๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Senin
Padang, April 2008…
Hari itu hari Senin. Seperti yang kamu tahu tentang hari Senin –banyak yang benci padanya, bagiku hari pertama di awal minggu itu adalah kutukan. Aku terlalu tidak menyukai pekerjaanku tapi ini merupakan pintu kemandirian karena keluargaku sangat sederhana.
Ayahku seorang pensiunan dan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Tidak ada yang istimewa dengan keluarga kami. Kami tidak tinggal di daerah perumahan. Kamu bisa membayangkan, sebuah perkampungan atau daerah pinggiran. Daerah pinggiran di kota Padang lebih tenang dan bersih. Setidaknya kamu tidak akan menemukan rumah kayu beratapkan terpal yang berjejeran rapat di pinggir sungai. Di Padang ini, kamu bahkan tidak akan menemukan rumah bawah jembatan atau bantaran sungai.
Kembali soal keluargaku, selain ayah dan ibu aku punya seorang kakak perempuan, Rana Dewi. Dia kakak perempuanku satu-satunya dan 5 tahun di atasku. Dia cantik seperti namanya dan punya semua yang tidak akan pernah ada padaku. Intinya, aku adalah segala hal yang bertolak belakang dengan Rana. Kakakku sudah menikah dan dia punya dua orang anak, lelaki dan perempuan; Sarah 4 tahun dan Amar 2 tahun. Sedangkan suaminya, Andra, berusia 2 tahun lebih tua darinya. Aku dan kakak iparku tidak terlalu dekat, tapi paling tidak dia menyenangkan untuk sekedar minta dibelikan jajanan.
Dan soal hari Senin –seperti biasa Senin itu lagi, aku menjalani sisa hidupku, bertemu dengan berbagai macam orang di toko komputer tempat aku bekerja sejak lulus SMA –itu hampir setahun yang lalu. Tentu aku ingat, bagaimana ‘sepak terjang’-ku selama bekerja dan gerutuanku setiap hari pada keadaan di sana. Aku hanya seorang penjaga toko, dan profesi itu tampak lebih rendah bila dibandingkan dengan posisi Shela.
Shela adalah segala hal yang aku benci tentang toko itu. Dia menyebalkan…tidak! Dia itu seperti virus yang menjangkit orang-orang untuk membicarakan keburukan orang lain seolah yang bersangkutan tidak melihatnya sendiri. Dan dia terlalu tidak tahu malu menyadari bahwa dirinya juga sering jadi gunjingan karena tingkahnya yang norak.
Sekali lagi, juga tak ada yang istimewa dengan toko milik orang Tionghwa itu. Semua yang pernah datang, pergi tidak berbekas. Mereka hanya kembali jika melupakan sesuatu untuk dibeli, tapi jika tidak, mereka seperti menghilang dari muka bumi.
Padahal kota ini sempit. Hanya seluas Lubuk Buaya ke Bungus. Tentu kamu tidak tahu berapa luasnya itu. Ada yang bilang keliling kota bisa hanya dengan seliter bensin naik sepeda motor matik yang kelasnya paling irit. Ya, itu terdengar konyol, tapi memang benar. Penduduknya pun bisa saling mengenal hanya berdasarkan sekolah dan tempat bekerja mereka sebelumnya dengan bertukar informasi –istilah halus dari kata ‘bergosip’.
Mayoritas pegawai dari toko ini adalah perempuan yang rata-rata sebaya. Tahukah, lingkungan seperti itulah yang tidak kusukai? Aku paham sekali jika di satu tempat adalah banyak perempuan, di sana akan ada geng dan perang mulut setelah kata ‘gosip’ dan ‘fitnah’. Aku tidak termasuk dalam geng mana pun. Karena sejak pertama aku bekerja di sini, Shela sudah mengetahui bahwa aku adalah ancaman. Jadi dia mempengaruhi orang-orang untuk bersikap sentimen padaku.
---
Tempatku adalah di belakang etalase. Dengan tempat duduk –kardus printer aku menunggu siapa saja yang datang. Dan aku juga hanya seorang gadis biasa yang mudah terpesona pada apa yang aku lihat. Jika ada yang menarik aku akan mencuri-curi pandang dan malu sendiri ketika ketahuan. Aku jadi sedikit mengabaikan pekerjaanku lalu berhenti menghayal begitu batasnnya –pintu kaca di depan, tertutup dan digantikan oleh orang lain yang datang entah dari mana.
Suatu hari, aku menemukan seseorang –satu di antara orang-orang yang memenuhi toko dari bagian depan hingga counter khusus layanan servis di bagian belakang. Aku masih duduk di belakang etalase. Terlambat, Shela sudah beranjak dari tempatnya yang berada di sebelah meja kasir karena ia sudah ‘menggambar’-nya dari kejauhan. Aku baru saja berdiri, saat Shela sudah mengibaskan rambut pirang buatannya sebelum orang itu melihatnya.
Seorang laki-laki, aku menebak usianya sekitar 24 atau 25 tahun. Tingginya sekitar 175 dengan postur yang agak kurus. Kulitnya kuning langsat dan berhidung mancung. Ia mengenakan kemeja biru dongker dan celana jeans hitam. Aku terpana padanya bukan karena parasnya. Tapi, karena dia memakai kacamata berbingkai tebal. Selama ini yang aku tahu, kaca mata itu hanya dipakai oleh kutu buku, tapi dia mengubah penilaianku.
Keseluruhan dia keren –Shela sudah tahu itu lebih dulu, dia juga bicara dengan bahasa yang teratur. Aku sangat yakin dia tidak berasal dari sini
Aku tersentak, menyadari dia tengah melihat ke arahku! (mungkin karena aku mematung dan aku meragukan bahwa kesadaranku sepenuhnya ada di kepala). Aku langsung menoleh, berpura-pura merapikan sesuatu! Tapi, tanganku malah mengacaukan susunan mouse di dalam etalase. Suara benda itu jatuh di lantai, malah membagi perhatian pegawai yang lain. Tentu tidak terkecuali Shela yang bergumam “Bodoh…,” dengan jelasnya di depan pelanggan dan pegawai lain yang tertawa sambil menggeleng-geleng.
Orang itu kembali mendengarkan penjelasan Shela tentang sesuatu yang ingin dia beli. Aku berhasil membuatnya risih hanya dengan memandang –rasanya aku benar-benar jadi sangat bodoh, gerutuku sambil merapikan mouse-mouse itu dan begitu selesai aku kembali berdiri dengan tegap.
Tiba-tiba dia kembali menoleh, saat Shela sedang mengambilkan laptop dari lemari pajangan. Tapi, hanya beberapa saat sebelum Shela lagi-lagi memonopoli semua perhatiannya.
Bagiku ini mulai terasa konyol. Aku mendengus, sadar bahwa kami malah seperti berebut udara untuk bernafas.
Aku sudah tidak memusatkan perhatianku lagi pada mereka begitu pintu kaca dibuka oleh seorang pria asing berambut pirang dan bermata biru. Dari penampilannya jelas dia bukan bule backpacker yang jarang bercukur dan potong rambut; jorok pula. Dia rapi dengan setelan kaos mengepas badan dan jeans panjang warna gelap.
Menelisik ke dalam toko, ia tampak bingung akan bicara dengan siapa. Dan mungkin ketika aku menghampiri, dia tidak sadar bahwa ia memandang terlalu jauh ke dalam untuk sesuatu yang sia-sia.
"Can I help you?"[1], aku menyapanya. Dengan senyuman semanis yang aku bisa dan dia menarik nafas lega.
"Oh, sure"[2], katanya, baru menemukan sosok kecil di depannya. “Do you have flash memory?"[3],
"Yes,..."[4] jawabku sambil kembali ke belakang etalase-ku.
"I need 4gigabytes"[5], katanya lagi.
"Sory, it's out if our stock."[6], jawabku dengan ekspresi cukup menyesal,"We only have 2 gigabytes"[7]
"It's not enough..."[8], katanya kebingungan.
"Or you should take the two of this."[9], aku mulai bernegosiasi.
Ia tampak berpikir,."Okey, I'll take them"[10], jawabnya kemudian sambil merogoh saku celananya untuk mengambil dompet,"How much?"[11]
"One hundred and fifty thousand. You can pay to our cashier. Over there"[12], aku menunjuk ke meja Diani –kasir toko.
"Oh thanks"[13], ucapnya tersenyum manis,."Your english is very good. Are you came nearby?”[14]
"Yes, I am. And you, where do you come from?"[15]
"Australia.,”
Kata guru di SMP dulu, aku memiliki kecerdasan linguistik. Aku bisa mengingat kata-kata dalam bahasa asing dengan cepat tanpa perlu menghafalnya. Andai aku bisa melanjutkan sekolahku, tentunya aku tidak akan terjebak di sini bersama gadis-gadis melelahkan ini. Terlebih, Bahasa Inggris tidak terlalu berguna di tempat seperti ini karena kemampuan untuk ‘menjual’ lebih dibutuhkan.
Tidak setiap hari orang asing datang ke sini. Jika Shela maju lebih dulu, ia akan menguasai keadaan hanya dengan bermodalkan bahasa isyarat lewat jari-jarinya dan kalkulator untuk bicara dengan orang asing. Ya, aku harus mengakui aku tidak punya kemampuan menjual seperti dirinya.
Aku benci marketing.
Bule itu kembali dengan kantong flasdisk di tangannya. Ia menghampiriku di dekat etalase. "What's your name?"[16], tanya dia.
"Ayu,” jawabku.
"Ai..yu?” dia menyebutnya dengan hati-hati. “Like... I and U?”
Aku hanya tertawa saat orang asing itu menggodaku.
"Oh, okay, Ayu, nice to meet you. You’re such a nice and… cute girl"[17], ucap bule itu lalu pergi dengan senyuman di wajahnya.
Aku tersenyum senang. Aku langsung merindukannya untuk bicara lebih banyak lagi tentang Australia dan begitu inginnya aku ke sana. Tapi, aku memukul kepalaku. Mimpi itu masih ketinggian, umpatku lalu kembali ke belakang etalase.
Aku jadi lupa, bahwa si kacamata itu belum pergi. Ia masih berdiri di sana bersama seorang lagi yang tengah bicara dengan Shela. Ketika aku melihat ke arahnya, dia juga sedang melihatku. Aku tidak lagi merasa bahwa tingkahku konyol. Aku hanya… hanya merasakan sesuatu yang aneh, yang membuatku kemudian tertunduk untuk memandang diriku sendiri –pakaianku dan dandananku.
Aku ini hanya Ayu. Bukan gadis secantik Julie Estelle atau Luna Maya. Aku bahkan belum pernah pacaran –meski itu juga tak ada hubungannya. Tapi, dia sudah mengangkapku tanpa perlawanan dengan tatapannya itu. Ketika dia akan pergi, dia memandang ke arahku dan aku terdiam, menyaksikan langkahnya berlalu.
Irama musik dalam kepalaku segera terhenti, begitu ia melangkahkan kakinya melewati pintu kaca dan ia tidak lagi menoleh.
Selalu seperti itu, aku dengan kecewa, duduk di atas kardus printer untuk menyusun barang-barang dan mendengarkan tawa keras Shela yang merasa dialah yang mendapatkan perhatian orang itu –bukan aku.
---
Pagi-pagi, aku mencoba lebih semangat. Walau bangun pagi rasanya sangat malas. Aku menepuk kedua pipiku, membuat ekspresi konyol untuk menemukan di mana aura kecantikan tersembunyi di wajahku. Tidak ada. Orang-orang lebih suka menyebutku manis, daripada cantik –kalau tidak mau menyebutku jelek karena aku pasti akan tersinggung. Manis, adalah kata altenatif lain di saat orang tidak ingin jujur saat memandangku. Aku benci itu sampai rasanya aku ingin memukul kaca.
Aku sedikit kecewa mengetahui kakak perempuanku-lah yang menyandang gelar 'cantik'. Aku tidak merasa iri, tapi berkecil hati. Padahal kami dilahirkan dari rahim yang sama, asal yang sama, ‘kecebong’ yang sama.
Rana adalah kesempurnaan dengan tubuh tinggi, wajah khas Amerika Latin dan kadang terlihat seperti orang India. Dandanannya sangat pas dengan bentuk wajahnya. Jika aku laki-laki aku juga pasti akan mengejar-ngejar Rana. Sedangkan aku adalah segala sesuatu dalam bentuk mini. Karena aku kecil dan juga kecoklatan. Ada yang menyebutku imut-imut tapi itu tidak membantuku untuk lebih percaya diri.
Aku menyebut diriku, gadis yang tertinggal di belakang. Di mana Rana selalu selangkah di depanku dan aku selalu di belakangnya walau dia dengan bangganya mengaku pada teman-temannya aku adalah adik dia satu-satunya dan kami memang tidak mirip –bukannya dia memamerkan dirinya lebih cantik tapi membatidakan pada semua orang bahwa kami bukan hasil dari cetakan kue yang sama. Namun ada juga yang menyindir; aku adalah sisa-sisa, dan semua yang bagus-bagus telah menjelma menjadi ‘Rana’. Itu membuatku merasa tidak berharga.
Sisa-sisa? Pernahkah kamu mendengar ejekan yang lebih buruk dari itu hingga kamu merasa tidak pantas dilahirkan ke dunia? Aku terlalu sering menyimpan kata-kata seperti itu di hatiku sehingga menjadi ‘penyumbatan’ yang membuatku mengalami kemunduran mental.
Kamu tahu maksudnya? Ucapan-ucapan itu membuat dinding tebal yang menyembunyikanku dari dunia luar. Ya, aku juga akan menjelaskan soal ini nanti. Aku berjanji.
Tapi, begitulah. Hidup memang kadang tidak adil.
Aku pergi bekerja setiap pagi dari jam 8 sampai jam 5, setiap hari. Hidupku tidak bisa lebih membosankan dari melihat tingkah norak Shela yang pamer soal barang-barang yang baru dia beli –seperti tas, highheels dan busananya, sampai telingaku gerah. Dan dia semakin tidak menyukaiku entah karena alasan apa. Aku memang jelek tapi tidak sangat bodoh untuk menyadari sindirannya soal kehidupan pribadiku.
Aku hanya bernasib sial, itu saja.
---
Cuaca tidak mendukung saat aku berdiri di depan pintu kaca saat istirahat siang. Aku menunggu giliran makan siang karena peraturan tidak ada acara makan siang bersama karyawan. Supaya efektif dan jika pelanggan, ia tidak akan menunggu sampai jam makan siang habis. Yah, ini hanya perusahaan suplier komputer milik orang Tionghwa, bukan perusahaan skala nasional. Dengan kaca-kata tak terlihat di mana-mana. Tidak ada ruang yang berpartisi supaya teman tidak mengintip privasimu.
Ini kota Padang, bukan kota metropolitan seperti Jakarta. Padang yang rawan gempa. Padang yang akan tenggelam karena tsunami. Padang yang ‘bla bla bla’. Aku lahir di sini, kedua orang tuaku berasal dari sini. Saat isu-isu tsunami yang berkembang belakangan, pengecut-pengecut yang takut mati mulai pindah ke provinsi tetangga atau ke mana pun yang menurut mereka aman. Harga properti di sekitaran pantai, anjlok dan yang berada di dataran yang lebih tinggi naik drastis.
Daerah pinggiran pantai mulai ditinggalkan –rata-rata karena alasan yang sama : takut hanyut oleh tsunami yang cepat atau lambat pasti datang juga. Rumah-rumah bagus terjual dengan harga yang lumayan murah sedangkan rumah-rumah yang berada di daerah ketinggian melambung tinggi harganya. Seharusnya mereka membangun rumah di atas pohon kelapa saja. Meskipun di sini tidak ada apa-apa dan orang-orang Minang terkenal sebagai perantau ulung, aku tetap tinggal di sini walaupun sebenarnya aku juga ingin merantai seperti merak. Hanya saja orang tuaku tidak akan mengizinkannya karena menurut orang Minang, anak perempuan harus tinggal di rumah bahkan setelah mereka menikah.
Tapi, aku tidak ingin seperti itu. Rana dan suaminya sudah tinggal di rumah orang tuaku –aku sedikit skeptis jika suamiku kelak juga harus tinggal dengan keluargaku. Walaupun aku tahu, tidak banyak yang bisa dilakukan di sini selain melakukan apa yang bisa dilakukan. Bekerja dan berusaha, hanya untuk bisa merasakan punya uang sendiri –walau hanya pas-pasan. Semua uangku habis sebelum waktunya, membuatku seperti mengisi ember bocor terus menerus.
Hidupku sangat membosankan. Mendung membuat hariku kian menyedihkan. Aku lupa membawa payung, sudah pasti aku akan basah jika tidak mau menunggu hujan reda entah sampai kapan itu berlalu. Gelap. Tapi, entah perasaanku saja, aku seperti melihat cahaya –atau aku terlalu berlebihan mengasosiasikan seseorang yang sedang menuju ke arahku.
Seseorang membuka pintu kaca, aku segera berdiri dari tumpukan kardus printer di belakang etalase. Sedikit terkejut lalu salah tingkah. Aku mungkin terlihat menggelikan tapi aku menendang rasa maluku keluar dari pikiranku. Entah dia akan datang ke sini lagi atau tidak. Aku punya firasat aku akan merindukan hal-hal seperti ini akan terjadi dalam hidupku sekali lagi.
Aku membekukannya dalam kepalaku. Aku yang terlihat bodoh dan dia yang dengan tenang bertanya padaku. Aku jatuh cinta untuk yang pertama kali –jika cinta monyet waktu SMP pada seorang kakak kelas dan tak pernah tersampaikan, tidak dihitung.
[1] Apakah ada yang bisa saya bantu?
[2] Oh…tentu
[3] Kamu punya flash memory?
[4] Ya
[5] Saya butuh yang 4 giga bit
[6] Maaf, tidak ada
[7] Kita hanya punya 2 gigabit
[8] Itu tidak cukup
[9] Atau kamu bisa ambil ini 2
[10] Baik, saya ambil dua-duanya
[11] Berapa?
[12] Seratus lima puluh ribu. Anda bisa bayar di kasir. Sebelah sana
[13] Oh, terima kasih
[14] Bahasa Inggris kamu bagus. Apakah kamu berasal dari sekitar sini?
[15] Ya. Dan kamu dari mana?
[16] Siapa nama kamu?
[17] Oh, baiklah, Ayu, senang bertemu kamu. Kamu gadis baik dan manis…
Komentar
0 comments