๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Cina
Aku tidak pernah mencoba bernegosiasi dengan keluargaku. Maksudku, aku tidak pernah mengutarakan betapapun besarnya keinginanku untuk pergi dari rumah menjadi orang yang mandiri. Karena aku tahu, mereka tidak akan mengizinkannya dan akan ada perdebatan panjang jika aku memaksa.
Inilah alasan kenapa aku tidak pernah punya teman, apalagi pacar. Aku tidak boleh mempercayai orang begitu saja –maksudku itu tidak sepenuhnya salah, tapi bagaimana jika itu membatasi aku untuk bersosialisasi? Tidak bisa ikut-ikutan teman karena berpikir mereka tidak baik. Aku memisahkan diriku dari hal-hal yang dianggap akan menjerumuskanku. Seumur hidup hanya itulah yang aku tahu dari orang tuaku.
“Kamu pergi dengan siapa? Kenapa tiap hari pulangnya telat?” Ibu bertanya saat aku baru masuk kamar dan tengah menaruh barang-barang di atas tempat tidur yang berantakan.
“Teman,” aku dengan sedikit gusar mulai menunjukan perlawanan pada ekspresinya yang tampak tidak senang dan mencurigai. Biasa, firasat seorang ibu memang kuat dan tidak terbantahkan.
Aku sedang lelah. Sangat-sangat lelah. Aku pergi dari rumah dari jam tujuh dan baru kembali jam 9 malam. Seharian penuh sering kuhabiskan di luar belakangan. Tadinya lelah itu tidak terasa saat Alan masih bersamaku. Habisnya dia itu seperti obat.
“Kamu pacaran?” tanya Ibu. “Dengan siapa? Di mana kamu kenal?”
Ada tiga pertanyaan menjebak. Pertama jika aku menjawab iya maka dua lainnya harus dijawab. Kedua jika aku menjawab ‘tidak’ Ibu tidak akan mempercayainya begitu saja, dengan alasan tidak ada teman yang begitu baik mengantar hampir larut malam, setiap hari pula ditambah dengan mobil yang hanya identik dengan anak-anak kaya.
Mana mungkin aku mengatakan padanya?. Ujung-ujungnya aku harus menjelaskan bahwa ada seseorang yang dekat denganku. Dia tinggal di Jakarta dan sedang ada urusan di sini. Ujung-ujungnya lagi, semua makin rumit untuk dijelaskan. Padahal awalnya, aku sama sekali tidak ingin orang tuaku tahu bahwa aku ini sudah besar.
“Kamu tidak boleh langsung percaya dengan orang begitu saja,” katanya terdengar cemas.
Tapi, rasa lelah ini membuatku gusar. Di tambah lagi Ibu tidak memberiku waktu untuk memikirkan jawaban yang lebih diplomatis. “Aku tidak pernah percaya pada orang,” kataku ketus. “Sampai aku sama sekali tidak punya teman. Aku sembilan belas tahun tapi hidup aku tidak pernah lebih dari sekedar cari uang dan pulang tepat waktu atau dengar Bapak marah-marah.”
Ibu mengernyit. “Kamu bilang apa?”
Aku membuang pandang dengan sedikit menyesal.
“Memangnya kamu dengar apa kata tetangga kita soal kamu?” Ibu mulai marah. “Kamu tahu, hah?!”
“Mereka saja tidak mau tahu sampai ngomong sembarangan, kenapa kita juga harus mau tahu apa pendapat mereka…,” gumamku, menggerutu sambil melompat ke tempat tidur.
Tetangga? Sejak kapan tetangga ikut andil dalam kehidupanku? Aku mulai tidak mengerti dengan lingkungan perkampungan ini walau aku sudah lama tahu itulah kelemahannya tinggal di daerah pinggiran. Pikiran orang-orang sini masih kolot. Menjunjung tinggi adat dan agama. Mereka tidak pernah tahu bahwa di luar sana, kota ini bertopeng.
“Sejak kapan kamu pintar melawan?”
Aku bangkit dan duduk di sisi tempat tidur. “Aku tidak melawan! Apa aku tidak boleh punya pendapat sendiri?! Orang boleh ngomong seenaknya kenapa aku tidak?! Lagipula apa peduli mereka dengan kita, Bu? Kenapa juga omongan mereka harus dipikirkan?!”
Jantungku berdetak keras. Ini selalu terjadi ketika amarahku tidak terbendung tapi dipaksa untuk tetap diam. Keadaan diperburuk dengan kehadiran Bapak yang membuatku langsung gentar. Mungkin karena dia mendengarku berteriak pada ibuku. Baginya, sikap itu adalah pemberontakan dan dia tidak suka itu.
“Kenapa kamu berteriak di dalam rumah?!” Bapak dengan amarah yang lebih besar berdiri di pintu tidak jauh dari Ibu.
Aku memutar mataku. Tak sadar itu membuatnya bertambah gusar dan ia segera menghampiriku.
Ibu tidak beranjak dari tempatnya namun kecemasan terlihat di matanya begitu mendengar suara keras.
“Anak kurang ajar!” suara Bapak lebih keras dari suaraku. “Kamu pikir karena kamu sudah bisa cari uang kamu boleh melawan?!”
Sempat terpikir olehku Ibu akan menghentikannya. Tapi, hal yang klise terulang kembali. Rasa sakitku bukan pada wajahku yang ditampar, melainkan karena Ibu membiarkannya terjadi. Aku merasa tidak pantas menerima amukan itu.
Aku sudah tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dan aku sudah harus menegaskan bahwa aku sudah muak pada rumah ini, pada keluarga ini!
“Aku ini bukan binatang!” teriakku. “Aku bukan binatang yang harus tiap sebentar dipukul!! Aku ini manusia!!”
“Kamu ya…,” kata-kataku membuat Bapak semakin marah, ia mengepalkan tangannya.
“Bunuh saja sekalian, Pak! Biar aku mati! Supaya Bapak puas! Supaya tidak ada lagi anak yang tidak pernah diharapkan menyusahkan!” kataku menantang, apapun yang terjadi terjadilah. Mataku terpejam, air mataku pasrah pada kesedihan dan rasa sakit.
Ibu memegangi Bapak, menahannya.
“Siapa yang mengajari kamu jadi kurang ajar, Ayu?” tanya Ibu menangis, dan herannya aku tidak merasa bersalah.
Kubuka mataku, kupandangi mereka baik-baik. Inilah orang tuaku. Dan aku merasa sangat kecewa.
“Tidak ada…,” kataku gemetaran dan tertunduk. “Ibu dan Bapak hanya tidak tahu bahwa aku memang seperti ini…”
Bapak masih ingin memberiku pelajaran, tapi Ibu memohon padanya. Suara mereka yang bersitegang menyadarkan aku bahwa aku tidak lagi membutuhkan mereka. Aku tidak butuh orang tua seperti mereka. Setiap kekerasan dalam hidupku terjadi, tidak ada yang berpihak padaku, bahkan hanya untuk berpendapat bahwa kekerasan itu adalah hal yang keliru.
Aku meraih tasku di atas tempat tidur. Aku berlari dengan cepat melewati mereka dan pintu yang terbuka lebar.
---
“Pulang,” Alan memaksa. “Kamu harus pulang”
“Tidak!” aku berteriak sambil tetap duduk di lempengan besi tempat duduk halte yang semakin dingin.
Udara malam menusuk sampai ke tulang-tulang dan sekitar kami menjadi sangat sepi. Orang-orang mungkin sudah beristirahat di rumah masing-masing, tapi aku masih berpikir untuk lari.
Alan menarik tanganku, hendak menyeretku masuk mobil. “Kamu mau pergi ke mana lagi kalau tidak pulang?” dia berkata dengan tenang.
Aku menahan tubuhku, berusaha menepiskan cengkramannya yang kuat. “Kenapa kamu malah menyuruhku pulang?!” teriakku.
“Jangan keras kepala! Ini sudah malam! Bahaya kalau kamu lama-lama di luar!” katanya.
“Ya sudah, kamu pergi sana!!” aku kembali duduk di halte, berusaha berhenti terisak. Terserah!
Alan terdengar menarik nafas panjang. Lalu duduk di sampingku. “Sekarang kamu mau ke mana lagi? Orang tua kamu pasti mencari kamu,” ujarnya.
Aku menggeleng-geleng. “Aku tidak peduli pada mereka…Aku tidak peduli…”
“Bagaimana pun juga kamu harus pulang…,” kata dia, berujar dengan suara pelan.
Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya, aku ingin memperlihatkan betapa aku tidak berdaya hari ini. “Aku hanya punya kamu sekarang, Lan…,” kataku. “Karena itu aku mau bertemu, aku mohon…jangan paksa aku pulang sekarang…”
“Iya, tapi kita bisa pergi ke mana?” tanya dia lagi, sambil membelai puncak kepalaku.
“Ke mana saja asal jangan pulang…aku mohon…kita pergi ke tempat yang jauh…,” kataku.
Alan mengangguk, lalu tersenyum; semua terasa lebih baik ketika dia yang biasanya jarang terlihat peduli, sekarang tersenyum. “Kita akan pergi jauh, tapi tidak sekarang…,” ujarnya, menyandarkanku di dadanya beberapa saat. “Kamu harus pulang dulu. Aku tidak ingin kamu dapat lebih banyak masalah gara-gara tidak pulang. Bagaimana kalau nanti orang tua kamu lapor polisi? Kita tidak akan bisa pergi kalau aku sampai bermasalah dengan orang tua kamu.”
Kata-katanya seperti titah. Sejak saat itu, bagiku dia lebih dari sekedar seseorang yang diimpikan. Hingga aku bahkan tidak dapat menjabarkannya dengan kata-kata. Mungkin perasaanku padanya sangat berlebihan, jauh dari yang bisa kamu simpulkan tentangku. Tapi itu nyata.
"Kalau seandainya setiap orang itu bisa tahu apa yang orang lain pikirkan, siklus kehidupan itu tidak akan pernah ada,” katanya padaku. "Kamu memang tidak bisa memaksa orang tua kamu mengerti. Kamu juga tahu hampir tidak mungkin bagi mereka untuk mengakui kesalahan mereka. Sekarang semua tergantung kamu"
Aku tidak mengerti. Aku pikir Alan akan berada di pihakku.
"Kamu harus berusaha bersikap dewasa, menerima semuanya dengan cara yang dewasa,” sambungnya. “Dan ucapan mereka yang keterlaluan, anggap saja sebagai cambuk supaya kamu tidak boleh kalah. Karena nanti ketika umur sudah bertambah, masalah yang kamu alami akan jauh lebih berat..."
Jika tidak ada dia saat itu, entahlah. Dia mengizinkan aku bersandar padanya dan aku tidak lagi memikirkan cara mengatasi kepedihanku. Tapi, memikirkan bagaimana caranya mengendalikan degup jantungku saat di dekatnya. Karena aku tidak pernah ada di dekat laki-laki manapun. Terlalu malu untuk mengakui bahwa aku menyukainya tapi aku takut tidak bisa merasakan ini sama sekali di saat ada kesempatan.
Alan memelukku.
Aku bisa merasakan desahan nafasnya di puncak kepalaku. Sentuhannya tidak sedingin ekspresinya ketika dia diam. Jika dia membiarkan aku terlena pada aromanya, aku pasti akan tertidur di sisinya dan jika tidak akan bisa terjadi lagi, aku rela tertidur selamanya. Di sana.
Aku menyeka air mataku dengan lega. Meski aku masih ingin di sana lebih lama. Kedua lengannya masih mengurungku ketika aku menemukan sesuatu di dadanya. Sebuah kalung yang sebenarnya sudah lama kulihat melingkar di lehernya tapi aku tidak pernah melihat liontinnya yang selalu tersembunyi di balik kemeja yang ia pakai.
Aku membuka mataku lebar-lebar karena terkejut. Ada Kristus di dadanya. Sejenak aku tertegun dan dia tampak menyadari rasa yang terlihat di wajahku.
“Kenapa?” dia bertanya padaku.
Aku melepaskan kedua lenganku dari tubuhnya. “Kamu…,” aku ingin menanyakan langsung tapi aku ragu. Aku hanya menatapnya bingung lalu tertunduk dan kembali menatap kalung itu. Sebelumnya, maaf –aku harus mengatakan ini. Aku sangat terganggu. Aku diam sampai ia membantuku naik mobil hingga selama perjalanan pulang.
Aku tidak menoleh kepadanya sedikitpun. Kamu tahu apa yang aku pikirkan?
Ya, aku salah bertemu orang untuk jatuh cinta. Tentu saja. Pasangan mana pun yang beda agama tidak akan pernah bisa direstui. Bagi orang Minang yang mayoritas beragama Islam, hal ini dilarang. Bagi agama yang aku yakini, ini adalah dosa besar. Entah bagaimana aku akan menghadapinya sementara kesalahan yang dulu pernah kulakukan saja sudah tak terhitung lagi?
Aku mulai takut, aku mulai gamang.
Ketakutan akan kehilangan sudah lama mengikutiku.
---
"Aku Cina,” akunya, menyadari reaksiku. "Harusnya kamu sadar."
Bagaimana mungkin aku menyadarinya? Alan tidak terlihat seperti Tionghwa! Matanya tidak terlalu sipit, dan kulitnya tidak putih pucat, dan dia juga tidak bicara dengan logat yang khas. Aku benar-benar tidak menyangka.
Aku menelan ludah. Sudah kupikirkan selama perjalanan bisu yang membuatku tersiksa. Aku tidak ingin membuat malam pelarian ini jadi semakin buruk.
"Terus? Kenapa kalau Cina?” balasku.
“Kita berbeda dan banyak orang yang akan menantangnya…,” katanya. Ekspresinya di luar dugaanku. Ia menatapku sedih.
“Apa ada orang Cina yang tidak seperti orang Cina... habisnya kamu tidak terlalu sipit, tidak putih pucat, tidak ada logat Cina sama sekali...aku jadi heran…Kamu seperti orang Jakarta,” aku bertanya padanya dengan sedikit ragu dalam nada suaraku yang pelan.
"Di Jakarta, jika ada yang bertanya aku berasal dari mana, aku pasti menjawab kalau aku orang Padang. Menurut garis keturunan memang iya,” ia menjelaskan dengan tenang, dan menatapku lekat-lekat. Sambil membelai puncak kepalaku, ia tersenyum lagi. “Ayahku orang pribumi".
"Muslim?” aku bertanya dengan hati-hati.
"Ya,” jawabnya.
"Bercerai?” aku mulai menebak-nebak.
"Ya,” ia masih tampak tenang.
Aku diam lagi.
"Aku dan adik-adikku tinggal dengan ibu,” ia kembali menjelaskan. “Kami tinggal di Pecinan. Dan… sebenarnya pemilik toko tempat bekerja juga termasuk kerabat jauh…”
Aku menarik nafas. Menenangkan diriku dengan menghembuskannya lagi. Dan mengulanginya terus hingga beberapa kali. Sebelum aku menyeka mataku dan aku berusaha tersenyum untuk menatapnya.
"Kamu punya saudara?” aku bertanya lagi.
"Satu adik laki-laki, dua adik perempuan,” jelas dia. “Aku tidak mirip mereka, karena aku mirip ayahku. Jadi kalau nanti kamu bertemu mereka, kamu pasti tidak akan percaya kalau mereka memang begitu.”
Aku mengangguk mengerti. Tertawa getir sendiri, sambil menyeka air mataku yang jatuh setetes lagi. “Sekarang kita harus bagaimana?”
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Ayu…,” jawabnya sambil mengusap kepalaku lagi, lalu pipiku yang basah dan merah. “Kita tidak tahu apa yang bisa terjadi nanti. Tapi, yang pasti sekarang adalah milik kita. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang belum terjadi. Kita tidak perlu tahu akhir untuk memulai sesuatu. Karena aku takut, tidak bisa mencintai kamu sebelum itu,” jelasnya, kata-katanya berjalan lambat dengan hati-hati ke dasar hatiku. "Aku akan terus berkeluh kesah, terkungkung masalah, dan aku lebih tidak bisa berpikir ketika hanya ada satu kesempatan yang bagus bagiku untuk bahagia, aku malah menyia-nyiakannya. Jadi, aku mengambil kesempatan itu..."
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Dia hanya menggenggam tanganku dan tatapan matanya saat itu seolah berkata bahwa ia tidak akan pernah melepaskannya sekuat apapun badai ini. Saat itulah, aku tahu bahwa ikatan ini terlalu kuat.
Namun, badai yang sebenarnya bukanlah perbedaan yang ada sejak kami lahir. Sama sekali bukan itu.
ooOoo
Komentar
0 comments