[Bab 6] MY DEAR ALAN - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Carissima

Aku membayangkan seorang perempuan muda Tionghwa. Berwajah cantik. Berkulit putih dan bertubuh tinggi. Aku rasa itu wanita yang sempurna untuknya. Dan aku membayangkan pesta pernikahan, upacara di gereja, dan semua serba putih. Mereka tampak serasi.

Sedangkan aku, berdiri di luar sambil menangis. Seperti salah satu adegan yang ada di serial telenovela Carissima.

“Aku akan mengenalkan kamu pada bagian pengadaan,” kata Melani dalam rangkaian penjelasan panjang yang sedari tadi ia perdengarkan di mobil dalam perjalanan entah ke mana. “Nanti kamu akan berurusan lebih banyak dengan mereka”

Oh ya, aku lupa, kami tengah menuju ke salah satu kantor sedang apa yang sudah menunjuk kami untuk menjadi supplier mereka.

Aku menoleh dengan bosan, tampak di bawah sadarku, aku menunjukan sikap yang harusnya membuat Melani kesal. Bagaimana pun aku adalah bawahannya. Mungkin aku sudah tidak peduli lagi jika akhirnya dia  memecatku karena sikapku yang tidak professional. Aku sudah menunjukan niat tidak ingin bekerja lagi.

Namun entah mengapa Melani kelihatan bisa mentoleransinya. Bukannya mereka punya disiplin yang tinggi?

Melani menoleh padaku, tersenyum, sebelum ia kembali melihat lurus ke depan dan kedua tangannya pada kemudi. “Dunia ini belum kiamat,” katanya, lalu tertawa pelan, melirikku lagi, dia tampak akan mengomentari masalahku. “Bukan salah kamu kalau nasib tidak berpihak padamu.

Lalu salah siapa?

Aku ikut menatap lurus ke depan. Kamu tahu apa yang kulihat? Jalan buntu yang gelap sekali.

“Hidup setiap orang itu rumit, bedanya, setiap orang itu punya cara yang berbeda untuk menghadapinya…,” dia berkata, menoleh sebentar, sebelum kembali menatap ke depan.

Aku membatu. Ya, aku membatu terhadap semua saran dari orang-orang di sekelilingku. Mereka berkata dengan mudah ‘lupakan’, ada kalanya orang tidak membutuhkan saran seperti itu. Aku misalnya, seseorang baru saja menarik paksa diriku dari mimpi terindah seumur hidupku. Oh Tuhan, sebenarnya, Alan yang menendangku keluar dari mimpi itu. Bisa kamu bayangkan? Bisakah kamu menerima semua itu begitu saja?

Tapi, aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan. Mencarinya? Bertemu dengannya sekali lagi dan mengatakan bahwa aku tidak bisa tanpanya? Terkadang, aku masih merasa bahwa jika aku bisa bicara dengannya sekali lagi, itu akan membalikan keadaan. Jika dia mendengarkanku, tak peduli apa yang orang lain katakan, dia akan berubah pikiran. Jadi, berkali-kali dalam sehari, aku menghubungi nomor telponnya, tapi aku tidak mendengar apa-apa darinya. Selain dari operator menyebalkan

Cinta itu memang menyakitkan.

“Kita sampai,” kata Melani padaku dan dia membelokan mobil ke sebuah halaman parkir salah satu gedung perkantoran milik pemerintah.

Tidak butuh waktu lama mencari tempat parkir. Seseorang berseragam oranye meniup pluit aba-aba membantu Melani masuk dalam barisan mobil yang sudah tersusun rapi. Aku meraih tasku yang berada di kakiku dan segera turun selagi Melani mencari-cari sesuatu dalam tasnya. Lipstick! Ya, dia selalu terlihat cantik karena membawa alat make up yang lengkap.

Begitu turun dari mobil, ia membuat mataku silau. Melani mempunyai dua kaki panjang dan kulit putih yang selalu cocok memakai warna apa saja. Saat ini, Melani mengenakan stelan rok warna putih dan kemeja ungu muda. Rambut ikalnya yang panjang dan dicat pirang tergerai melewati pundak. Langkahnya seperti model professional, membuat langkahku sendiri jadi berantakan.

Aku berjalan di belakangnya. Merasa ingin balik kanan saja, karena aku sangat tampak seperti pesuruh. Kamu mau tahu seperti apa dandananku? Aku memakai jeans dan kemeja dengan warna gelap. Aku hanya memoles bedak tipis di wajahku dengan sedikit lipstick peach yang mudah memudar. Rambutku hanya dikucir ke belakang dan sepatuku sepatu flat berwarna biru tua yang sudah jelek.

Tuhan, tolong sembunyikan aku…, aku memejamkan mataku dan tertunduk menghindari mata orang-orang yang memelototi Melani. Dari parkiran sampai lobi kantor.

Seorang pria yang usianya sekitar 40 tahunan menghampiri kami. Dia berpakaian rapi dan berdasi. Aku menatap pria itu takut-takut saat Melani mengenalkannya padaku. Setelah ini, aku akan sering berurusan dengannya walau aku tahu bahwa pria ini tampak punya minat terhadap Melani yang sempat membuatnya tidak bergidik karena melotot.

Dasar Om-om genit!, gerutuku saat kami ikut pria itu menuju ruangannya untuk membicarakan kerja sama yang dimaksud Melani sepanjang perjalanan tadi. Ternyata pekerjaan seperti ini lebih melelahkan dari menjaga toko. Padahal dulu, aku ingin sekali meninggalkan tumpukan kardus printer di belakang etalase dan punya meja sendiri.

---

“Eh, Ayu! Ayu! Tunggu!” Rana berlari dari dapur ke ruang depan, tempat aku sedang memakai sepatu dan bersiap berangkat kerja.

Aku menghela nafas. “Apa ?” gerutuku menggumam. Dan memperlihatkan wajahku yang kusut.

Aku tidak ingin dia menyuruhku membelikan sesuatu pagi-pagi begini karena biasanya dia selalu memerintahku melakukan apa yang tidak ingin kulakukan. Seperti yang kamu tahu, sebagian besar anak sulung mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadap adik-adiknya. Dan orang tuamu seakan tidak pernah melihat kelakuan mereka yang seenaknya. Mungkin, kamu bisa mengadu, tapi di keluargaku, mengadu itu bukan pilihan yang bagus.

Jadi aku lebih memilih menunjukan ketidaksukaanku supaya Rana tidak menggangguku.

“Kamu ini mau berangkat kerja atau mau pergi jalan- jalan ?” ternyata dia malah mengeluh.

Ini menjadi lebih melelahkan dari seandainya bila dia memintaku membelikan popok untuk Amar. Rana memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Seperti biasanya, aku memang suka dengan jeans dan kaos, karena itu membuatku merasa lebih baik dan nyaman.

“Kata Ibu kamu pindah ke bagian tender ya?” tanya dia. “Kenapa kamu berdandan seperti itu?”

“Aku buru-buru!” kataku tetap memakai sepatuku tapi dia menyeretku ke kamarnya. “Uni?!”

Rana membuka lemari. Mengeluarkan beberapa baju yang digantung rapi dan melemparnya ke atas tempat tidur. Dia tampak serius akan mengubahku secara mendadak di saat aku hanya punya 20 menit untuk sampai di toko. Padahal aku butuh 30 menit dari sekarang untuk bisa tepat waktu, tapi Rana membuatnya jadi sangat lama.

Singkat cerita, dia menyuruhku memakai baju yang dia sodorkan padaku dengan paksa. Aku heran sejak kapan dia jadi memperhatikan dandanan dan penampilanku. Tapi, ketika melihat diriku di cermin dengan mengenakan baju miliknya, aku merasa bahwa sudah seharusnya aku membuka mataku. Sudah seharusnya aku terbangun dari sisa-sisa mimpi yang telah hancur itu.

Aku jadi tidak mengeluhkan waktu yang bergulir dalam mantra peri bernama Rana yang mengubahku menjadi seseorang yang berbeda. Aku membuka mataku dan menemukan orang baru di cermin yang memantulkan diriku.

Sesaat aku merasa tidak mengenalnya. Tapi, inilah mungkin yang diharapkan orang-orang yang kasihan padaku.

Melani misalnya.

“Kamu terlambat hampir satu jam,” dia mengingatkanku dari mejanya dan aku sedang menaruh tasku di laci dengan sedikit rasa bersalah. “Kamu lupa kita punya janji sama Pak Johan pagi ini? Dan dia sudah menelponku tujuh kali daritadi”

“Maaf…,” ucapku menatapnya cukup menyesal dan tiba-tiba dia mengernyit. Aku tidak bisa menjelaskan bahwa tadi kakakku memaksaku mengubah kebiasaan mendasar dalam diriku dan betapa sulitnya bagiku untuk membiarkan perubahan itu terjadi.

“Kamu ke salon pagi-pagi?” tanya dia tersenyum secara tiba-tiba dan giliran aku yang mengernyit.

Aku lupa, aku tidak datang dengan rupa yang sama seperti kemarin. Aku memandang diriku dan menunggu pendapatnya, sudah kutebak apa yang akan dia katakan. Dia seolah akan mengacungkan dua jempol padaku lewat senyumnya.

“Kamu bakal bertemu banyak orang, Yu,” katanya. “Perubahan yang bagus.

Perubahan yang bagus, aku tersenyum. Aku tersenyum juga setelah sekian lama rasanya wajahku ini kaku sekali.

“Jadi kita pergi sekarang?” ajaknya dan dia berdiri dari kursinya.

Aku meraih tasku dari dalam laci. Dan mengikuti langkahnya. Menuruni tangga dan menyapa beberapa karyawan lain yang kebetulan lewat. Tidak lupa –dan selalu, lewat di depan Shela dan mejanya.

Sekarang, aku dapat menoleh padanya dengan angkuh dan memperlihatkan ekspresi yang sama dengan yang pernah ia perlihatkan padaku saat pertama kali aku di sini. Begitu, memalingkan wajahku darinya untuk menatap ke depan, aku tersenyum lagi.

Aku tidak tahu bagaimana reaksinya, tapi sudah cukup bagiku dia tidak lagi menyumbangiku dengan perkataan melecehkan. Bahkan pendapat jeleknya soal aku tidak dapat menerkamku sekalipun semua kepala di lantai satu ini sependapat dengannya.

---

Aku memandang wajahku di cermin. Semua yang menempel di wajahku adalah make up pinjaman. Ya, setiap pagi sejak itu, aku mengganggu Rana yang kadang masih tidur di kamarnya untuk meminjam semua barang-barang yang aku belum bisa membelinya dengan uangku sendiri.

“Ayu! Berisik!” kurasa dia mulai mengeluh dan kesal padaku. Saat aku mengacak-acak meja riasnya dia melemparku dengan bantal.

Tapi, aku hanya tertawa dan sedikit memelas agar dia meminjamkan ‘tongkat sihir’-nya padaku.

Jadi ketika aku punya uang, aku memaksanya pergi berbelanja. Dalam sehari aku menghabiskan gajiku selama sebulan hanya untuk barang-barang yang kupikir akan memberikan efek ‘sihir’ lebih lama. Sudah sembilan belas tahun lamanya, aku identik dengan rambut hitam ikal dan panjang. Satu hari, aku mengubahnya menjadi lurus dengan panjang sebahu dan warna kecoklatan. Aku merapikan alis mata dan memberanikan diri memakai lensa kontak warna coklat karena warna asli bola mataku hitam.

Aku terlihat berbeda sekarang, namun aku masih Ayu yang sama. Ayu yang berharap suatu hari Alan akan kembali dan melihat perubahan ini. Dan berharap dia akan membawaku kembali.

“Kalau kamu terus-terusin memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kamu, lama-lama kamu bisa jadi gila…,” celetuk Rana saat aku tengah memandangi sosokku di cermin.

Meski aku tidak pernah cerita apa yang terjadi padaku sebelum ini, kurasa dia mulai paham bahwa sekarang tidak ada siapa-siapa di dekatku. Oh iya, aku hanya lupa dia juga pernah seumuran denganku dan merasakan bagaimana sakitnya patah hati.

Rana melompat ke atas tempat tidurku, merentangkan tangannya, ia menggeliat dan menguap. “Capek…,” keluhnya, memperhatikan aku yang masih berdiri di depan cermin. “Aku juga pernah ditinggal tanpa alasan”

Aku melempar pandangan pada kakakku yang sekarang tampak seperti teman –bukan kakak menjengkelkan yang omongannya harus selalu didengar. Mengabaikan diriku di cermin –mungkin, Rana akan mengatakan sesuatu yang ingin kudengar untuk menjagaku tetap ‘terjaga’.

“Pacar pertama itu tidak selalu jadi cinta sejati,” katanya. “Soalnya di dunia ini ada banyak orang. Ada banyak orang yang berkelana sampai mereka menemukan takdir mereka.

Ya, dia benar.

“Kalau aku jadi kamu, sedang apa memikirkan laki-laki satu itu sampai susah-susah, tidak mau makan, tidak mau melakukan apa- apa…,” celetuknya, dan itu mulai terdengar seperti ejekan. Dia itu tetap saja Rana, tetap saja menjengkelkan. “Itu namanya bodohAda banyak laki-laki di dunia ini! Kamu mau seumur hidup hanya mencintai satu orang? Setia itu menyakitkan, Ayu!”

Bicara tentangnya, seperti baru kemarin semuanya terjadi. Ketika kupandang wajahku yang tampak lebih baik, namun terkadang wajah itu merengut. Karena dia tidak ada untuk melihat semua ini. Namun, hidup harus terus berlanjut.

---

Padang,  Januari 2009…

Aku menjalani pekerjaan yang mulai terasa sedikit menyenangkan, mungkin karena Melani tidak pernah marah padaku. Tanpa sadar tahun baru menyambut hari yang baru, usiaku memasuki 20 tahun. Aku sudah meninggalkan masa-masa belasan yang rumit itu.

Suatu pagi, aku datang bekerja seperti biasanya. Entah mengapa hari itu aku terlalu bersemangat. Aku masuk toko dan menemukan Shela baru datang dan kita berBapaksan saat mengambil absen. Dia tidak mengatakan sesuatu yang menyinggungku, dan aku berlalu dengan berlari menuju tangga ke lantai dua. Sepanjang jalan, hanya Alita yang menyapaku santai, dan aku pun membalas dengan tersenyum.

Aku pikir Melani sedang menungguku karena kami punya janji hari ini dengan bagian pengadaan salah satu bank swasta. Aku nyaris telat. Tapi, tidak ada siapapun di lantai dua. Aku melirik jam tanganku, tepat jam delapan dan harusnya, Cece Wan dan Melani sudah ada di belakang meja. Aku tidak melihat mereka. Pintu ruangan yang terkunci menandakan bahwa mereka memang belum datang.

Aku kembali ke bawah dan semua karyawan sudah datang. Namun, aku merasa aneh. Dari semua orang yang sibuk bekerja, aku sadar masih ada yang belum datang –mereka yang keturunan Tionghwa. Aku tidak  tahu apa yang tengah terjadi sampai Alita memberitahu bahwa suami Cece Wan meninggal dunia. Saat itu beberapa orang dari karyawan berniat pergi ke rumah duka –rumah perkumpulan keluarga dimana jenazah kini disemayamkan.

“Kamu ikut?” Shela menegur aku yang sedang bicara dengan Alita. Ia sudah menyandang tasnya dan beberapa orang sudah naik mobil di depan.

Aku mengangguk dan Shela langsung keluar. Aku berlari ke lantai dua untuk mengambil tas dan antara yakin atau tidak aku pergi ke rumah duka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko.

---

Sepanjang perjalanan pikiranku melantur. Aku tidak dapat mendengar tawa mereka yang bercanda sepanjang perjalanan. Aku duduk paling depan dan kurasakan apapun yang mereka tertawakan, aku tidak mengerti. Mereka memang tidak terlalu mempedulikanku.

Supir memberhentikan mobil di belakang sebuah mobil yang berjejer di sepanjang jalan. Begitu turun, aku melihat banyak sekali papan bunga yang berbaris –menunjukan betapa terpandangnya keluarga ini. Aku menuju rumah duka lebih dulu karena teman-temanku –tidak bisa disebut begitu juga, tengah saling menunggu satu sama lain. Aku melirik mereka sekali, dan hanya Shela yang memperhatikanku dari kejauhan.

Di gedung rumah duka, banyak sekali orang. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Melani dan ibunya berdiri di dekat peti mati. Mereka tampak sayu dan sedih. Begitu aku mendekat, aku baru menemukan bahwa Melani baru saja berhenti menangis. Matanya sembab dan merah. Sejak kemunculanku, ia tak pernah melepaskan pelukannya dari adik perempuannya yang berusia 13 tahun.

Aku sudah lama tahu bahwa ayah –yang dia panggil Papi, menderita komplikasi diabetes dan jantung. Rumah sakit menjadi tempat ia menghembuskan nafas terakhir jam sebelas malam kemarin. Di dalam peti mati, pria yang tutup usia pada 62 tahun itu, mengenakan pakaian terbaiknya –setelan serba putih lengkap dengan sarung tangan, dan kalung  kristus dalam genggamannya. Ini pertama kalinya aku melayat ke tempat orang yang bukan muslim.

Aku memberikan pelukan pada Melani, hanya itu. Dan menemaninya di sisi peti mati. Lima menit kemudian, karyawan toko berdatangan, memberikan ungkapan yang sama, pelukan dan ucapan ‘semoga diberi ketabahan’. Kepalaku kosong beberapa saat, memperhatikan orang-orang datang silih berganti. Rata-rata mereka semua bermata sipit. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan saat memperhatikan wajah mereka satu persatu, seakan akan menemukan wajah yang kurindukan di antaranya.

Karena dalam perjalanan tadi, sempat terbesit pikiran bahwa mungkin Alan akan datang –karena ayah Melani masih kerabat ibunya. Tapi, aku tidak menemukan dia di antara pelayat. Bodohnya aku, jika saat ini dia sudah menikah, tentu dia akan membawanya ke Jakarta. Sudah lama ini terpikir olehku, bertanya pada Melani yang mungkin saja tahu. Tapi, aku tidak seberani itu. Mengetahui lebih banyak tentangnya hanya akan menyakitiku. Toh, dia tak akan kembali. Bila dia ingin kembali, pasti dia sudah mencariku dari kemarin-kemarin. Harapan yang kosong hanya membuatku kecewa.

Bergelut dalam pikiranku sendiri, aku masih mengawasi sekitarku. Kali ini, aku buang semua harapan itu jauh-jauh, hingga kutemukan juga akhirnya apa yang kucari.

Aku melihat si kembar tempo hari. Dengan berpikiran bahwa mungkin Alan juga ada di sekitar sini. Maka aku meninggalkan Melani yang ditemani oleh kerabatnya yang lain dalam tangis yang sama. Mereka tampak mengobrol di pintu masuk, seperti akan segera pergi. Langkahku berusaha secepat mungkin, ingin menysudahi rasa penasaranku.

Aku melewati beberapa orang yang menuju arah berlawanan, mereka melihat ke arahku, seolah aku mengganggu. Si kembar mulai menuruni anak tangga yang pendek. Saat aku kehilangan mereka, langkahku terhenti karena menabrak seseorang yang tidak terlihat di pelupuk mataku.

Kusadari, tubuhku menghempas lantai keras yang membuat pantatku sakit. Kubuka mataku yang terpejam menahan sakit, aku melihat seorang lelaki bertubuh kurus berdiri di depanku.

“Hei,” dia menegurku dengan sedikit gusar. Tanpa membantuku berdiri, dia malah memandangiku saja seperti baru tersinggung. Tatapannya itu membuatku agak jengkel.

Begitu aku berdiri, aku sadar, bahwa orang-orang kini melihat ke arahku –termasuk Melani dan kerabatnya yang lain. Lebih dari itu si kembar juga memandang ke arahku. Rasanya lengkap, lelaki yang penampilannya seperti preman ini membuatku jadi pusat perhatian di rumah duka.

Meski aku tidak pernah mengatakan apa yang kurasakan saat itu, orang yang pernah tahu tentang apa yang kualami sudah pasti menebak bahwa aku tengah mencari-cari seseorang yang kupikir ada di sana.

---

Melani diam sepanjang perjalanan menuju ke sebuah bank swasta –salah satu korporat kami. Tidak seperti biasanya, ia menjelaskan siapa saja orang yang akan kami temui dan bagaimana karakter serta cara bicara dengannya. Kali ini, dia masih kehilangan semangat. Setelah hampir satu minggu berlalu, ia dan ibunya kembali bekerja, meski mereka masih kelihatan murung.

Aku juga diam saja. Tidak tahu cara memulai percakapan yang wajar.

“Dia tidak ada di sana,” kata Melani tiba-tiba padaku.

Aku memandangnya heran, tapi aku tahu siapa yang dia maksud. Melani memastikannya dengan membalas tatapan terkejutku.

“Kamu tahu, Alan tidak akan datang ke acara seperti itu,” jelas dia, dengan tenang dan kedua tangannya memutar kemudi. “Dia bukan tipe orang yang peduli dengan orang lain dan tidak dekat sama kerabat. Alan orang yang soliter, selama ini dia tinggal sendiri, mengurus diri sendiri, dan hampir tidak pernah pulang. Ada banyak hal yang dia benci pada kota ini… mungkin karena dia dilahirkan dari orang tua yang berbeda lalu berpisah karena perbedaan itu.”

Aku masih diam. Menunggu.

“Aku tahu dia di Jakarta. Kita satu kampus, tapi beda jurusan dan dia lebih senior,” katanya, dan aku menajamkan pendengaranku untuk menyimak baik-baik. “Kami masih sepupu tapi dia tidak pernah mau mengakuinya. Di Jakarta sana tidak ada yang mengenal Alan, semua orang memanggilnya Dennis. Dia tidak suka dipanggil Cina. Dia orang yang serius dan hampir tidak pernah bermain-main. Kamu pasti tidak tahu, kalau Alan lulusan terbaik dan dia memulai karirnya lewat jalan yang sempurna. Meski pun banyak yang dia korbankan, waktu yang harusnya untuk menikmati masa muda, pacaran, atau hal-hal seperti itu… Alan tidak pernah punya itu semua tapi dia punya apa yang tidak semua orang punya. Hidup mapan, pekerjaan yang hebat, pacar yang cantik…”

Jantungku berdegup kencang, membuatku ingin menangis, karena disaat bersamaan rasanya ada yang mencengkramnya begitu kuat. “Kenapa dia kembali ke Padang kalau di Jakarta semuanya begitu sempurna?” tanyaku.

Melani melirikku lagi, menghela nafas. “Aku pikir Alan yang akan mengatakannya sendiri,” jawabnya. “Aku berusaha untuk tidak ikut campur karena itu urusannya…tapi…”

Aku kembali terdiam dan menunggu lagi.

“Tidak ada yang tahu entah di bagian mana, Alan mengacaukannya,” kata Melani, menatapku sekali lagi. “Kamu benar-benar tidak tahu apa yang membuat dia pergi?”

Aku menggeleng. Mataku tak berkedip beberapa saat, takut melewatkan perubahan ekspresi pada wajah Melani.

“Dia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan yang mungkin tidak pernah dia sadari sampai tiba-tiba itu menariknya keluar dengan paksa untuk kembali ke asalnya,” jelas dia. “Alan punya seorang anak di luar nikah dengan seorang perempuan yang dulu pernah dia sukai.

Rasanya aku ingin berteriak. Berteriak sekeras-kerasnya pada dunia yang mempermainkanku. Benar seperti kataku, semakin aku mengetahuinya lebih jauh, semakin itu menyakitiku. Jika seandainya kubiarkan saja dia berlalu, tentu tidak akan sesakit ini.

Aku menahan nafasku, air mataku sudah mengaburkan pandanganku. Sehingga begitu tetes pertama jatuh, rasanya  sakit sekali hingga ke jantung, karena dari tadi aku terus bertahan.

Melani hanya memandangku. “Jadi…kalian bertemu memang pada saat yang salah ya…,” katanya, iba, dan tatapannya menjadi sayu.

---

Matahari yang menyengat kulit terasa tidak bersahabat, ketika aku turun dari angkutan umum yang berisi bermacam orang –anak kuliahan yang menghafal bahan ujian, ibu-ibu yang mau ke pasar, wanita yang super sibuk dengan handphone di telinga, dan orang tua yang pikun yang terus berbicara sepanjang jalan. Aku duduk paling sudut, sambil memikirkan apa yang akan kukatakan nanti.

Rasanya begitu berdebar, turun di depan toko roti yang biasanya hanya aku lewati. Aku melihat sekitarku, pagi yang sibuk, di mana seharusnya aku bekerja. Tapi, aku tidak mengatakan apa-apa pada Melani untuk meminta libur hari ini.

Kurasa pasti dia mengerti setelah pembicaraan panjang yang menyayat hati kemarin. Aku menangis di mobil dan menghancurkan dandanan di wajahku, kami jadi tidak bisa ke kantor korporat karena aku terlihat sangat berantakan. Aku sangat berterima kasih padanya, telah membantuku untuk membuat keputusan ini.

Aku berdiri tidak jauh dari sebuah gang kecil, mencari tempat yang teduh untuk menunggu. Rasanya aku benar-benar tidak berani, masuk ke gang itu dan bertamu pada saat seperti ini. Padahal aku ingin tahu sekali, lingkungan seperti apa yang telah membentuk pribadi Alan –yang sesungguhnya tak pernah kutahu.

Tapi, beginilah. Alan tidak berasal dari keluarga kaya. Untuk semua yang dia inginkan dia harus berusaha keras. Dan ternyata hidupnya sama sekali tidak mudah di balik sosoknya yang menurutku sempurna. Pecinan di sini, telah membentuk pribadinya yang soliter. Aku berusaha mengerti, berusaha menerima bahwa aku akan bersabar lebih lama dari yang aku perkirakan.

Satu jam tak terasa. Aku terus memandang ke gang kecil, semoga tidak akan lebih lama dari ini. Tapi, aku tak akan menyerah. Dia akan muncul dari sana cepat atau lambat, karena tidak jauh di dalam gang kecil adalah rumah tempat ia selalu pulang.

Matahari beranjak ke atas kepala, bayangan tiang listrik membuat lukisan hitam di tanah. Aku melirik jam tanganku lagi, lalu gang itu. Begitu seterusnya, hingga cahaya menyilaukan menjadi redup. Aku hampir menyerah. Minuman terakhirku habis. Dan dia yang kutunggu, seolah tak akan keluar dari gang.

Aku menyebrang jalan dengan perasaan sedih. Menuju sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari gang kecil.

Aku sudah bolak balik ke sana untuk minuman dan aku sangat lapar. Tapi, mataku tertuju pada soda kalengan yang disusun rapi di salah satu rak yang berada di ujung. Aku tahu minum soda kalengan akan membuatku sakit perut karena aku belum makan apa-apa. Tapi, kakiku malah membawaku ke sana.

Kenapa dia bisa begitu menyukai Coca Cola?, aku menggenggam kaleng itu dan tersenyum. Sudah lama aku tidak minum ini. Karena itu hanya mengembalikan kenangan yang harusnya sudah tidak boleh diingat lagi. Jadi aku menaruhnya kembali di rak dan mencari minuman yang lain.

Aku tidak ingin tulangku cepat keropos.

Kuambil langkahku, meninggalkan tempat itu, saat kutemukan seseorang menghalangi jalanku.

Ya, aku nyaris tidak mengenalinya, karena dia terlihat lebih kurus dari terakhir aku melihatnya. Aku menghitung bulan-bulan yang berjalan tanpanya –November, Desember, Januari, Februari, Maret, dan April. Aku telah kembali ke bulan yang sama saat pertama kali kita bertemu.

Aku masih terlihat bodoh dan dia tenang sekali. Hanya saja tidak ada tingkah malu-malu dan norak itu lagi.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments