๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dia
"Kenapa kamu tertawa?” dia menegurku dengan suaranya yang berat.
"Bukan apa-apa...,” aku membuang pandang darinya. Aku akan tertawa sampai menangis, jika besok dia datang lagi mencari sesuatu yang tidak terlalu penting untuknya. "Ada lagi?"
Ia menggeleng, memandangku sampai aku berhenti tertawa dan makin ketahuan aku lebih suka memandangnya ketika dia tidak sedang memandangku. Ekspresinya tidak terbaca atau aku memang tidak bisa membacanya karena tidak ingin matanya menemukan mataku pada matanya.
"Kamu sama sekali tidak bodoh …,” kata dia padaku.
Alisku terangkat. Dia mengatakan hal-hal seperti itu padaku? Aku pikir dia lupa dengan kejadian kemarin. Tapi, tunggu! Kalau dia lupa…tentu dia tidak akan datang lagi ke sini. “Oh…,” aku pasti terlihat bodoh, karena mataku membelalak, seakan tidak percaya dengan komentarnya. Aku mengusap leherku, bingung, dan malu.
“Tidak ada orang pintar yang jadi kelihatan rendah hanya gara-gara menghina orang lain.,” katanya dengan tenang hingga membuatku tersenyum.
Aku mengangguk pelan. “Terima kasih…,” lalu tersenyum dan tersipu malu.
“Kamu…tidak cocok bekerja di sini,” kata dia lagi.
“Aku hanya lulusan SMA,” aku mengaku.
"Aku di Jakarta,” katanya. Pantas bahasanya teratur, orang Jakarta. "Di sana ada banyak orang yang mungkin tidak akan merendahkan kamu walaupun kamu tidak punya ijazah sarjana. Kamu tahu, itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu?"
Aku menggaruk-garuk belakang kepalaku. Aku tersenyum kecut. “ Jakarta itu jauh, apalagi jalan kaki dan aku tidak bisa terbang ,” candaku sambil berpindah ke meja kasir karena dia harus membayar belanjaannya. Aku menggeleng-geleng, dan mengakui dengan jujur.
Maksudku, itu hanya kiasan. Kamu tahu, terbang adalah istilah yang cukup menegaskan bahwa Jakarta itu terlalu jauh. Dan aku adalah burung yang tidak bersayap, jadi tidak bisa terbang.
Dia tampak memahaminya dengan diam.
Aku mulai mengetik untuk mencetak faktur penjualan setelah menerima lembar seratus ribu yang dia berikan.
Dia tidak bicara lagi dan hanya memberiku senyum simpul. Sebelum berbalik, meninggalkanku di meja kasir.
Kita tidak akan bertemu lagi jika aku membiarkannya berlalu begitu saja, pikiran itu terbesit sebelum aku dengan berani menyeret kakiku. Membuat sebuah pengejaran kecil sebelum dia menarik gagang pintu kaca –melewati batas itu.
"Apa kita tidak akan bertemu lagi?” aku bertanya padanya.
Dia terlihat seperti pria pemalas yang tenang. “Kenapa?” ia balas bertanya.
"Aku... hanya ingin tahu,” jawabku, mengedikan bahu sedikit, tersenyum bodoh lagi. Konyolnya permintaanku.
"Nanti sore,” katanya, tersenyum padaku. Senyuman datar, yang membuatku semakin penasaran, kenapa ada orang yang seperti dia. "Di depan sana,” jelasnya sambil melirik ke seberang jalan. Ada trotoar yang cukup teduh di bawah pohon jalan yang berbaris rapi.
---
Aku tidak tahu seberapa putus asa dia sehingga dia mau saja menunggu gadis sepertiku di pinggir jalan. Dia berdiri bawah pohon yang daun-daunnya yang kecil akan berjatuhan seperti butiran salju saat tertiup angin. Salju berwarna kuning.
"Aku tidak bawa payung,” kataku saat hujan menetes di atas kepala kami saat aku baru melintasi jalan raya.
Dia tidak mengatakan sesuatu selain "Ayo,” untuk mengajakku pergi, karena teman-teman kerjaku memandang ke arah kami dan dia tampak tidak menyukainya.
Aku mengikuti langkahnya yang santai.
"Aku Ayu. Kamu?”
"Alan.”
Kami tidak berjabat tangan seperti seharusnya. Hanya berjalan di bawah hujan, menuju suatu tempat. Aku tidak suka dengan suara dari dalam diriku yang tidak terkendali –detak jantungku yang tidak seirama lagi dengan langkah kakiku saat mengikuti langkahnya.
Aku telah mengambil langkah untuk menyebrangi ketidamungkinan yang kutetapkan sebagai batas khayalku. Mungkin saat ini, kenyataan sependapat denganku ketika berhasil pergi dengannya ke sebuah tempat. Hanya beberapa saat saja.
---
Beberapa hari setelahnya, aku kembali berdiri di depan kaca. Memandangi diriku, apa kamu tidak bisa lebih cantik dari ini, Ayu?
Ugh! Perutku melilit seperti saat aku melihat Shela berlagak sok cantik di depanku. Penampilanku sangat memuakan, aku saja tidak bisa menerimanya. Apalagi Alan.
Tapi, aku merasa, Alan memang tidak peduli pada apa yang aku pakai. Atau dandananku. Sikapnya menunjukan apapun yang aku lakukan untuk mengubah fisik jelekku, tidak akan mengubah guratan tangan Tuhan padaku. Itu membuatku sedikit putus asa. Siapa perempuan yang tidak ingin terlihat cantik, walau sedikit? Tidakkah Alan mengerti , aku hanya ingin ia memandangku?
Aku tidak hanya merasa diabaikan, tapi juga ditolak. Aku memandangi layar handphone-ku yang membosankan. Benda itu tidak pernah berbunyi selain dari panggilan atau pesan dari Ibu atau Rana saat aku pulang terlambat.
Aku melompat ke atas tempat tidur, saat Ibu marah-marah karena aku hanya malas-malasan di kamar seharian penuh. Aku menutup telingaku dengan bantal. Berharap tidak mendengar apapun lagi. Inilah alasan yang membuatku tidak betah di rumah.
Orang tuaku bukanlah orang tua yang menyenangkan. Bagiku mereka penuh dengan peraturan. Setiap mereka marah padaku, mereka membuatku merasa bahwa mereka tidak pernah menginginkanku. Bagaimana orang lain akan menerima diriku jika mereka saja memperlakukanku begitu?
99% orang yang kukenal dalam hidupku, menyebutku keras kepala. Tapi, jika aku tidak keras kepala, aku tidak akan hidup. Bagaimana aku akan bertahan dari orang-orang yang ingin memaksaku melakukan apa yang mereka inginkan? Orang tuaku misalnya, mereka hanya tidak mengerti.
Aku hanya butuh kepercayaan. Apa yang akan kamu lakukan jika di usia sembilan belas tahun masih dilarang berpacaran? Kamu bahkan sudah bisa membiayai dirimu sendiri. Harusnya orang tuaku sadar akan hal itu lebih-lebih Rana juga menikah di usia itu. Penjelasan yang masuk akal dari mereka hanya satu, aku dan Rana berbeda. Itu cukup menusuk. Inilah yang kusebut dengan kemunduran mental dan masih ada banyak hal lain yang belum bisa kusebutkan.
Aku hanya tidak ingin dimarahi seperti anak kecil yang ketahuan berbohong. Jadi, kuputuskan melakukannya dengan caraku.
Hari ketika aku tahu namanya Alan, aku memutuskan sedikit lebih nekat. Meski aku dihantui kata-kata keluargaku, perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki tidak punya harga diri dan rasa malu. Tapi, aku sudah cukup menyia-nyiakan masa remajaku untuk menuruti semua kehendak keluargaku yang egois. Dan aku hanya punya sisa satu tahun menikmati masa-masa yang disebut remaja. Meski aku tidak tahu, aku akan mendapatkan dia atau tidak.
Tapi, jika saja dia tidak datang ke sana untuk kedua kalinya, aku pasti sudah melupakannya. Lalu memacari pria asing yang mungkin akan membawaku ke negara sebebas Amerika Serikat –sebuah harapan kosong yang nyaring bunyinya.
---
Ketika Senin menungguku dengan senyum manisnya yang penuh maksud, aku kembali bersungut-sungut. Keadaanku tidak baik. Aku tidak ingin pulang begitu 'dari jam delapan ke jam lima' berakhir dengan melelahkan. Ketika aku membuka pintu kaca dengan lemas; dengan ponsel di telinga.
'tut...tut...tut...', suara itu tidak bisa lebih menarik. Aku berharap aku akan terhibur tapi ternyata tidak hanya dengan mendengar suaranya sekilas. Dia tidak pernah mengangkat telponnya.
Aku menatap langit sore yang cerah, tidak seperti saat dia menungguku di seberang jalan, hujan gerimis tapi tak terlalu menyedihkan seperti sekarang. Maka aku berjalan sendirian. Aku membutuhkan tempat merenung. Setidaknya aku ingin memikirkan semua yang terjadi padaku. Semua ini bukan karena Shela, bukan juga karena orang-orang di sekitarnya yang sekarang jadi berpihak padanya (tidak adil memang). Tapi, tentang mengapa aku harus ditakdirkan untuk hidup seperti ini.
---
Aku pulang. Setelah rasanya cukup menerawang jauh. Pikiranku kacau. Aku menjalani hidupku yang payah, dengan berpura-pura puas pada didikan keluargaku yang keras. Dengan beranggapan, bahwa jika mereka tidak keras padaku, aku mungkin akan menjadi gadis jalang yang sering bergonta-ganti pacar. Tapi, setiap anak yang terlahir ke dunia ibarat selembar kertas putih dan orang tua adalah pelukisnya. Aku adalah karya orang tuaku tapi mereka tidak menerimanya saat tahu aku sangat keras kepala. Pukulan yang kudapatkan tetap menjadi luka.
Aku tidak punya tempat untuk pergi dari mereka. Dan berharap Tuhan akan mencabut nyawaku di usia muda juga terlalu mengerikan agar mereka sadar mereka telah menyia-nyiakanku . Jadi, tidak punya pilihan lain selain harus menjalaninya. Aku berharap aku bisa seperti Rana, dia selalu mendapatkan yang dia mau. Punya banyak pacar, digilai dan bisa memilih satu yang terbaik di antara yang terbaik. Kenapa Rana diberkahi dan aku tidak?
Aku tidak puas mencela diriku sendiri di depan kaca. Aku menyebut diriku pengacau jelek, yang punya angan besar tapi tak bertulang. Kedua kakiku dirantai oleh perkataan orang tuaku. Ajaran mereka tidak menjadi sebuah peraturan tapi sebuah trauma. Terbayangkah? Trauma! Trauma adalah hal yang membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa; sesuatu setelah kata 'mengerikan'!. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, tapi aku mengecewakan diriku berulang kali. Apakah adil? Tidak!
Ini hidupku. Mereka tidak bisa menyerahkan kebebasanku secara baik-baik. Aku hanya ingin mereka memperlakukanku sesuai dengan usiaku walau aku terkadang kekanakan. Aku percaya cara mereka malah akan menggiringku ke arah sebaliknya. Jalan yang gelap, dan berliku, lalu terjebak di dalamnya. Kemunduran mental; aku selalu menyebutnya kemunduran mental.
---
Aku telah membuang jauh semua keinginanku tahun ini. Di depanku adalah Shela yang dengan kejamnya menguliti aku. Mempermainkan aku dengan perkataan dan hinaannya yang secara tidak langsung telah membunuh jiwaku.
Ada hal yang harus aku pikirkan. Segala hal busuk tentang diriku yang mengesalkan. Aku benci diriku yang tak bisa melawan di saat itu harus dan menangis di belakang, memohon agar aku tidak membunuh diriku sendiri dengan berbaring di atas rel kereta.
Semua yang membahagiakanku telah memudar dalam ingatanku. Aku memandang ke depan, ke tempat di mana kami bicara untuk pertama kali. Sudah tak ada apa-apa di sana selain Shela yang tertawa dengan teman semejanya. Maka sudah saatnya, berhenti menjadi gadis yang tidak tahu malu.
Jika Alan menginginkanku dia tidak akan mengabaikanku. Dia menghindariku. Sudah sangat jelas. Tak pernah ada balasan SMS walau hanya sekali. Dia bahkan tidak pernah mengangkat telponku. TIDAK PERNAH.
Aku berbaring dengan lemah, di atas tempat tidurku. Hingga pagi hari dan aku bangun dengan tenggorokanku yang sakit.
"Kamu pucat. Sebaiknya kamu libur saja,” ujar Ibu.
Aku tidak menjawab. Tinggal di rumah seharian? Yang benar saja. "Aku tidak apa-apa,” kataku, bersikeras menyandang tasku dan pergi. Air mataku menetes. Aku tidak merasa membutuhkan perhatian siapapun.
Aku hanya merasa benci pada diriku. Tapi, sebesar apa aku membenci hidupku yang sial selain membenci fisikku ini? Tidak sebenci aku pada air mataku yang membuatku makin terlihat lemah. Aku menahan nafasku agar tak ada yang tahu aku menangis di toilet. Aku membuat suara dengan menghidupkan keran air. Lalu mengeluarkan semua yang menyumbat hidungku supaya aku bisa bernafas.
Aku lega, karena jam pulang sudah lewat. Aku keluar dari toilet dan mengendap-endap supaya tidak ada yang tahu aku menangis. Jika ada yang melihatnya, aku tidak mau mereka berpikiran itu gara-gara Shela dan besoknya gadis tidak tahu diri itu akan membuatku menyayat nadiku sendiri..
Bagian depan toko sudah sepi, saat aku keluar dari persembunyianku. Aku memilih lewat pintu belakang setelah ceklok absen.
Aku menyebrang jalan untuk memberhentikan angkot menuju pulang, meskipun aku belum ingin.
"Ayu!” seseorang memanggilku dengan suara samar-samar, yang hilang timbul di antara deru mesin kendaraan yang lewat.
Aku limbung, melihat ada yang berlari ke arahku.
"Kamu mau naik atau tidak?” tanya supir angkotnya padaku karena dia punya beberapa penumpang yang tidak mau menunggu terlalu lama.
"Tidak jadi, Bang...,” jawabku, sementara mataku tertuju pada Alan yang sekarang berdiri di depanku.
Walau ini hanya mimpi, aku akan menerimanya. Walaupun saat aku terbangun dan menemukan handphone-ku tidak pernah berbunyi, tidak akan apa-apa bagiku. Dan jika ini nyata, aku menarik semua ucapanku bahwa aku ingin mati muda.
Karena Alan datang untukku. Dia akan membawaku ke tempat lain yang bahkan tidak ada dalam mimpiku. Pertemuan di toko komputer itu memang memiliki sebuah arti. Arti yang tidak dapat dibaca oleh orang berpikiran dangkal seperti diriku.
Aku mendengarnya menyebut namaku untuk pertama kalinya.
---
"Ada apa?” dia menanyaiku entah untuk apa. Ketika aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku yang vulgar sehingga dia tidak hanya bisa merasakannya tapi juga melihatnya.
Aku sedang sakit. Sakit yang cukup parah. Secara hormonal, kebahagiaan yang kurasakan seperti obat bius yang membuatku tidak dapat merasakan sakit dalam jangka tertentu. Kamu –khususnya perempuan pasti tahu seperti apa rasanya ketika orang yang kamu suka ada di depanmu dengan gaya yang paling kamu sukai. Pertama kamu salah tingkah, kedua berkeringat dingin, ketiga kamu jadi bicara ngawur dan ke empat, kamu masih berpura-pura tenang. (bagian terakhir sangat melelahkan tentunya)
Aku rasa aku mulai mengerti arti sebuah kata ‘nge-fans’ meski perasaanku belum separah itu terhadapnya. Tapi, sayang, yang dimaksud malah tidak merasakan apa-apa.
Jadi aku mengernyit. “Apanya yang apa?” balasku, aku sedang makan sup ayam-ku sedangkan Alan hanya minum soda kalengan dan dia tampak menyukainya karena di meja kami sudah ada tiga kaleng yang kosong.
"Kamu bilang ada masalah,” jelas dia.
Dia membuatku berkecil hati, entah dia sadar itu.
Aku memang pernah mengirimnya pesan yang menyatakan aku ingin bicara dengan seseorang tapi tidak tahu pada siapa. Mengetahui dia membaca semua yang aku kirimkan padanya dengan putus asa supaya dia memberiku sedikit perhatian (terdengar menggelikan), aku cukup kecewa. Dia tahu, tapi tidak peduli. Aku menahan nafas beberapa saat, menatapnya ragu-ragu, aku sangat memalukan.
Alan tidak berkomentar akan sikapku yang ekspresif. Dia terlalu tenang. Dia menghadapiku dengan baik, pikirku –yang tidak ingin merasa bahwa dia memang tidak peduli.
Aku tidak berani bertanya. Habisnya akan ketahuan bagaimana aku tengah mengutuk diriku saat itu.
"Itu...,” aku mencari-cari alasan supaya tidak membicarakan keluargaku yang payah. Karena aku akan menangis seperti bocah. “Sudah tidak apa-apa,”
Dia tidak bertanya lagi.
"Maaf ya, aku sering mengirim SMS atau menelpon,” aku mencoba membuat percakapan yang wajar. "Aku lupa, pasti kamu sudah di Jakarta dan sibuk. Aku hanya tidak punya teman jadi..."
Benar bukan, aku jadi bicara ngawur?
"Aku masih di sini,” katanya tenang, tanpa ekspresi. Dia mulai terasa membosankan. “Ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan di sini..."
"Oh...,” aku mengangguk-angguk mengerti, sedikit-sedikit memandangnya lalu tertunduk ketika dia melihatku. Aku merapatkan kedua pahaku dengan sangat gugup, seolah tidak tahu bagaimana caranya duduk dengan baik. Berpura-pura tenang memang sangat melelahkan. Aku tahu aku terlihat lucu, harusnya Alan tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkahku.
Tapi, dia dingin seperti es. Tidak banyak bicara. Aku tidak tahu cara menghadapinya.
Ketika adzan Maghrib berkumandang di mana-mana, aku melirik jam tanganku. Benar saja, waktu yang menyenangkan selalu berlalu dengan cepat. Sebelum jam 7 aku sudah harus berada di rumah.
Aku tidak ingin ayahku berteriak padaku hanya untuk bertanya kenapa aku pulang terlambat. Terasa berat mengakhirinya. Tapi, aku senang ketika dia menemaniku menunggui angkutan umum yang akan membawaku pergi darinya.
Kami akan bertemu lagi nanti.
---
"Kamu dari mana?” tanya Ibu mencurigai aku pulang dengan siapa.
"Bertemu teman,” jawabku cemberut.
"Anak gadis macam apa yang pulang jam segini?!” celetuk Bapak, membenarkan firasatku sebelum ini.
Aku mengabaikannya. Masuk kamar dan ia memakiku lagi karena tidak suka diperlakukan seperti sampah saat sedang bicara. Ini sikap yang defensif, daripada aku menjawab dan ia dengan mudahnya melayangkan tamparannya padaku seolah tidak merasa bersalah. Ibu hampir tidak melakukakan apa-apa. Dia diam saja.
Jika aku tidak bertemu dengan Alan hari ini, mungkin aku akan mengobrak-abrik laciku untuk mencari silet dan menyayat nadiku. Dan orang tuaku akan menyesal seumur hidup begitu melihatku mati sia-sia karena ingat mereka jugalah yang membawaku ke dunia ini.
Aku melempar tasku ke sudut kamar setelah mengunci pintu. Dan kembali mendengar umpatan klisenya padaku bagaimana dia membesarkan aku dan sekarang aku malah tidak menghargainya.
Bukannya membesarkan seorang anak itu adalah tanggung jawab? Toh aku juga tidak pernah minta dilahirkan. Mereka yang membuatku ada di sini!
Tapi, sudahlah.
Aku melompat ke atas tempat tidurku. Tidak mengganti bajuku. Aku menutup telingaku dengan bantal supaya tidak mendengar kata-katanya lagi. Adakah orang tua yang senang membuat anaknya merasa tidak berharga?
Aku tak mau memikirkannya. Karena hariku menyenangkan. Aku mengingat baik-baik saat Alan mengantarku ke angkutan umum yang biasa kunaiki. Ketika aku mulai menjauh dia masih berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangannya.
---
"Semua orang punya pasangan tapi ada beberapa yang tidak laku,” sindir Shela saat aku berdiri di depan kaca etalase untuk bercermin. Aku membuka tasku dan memberi sedikit riasan pada wajahku yang memucat –sore membuat wajahku kusam. Dia begitu menikmati itu seperti vampir menghisap darah. Dia bisa lebih buruk dari itu saat ia mengadu pada bos bahwa aku melalaikan pekerjaanku dengan lebih banyak memegang handphone.
Aku hanya menoleh, menunggu apa lagi yang akan dia katakan selanjutnya.
“Yang pergi kerja sendiri, pulangnya juga sendiri,” sekarang, hanya itu yang bisa dia katakan untuk menggangguku.
Aku hanya menarik nafas sebelum memandangi wajahku di kaca. Terserah. Aku punya senyum dan raut yang lebih baik sekarang.
"Sst...,” seseorang mendesis, aku menoleh karena itu adalah kode yang dipakai Alita untuk memanggilku.
Alita, seseorang yang mungkin bisa dianggap teman. Seorang gadis berbadan agak bongsor dan pipi merah seperti tomat. Aku cukup akrab dengannya karena dia tampak tidak terpengaruh oleh ucapan Shela tentangku.
"Apa?” sahutku.
"Tidak usah dipikirkan. Dia memang agak sinting,” katanya padaku lalu tersenyum. Untuk meringankan perasaanku.
Aku tersenyum simpul, entah. Aku tidak mendengar setiap detil kata-katanya yang bagaikan paku yang digeruskan ke Papan tulis. Shela melemparku dengan pisau –kata-katanya yang tajam hampir setiap hari dalam hidupku sejak aku ada di sana.
Jam lima berbunyi juga. Tapi, aku masih menunggu teleponnya.
Shela terlihat sedang bersiap-siap di mejanya. Menyisir rambut. Menebalkan bedak. Meratakan lipstik dan tetek bengek lain, yang tetap saja tidak membuatnya menarik. Habisnya dia punya mulut yang kasar dan orang sudah bisa menilai dari cara bicaranya.
Akhirnya, aku keluar lebih dulu dari pada Shela yang masih sibuk dengan dandanannya, sementara pacarnya sudah menunggu di depan dengan motor. Tapi, tiba-tiba saja, dia memotong jalanku dan sengaja memanas-manasiku dengan kibasan rambut pirang buatannya saat ia menghampiri pacarnya. Momen sebelum ia naik motor, itu terlihat menggelikan bagiku.
Aku mendengus. Kenapa Tuhan menciptakan manusia yang seperti ini?
Pertanyaanku terjawab seketika!
Sebelum aku, Shela sudah lebih dulu melihat bahwa seseorang sudah menungguku di seberang jalan. Seseorang yang dia pikir sudah ia dapatkan perhatiannya. Seseorang yang sempat jadi buah bibir sejak pertama kali ia datang, lalu datang lagi ke toko dan sekarang muncul hanya untuk menjemputku. Semua pasti terkejut, kenapa gadis bodoh seperti aku mampu membuat orang itu menunggu.
Aku berlari dengan ceria ke seberang jalan –ke tempatnya. Aku sadar, Tuhan menciptakan Shela untuk membuatku merasa beruntung pada apa yang aku miliki. Dan aku membalasnya lebih menyakitkan daripada kata-kata yang dia lontarkan padaku sejak aku mengenalnya.
---
Kamu tentu heran, kenapa Alan menemuiku lagi dan kita menjadi sangat dekat? Begini, kita pernah menonton film bukan? Dan setiap film memiliki bagian behind the scene. Aku akan membahas apa yang terjadi sebenarnya dalam bagian behind the scene miliku. Tapi, itu nanti. Kita biarkan aku bermimpi tentang indahnya cintaku di awal sebelum tahu bahwa cinta itu memang tidak seindah film A Cinderella Story.
Aku menceritakan tentang diriku walau Alan tidak pernah bertanya. Tapi, aku senang dia menjawab semua pertanyaanku. Aku jarang melihatnya tertawa. Dan itu selalu ingin membuatku ingin bertanya, kenapa dia tidak menikmatinya seperti aku jika ini bisa disebut dengan pacaran? Kenapa ia cenderung terkungkung dengan sesuatu di pikirannya?
"Kamu punya masalah ya?” aku memberanikan diri bertanya saat kita hanya duduk di batu pemecah ombak di pinggir pantai.
Pantai adalah satu-satunya hal yang aku suka dari kotaku, meski penduduk pesisir mulai menganggapnya seperti ancaman karena ini selalu soal isu-isu setelah tsunami Aceh tahun 2004 –kami di sini tinggal menunggu waktu. Aku dan keluargaku percaya bahwa rencana Tuhan bukan hal yang bisa diprediksi manusia dan kami tidak perlu ‘melarikan diri’ dari sini. Kematian bukan sesuatu yang bisa kamu curangi (film Final Destination), itu benar. Kita semua pasti mati; pertanyaannya, kapan?. Kamu tidak pernah tahu, sekalipun pada saat kamu merasa berada pada titik bawah dalam hidupmu, kamu memastikan bahwa kamu tidak ingin hidup lagi, Tuhan belum tentu mengizinkan.
Aku sering berada dalam tahap itu, tapi aku seolah tidak dapat mengingatnya lagi setelah bersama Alan. Seakan itu hanya perbuatan konyol yang biasa aku lakukan ketika masih sekolah, seperti berbohong pada guru, menjahili teman, atau ketahuan mengerjakan PR di di kelas. Aku sudah tak lagi memikirkan masa lalu yang mendidikku menjadi begini. Karena aku punya masa depan. Dan kuharap itu bersamanya.
Aku memang suka pantai dan sudah pernah mengatakan padanya bahwa aku ingin sekali berenang. Sayangnya, karena selama ini aku selalu sendirian, aku tidak tahu akan mengajak siapa. Tempat kerjaku berada tidak jauh dari sini, sehingga kami bisa berjalan kaki dan aku mengatakan banyak hal yang tidak penting sekedar untuk membuatnya bicara padaku.
Aku berjalan lebih dulu dengan cepat, dan memanggilnya untuk menyusul. Tapi, dia dan langkahnya, tetap santai. Namun, wajahnya terlihat senang saat melihatku melambaikan tangan. Aku tidak sabar ingin sampai ke sana, karena aku dapat merasakan tiupan angin yang menebarkan bau asin menyegarkan itu. Mengingatkanku pada satu hari di masa kecil, saat pertama kalinya aku mulai menyukai laut dan langit biru, ketika orang tuaku mengajak jalan-jalan. Itu adalah hal terindah yang pernah aku lihat dan masih aku ingat dengan jelas di benakku. Aku selalu merindukannya dan kuharap suatu hari nanti dapat membagikan perasaan gembira itu pada seseorang. Seseorang yang duduk di dekatku.
Alan di sampingku, hanya tersenyum. Tersenyum untuk dirinya sendiri. Masih terlihat sama. Datar dan selalu berpikir. Aku baru tahu kalau dia pendiam. Dia seolah membangun dinding yang tebal di sekelilingnya yang tak bisa ditembus.
"Aku tahu kamu gelisah gara-gara itu,” kataku lagi, menatap ke sampingku dan ia tengah menoleh padaku sambil berusaha tersenyum. “Apa kamu tidak bisa terbuka seperti aku terbuka dengan kamu?"
"Semua ada waktunya,” jawab dia singkat. Mendekatkan kepalanya ke kepalaku sampai dahi kami berbenturan.
Aku sedikit cemberut.
"Mana tangan kamu?” dia menegurku lagi saat aku kembali tertangkap basah memandanginya.
Aku mengernyit. “Kamu mau memberi sesuatu?”
Ia tersenyum. “Mana?” tanya dia lagi.
Aku mengulurkan tanganku dan dia meraihnya. Semua terasa manis ketika dia menciumnya dan tidak melepasnya beberapa saat sebelum aku bersandar sebentar di bahunya. Alan mengusap-usap rambutku dan menyandarkanku ke sisinya. Aku selalu mengingat hal itu dengan baik dan mengulangnya di benakku agar dapat tertidur di malam hari dengan nyenyak.
Aku ini hanya gadis remaja. Jika kamu pernah merasakannya dan masih mengingat bagaimana dirimu saat itu, kamu pasti memahami bahwa aku memang hanya memandang dia dari apa yang terlihat oleh mataku.
Tidak bisa dipungkiri. Dia sangat menarik bagi mata-mata yang mengikuti langkah kami sepanjang jalan. Alan terlihat tidak peduli pada apapun yang dikatakan orang lain. Dia bahkan tidak membalas tatapan-tatapan itu dengan terus melangkah. Kemudian, sifatnya seperti itulah yang membuatku semakin jatuh cinta.
Dan kehadiran gadis kecil dan jelek di sampingnya adalah sesuatu yang mengganggu. Meskipun begitu, aku yang bentuknya seperti ini, tentu merasa bangga. Orang cantik saja belum tentu bisa berada begini dekat dengannya. Hanya saja aku terlalu naรฏf. Aku harap kamu mengerti kenapa aku bisa sebodoh itu. Sekali, lagi aku ini hanya gadis kecil yang belum pernah pacaran.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan dirinya, sama sekali tidak. Pada awalnya, sebelum aku tahu bahwa ia membawa badai bersamanya…
ooOoo
Komentar
0 comments