๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
"Apa sih lo?! Gangguin gue aja!", cetus Amanda yang terus berlalu dan melangkah buru-buru menuju mobilnya.
"Si Tio sama si Echa kelakuannya aneh! Lo nggak tahu?!", Nara tetap aja ngikutin.
Amanda berbalik, "Terus? Bukannya lo seneng akhirnya gue sama Tio nggak balik-balik?",
"Tio manas-manasin lo!"
"Lo tuh emang sinting ya? Mereka tuh kakak adik, walaupun tiri! Tapi mereka masih satu keluarga! Lagian kenapa lo yang sewot sih?!", cetus Amanda mendorong Nara supaya dia bisa lewat.
"Itu nggak bisa dibiarin!", kata Nara.
"Gue sama Tio selesai!", cerca Amanda masih memperlihatkan sisa emosinya akan kegagalan cintanya. Emosi yang belum sempat ia luapkan terhadap Tio dan sepertinya Nara-lah yang akan menerimanya. "Puas lo?!"
"Tapi lo rela nggak kalau Tio suka sama orang lain?!", Nara belum nyerah juga, tiba-tiba dia menyeret Amanda untuk memperlihatkan sesauatu yang pada akhirnya memang bikin Amanda mengelus dada.
Nara memperhatikan Amanda narik nafas dalam-dalam karena shock. Kenapa si jelek Echa bisa cantik begitu? Setahunya Tio cuek banget sama adik tirinya dan sekarang mereka lebih kelihatan seperti lagi kasmaran daripada kakak adik! Si Echa pake acara malu-malu segala.
"Galaunya si Tio udah parah! Masa adek tirinya diembat juga?",.gerutu Nara yang ngawasin mereka lagi makan bareng di kantin.
Amanda memukul-mukul punggung Nara sehingga Nara menoleh heran. "Ini nggak bisa dibiarin!", putusnya,."Gue nggak terima kalau Tio sama Echa! Mereka sinting apa?!"
Berikutnya mereka mulai mikir, apa yang harusnya dilakuin buat misahin mereka.
"Lo harus bisa menarik perhatian Tio!", cetus Nara, "Lo pura-pura sakit atau apa kek. Sakit parah pokoknya! Si Tio orangnya kan nggak tegaan!"
"Yang kayak gitu mah uda basi! Males gue!"
"Nah atau lo ngancem mau bunuh diri aja"
"Lo tu emang sinting ya?! Ogah gue!"
Akhirnya Amanda pergi dengan kecewa. Meninggalkan Nara yang masih mikir bagaimana caranya untuk misahin mereka. Gimana pun juga Echa harus dipisahkan dari Tio.
---
Echa jadi pusat perhatian sekarang. Selain karena banyak yang kaget, perubahannya memang drastis!
Nara sempat nggak percaya waktu perhatiin dia jalan sendirian di lorong sambil bawa buku. Dan tiba-tiba isengnya muncul.
Begitu Echa lewat, langsung disambar Nara yang narik dia ke tempat sepi.
"Lo beda banget sekarang", komentar Nara memandangi Echa dari ujung kaki ke ujung kepala. Pura-pura santai tapi sebenarnya kagum. "Lo pasti bosen gue katain jelek mulu ya?"
"Kamu apa-apaan sih?!", Echa cemberut sambil melangkah menjauhi Nara. Setiap berurusan sama Nara pasti nasibnya sial.
Tapi, Nara malah menariknya kembali sebelum Echa sempat beranjak selangkah aja. Dengan mengejutkan juga tuh cowok menyandarkannya ke dinding dan menahan Echa dengan tubuhnya.
"Kamu mau apa?", Echa panik. Nih cowok punya akal bulus tapi nggak punya otak juga nggak punya perasaan.
"Gue seneng lo berubah demi gue,Cha"
"Nggak!", teriak Echa berontak.
"Lo tuh nggak tahan kan gue katain jelek tiap hari?"
"Nara, lepasin....sakit...", keluh Echa yang mulai nggak berdaya karena sakit tertindih.
"Gue lepasin asal lo nggak kabur", kata Nara, tersenyum licik.
Echa kepaksa nangguk. Tapi, ia belum sepenuhnya lega. Karena Nara menatapi wajahnya dari dekat. Kayak mau ngelakuin sesuatu yang dia takutin. Nara senyum-senyum lagi sambil mandangin wajahnya. Echa jadi malu dan jengah. Lalu dia meleng karena pipinya merah.
Kok bisa-bisanya sih?
Nara kelewatan!, pikirnya protes Nara belum mau ngelepasin tangannya. Tapi, cowok itu bener-bener ngelakuin niat jahatnya! Nara nyium Echa! Oh no!
Tubuh Echa beku. Kayak dikutuk jadi batu. Nggak bisa ngelawan karena tubuhnya tergencet. Dan rasanya aneh karena ini pertama kalinya dicium cowok. Cowoknya Nara pula.
"Bales dong...", kata Nara mendesis pelan.
Bales? Gimana?, Echa mulai bingung. Harusnya dia berontak, ngelepasin diri, habis itu nampar atau nendang Nara karena dia kurang ajar. Tapi, jangankan bergerak, kepikiran juga nggak.
Ciuman cowok ini bikin Echa melayang. Sampai nggak sadar tangan Nara udah gerilya di dadanya. Jangan-jangan dia suka lagi...
Echa baru sadar waktu ingat yang dia suka itu Tio,.bukan cowok blingsatan kayak Nara. Kedua tangannya mendorong Nara kuat-kuat begitu kesadarannya kembali.
Mukanya merah. Bingung. Lalu menatap Nara malu. Bisa-bisanya ia nggak ngelawan di saat itu harus. Echa mulai parno.
"Gue nggak mau keduluan sama Tio", katanya acuh, sambil mendekat, "Lo suka kan?"
Echa nggak jawab cuma tertunduk kesal pada dirinya. Saat Nara lagi-lagi deketin.
"Nggak usah malu-malu, selagi nggak ada orang...", katanya santai tapi malah ditampar.
Echa nangis! Ia menatap Nara cemberut sebelum pergi sambil lari. Tanpa ngomong apa-apa.
---
"Cha, kamu kenapa?", tegur Tio yang baru matiin mesin mobil karena mereka udah sampai rumah.
Echa nggak jawab.
"Cha?!", tegur Tio lagi sambil mukul pundaknya dan jadi ketahuan kalau dia ngelamun.
"Eh, udah sampai ya?", Echa tersadar. Ia tersenyum lalu siap-siap mau turun. Tapi, Tio meraih tangannya.
"Jelasin dulu ada apa", kata Tio yang kayaknya maksa.
Echa masih bingung. Nggak tahu harus gimana. Soalnya kejadian hari ini tuh.bener-bener di luar akal sehatnya.
Akhirnya dia nangis di depan Tio sambil cerita semuanya.
Tentu aja, Tio langsung terbakar!
Naraaaa!!
---
"Kak Tio jangan!", Echa panik saat ngikutin Tio yang menggeledah kampus cuma buat nyari si brengsek Nara.
Tangannya mengepal dengan kuat. Seolah kalau ngelihat Nara saat itu juga pasti deh mereka bakal baku hantam. Echa jadi nyesel cerita.
"Mana Nara?!",.Tio nanyain salah seorang temen sekelasnya.
Orang itu geleng-geleng karena nggak tahu. Mereka belum ngelhiat Nara.
"Nara nggak masuk! Kemarin jatuh dari motor", kata Amanda jutek yang lihat mereka kasak kusuk. "Ada apa sih?"
Jatuh dari motor?, Echa kayaknya cemas.
Tio langsung pergi.
"Tio!", panggil Amanda sambil ngejar Tio jadi Echa nggak bisa ikut-ikut lagi.
Sekarang ia harus gimana?
Echa bingung. Tau-tau sudah berdiri di depan pintu rumahnya Nara. Echa jadi benci diri sendiri. Kayak orang bego. Bingung mau pulang aja atau mastiin si Nara kenapa.
Seorang wanita bukain pintu buat Echa. Wanita yang dandanannya cantik banget! Kayak artis!
"Nara ada Tante?", tanya Echa canggung karena wanita itu melototin Echa kayak ada sesuatu yang aneh.
"Ada", jawabnya agak judes, "Masuk"
Echa ragu-ragu. Sekarang keinginannya buat kabur aja jadi kuat. Tapi pasti bakal malu-maluin banget. Echa duduk di sofa ruang depan sementara mama-nya manggilin. Nggak lama dia balik.
"Kamu samperin aja ke kamarnya. Tadi tante panggil dia nggak jawab, kayaknya nggak dengar", jelas Mama-nya Nara.
Echa kaget. Mamanya pangki banget! Main suruh ke kamar aja...
Nara rupanya lagi asik main PS dengan telinga di tutup pake headphone dengar musik. Pantesan nggak denger. Bahkan dia nggak sadar Echa udah berdiri di belakangnya. Ia baru sadar setelah disambit pake bantal dan kaget setengah mati.
Echa udah merengut lagi.
"Ngapain di sini?!", teriaknya nggak.habis pikir.
"Katanya kamu jatuh dari motor", kata Echa.
"Oh itu, iya sih", jelas Nara ninggalin mainannya. "Cuma lecet dikit doang..."
"Trus kenapa nggak masuk hari ini?",
"Badan gue pegel. Males", jawabnya lalu tersenyum penuh maksud, "Lo cemas gue kenapa-napa ya?"
"Ngarep! Syukur kamu nggak dateng tau!", teriak Echa sebel lagi,."Kalau kamu ketemu Kak Tio pasti dihajar!"
Nara menernyit,."Masa hal-hal kayak gitu lo cerita sama Tio sih?! Emangnya Tio itu siapanya elo?!", tandasnya ikutan sebel sambil geleng-geleng kepala, "Jelas-jelas lo suka sama gue, masih aja deket-deket Tio!"
"Suka?! Jangan geer ya!",.celetuk Echa sinis.
Mereka sama-sama denger suara klakson mobil yang bikin suasana jadi hening.
Suasana hati Nara jadi buruk! Ia kembali duduk di depan TV. Memegang stik PS nya dan main lagi.
"Kamu marahan sama Mama kamu?", tanya Echa masih berdiri di tempat semula. Sambil pegang tas dan bukunya .
"Nggak", jawab Nara jutek.
"Papa kamu nggak ada ya?"
"Cerai", Nara tambah jutek.
"Mama kamu nggak kawin lagi?"
Nara menoleh dengan jengkel, "Sering!", semburnya lalu kembali ke layar TV, "Kayak Mama-nya Tio"
Echa kaget. Pastinya.
Pantesan kelakuan Nara begini. Dia nggak suka cewek karena nganggap mereka nyusahin. Selalu kepikiran buat ngancurin kebahagiaan orang lain. Nggak jauh beda sih sama Tio yang nggak bisa terima kelakuan Mama-nya dan dia ngejauhin Echa karena merasa bersalah.
Kasihan.
Echa jadi sedih...
"Nggak usah lebay deh!", celetuk Nara tiba-tiba udah ada di depan Echa lagi. "Gitu aja sedih.."
Echa refleks mundur selangkah. Terlambat sadar kalau sikon nggak mengizinkan buat kabur. Di kampus aja dia berani macam-macam, apa lagi di sini. Echa celingak-celinguk dengan gugup.
Di tengah perasaan dagdigdug, hp Echa bunyi! Echa mulai sibuk nyari hp-nya dalam tas.
Tio!
Echa tambah bingung. Ia melirik Nara ragu-ragu. Di saat begini lagi!
Tapi, Nara dengan sigap merampas hp-nya. "Halo?", ia menjawabnya denganancang, "Echa lagi sibuk...",
"Balikin!", teriak Echa mencoba merampasnya lagi dengan putus asa, ia mendorongnya sementara tangannya menggapai-gapai, "Nara, balikin!"
Nara kehilangan keseimbangan. Saat hp-ny Echa terlepas dari genggaman dan jatuh, Nara juga jatuh. 'Bruk!', menimpa kasur dan ditimpa Echa.
Echa membelalak, kok malah gini sih? Ia menatap Nara yang tersenyum licik padanya sebelum Nara lagi-lagi menangkapnya. Dan balas menindihnya.
---
"Kenapa baru pulang?", suara Tio kayak petir disiang bolong. Cetar! Echa yang mengendap-endap masuk rumah lewat jam 9 malam kayak disambar geledek.
"Kamu ngapain aja?", tanya Tio lagi.
Echa berniat kabur karena nggak bisa jawab pertanyaan kakak. Duh Mama, mana sih?! Tapi kayaknya dia lagi nggak ada. Jadi hanya ada mereka berdua. Echa punya firasat nggak enak soal tatapan menusuk Tio terhadapnya.
"Kamu sama Nara ngapain?!", tanya Tio makin nggak sabar,."Aku kan udah bilang jangan sekali-kali urusan sama yang namanya Nara!"
Echa udah lama tahu. Nara itu brengsek. Jahat. Manipulatif. Licik. Dan yang paling buruk, nggak tahu malu. Tapi, nggak banyak yang tahu sisi lain dari Nara yang sebenarnya perhatian sama orang-orang di sekitarnya. Echa bisa ngerti alasan Nara ngejauhin Tio dari Amanda. Karena Amanda bukan cewek baik-baik, nggak pantes buat Tio. Nara memandang Tio udah kayak sahabat yang bisa saling memahami Mereka sama-sama punya Mama yang suka kawin cerai yang nggak pernah mikirin mereka.
"Kamu diapain sama Nara?!", tanya Tio akhirnya geram, lalu menarik Echa ke kamarnya. "Ayo jawab! Kalian habis ngapain?!"
Echa nggak berani. Rasanya ia dikuliti dan malu. Tapi, nggak nyangka Tio segitu marahnya. Sampai-sampai diseret kayak gini dan Tio mau melakukan hal yang nggak diinginkan!
"Kakak mau apa?", Echa gemetaran.
"Kenapa kamu mau sama Nara?!", tanya Tio lagi, "Kenapa mendadak kamu berubah pikiran?!"
Echa nggak tahu kenapa.
"Baru kemarin kamu ngejar-ngejar aku! Kamu buntutin aku sampai aku gerah! Tapi, sekarang kenapa jadi kayak gini sih?!", tuntut Tio.
"Karena itu nggak mungkin, Kak!", kata Echa akhirnya, nangis juga kayak anak kecil.
"Apanya yang nggak mungkin?! Kita nggak sedarah! Ayah kamu juga udah nggak ada. Mama juga nggak peduli sama kita!", kata Tio, "Kamu cuma punya aku! Nara itu bajingan! Sebentar lagi dia akan buang kamu kayak sampah!"
Echa mencoba membantahnya tapi ia sendiri juga ragu. Mengingat kelakuan Nara selama ini. Sekarang semua udah terjadi. Echa bisa apa lagi?
---
Echa menghela nafas entah untuk yang ke berapa kali. Semalam ia nggak bisa tidur walaupun capek. Matanya bengkak karena nangis dan Tio di sampingnya tampak nggak peduli atau dia emang lagi serius nyetir. Padahal itu gara-gara dia juga. Sampai Echa masih kepingin nangis kenapa semua ini bisa terjadi?
Perubahan dalam hidup Echa terlalu mendadak. Setelah dipermainkan Nara sekarang ia harus menghadapi sikap Tio yang berubah drastis kayak penampilan Echa.
Tio melirik Echa yang masih murung, "Udah sampai", katanya.
Echa celingak-celinguk, ternyata udah sampai di kampus.
"Kalau kamu nggak enak badan, kamu nggak usah masuk aja", ujarnya, "Aku antar pulang, mau?"
Tio emang baik dan perhatian, tapi kenapa ya Echa nggak merasa tersanjung? Padahal sejak SMA hal inilah yang paling diimpikan Echa, diperhatiin walau cuma sedikit. Tapi ternyata sekarang, Echa malah dapat lebih banyak.
Echa menggeleng, "Nggak, kan udah nyampai di sini. Kakak juga ada kelas kan?", kata Echa.
Tio tersenyum sambil membelai kepala Echa dan tiba-tiba mendekat. Terjadi lagi, Echa membatin dalam dekapan Tio yang bikin hatinya nggak tenang. Semalam juga dia dipeluk Tio, lama banget. Dan Tio bilang jangan percaya sama Nara
Apa Tio beneran sayang sama Echa?, Echa mulai bingung
Tio tampak terganggu, apalagi saat tahu itu Nara. Dengan kesal ia merampasnya dari Echa. Tio nggak mau balikin hp-nya!
Echa sebel karena nggak bisa ngelawan Tio. Perasaan kacau, campur aduk. Kayak habis diterjang tsunami. Sekarang ia nggak tahu harus gimana. Di satu sisi ia nggak bisa percaya sama Nara, tapi di lain sisi, dia nggak lagi tergila-gila sama Tio. Aaah! Pusing!!
"Kenapa sih hp-nya dimatiin?!", Nara muncul di saat yang nggak tepat.
Echa cuma merengut. Mana Nara tahu apa yang dia rasain sekarang?
"Ayo sini!", ajak Nara sambil menarik tangannya.
"Nara, aku ada kelas!", kata Echa tapi Nara nggak mau tahu. Mau dibawa ke mana sih?!
---
Nara bolos.
Tio mendengus, menemukan Nara tidak ada di kelas saat dosen mereka sudah cuap-cuap di depan kelas. Perasaannya nggak enak dan kepikiran soal Echa. Jangan-jangan....
Aaah! Tio jadi kesal pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus menyita hp-nya Echa? Sekarang ia jadi nggak bisa mastiin Echa lagi di mana. Apa memang belajar di kelas atau dicaplok sama Nara?
Nggak kebayang. Si Nara itu emang bajingan kelas kakap!
Tapi mau dicari ke mana mereka?
Bersambung...
ini lanjutannya mana kak..
hahahaha...maaf ini jadi terpending lama banget karena part 3 nya kehapus nggak sengaja, aku jdi malas nulis ulang, tapi pasti bakal disambung kok, krn sebagian dri plot nya udah jadi...sekali lagi maaf ya...