dia pernah mengucapkan itu sebelum ini. Tapi, yang sekarang terdengar sangat meragukan. "Aku mencintai kamu, Ayu... sungguh, aku tidak berbohong tapi kenyataannya kita tidak bisa bersama… aku tidak ingin kamu terlibat dengan masalah yang tidak kamu mengerti…"
Kenapa dia baru mengucapkannya sekarang?.
Semakin aku pandang dia dengan perasaanku, kuingat setiap sikap dan kata yang dia ambil menghadapiku; pernyataan cintanya tampak di bawah tekanan. Ada pun perasaan janggal lainnya di hatiku, adalah aku tidak mengenalnya, sama sekali.
Apa yang aku ketahui tentangnya adalah apa yang bisa kulihat. Alan menyembunyikan banyak hal. Banyak sekali tentang dirinya yang masih menjadi misteri. Dan, aku tidak mempercayai cintanya. Aku bahkan tidak percaya. Permohonanku padanya terkesan seperti kekonyolan seorang gadis yang harus menggantungkan dirinya pada seseorang yang dia pikir mencintainya dan parahnya dia tidak terlalu mengenalnya. Tapi, aku menolak mentah-mentah kenyataan itu.
Aku menggeleng-geleng. "Bohong...,” aku lega mengatakannya, walau dadaku terasa sakit sekali.
"Bukan berarti karena aku tidak mengatakannya aku berbohong!” katanya, mulai tidak tenang. “Dari awal, sampai detik ini, tidak pernah ada satu kebohongan pun di antara kita. Semua ucapanku, semua yang kita lakukan, itu sama sekali bukan di atas kebohongan..."
Aku tersenyum hampa, mataku mengitari sekelilingku. Kedua tanganku yang gemetar dan basah. Aku tak berani menoleh ke samping. "Apa kamu sadar kita punya sebuah batas yang tidak bisa aku tembus?! Aku dengan pikiranku sendiri soal kita, dan kamu dengan semua rahasia itu. Kamu tidak sadar aku coba peduli dengan masalah kamu, tapi kamu malah menjauh! Apa yang tidak bisa kamu katakan sekarang? Apa lagi yang sebenarnya kamu sembunyikan?"
"Aku hanya laki-laki biasa. Kamu pikir aku ini siapa?” sambungnya. Membuang pandang dariku.
Aku menenangkan diriku dari perasaan gelisah, karena aku akan membuat sebuah pengakuan. “Aku merasa begitu kamu karena kamu tidak mengizinkan siapapun mendekat..."
Aku menahan detak jantungku yang keras, tapi tak mampu. Keringat dingin sudah membasahi tengkukku. Dia selalu membuatku seperti ini ketika membicarakan 'kita'. Setelah selama ini hanya ada 'aku' dan 'dia'. Hanya itu.
"Aku tidak mengerti,” kata dia, menoleh ke arahku.
Aku masih tertunduk. Menunggu.
"Aku ini berantakan,” sambungnya. “Aku tidak sebagus yang bisa dilihat dari luar. Satu-satunya alasan kenapa aku kembali ke sana, menemui kamu, karena aku pikir kita sama."
"Sama?” aku mengerutkan dahi.
"Sama-sama ingin berhenti melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan, tapi tidak bisa. Aku datang dari Jakarta karena masalah ini, dan aku tidak bisa menyelesaikannya. Aku tidak bisa mengatasi kesulitan kamu, makanya aku diam. Aku sengaja mengabaikan semua SMS dan telpon kamu. Aku tidak ingin orang lain terlibat dalam masalahku. Tapi, aku tidak sadar tiba-tiba aku sudah ada di depan toko...,” Alan menghembuskan nafas lelah. "Sampai hari ini aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku lakukan..."
Air mataku jatuh lagi.
"Aku hanya ingin kamu tahu, kamu bukan pelarianku, juga bukan permainan... aku... aku hanya merasa tidak beruntung, karena... kita bertemu di saat yang tidak tepat untuk memulai semuanya...,” lanjutnya, itu makin membuatku bersedih.
Perubahan di wajahnya sangat jelas. Sinar matanya meredup. Bayanganku pada kaca matanya menunjukan betapa bodohnya ketika aku menangis, di depannya. Sekalipun dia memelukku sangat erat seperti dia tidak merelakan kesedihan merobek kami menjadi potongan kecil; layaknya aku yang tak mau melepaskannya. Aku bingung.
Di dadanya, aku merasa tenang dan aku memang tidak bisa memungkirinya dengan mendorongnya dariku ketika pelukannya menahan tubuhku. Tapi, saat memejamkan mata, bayangan sosok seorang wanita dan anak kecil menari-nari di pelupuk mataku.
"Aku membenci kamu, Alan!” teriakku memukul lengannya, apa saja yang dapat diraih oleh tanganku yang gemetaran.
Dia mencoba menghentikanku. “Ayu! Berhenti!” jeritnya menggenggam lenganku kuat-kuat. “Kamu harus kuat… jangan lagi memikirkan orang seperti aku…"
Aku tertegun beberapa saat, memandang wajahnya. Lalu aku sentuh dengan tanganku yang gemetaran.
Alan membeku di depanku.
Aku ingin memiliki semua yang ada pada dirinya. Untuk meyakinkan diriku bahwa aku akan menghadapi apapun untuk bisa bersamanya.
“Terima kasih…,” ucapku tertunduk. “Terima kasih, berkat kamu aku tidak jadi dipecat dan aku bisa membalas orang-orang yang dulu merendahkanku…”
Dia masih membeku.
“Jangan pikir aku tidak tahu kamu minta bosku supaya aku dipindahkan…,” kataku. “Mereka jadi kasihan padaku dan memberiku semua ini.”
---
Aku duduk di kursiku kembali dan mencoba lebih bersemangat. Setiap aku turun ke lantai satu untuk mengambil atau mengantarkan sesuatu, aku menatap ke seberang jalan dari pintu kaca toko, lalu tersenyum, kulihat dia ada di sana. Tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya.
Lalu aku membalasnya dengan senyuman dan kemudian kembali ke monitor komputer. Ketika aku melihat sekali lagi ke sana, dia sudah tidak ada.
Alan mungkin sudah dalam perjalanan kembali ke Jakarta, bersama keluarganya. Meninggalkan aku dan diriku, menelusuri jejak yang ia tinggalkan di trotoar itu. Aku tahu, apapun tentangnya tidak ada hubungan denganku lagi.
Aku tersenyum pada Shela, sambil menyerahkan daftar harga yang baru yang kudapat Melani.
“Masukan ke sana!” katanya memerintah sambil memberikan sebuah map khusus daftar harga padaku.
Aku menatapnya sejenak, untuk memperhatikan apa yang dia kerjakan. Dan dia terlihat tidak melakukan apapun selain mengobrol cekikikan dengan teman semejanya.
Masih dengan senyum manis, aku mengambil map itu dan melemparnya ke depan dia. “Kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?” cetusku lalu pergi.
Aku tahu dia gusar dan mulai menggerutu tidak jelas di belakangku. Jadi, aku menoleh dan menunjukan kekesalan yang sama. Kalau dia berani bicara sesuatu padaku, aku akan punya alasan untuk menjambak rambut pirangnya yang menggelikan!
Tapi, dia hanya melirikku dengan tatapan merengut dan jengkel. Lain kali aku harus memberinya pelajaran untuk tidak meremehkan orang lain lagi.
---
Aku memandang diriku yang setengah merana di cermin. Aku sudah memeriksa diriku dari kemarin-kemarin, setiap hari, sejak aku pulang ke rumah yang sepi, dan menyadari tidak ada yang patah selain hatiku. Tidak terasa, 5 Juni, aku 20 tahun. Tidak ada perayaan apa-apa di hari itu. Tidak banyak yang tahu soal ulang tahunku yang memang tidak pernah dirayakan. Aku telah banyak berubah tanpa kusadari.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin lagi, berlalu begitu saja. Aku tidak meninggalkan kenangan apapun di sana. Hari-hari itu berputar dalam sebuah lingkaran, di mana ketika aku terus berjalan, begitu tiba diujung, semua yang kulewati terulang kembali.
Aku tidak melihat jalan lain yang bisa kutempuh untuk melakukan hal yang baru. Aku sangat pasrah pada kota ini, di mana aku menggantungkan kehidupanku sepenuhnya. Tak ada yang bersahabat denganku. Udaranya, suasananya dan tempat-tempat di dalamnya. Mungkin karena dalam sekilas pandanganku, aku masih melihat dia.
Kota ini kecil. Tidak banyak pusat keramaian untuk berpencar dan tidak saling melihat beberapa saat. Ada satu mall yang tempatnya strategis. Dekat dengan pantai, dan dekat dengan pasar terbesar yang ada di kota. Aku pergi ke sana untuk sekedar melihat-lihat, sendirian.
Tangan tak terlihat mencengkram erat jantungku hingga remuk. Aku membalikan badanku, menaruh buku yang ingin aku beli kembali di raknya. Kakiku melangkah, mengikuti ke mana sosoknya pergi bersama seorang perempuan cantik yang wajahnya asing bagiku.
Aku hanya tak pantas untuk memandangnya lagi dengan caraku.
Dia bukan milikku.
Aku berusaha tidak menangis. Aku berhasil tapi rasa sakit tidak tertahankan di dalam diriku memberontak pada pertahananku. Kenyataannya aku memang tidak bisa menangis, karena air mataku sudah kering. Ya, aku tidak pernah menangis lagi.
---
Pikiranku yang menerawang soal perempuan cantik bertubuh tinggi dan berambut panjang itu sangat benar. Melani juga bilang dia punya seorang pacar yang cantik dan bahkan Alan juga mengakuinya. Alan punya ketertarikan yang besar pada wanita-wanita seperti itu. Yah, aku tidak menyesalinya sama sekali, setidaknya itu membuatku termotivasi. Aku bukannya jelek, tapi hanya ‘merasa’ jelek.
Hariku memang berat. Tapi, aku tidak menangis.
Hanya saja, aku telah dimanipulasi perasaanku sendiri yang selama ini mengatakan aku akan baik-baik saja tanpanya. Tapi, aku hanya mempermainkan diriku sendiri. Aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku karena menemukan jalan lain yang membawaku keluar dari kota ini. Aku sudah lama mengatakan pada Ibu bahwa aku ingin mandiri.
Keputusanku mengagetkan semua orang di toko. Aku mengakui bahwa aku tidak bisa lagi bekerja di sana atas rasa kasihan dari bosku. Kurasa tidak akan adil bagi yang lain. Jadi begitu aku menemukan pekerjaan baru, aku tidak pikir panjang untuk segera melayangkan surat pada Cece Wan.
Aku meninggalkan rumah dengan keras kepala setelah pertengkaran sengit yang memojokanku dengan orang tua dan kakak yang selalu mengatur. Satu-satunya hal yang sangat membuatku kecewa adalah mereka hanya berkata ‘Lupakan, dia tidak pantas’. Mengetahui alasan bahwa mereka mengatakan itu hanya sebagai kata lain bahwa perbedaan aku dan Alan bukan hal yang bisa disatukan dengan toleransi –karena mereka memang tidak pernah mengenal Alan dan masa lalunya.
“Kamu boleh pergi! Dan kalau sudah pergi, jangan kembali lagi!” ucapan Ibu terngiang di telinga ketika aku membereskan baju-bajuku.
Aku gentar. Masalahnya, aku belum tahu sekeras apakah kehidupan di luar sana. Tapi, aku harus melakukannya demi hidupku. Perasaan takut tak bisa pulang ketika gagal, menghantuiku begitu selangkah aku menginjakan kaki keluar. Tapi, aku bersumpah, demi kebebasanku, aku tidak akan kalah.
Hidup bisa menjadi satu perkara mudah. Jika kita bisa menerima bahwa hidup itu sulit, dengan sendirinya kita sudah mengatasi kesulitan itu. Tapi, yang sulit adalah menerima bahwa hidup itu memang sulit.
---
Bukittinggi menyambutku pada Juli 2009. Lingkungan baruku berbeda dengan kota kelahiranku. Udaranya dingin dan lembab, tapi sejuk. Aku memutuskan tinggal di sebuah rumah sewa yang tidak jauh dari tempat kerjaku –kantor travel agent yang lokasinya berada tepat di tengah kota. Dari sini aku berusaha menata hidupku lagi seperti aku menata tempat tinggal baruku. Menyusun barang-barang dan pakaian, membeli apa yang belum ada. Semua itu kulakukan seorang diri.
Aku beruntung di terima di bagian akunting meski itu artinya tanggung jawabku sangat besar dalam urusan keuangan dan aku tidak terlalu yakin. Lingkungan baruku tidak sama seperti tokonya Cece Wan. Mungkin karena karyawannya tidak sebanyak karyawan Cece Wan. Aku punya seorang bos yang sudah berkeluarga –seorang istri dan dua orang anak yang baru menginjak masa remaja, Pak Abdi namanya.
Dia baik. Setidaknya dia tidak sedisiplin Cece Wan dengan aturan-aturan bodoh yang kadang jadi tidak berguna. Dia mempunyai 7 orang karyawan sekarang –termasuk aku. Tiga di antaranya perempuan dan sisanya laki-laki.
Sebenarnya, kenapa aku memilih Bukittinggi yang jaraknya tiga jam perjalanan dari Padang? Aku hanya ingin menemukan suasana baru. Bukittinggi, kota wisata yang terkenal dengan Jam Gadang-nya yang punya banyak tempat untuk jalan-jalan –melebihi Padang yang hanya punya pantai. Dan kebanyakan merupakan wisata sejarah, seperti Lobang Jepang dan Benteng Fort de Cock. Kota ini indah. Sayang, karena berada di dataran tinggi, di sini tidak ada pantai.
Tapi, siapa juga yang mau pergi ke pantai? Pantai hanya mengembalikan Alan sebagai kenangan yang membuatku sedih. Hanya saja, musim hujan di sini terasa menyedihkan bagiku, entah mengapa. Mungkin ketika hujan, pemandangan yang biasanya selalu membuatku bersemangat di pagi hari ketika aku berlari-lari kecil di sepanjang jalan di hari minggu, tidak terlihat. Kabut, tampak seperti raksasa yang hendak menelan Gunung Marapi dan apa saja yang dilewatinya.
Pagi itu aku memeluk diriku sendiri di depan jendela, dengan mengenakan jaket tebal. Aku menyeduh teh untuk membuatku merasa hangat. Pagi-pagi sekali aku terbangun dengan perasaan yang tidak enak, sehingga aku punya waktu sebentar, sebelum berangkat kerja –daripada tertidur lagi dan itu akan membuatku terlambat.
Payung terkembang di bawah rintik hujan yang dingin. Orang-orang lebih memilih berteduh di emperan toko-toko daripada melawan derasnya hujan yang membuat genangan air di mana-mana. Aku melangkah dengan pelan menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat dan tak berperasaan pada pejalan kaki. Kulirik jam tanganku, hampir jam sembilan, tapi kegelapan membuat hari ini seolah tenggelam dalam malam yang tak berakhir.
Sudah seminggu ini. Mungkin pelancong mengeluh dan terus terang saja, penjualan paket liburan sedikit berkurang. Kalaupun ada yang sudah terlanjur datang, mereka hanya bisa mengeluh dan pulang dengan kecewa.
Aku sudah melihat tempat kerjaku dari jarak 500 meter, karena Pak Abdi memasang bilboard yang begitu besar. Aku sudah tidak sabar sampai rasanya ingin berlari. Berencana untuk menyeduh Cadburry panas bersama Tasya dan Ana –teman baruku. Aku terlambat. Aku tahu, tapi aku rasa Pak Abdi akan memahaminya. Mungkin juga yang lainnya ‘molor’ seperti kemarin-kemarin.
Tapi, aku belum sampai, saat mataku menemukan seseorang yang berdiri di seberang jalan, menghadap ke kantorku. Baru kusadari, memang berat rasanya, ketika menjalani semuanya sendirian, lagi. Aku tidak akan memulai penderitaan sepedih ini, jika saja aku tidak menghampirinya waktu itu.
Suara hujan menyamarkan suaranya yang memanggilku dengan gembira. Sekitarnya memudar dan seolah membingkai sosoknya yang berdiri sendiri, memakai kemeja putih yang sudah basah sekali. Dia lebih kurus lagi dari terakhir kali bertemu di mana aku menangis sambil mengatakan padanya, bahwa aku akan menunggu –serta memastikan padanya bahwa aku adalah tempat terakhir baginya untuk berhenti.
Aku tidak punya perasaan yang berlebihan ketika melihatnya lagi. Tapi, tetesan hujan di wajahnya tidak dapat menyamarkan bahwa ia menangis dan tidak punya apa-apa pada dirinya. Seperti anak kucing yang tersesat, tidak tahu harus ke mana. Aku dan payungku menjemputnya ke seberang jalan itu, membawanya pergi bersamaku.
ooOoo
Komentar
0 comments