[Bab 5] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pecinan

Aku memandang layar handphone-ku. Membaca kembali pesan terakhir yang ia kirimkan semalam padaku, hanya untuk menenangkan diriku, bahwa tidak ada sesuatu yang harus aku khawatirkan. Sejenak aku menarik nafas, mengingat dia pernah bilang berulang kali bahwa dia datang dari Jakarta ke sini dengan segudang masalah yang belum terselesaikan.

Paling tidak kebersamaan yang dekat beberapa hari belakangan, membuat firasat burukku tidak terbukti. Dia sudah mengatakan apa yang ingin kudengar dan tersampaikan dengan cara yang indah yang bahkan tak pernah terbayangkan olehku –bahkan aku tak percaya, seorang Alan yang pendiam bisa mengatakan hal-hal seperti itu dengan cara yang manis. Dan itu membuatku malu sendiri.

“Ayu, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” suara Alita ibarat jeda iklan dalam adegan romantis di film.

Aku dengan bodohnya, malah melongo, tidak sadar dia memperhatikanku dari mejanya. “Etidak…,” kataku garuk-garuk kepala, lalu kembali ke belakang etalase.

Alita mengikutiku. “Pasti ada sesuatu yang asik,” goda dia. “Hayo…”

“Apa …,” aku berkilah, sambil tersenyum misterius dan Alita tampak akan memaksaku bercerita. Dia sudah pasti tahu, betapa bahagianya aku sejak Shela tidak lagi menertawai kehidupan pribadiku. Paling tidak, dia sudah tidak punya lelucon tentang diriku.

Saat kami lewat di depan mejanya, Shela hanya memandangi kami dengan tatapan datar. Aku mengabaikan sikapnya itu dengan duduk di kardus printer dan Alita mengikutiku.

Aku kembali mengeluarkan handphone-ku dari saku untuk melihat apa ada perubahan dari saat terakhir aku menyimpannya. Ya, aku tahu, handphone-ku tidak berbunyi sedari pagi. Memang, Alan juga tidak pernah menelepon di pagi buta. Dia hanya menghubungiku, jika kami berencana akan pergi ke suatu tempat. Tapi, ini sudah hampir seminggu sejak hari yang kami habiskan di pantai.

Masalah apa kiranya yang menyita semua waktu bahkan termasuk 15 detik hanya untuk membalas pesan? Jika kamu perempuan, kamu pasti mengerti perasaanku saat itu. Aku mulai gelisah dan sedih. Kuingat-ingat lagi semuanya, dan mencari-cari pembenaran bahwa aku layak untuk merasa demikian. Jika kamu punya seorang pacar yang mulai tidak peduli padamu, apa yang akan kamu lakukan?

Berusaha untuk tidak memikirkannya, bukanlah gayaku. Aku cenderung ingin mencari tahu walau tidak tahu harus mulai dari mana. Bodohnya, hampir setengah tahun bersama, aku tidak mengenal Alan  selain dari apa yang kulihat dan kurasakan terhadapnya serta cerita-cerita singkat tentang dirinya. Dari caranya bicara dan bersikap, sudah menjelaskan kalau dia itu pendiam dan tenang. Dia terbiasa bekerja di  kantor dan tipe yang lebih memilih duduk di depan komputer daripada bermitra. Karena dia selalu mengendarai mobil ke mana-mana, Alan sudah pasti berasal dari latar belakang keluarga berada. Tentu saja, Alan kuliah dan bekerja di Jakarta sebelum ini.

Pada sehelai kertas buram, aku membuat garis membentuk gambar wajah. Memberinya mata, hidung, dan mulut. Aku menggambarkan rambutnya sedikit menutupi dahi. Hampir selesai. Lalu aku menggambar dua lingkaran kecil di matanya dan menyatukannya dengan beberapa garis –aku  memberi gambar wajah itu sebuah kaca mata.

Terkadang, hal-hal sekecil apapun tentangnya mampu membuat hari-hariku secerah ketika matahari bersinar terik di luar sana. Walaupun mendung. Aku bahkan tidak peduli hujan. Aku tetap berjalan, sesampainya di rumah aku akan basah kuyup. Aku masuk kamar, jatuh ke tempat tidur setelah mandi dan ganti baju, berpura-pura dapat memeluknya. Dan aku akan tidur sampai pagi, meski tidak memimpikannya seperti yang kuharapkan, aku tidak kecewa. Dalam kenyataan pun aku masih akan bertemu dengannya.

Aku tahu batas antara saat penuh kebahagiaan dan saat sarat kepedihan. Karena minggu lalu terakhir kalinya aku bisa tertawa tanpa rasa bersalah, bersamanya...

---

Alita berdiri karena sudah lebih dulu melihat ada yang datang. Dua orang gadis Tionghwa yang wajahnya mirip sekali. Mereka kembar. Dengan mata yang sama-sama sipit dan rambut yang sama lurusnya. Namun, mereka punya gaya berpakaian yang berbeda. Yang rambutnya agak panjang mengenakan baju terusan warna ungu muda di atas lutut sedangkan yang satunya lagi mengenakan kaos dan jeans dan terlihat tomboy.

“Apa di sini bisa memperbaiki laptop yang rusak?” tanya si tomboy pada Alita sementara aku baru berdiri –terpana  pada keduanya.

“Bisa,” jawab Alita. “Kerusakannya apa?”

“Pernah jatuh sekali, setelah itu sering mati sendiri,” jelas si tomboy sementara saudarinya sibuk melihat-lihat laptop pajangan di lemari. Ia mengeluarkan laptopnya dari tas yang ia bawa.

“Masih ada garansi?” tanya Alita sambil menelisik benda itu dan aku masih memandangi mereka.

“Masih. Baru dibeli enam yang bulan lalu di toko ini,” jawabnya sambil menoleh ke belakang, kepada saudarinya. “Gina! Kartu garansinya mana?!”

“Hah?” gadis itu menyahut dengan ekspresi lugu sambil menghampiri saudarinya. “Aku tidak tahu, tapi Abang membelinya di sini…”

“Karena itu kita minta kartu garansinya,” kata Alita tersenyum.

Mereka tampak bingung. “Kartu garansi? Sepertinya… aku tidak pernah lihat…,” kata si lugu sambil garuk-garuk kepala. “Waktu itu yang membelinya bukan kita.

Dasar …,” saudarinya menggerutu.

“Aku tidak pernah melihatnya!” celetuk si lugu, mencak-mencak. “Memangnya kalau tidak ada kartu garansi, tidak bisa diperbaiki?”

“Bisa,” ujar Alita. “Tapi, biasanya kalau masih ada garansi biaya perbaikannya gratis”

“Ooo…,” si lugu mengangguk-angguk dengan polosnya.

 “Ivana? Gina?” suara Cece Wan, bosku terdengar. Ternyata ia baru turun bersama tasnya.

Cece Wan seorang wanita berusia sekitar 40 tahun. Dengan kulit putih dan tubuh sedang, mata sipit dan rambut pirang model bob, ia terlihat lebih muda dari usianya.

Mereka menoleh dan tersenyum, menghampiri bosku –rupanya  saling kenal. Paling kerabat atau sesama orang Cina –mereka biasanya punya perkumpulan keluarga.

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Cece Wan, dengan senyum yang paling ramah yang biasanya ia tunjukan pada orang-orang tertentu saja –kerabat atau kenalan bisnisnya tapi biasanya pada karyawan ia jarang sekali tersenyum.

“Laptop Gina rusak. Mau diperbaiki, tapi kami tidak punya kartu garansi,” jelas si tomboy.

“Belinya di sini?” tanya Cece Wan pada mereka.

“Iya, Ce!” sahut si lugu, dengan riang. “Bang Alan yang membelinya. Mungkin kartu garansinya disimpan Bang oleh Bang Alan.

Alita melirikku, heran. “Alan?” dia bergumam padaku.

Aku hanya menatapnya sejenak, sebelum kembali lagi pada gadis kembar itu –aku agak bingung karena firasatku sudah lebih dulu menggelisahkanku. Mereka adiknya Alan?

“Oh, yang waktu itu…,” Shela tiba-tiba menyela, sedikit melirikku sinis, ia mulai berbicara. “Waktu itu belinya memang di sini!” dia berkata dengan cepat.

Siapapun yang melihatnya, pasti berpikiran bahwa Shela sedang mencari muka. Kebetulan memang dia yang menjual laptop itu pada Alan.

Aku masih mencoba mempercayai bahwa kedua gadis itu adiknya Alan.

Kamu kenapa, Ayu?” Shela tiba-tiba menegurku. “Kenapa kamu tidak tahu adik pacar kamu ke sini?” berikutnya dia membuatku semakin bingung ditambah sekarang si kembar menoleh padaku dengan tatapan tidak percaya dan wajah Cece Wan yang dahinya berkerut.

Ternyata, dia memanfaatkan momen cari muka itu juga untuk mempermalukanku. Aku tidak siap!

“Pacar?” si tomboy menoleh lagi pada Shela, dia tersenyum sinis, seolah berkata ‘Gadis ini pasti sinting’.

“Jadi kalian tidak saling mengenal?” Shela masih menguliti aku di saat Cece Wan malah jadi bingung.

Gadis sialan…

 Si lugu jadi memelototiku.

Tidak mungkin!” celetuk si tomboy yang gusar pada Shela yang terkejut dan langsung membungkam mulutnya yang tampak ingin mengatakan hal yang lain lagi “Kamu jangan bicara kurang ajar!

Aku tidak tahu harus senang karena Shela malah kena batunya –atau sedih karena si tomboy tampak mengingkarinya. Yang jelas, semua jadi makin kikuk. Keringat dingin membasahi tengkukku. Aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari mereka.

Saat Shela terdiam dan malu sendiri, aku malah tertunduk, takut pada tatapan si tomboy itu. Aku benar-benar tidak yakin mereka adiknya.

“Alan pergi ke mana?” tanya Cece Wan yang tampak tidak memikirkan gangguan sejenak dari Shela dan sikap si tomboy. “Kenapa bukan dia yang mengantar laptopnya?”

“Bang Alan lagi sibuk,” jawab si lugu dengan gaya polosnya. “Pokoknya dia sangat sangat sibuk!”

“Alan sudah kembali ke Jakarta?” tanya Cece Wan lagi.

Si tomboy menggeleng. “Belum,” jawabnya, sambil menghela nafas, dan menoleh padaku sejenak. “Bang Alan kan mau menikah.

Apa? Duniaku seakan pindah ke ruang antariksa hampa udara –atau memang aku yang tak bisa bernafas setelah kudengar kata-kata itu bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Gadis itu tampak sengaja mengatakannya supaya tidak ada lagi yang bicara ngawur, termasuk bos-ku sendiri.

“Menikah?” Cece Wan tampak tersenyum, baginya mungkin itu kabar bahagia, tapi bagiku itu seperti sengatan listrik sepuluh ribu volt yang normalnya mungkin akan membuatku mati berdiri tapi ajaibnya tidak membunuhku.

Singkat cerita, aku membatu. Dan orang-orang di sekelilingku tahu bahwa hanya aku satu-satunya yang mungkin akan bersedih dan menangis, sedangkan Shela adalah satu-satunya yang akan menang telak dan tertawa.

---

Yang aku tahu, Alan tinggal di daerah pecinan. Perkampungan yang ramai dengan banyak bangunan tua dan menjadi saksi sejarah yang masih ada hingga sekarang. Dia pernah bilang, rumah keluarganya berada tidak jauh dari sebuah toko roti di pinggir jalan yang berada di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Meskipun sering lewat di depan toko roti itu, aku tidak tahu persis di mana rumah yang pernah ia ceritakan. Bodohnya, aku tidak pernah bertanya, karena sekarang aku tidak tahu harus mencarinya ke mana. Aku harus memastikan bahwa adiknya itu tidak berbohong, meski dari caranya bicara tidak diragukan lagi, bahwa ia tidak mungkin mengarang-ngarang cerita untuk membuatku terganggu. Untuk apa dia melakukan itu, dia bahkan tidak tahu, juga tidak mengenalku? –benar bukan? Jadi, semua jalan nekat yang terpikirkan olehku hanya keluar sebagai gerutuan.

Bagaimana tidak? Ini tentang sesuatu yang besar, tentang sesuatu yang aku tidak suka menyebutnya tapi mengguncang jiwaku –yaitu  pernikahan. Kenapa Alan sebut pernikahan itu masalah?

Aku mencoba menelepon puluhan kali dalam sehari, dan dari semua usahaku, tidak satupun yang membuatku berhasil bicara dengannya –bahkan hanya untuk bicara, bisa kamu bayangkan betapa takutnya aku saat itu? Pikiranmu dan perasaanmu sudah tak sependapat lagi hingga kamu benar-benar menjadi orang dungu yang tidak berpendirian.

Alan tidak bisa dihubungi. Dia menghilang seolah tidak ingin ditemukan. Dia sengaja.

Tapi, suatu malam saat aku belum lagi bisa tertidur memikirkannya, teleponku berbunyi. Mataku perih tertusuk cahaya dari layarnya yang berkedip-kedip, tapi aku berusaha menahan mataku yang berat untuk dapat mengenali sebuah nomor yang tidak tersimpan itu.

Aku menyimak suara yang terdengar di saluran itu baik-baik, sambil bertanya-tanya siapa yang menghubungiku tengah malam. Namun, aku sudah menebak-nebak itu pasti Alan, karena selain dia dan keluargaku, tidak pernah ada orang yang menelponku.

“Ha…Halo…,” suaraku tertahan.

Tak ada suara, dia terdiam di seberang sana. Sangat lama. Hal yang dia dengar dariku –dalam hening dan gelap di kamarku, saat aku meringkuk di sudut, menjaga suaraku agar tak ada yang mendengar tarikan nafasku-, adalah tangisanku.

Kelancangan anganku tentangnya, sudah dimulai sejak lama. Aku tak dapat menyalahkan diriku, ini bukan salah siapapun. Aku menyalahkan waktu dan keadaan.

"Kita harus mengakhiri semua ini, Ayu.”

Tak ada suara yang keluar, tanpa sadar aku tak bernafas beberapa detik. Hidungku tersumbat, aku bernafas dengan mulut. Begitu merasakan nyeri pada rongga mulutku, aku membuat tarikan nafas panjang dan dia mendengar isakanku yang hati-hati. Takut menimbulkan suara keras.

"Kita tidak bisa bersama,” tegangan berikutnya membuatku gemetaran. Semua yang bersentuhan dengan tanganku basah. Bantal yang kupeluk bahkan handphone-ku yang terasa panas. "Aku sudah lama ingin mengatakannya, tapi aku tidak pernah berani. Maafkan aku...."

Ciuman pertamaku tidak akan kembali hanya dengan ucapan maaf. Meski dia menyepelekannya, itu sangat berarti bagiku.

"Sama sekali tidak ada yang salah, Yu. Kita hanya bertemu pada saat yang tidak tepat untuk mulai,” dia bernegosiasi dengan perasaanku. "Aku datang ke sini, karena ada masalah yang harus aku selesaikan. Dari Jakarta, aku terus berpikir. Dan bertemu kamu adalah di luar rencanaku."

Suaraku tertahan, yang keluar hanyalah isakan rasa perih karena dia membiarkanku terbakar sendiri. Aku menjerit pada kegelapan dalam kamar yang menyelubungiku.

"Aku...,” suara Alan mulai gemetar, kalau saja dia berada di depanku… mungkin aku akan bisa membalikan keadaan, karena aku yakin, ia dengan sangat terpaksa harus mengatakan semuanya. “Aku menyesal kita harus seperti ini, Ayu..."

Aku pun juga menyesal. Lebih menyesal daripada dirinya.

"Aku tidak mau kamu dapat lebih banyak masalah karena kehadiranku…,” kata-katanya masih seperti pisau tajam yang mencabik hatiku.

“Tapi, kamu bilang…,” aku mencoba mengatakan sesuatu.

“Dengar, Ayu!” dia memotong ucapanku. “Aku mengerti. Aku minta maaf, kata-kataku jadi membebani kamu…”

“Lan, aku…,” aku memaksa untuk bicara lagi.

“Ayu, aku mohon… kamu tidak akan bahagia bersamaku kamu mengerti?”

Aku menggeleng, begitu bibirku hendak mengatakan sesuatu lagi, dia masih akan bicara.

“Tanpa aku, kamu pasti bisa bahagia…,” kata-kata terakhirnya meninggalkan diriku yang terluka sendiri.

Sejak malam itu, ia menghapus jejaknya agar tak pernah ditemukan olehku. Aku tidak pernah tahu ia tinggal di mana atau salah seorang temannya yang menuntunku untuk dapat melihatnya, walau hanya sekali. Dia menghilang juga –sama seperti setiap orang yang datang ke toko.

Mereka pergi tidak berbekas.

---

“Sudah sebulan dia tidak kelihatan.,” Alita mengingatkanku. “Dia.. benar-benar sudah menikah ya…?”

Aku hanya menatapnya, dan kepalaku masih dapat mengingat banyak hal yang meyakinkanku bahwa ini tidak nyata. Tapi, sejak Alan menghilang begitu saja aku tidak pernah membicarakannya dengan siapapun. Jika ada yang bertanya –Rana yang ingin tahu, misalnya, aku hanya menjawab bahwa dia sedang sibuk. Kami tidak mungkin selalu bersama setiap hari. Aku punya pekerjaan dan dia juga pasti punya sesuatu yang ia lakukan.

Dan dalam kesendirian di kamarku, malam hari, atau paginya ketika aku terbangun dari eforia tentangnya, aku menarik nafas dalam-dalam, mengatakan pada diriku, semua benar-benar sudah berakhir.

Aku mungkin seorang drama queen. Jika kamu mengalami pengalaman yang sama, kamu mungkin akan mengerti. Benar kata lagu-lagu cinta yang sedih itu, kita tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi melupakan seseorang yang benar-benar kita cintai akan butuh seumur hidup –apalagi cinta pertama. Rasanya seperti benar-benar baru kemarin, bersama, seolah akan terus seperti itu. Tapi, ketika kenyataan bicara padamu, mimpi-mimpimu bahkan menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk kamu agung-agungkan lagi.

Aku tidak tahu bagaimana pengalaman orang lain yang bernasib sama denganku. Tapi, aku akan memberitahumu apa yang terjadi padaku setelah itu. Hidupku berubah drastis. Namun aku belum dapat memastikan itu perubahan yang bagaimana. Baguskah atau buruk sekali.

Hal pertama yang berubah setelah itu adalah sifatku –itu jelas. Aku jadi pemurung dan penangis. Aku mengacaukan pekerjaanku, hingga Shela punya semakin banyak senjata untuk terus menembakiku sampai ‘mati’. Ketika aku masuk toko keesokan hari setelah curhat yang panjang dengan Alita, semua mata tertuju padaku.

Aku akan berbangga hati bila mereka menatapku dengan perasaan iba –setidaknya begitu. Karena tahu aku tengah berduka. Tapi, di mataku saat itu, mereka lebih tampak seperti burung gagak mengincar bangkai. Aku berjalan masuk.

Langkahku pelan, memperhatikan sepasang demi sepasang mata yang mencurigaiku dengan cara yang sama. Di saat yang sama aku benci mengakui, aku lebih takut pada orang-orang ini, daripada kehilanganku sendiri. Toh kehilangan itu sudah terjadi.

Alita, satu-satunya yang bisa kuanggap teman, sekarang menjadi salah satu dari mereka. Ia duduk di tempatnya, memandangku ragu-ragu. Aku memandangnya kecewa tapi dia berpura-pura tidak tahu.

Rasanya seperti baru kembali dari sebuah pesta semalam di mana kamu adalah putrinya dan ditemani oleh seorang pangeran tampan. Begitu pestanya selesai kamu akan kembali menjadi dirimu yang bukan siapa-siapa. Dan yang tersisa dari perayaan itu hanyalah dirimu seorang di tengah orang-orang yang menganggapmu pengacau yang beruntung. Ya walaupun mereka diam seolah mereka tidak tahu apa-apa, aku tahu di sudut yang tidak kelihatan mereka menertawaiku.

Ya Tuhan, apa salahku sampai mereka begitu menikmati rasa sakitku?

Di saat yang sama, kupikir tak ada lagi hari-hari from 8 to 5 yang membosankan. Aku tidak perlu lagi bangun pagi dan mengejar waktu supaya absen-ku tidak merah dan Cece Wan akan memanggilku ke kantornya atas ketidakdisiplinanku. Aku sudah tidak ingin lagi ada di sini.

---

“Dia itu playboy!” kata Alita padaku dan aku pura-pura tidak mendengarnya. Ia tampak berusaha meyakinkanku seolah ia prihatin padaku.

Yang benar saja, siapa yang mengatakan pada gagak-gagak itu kalau aku luar biasa tertekan karena dicampakan hanya lewat telpon? Dan mereka menikmati ‘daging’-ku seakan itu santapan yang paling lezat. Aku tahu bagaimana mereka memandangku. Aku hanya tidak pandai berteman tapi mereka menyebutnya angkuh dan sekarang mereka berpikir apa yang aku dapatkan sekarang adalah harga atas semua itu.

“Dia masih keponakannya Cece Wan!” kata Alita lagi.

Aku sudah tahu itu karena Alan yang mengatakannya sendiri. Tapi, apa hubungan antara keponakannya Cece Wan dengan Alan yang playboy?

Aku diam saja. Rasanya aku ingin mendorong dia dari hadapanku supaya dia berhenti bicara dan sikap prihatinnya tampak memancing-mancing keterbukaanku untuk menjadikannya makanan bagi gagak-gagak itu. Tapi, berteriak padanya akan menjadikanku lebih buruk dari apa yang sudah mereka lihat dariku.

Diam adalah senjataku. Aku jera bahkan hanya untuk mengatakan satu kata saja padanya. Seolah ia akan membuatnya menjadi seratus kata di depan orang lain.

“Ayu?” Alita belum menyerah. “Semua orang di sini tahu…”

Aku menoleh, dari dalam etalase yang berantakan ke wajahnya yang sungguh-sungguh. Apa yang bisa mereka tahu sementara aku tidak? Aku menunggu kata-katanya sementara ia belum tampak akan menjelaskan.

Shela tiba-tiba menghampiri, ia menatapku datar, dan aku pikir dia hanya mengingatkan supaya kami berhenti bergosip. Itu memang tugasnya –mengawasi.

“Ayu, kamu dipanggil Cece Wan,” katanya, dan aku tersentak.

---

“Saya mencoba untuk mengerti dengan apa yang kamu alami belakangan ini,” dia memulai dengan nada yang diplomatis.

Aku menatapnya dan berharap, dia tidak semenakutkan seperti yang dibilang karyawan lain. Tapi, sejak masuk ke ruangan kantornya aku tidak merasakan ketakutan yang luar biasa. Mungkin karena apapun yang akan terjadi padaku tidak lebih mengerikan dari apa yang sudah terjadi padaku. Aku bisa menatap langsung ke wajahnya seolah aku tidak melakukan kesalahan.

“Tapi, kamu masih terlalu muda untuk terjerumus masalah seberat itu,” entah perasaanku saja atau memang dia terdengar prihatin.

Aku masih diam, justru ini malah membingungkanku. Harusnya aku diberi peringatan. Aku belum mengatakan bahwa aku pernah bolos kerja tiga hari bukan? Ya, selama itu aku mencari Alan tapi perjuanganku malah terlihat seperti kekonyolan di mata orang lain. Aku mencari orang yang sudah mencampakanku karena akan menikah –secara mendadak, seolah ia akan memungutku kembali dan mengatakan pada orang-orang itu bahwa dia mencintaiku agar mereka berhenti menyebutku bodoh. Ditambah dengan kenyataan bahwa selama ini aku tertipu. Sangat konyol.

Sekarang aku duduk di sini, menghadapi bos-ku, sebagai akibat dari kebodohanku. Alan tidak akan kembali, sebagai gantinya aku malah akan kehilangan pekerjaanku. Sempurna. Lengkap sudah semuanya.

“Sebaiknya kamu melakukan apa yang terbaik untuk diri kamu sendiri…,” dia berkata, dan aku masih bertanya-tanya, apakah wanita ini akan memecatku atau malah menasehatiku. “Kamu masih punya banyak kesempatan untuk hidup lebih baik”

“Saya tahu,” aku tampak ingin menghindari percakapan seputar masalah pribadi. Dia atasanku, dan apa yang terjadi padaku tidak ada hubungan secara langsung dengan dirinya. Oh ya, dia ini Tante-nya Alan. Mungkin, dia prihatin, karena ini ada hubungan dengan keponakan jauhnya.

“Saya punya tawaran yang bagus buat kamu, Ayu,” kata dia.

Aku melongo, semua pikiran jelekku tentang pekerjaanku jadi hilang, dalam senyum penuh maksudnya Cece Wan –yang terus terang saja, sangat jarang terlihat. Seingatku, dia hanya tersenyum seperti itu saat sales marketing-nya bisa menjual lebih banyak barang ke toko-toko lain. Aku yang merasa tidak pantas diberi senyum itu, hanya bisa menunjukan ekspresi kaget –bukannya  bertanya atau langsung mengangguk.

“Mulai besok kamu ikut Melani,” kata dia.

Aku masih belum bertanya, bahkan tidak terpikir untuk mengangguk. Yang ada di pikiranku adalah ‘ikut Melani’ artinya ‘naik pangkat’.

Melani, adalah putri Cece Wan satu-satunya dan dia akan melanjutkan bisnis keluarga. Sejak enam bulan lalu, Melani yang baru lulus dari universitas jurusan Ekonomi di Jakarta, mulai mengambil bagian dalam bisnis ibunya. Dia punya pekerjaan yang penting di sini. Walaupun hampir sama seperti sales marketing yang mereka punya, Melani mempunyai skop yang lebih besar dengan instansi-instansi pemerintah dan swasta. Dia bisa menjual lebih banyak dan menghasilkan jumlah yang fantastis setiap bulan.

Aku akan ikut dengannya dan menangani hal yang besar juga.

---

Aku harusnya senang. Tapi, aku malah bingung. Aku tidak bisa melakukannya karena aku hanya tipe yang biasa menunggu –aku ini hanya penjaga toko. Aku hanya tahu menyusun barang jualan yang berantakan dan tersenyum bodoh pada pelanggan sekalipun keadaanku sedang tidak baik.

“Kamu hanya  harus bicara,” kata Melani padaku.

Sekarang, aku sudah pindah tempat dari belakang etalase ke kantor Melani di lantai dua. Aku punya meja sendiri di sebelah Melani lengkap dengan komputer –Shela saja tidak punya komputer sendiri di mejanya.

“Itu tidak sulit. Ketika kita datang, mereka sudah tahu apa yang mereka mau,” jelasnya. “Kamu hanya perlu ingat apa yang mau dijual dan kamu harus menguasainya, siapa tahu kamu bisa menawarkan barang yang lain.

Teorinya bagus juga, tapi masalahnya aku terlalu takut mengacau karena bicaraku tidak sebagus Melani. Mana pernah aku bicara dengan orang lain yang levelnya sangat sangat jauh di atasku?

“Kamu kenapa ?” tegurnya.

Aku terkesiap, tersentak. Aku tidak tahu, tadi pikiranku entah pergi ke mana. Aku menghela nafas, belakangan ini, pikiranku memang sering meninggalkan badanku.

Melani yang masih tersenyum, membuatku sedikit lega. “Semua orang punya masalah,” dia berujar sambil berdiri dari kursinya dan mengambil gelas di lemari kecil di belakangnya. Ia memandang ke arahku saat ia menampung air di bawah keran dispenser di dekat mejanya.

Aku berani bertaruh, masalah pribadiku tidak hanya menjadi konsumsi karyawan di lantai satu, tapi juga lantai dua –hingga Cece Wan. Melani tampak menunjukan keprihatinan yang sama seperti yang pernah kulihat pada ibunya sebelum ini. Yah! Dia ini kan sepupu jauhnya Alan –mereka berada dalam satu perkumpulan keluarga.

Begitu Melani meninggalkan ruangan untuk pergi ke tempat ibunya, aku menjatuhkan kepalaku di atas meja. Tubuhku lemas walaupun aku tidak sedang terserang sakit parah. Hanya saja…ini masalah pertama yang berat yang pernah aku alami.

Walaupun sekarang, aku berada di tempat yang lebih baik –tempat di mana hanya di sini Shela tidak bisa menyentuhku lagi dengan sindirannya, seolah itu menjadi hal yang biasa. Aku memang tidak pandai bersyukur, harusnya aku melupakan semua itu.

Tapi, aku tidak bisa.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments