[Bab 4] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pecinan

Mereka tidak mencariku. Aku sudah tahu mereka hanya akan memberiku pelajaran berharga dengan tidak mencariku. Aku berusaha untuk tidak kecewa. Karena sudah menjadi gaya orang tuaku untuk bersikap keras supaya aku tidak tumbuh menjadi pembangkang. Lagipula mereka tahu aku tidak punya tempat lain untuk pergi.

Di malam yang sama, aku kembali dengan keadaan berantakan. Suasana rumah terasa dingin. Seisi rumah juga mengabaikanku saat aku masuk ke kamar dan menghabiskan malam dengan menangis.

Tapi sebenarnya mereka masih punya banyak pertanyaan yang harus dijawab dengan pasti. Karena mereka memperhatikanku. Mereka memperhatikan perubahan tingkah laku pada diriku belakangan.

“Siapa pacar kamu? Kenapa tidak pernah di bawa ke rumah?” Ibu menanyaiku setelah suasa yang beku mencair dalam beberapa hari dan aku masih saja pulang telat.

Aku menarik nafas, memikirkan kata-kata yang tepat, tapi aku tidak tahu apakah itu cukup mejelaskan semuanya. “Aku tidak berani,” jawabku.

“Harusnya kamu bilang,” celetuk Rana. “Lagipula tidak enak dilihat tetangga kamu sering diantar jemput di pinggir jalan.

Aku hanya mengangguk. Sejak malam itu aku sudah bertekad tidak akan membiarkan sipapun lagi mengendalikan hidupku. Meski sikap mereka sudah agak berubah, aku tidak lantas menjadi anak yang berusaha untuk tetap patuh. Aku tahu bahwa orang tuaku tidak benar-benar menyerahkan kendali hidupku di tanganku. Dan aku akan berusaha merebutnya dengan cara apapun.

“Orangnya seperti apa? TampanBekerja di mana?” tanya Rana setelah Ibu pergi dan ia memulai interogasi dari rasa ingin tahunya besar.

Aku rasa dia akan segera membandingkan siapapun itu yang tengah dekat denganku, dengan suaminya. Harus aku akui, suaminya memang seseorang yang dielu-elukan di keluargaku. Karena dia tampan, berbadan tegap dan mempunyai pekerjaan yang hebat; seorang abdi negara.

“Biasa saja,” jawabku. “Dulu dia bekerja, sekarang tidak, sedang mencari pekerjaan lagi.

Kenapa kamu bisa menyukai pengangguran?” tanya dia, sedikit meledek.

Aku hanya tersenyum, Rana tidak akan mengerti.

“Orangnya bagaimana? Perhatian? Cuek? Posesif?

Aku tertawa sekali. Tidak, Alan bukan tipe yang perhatian –harus diakui. Dia terlalu pendiam dan cuek, tapi bukan berarti dia tidak peduli. Aku tidak akan menjelaskan pada Rana bahwa dia sangat berkarakter. Karena aku pikir, Rana yang bisanya hanya dandan dan berkomentar tidak akan mengerti dengan istilah ‘berkarakter’. Tidak, dia tidak akan mengerti.

Kenapa malah senyum-senyum sendiri?!” Rana mendorong punggungku dari tempat tidur dan aku tertawa.

Aku tertawa sampai tidak bisa bernafas. Hanya dengan memikirkannya saja. Hanya dengan mengingat sosoknya saja. Aku merasa sangat bahagia. Membiacarakan dia dengan Rana seperti membicarakan Josh Hartnett –idolaku yang sebelumnya aku lupa menyebutkan dan aku sudah menonton semua film-filmnya. Setiap aku duduk di depan TV aku selalu memuji bahwa aktingnya hebat –walaupun aku tidak tau apa-apa soal akting.

Tapi, aku menahan beberapa kata di ujung lidahku. Kata-kata Tionghwa, Cina, Katolik dan Jakarta. Aku bahkan membayangkan Alan tanpa kristus di dadanya.

Aku tidak tahu persis, seperti apa Alan memandangku. Dia tidak tersentuh olehku. Yang aku tahu, dia masih diselubungi misteri. Terutama ketika dia duduk diam di mobil dan membiarkanku sibuk sendiri. Sampai aku mengantuk dan ketiduran. Begitu aku bangun, dia masih di posisinya, seolah aku tak ada di dekatnya.

Hanya pada saat-saat tertentu dia mau memandangku, sisanya aku berusaha mensyukuri apa yang aku punya sebelum aku tidak bisa lagi untuk sekedar menatapnya. Memandangi wajahnya, untuk tahu berapa banyak tahi lalat yang dia punya dan di mana saja itu. Titik-titik kecil hitam itu tidak terlalu jelas dari kejauhan. Satu di dekat telinga dan 3 di pipi sebelah kanan. Satu di pelipis kiri, dua di dahi, ada satu lagi yang agak jelas di bawah mata kiri. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi hampir tidak kelihatan. Dan aku juga menemukan dua lagi di lehernya, dekat tenggorokan.

Aku memperhatikan caranya berpakaian. Aku hafal setiap warna baju yang dia pakai setiap bertemu denganku. Kemeja yang warnanya lebih sering warna gelap dan polos, tapi satu kali ia pernah memakai warna putih dengan motif garis-garis. Kancing bagian atas selalu tidak dipasang. Jeans hitam dan sendal kulit warna sama. Dia selalu memakai kaca matanya, seolah itu adalah karakter mendasar yang mencerminkan sifatnya yang tenang, pendiam dan serius.

---

"Di Jakarta kamu bekerja sebagai apa?” tanyaku saat kami saling diam. Mendengarkan lagu sendu yang keluar dari tape mobil yang suaranya pelan sekali.

Rasanya aku pernah mendengar lagu itu. Mengingat usia Alan yang sepuluh tahun di atasku, aku rasa dia memang menyukai lagu-lagu lama.

Aku hanya mendengar samar-sama liriknya ‘…semua takkan mampu mengubahku…” Setiap berada di dalam mobil bersamanya, lagu itu selalu diputar Alan berulang-ulang hingga aku bisa menghafalnya tanpa kusadari.

"Hanya kerja biasa,” jawabnya, sambil menarik tutup kaleng sodanya. “Kerja di perusahaan jadi pegawai orang lain."

"Aku sama sekali tidak berharap kamu direktur atau artis! Kenapa kamu memberiku jawaban seperti itu?” celetukku sambil cekikikan.

"Artis?” tawa terlompat dari bibirnya saat ia meneguk sodanya.

"Kamu lebih cocok jadi artis daripada direktur," komentarku.

"Tidak dua-duanya,” cetus Alan sambil menggeleng-geleng dan ia minum lagi.

"Kamu terlalu kaku,” komentarku lagi. “Aku kamu tidak bisa tertawa lepas atau mungkin menyanyi?"

Alan kembali mengeleng-geleng. “Aku tidak bisa, Ayu...,” katanya memandangku dan sikap yang paling defensif dia tunjukan padaku adalah minum lagi.

Aku mengerutkan dahi. Kulirik ke belakang, dia sudah membuang empat kaleng kosong ke jok. Dan di dalam kantong yang tergeletak di atas karpet, dia masih punya banyak.

Aku menghembuskan nafas panjang, memeriksa kantong itu untuk mengambil minuman untukku. Dan ia hanya punya kaleng-kaleng merah itu. Ya, aku tidak punya pilihan lain walaupun aku mengeluh. Aku tidak suka minuman berwarna coklat dan berbusa itu!

Dia melirikku saat aku menepuk dadaku setelah meminumnya. Rasanya sangat aneh. Lidah dan tenggorokanku seperti meletup-letup. Seteguk saja membuatku sesak nafas karena rasanya yang asam dan tajam. Tapi, begitu melewati tenggorokan rasa haus jadi hilang.

Aku meneguknya lagi dan lagi. Tidak peduli dia di sampingku memandang dengan heran.

“Apa ?” aku mulai risih karena dia hanya memandangku dan tanganku merasakan kalau kalengnya hampir kosong. Aku tidak sadar aku terlihat konyol karena sebelumnya aku pernah bilang padanya bahwa minumam berkarbornasi membuat tulang jadi cepat keropos. Dan sekarang, aku ingin mengambil sekaleng lagi.

Dia menghentikannya. “Kamu tidak takut tulang kamu jadi cepat keropos karena terlalu banyak soda?” tanya dia mengejek. Dia pasti masih ingat apa yang pernah kukatakan sebelum ini. “Kadar gulanya juga sangat tinggi.”

Aku merengut. “Aku hanya bosan,” kataku. “Sementara kamu bisa minum santai-santai seolah aku tidak ada. Aku penasaran seenak apa minuman jenis ini.

“Rasanya enak,” dia tersenyum. “Kamu tidak percaya?”

Aku hanya menghela nafas, mengulurkan tanganku agar dia memberiku sekaleng lagi untuk mengusir rasa bosan. Dia dengan senang hati memberikannya dan kami jadi punya sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan.

“Kamu mau taruhan minum terbanyak?” tantangku.

Alan melirik ke belakang, sekarang ada lima kaleng kosong yang baru ia lemparkan ke sana. “Lima lawan satu, kamu yakin?”

---

Alan menepuk-nepuk punggungku karena aku tercekik. Tapi, aku tidak memuntahkan minumannya lagi walaupun nyaris. Aku menepiskan tangannya, dan mengangkat badanku untuk menegakkan perut yang rasanya kembung sekali.

Alan tertawa di sampingnya.

Aku tahu aku tidak akan bisa mengalahkannya. Dia sudah minum tujuh kaleng, dan aku masih kaleng yang ke empat. Yang terakhir saja sudah membuat seluruh tubuhku seperti balon yang terus menerus diisi udara. Belum lagi rasa di hidung dan tenggorokan saat bersendawa. Itu menyakitkan!

 “Ayu?” tegurnya membelai kepalaku sambil mengguncang bahuku. “Kamu tidak apa-apa?”

Aku tidak menjawabnya. Dadaku sakit sekali. Kaleng ke lima dalam genggamanku dan aku belum membukanya.

“Ayu?” tegurnya lagi, dan aku mengangkat kepalaku. Dan hal yang seketika kulihat adalah matanya yang tidak sipit itu. Dari dekat. Aku tidak pernah berada pada jarak sedekat ini sebelumnya.

Dia juga menatapku. Tanpa bicara.

Kamu boleh membayangkan apa yang terjadi selanjutnya dengan imajinasimu. Kamu boleh berpikir itu saat yang paling romantis. Tapi, kamu pasti lupa bahwa aku menggenggam kaleng sodanya dan pasti tidak pernah terpikir bahwa rasa gugupku membuatku jadi kuat pada detik-detik ia semakin mendekat. Aku meremasnya tanpa kusadari.

Sekarang, buanglah jauh-jauh imajinasimu. Karena begitu aku berhasil meremukan kalengnya tanpa kusadari, minuman berwarna coklat itu menciprat wajah Alan. Dan dia terkejut. Begitu juga aku.

Seperti yang kamu tahu, aku gagal mendapatkan momenku.

Alan mengibas-ngibaskan bajunya yang basah. Kurasa dia lebih syok dari pada aku. Dia menatapku tidak percaya. “Kamu…,” ekspresinya seolah menyalahkanku karena mengacaukan suasananya. Tapi, saat kulihat dia mengambil satu kaleng terakhir dan mengguncangnya beberapa kali, dia berniat untuk balas dendam. Dia menyemprotku dengan minuman itu.

Bajuku basah. Minuman itu membuat noda coklat pada kaos putihku. Aku masih memandangi diriku saat ia tertawa lagi.

“Alan!” pekikku kesal dan aku merampas kaleng terkahir di tangannya. Aku bergerak dari jokku dan dia menghindarkan minumannya. “Berikan!”

“Tidak!” balas dia mengangkat kaleng itu lebih tinggi dan tanganku menggapainya.

Saat mata bertemu mata, aku sadar aku terlupa bahwa kami bersama karena satu alasan –cinta. Kami tertawa karena perasaan bahagia yang melupa-luap itu. Dia menemukanku terpana beberapa saat dan menatapku tanpa berkedip. Aku bisa melihat bayangan wajahku yang kelihatan bodoh di bola matanya yang hitam pekat.

Alan bergerak sedikit untuk duduk dengan nyaman. Separuh tubuhku, menindihnya. Tak ada lagi tawa di wajahnya. Dia menatapku dengan pandangan yang tidak biasa yang ingin menenggelamkanku dalam sorot misteriusnya. Perlahan tatapanku sendiri melemah, hampir terpejam ketika dapat kurasakan ia bernafas di wajahku.

Aku seolah berada di dunia antah berantah yang terproyeksi oleh matanya. Dan seketika aku merasa takut tersesat. Aku menghindar ketika dia menarik tanganku dan aku tidak lagi melihat kaleng yang kuinginkan dalam genggamannya. Aku memalingkan wajahku, karena malu. Aku tahu wajahku sudah tidak kecoklatan lagi. Karena aliran darahku seolah melawan arusnya dan berkumpul di pipiku.

Tapi, dia tetap menarikku ke dekatnya. Mencengkram kedua bahuku. Genggaman kedua tangannya, seakan memaksa untuk masuk; masuk ke dalam rasa takutku untuk menghancurkannya dengan perlahan dari dalam. Tanpa kata-kata, dia mendekat dengan wajah  yang benar-benar serius.

Aku yang belum terbiasa dengan perubahan suasana yang terlalu cepat, hanya membalas tatapan itu bingung. Mencoba untuk fokus tapi tidak bisa. Aku tengah berpikir saat mendorongnya dariku, apakah aku akan membiarkannya terjadi saat ini? Akan seperti apa rasanya nanti dan setelah ini bagaimana aku akan bisa menatap dan tertawa padanya?

Alan semakin mendekat, meraihku ke sisinya semakin rapat. Reaksiku masih sama; menatapnya tanpa berkedip dan menunggu.

Aku mencoba tertawa sekedar mempermainkannya supaya dia tidak tersinggung –karena aku ingin menolak. Tapi, akhirnya dia mendapatkanku dengan tidak melepaskanku. Dia memberiku ciuman pertamaku.

Dan kamu mau tahu seperti apa rasanya? Rasanya seperti Coca Cola.

---

Di hari yang paling cerah di bulan Juli, akhirnya aku melihat pantai yang kurindukan. Permadani yang terbentuk dari butiran abu-abu tua yang halus dan menghampar di kakiku hingga ke batas yang dibuat buih-buih ombak yang menyerbu dari laut. Langit biru seperti atap dengan karya seni yang luar biasa indah. Aku berlari secepat yang aku bisa saat Alan akhirnya turun dari mobil dan aku menghentikan langkahku untuk menunggunya menghampiriku.

Aku hanya memperhatikan langkahnya yang malas itu dari tempatku. Wajahnya tampak mengeluh. Ia tidak mengatakan sesuatu sampai aku berlari padanya untuk menarik tangannya dan aku menyeretnya bersamaku.

“Aku sudah bilang aku tidak suka air,” katanya padaku agar aku tidak membawanya ke dalam buih.

Aku mendengus, berusaha terlihat merajuk. Kuharap itu dapat membuatnya berubah pikiran. Tapi, dia tampak tidak terpengaruh. Dia berdiri, menahan langkahnya untuk tidak bersentuhan dengan air.

Aku mungkin tidak memahami dirinya. Sungguh, aku berusaha agar ia tertawa, meski tampaknya aku memaksa dia menjadi seperti yang aku inginkan. Bukan seperti itu, aku hanya ingin dia meninggalkan pikiran yang membebani itu di mobil untuk sementara hingga kami kembali pada kerasnya kehidupan. Aku hanya ingin merasa benar-benar memiliki saat-saat ini bersamanya.

Untuk terus diingat. Untuk dikenang selamanya.

“Aku takut saat-saat seperti ini tidak akan terjadi lagi nanti,” kataku padanya, menatap ke dalam matanya. Memohon, agar ia tetap ‘terbangun’.

“Kenapa tidak akan terjadi lagi?” dia balas bertanya.

Aku menggeleng. “Tidak…,” jawabku menatapnya ragu-ragu lalu tertunduk. Kuraih tangannya lagi, kugenggam dengan tanganku, untuk kuingat baik-baik. Seperti inilah rasanya bahagiaku, untuk meyakinkan diri bahwa di antara kami sudah tidak ada batas yang tersirat antara nama ‘Alan’ dan ‘Ayu’. Tidak ada kata-kata lain yang dapat menjelaskannya. “Tapi…”

Alan tampak menunggu.

Aku mengangkat kepalaku, untuk tersenyum dan menatapnya sungguh-sungguh. “Ini kita,” kataku. “Bukan hanya ‘aku’ atau bukan hanya ‘kamu’, ya kan?”

Dia membalasku dengan tatapan bingung, tidak! –dia terkejut. Kemudian ia tertawa. “Iya, kita,” jawabnya. “Hanya kita…”

Separuh kakiku mulai tenggelam dalam buih ketika aku mulai melangkah, mengajaknya.

Alan mengikuti langkahku walau beberapa kali terhenti oleh keraguannya.

"Itu hanya air laut, Lan,” kataku berujar saat air sudah menelan tubuh kami sampai ke pinggang. Langkah kami semakin pelan melawan barisan-barisan ombak yang datang.

"Aku tidak bisa berenang,” akunya berteriak di telingaku saat sebaris ombak besar mendekat. Tingginya melewati kepala kami. Kutatap ombak itu lalu wajahnya dan tersenyum.

“Aku sayang kamu, Alan!” teriakku dan ia terpana padaku.

Ombak menghempas kami. Kurasakan genggaman Alan terlepas dan aku melayang dalam gelombang yang menenggelamkan kami beberapa saat. Aku melihatnya terombang-ambing di dalam air.

Ombak yang ingin kembali ke asalnya, menyeret kami ke tengah.

Aku meraih tangannya sampai ia berdiri kembali dan barisan ombak berikutnya kembali menghempas kami. Aku tahu dia panik dan ketika ombak itu sudah menghempas ke tepi. Kakinya sudah menginjak pasir. Alan berdiri tertatih dan batuk. Matanya merah. Ia mengibaskan kepalanya yang menyebarkan tempias pasir dan air asin ke wajahku.

"Kamu tidak apa-apa?” tegurku.

"Tidak...tidak apa-apa,” katanya sambil menyeka wajahnya. Lalu memandangku dengan matanya yang memerah, kaca matanya terlepas dan untung dia tidak kehilangannya. Dan tiba-tiba saja dia tertawa-tawa. Sambil batuk. "Gila..."

Aku melihatnya tertawa. Tawa yang benar-benar lepas. Tampak di luar sadarnya. Aku memandang ekspresinya baik-baik sambil memegang tangannya.

Alan tersenyum pada genggaman tanganku di tangannya, lalu sedikit membungkuk, berbisik padaku tentang sesuatu yang terus selalu kuingat sejak itu. “Aku juga menyayangi kamu, Ayu…”

Jika saja waktuku berhenti sampai di sana. Saat kami tertawa seperti esok tidak akan ada…

---

Alan menyandarkan kepalaku ke dadanya. Aku sudah biasa berada sangat dekat dengannya sejak kata-kata sayang dan cinta, sudah mulai terlontar dengan mudahnya. Dan juga begitu mudahnya, aku berada di dalam dekapan kedua tangannya setelah itu dan mengulangi semua hal menyenangkan yang pernah kami lakukan sebelumnya. Berlari dan tertawa.

Setelah saat-saat sulit yang aku alami dengan orang tuaku, aku merasa jauh lebih baik saat bersamanya, sekali pun ada pusaran badai di atas kepalaku saat ini.

"Akhirnya kamu bisa tertawa juga...,” kataku, memejamkan mataku; kembali ke saat itu. Hari yang cerah yang kami lukis dengan tertawa dan bermain seharian.

"Aneh ya?” tanya dia.

"Tidak ...tapi..."

"Aku hanya kebanyakan berpikir,” jelasnya, tangannya membelai rambutku dengan irama teratur. "Aku punya banyak masalah…”

"Masalah apa? Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya,” kataku memeluknya lebih erat. "Siapa tahu aku bisa bantu…”

Ia tertawa pelan. “Aku bersama kamu supaya kamu bisa aku bahagia…bukan malah memikirkan masalahku…,” ujarnya. “Percayalah …”

“Kenapa begitu? Aku juga mau membantu kamu…”

“Dengar ya, cerewet…,” dia mengusap-ngusap kepalaku lagi. “Nanti kamu bisa ikut-ikutan jadi seperti aku. Tidak bisa tertawa karena kamu juga jadi banyak pikiran…”

Aku mengernyit dengan wajah cemberut paling jelek yang pernah kuperlihatkan. “Apa gunanya aku kalau kamu tidak mau berbagi?”

“Yang jelas aku tidak mau berbagi masalah,” dia menegaskan, menatapku serius. “Aku tidak mau ada yang berubah…”

“Maksudnya…”

Alan mengecup puncak kepalaku, tanpa jawaban, ia hanya memelukku, dengan tarikan nafas panjang. Seolah itu menjelaskan bahwa ia tidak ingin kehilangan semua yang pernah dia dapatkan dariku. Tawa.

“Eh, Lan, Bagaimana kalau kita berenang?” aku bertanya, begitu melepaskan diri darinya.

“Berenang lagi?” tanya dia, mengernyit.

“Kemarin itu namanya bukan berenang, tapi main di pantai ala anak kecil,” gerutuku.

“Apa enaknya berenang? Setengah hari di pantai, kamu mirip orang Afrika,” kata dia bergumam, sambil tertawa mengejek.

Aku mendengus lagi. “Aku suka berenang,” kataku. “Kamu tidak mengerti …tapi coba  pikir kalau kita ada di dalam air, kita tidak bisa mendengar apa-apa.

“Memangnya kamu mau jadi tuli?”

“Bukan itu!” cetusku, sebal. Memukul-mukul lengannya supaya dia mendengarkan. “Dulu waktu kecil, aku pernah tenggelam di laut”

“Apa hubungannya…?” dia terdengar menggumam lagi dengan nada  yang menjengkelkan. “Sama sekali tidak menyambung.

“Dulu aku tidak bisa berenang karena pernah tenggelam waktu main di pantai. Setelah itu aku hanya bisa main pasir. Sampai aku lihat ada orang yang tenggelam…,” aku mulai mengingat suatu hari di masa kecilku yang masih tersimpan di benakku.

Semua orang berlarian ke laut, mengejar orang yang tenggelam dan menggapai-gapai di kejauhan. Aku mendengar ada yang menjerit-jerit histeris dan panik –mungkin keluarga korban. Dari cerita orang-orang di tempat kejadian, korban tenggelam itu menghilang terseret arus dan ia tidak ditemukan selama berhari-hari.

Aku ingat sekali saat itu ayahku mengingatkan padaku bahwa bisa berenang itu sangat penting. Karena Padang adalah kota di pinggir laut, hampir setiap orang-orang di sini menghabiskan waktu libur mereka dengan pergi ke pantai. Bagaimana kita akan menikmati keindahan laut sementara kita tidak bisa berenang? Terbayangkah saat melihat laut biru yang luas dan indah, kita jadi ingin menyatu di dalamnya?

Saat pertama kali aku mencoba membenamkan kepalaku di dalam air laut, aku merasa takut tidak bisa bernafas, tidak bisa melihat, atau kehilangan keseimbangan. Tapi, aku menemukan sesuatu yang luar biasa, ketika sekujur tubuhku, menjadi dingin dan udara yang tadinya mengitariku, berganti menjadi air.

“Dalam air itu seperti ada dunia lain,” kataku pada Alan. “Dunia yang suaranya tidak sama seperti di luar. Seperti ilusi”

“Aneh…,” gumamnya.

Aku mendengus. “Kamu tidak akan mengerti…,” gerutuku.

Dia masih saja tertawa saat aku mendorongnya dan dia kembali beringsut ke pundakku. Aku mendorongnya sekali lagi agar menjauh. Aku tidak berniat mengganggunya, tapi dia seolah sengaja mempermainkanku untuk terjebak dalam situasi yang sama sebelum ini saat kami bercanda. Karena hanya pada saat itu, ia bisa menembus pertahananku.

Sayangnya, tidak selalu ada saat-saat yang mendebarkan, ketika suara Dea Mirella yang menyanyikan lagu Takkan Terganti dari pemutar musik mobil, beradu dengan dering handphone yang tersimpan di saku celana Alan. Aku melihat getaran benda itu tak hanya mengacaukan suasana, tapi membuat ia keluar dari mobil hanya untuk menjawab teleponnya.

Aku masih terpaku di tempat di mana aku menunggu sesuatu akan terjadi. Sadar, aku mungkin lagi-lagi terlihat bodoh, aku kembali duduk di jok-ku. Sekalipun, Alan kembali dengan senyuman yang sama, setelah telepon sialan itu aku malah tidak kembali ke pelukannya.

Alan memelankan suara pemutar musik, menyalakan mesin dan melajukan mobil. Telepon itu seakan merenggut semuanya. Karena dia tidak lagi membahas sesuatu yang berhubungan dengan kami. Dia hanya mengatakan bahwa ada urusan yang tidak bisa dia tunda –bahkan   hanya untuk bersamaku beberapa saat saja.

Terkadang, aku jadi tidak mengerti lelaki.

Mereka itu makhluk yang bagaimana?

Kata-katanya menyatakan seolah ia begitu menginginkanku –saat itu juga, tapi sikapnya bisa berubah tanpa peduli musim. Entah itu musim bahagia atau sedih, atau musim masalah sekalipun. Hal inilah yang mulai menggangguku, sesuatu yang berhubungan dengan telepon dan panggilan yang entah dari siapa, berhasil mengacaukan kami, melebihi kehadiran orang ketiga.

Aku turun dari mobil saat handphone itu berbunyi lagi. Alan terlihat melirik jam tangannya lalu aku yang memandang dengan tanda tanya yang cukup banyak tersirat di wajahku. Dia tidak menarik tengkukku untuk memberiku ciuman di dahi, karena biasanya dia mengucapkan perpisahan dengan cara itu.

Tapi, dia membiarkanku turun, hanya dengan kata-kata. “Langsung tidur ya…,” dan aku mengangguk dengan sedikit bersungut-sungut. Tapi, aku lega saat dia menurunkan kaca. Kupikir itu caranya mengawasi langkahku hingga aku menghilang di ujung gang rumahku –setidaknya untuk menunjukan bahwa ia masih peduli padaku, lebih dari handphone yang berdering untuk kedua kalinya.

Aku tersenyum dan berbalik, untuk melambaikan tangan. Tapi, dia tengah menaikan kacanya dan sempat kulihat dia mengangkat teleponnya. Sebelum sempat kukedipkan mataku tidak percaya –jangankan membalas lambaian tanganku, dia bahkan tidak melihatnya, mobil sedan hitam itu melaju. Meninggalkan bunyi dan asap yang tak mampu menyadarkanku bahwa sikapnya itu mulai berubah.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments