๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Cahaya matahari menembus kaca jendela. Hangat.
Aku duduk di depan jendela memandang kota dari kamar rumah sakit. Aku merasakan perbedaan yang luar biasa pada diriku. Ketika aku terbangun dari tidur setiap pagi, aku merasa begitu lelah. Seperti telah pergi jauh.
"Bagaimana rasanya?", suara di sampingku menyadarkan aku dari lamunan tentang kilasan perjalanan samar-samar yang kulihat dalam mimpi.
"Apa?", aku menanyai George dalam keraguan. Aku tidak mengerti, apanya yang bagaimana.
Tubuhku ini sakit. Kakiku tidak bisa digerakan. Sampai sekarang aku belum melihat cermin dan orang-orang seakan menjauhkan segala macam benda yang bisa memantulkan bayanganku.
Namun setiap kusentuh wajahku, perban itu melekat erat di pipi sebelah kananku. Mereka bilang, aku harus menjalani banyak operasi. Aku belum mau membayangkan tahap-tahap yang sulit itu. Beberapa hari yang lalu aku menangis, tentu saja. Berharap bila mana aku mati setiap rasa sakit membuatku bahkan tidak bisa bernafas. Setiap bersin, atau ingin menggerakan tangan saja rasanya begitu menyakitkan. Aku tidak makan. Menelan air seperti menelan duri.
Butuh waktu dua hari untuk mengingat apa yang terjadi. Dan aku berada di ambang keputusasaan mendalam karena aku sekarang menjadi gadis cacat yang ketidakmungkinan besar akan bergantung pada orang-orang di sekitarku. Aku sangat ketakutan. Kenapa aku harus menerima semua ini?
Tapi...
"Apa kau pergi ke suatu tempat?", aku mendengar suara George. Dia duduk tidak jauh dariku sambil seperti aku tidak mampu merasakan bahwa dia mungkin sedang berpikir.
Aku meliriknya, meninggalkan pemandangan membosankan di sampingku. "Kenapa bertanya begitu?"
"Tidak...sepertinya kau baru kembali.dari tempat yang jauh. Sangat jauh..."
"Benarkah?"
Aku terpikirkan beberapa kilasan mimpi yang tak terlalu kuingat dengan baik. Mungkin aku memang pergi ke banyak tempat sampai menemukan jalan pulang. Karena setiap kali aku bangun, aku merasa begitu lelah.
Aku kritis selama hampir 3 bulan.
"Kau mau jalan-jalan?", George bertanya. "Hari ini sangat cerah..."
"Tentu...", jawabku dan George siap mengangkatku, memindahkanku ke kursi roda. Hingga aku bisa duduk manis, meski masih sangat sangat menyakitkan.
Rachel dan Granny tersenyum pada kami.
"Akhirnya kau dibolehkan keluar", kata Granny.
"Kau pasti senang", sambung Julie.
Aku berusaha tersenyum.
---
Ada banyak hal baik yang menantiku setiap harinya. Seperti kejutan. Aku tak tahu apa yang bisa terjadi padaku. Namun; rasa bahagia kembali dari keterasingan adalah hal yang menguatkan aku sejauh ini. Meski aku tak lagi seperti dulu.
Aku membayangkan banyak hal yang berubah. Aku memandang langit biru dan cahaya yang hangat menyentuh kulitku yang putih pucat.
"Aku ingin pulang...", kataku pada George. "Kau tahu apa yang sangat ingin kulakukan di kamarku?"
"Apa?" dia tampak antusias dengan pertanyaanku. Pikirannya pasti sudah menerawan jauh karena akhir-akhir ini aku memang sering membuatnya berpikir.
"Setiap pagi, aku akan melihat dari jendela saat kau keluar dari kamar mandi dan begitu kau menyadari aku memperhatikan, kau akan terkejut dan tanpa sengaja handukmu terlepas", kataku, "Walaupun hanya terjadi satu kali, aku ingat kau berteriak seperti perempuan dan aku tertawa"
George tampak malu "Mengenai kejadian itu...kau...aku benar-benar melihatnya?",
"Kita tumbuh bersama. Aku sering tidur di kamarmu dan kadang-kadang kau menerobos masuk ke kamarku di saat aku sedang berpakaian", jelasku lagi, tertawa kecil untuk mengenang manisnya saat-saat itu ketika aku merasa sedih. "Itu...bukannya sudah lama sekali..."
"Aku laki-laki sekarang", dia mengingatkan.
"Kau benar...", kataku menarik nafas lalu menoleh padanya lagi. "Mengenang masa lalu kita hanya membuat kesal saja..."
---
AKU PULANG.
Semua menyambutku dengan gembira. Mom sudah ada bersama kali dan ketika aku melihatnya, aku merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Aku memeluknya. Rindu pada wanginya.
Tak ada yang lebih melegakan daripada ini.Walaupun aku tahu aku butuh waktu yang sangat panjang untuk bisa berjalan saja. Belum lagi memulihkan luka dan wajahku terlihat menyedihkan.
George datang. Padahal aku menunggunya muncul di jendela kamarnya.
"Hei", sapa dia, dengan sedikit canggung dan malu-malu.
"Hai, George!", balasku, memutar kursi rodaku untuk bisa melihatnya.
Dia memandangku dengan sedikit takut.
"Kau belum tidur?", tanya dia.
"Ya...kau bisa membantuku?", aku bertanya padanya dan dia mendekat untuk mengangkatku dan menindahkanku ke ranjangku.
Aku merasakan keanehan pada sikapnya. Dia terlihat ragu-ragu padaku seperti takut aku akan melakukan sesuatu yang melukai hatinya. Dia bersamaku belakangan ini, dan sikapnya malam ini terlalu aneh bagiku.
"A...aku...ingin memberikan sesuatu padamu", kata dia ragu-ragu sambil mengambil sesuatu di saku jeans-nya.
Sebuah amplop yang tadinya aku pikir adalah boneka kayu karya tangannya yang terampil.
"Casey menitipkannya padaku...", jelas dia, berpaling dariku. Dan sikapnya menjelaskan bahwa ia tidak ingin melakukan hal semacam ini, "Maaf, aku baru memberikannya sekarang..."
Aku membuka isi amplop dengan perlahan. Kupikir sebuah kartu ucapan tapi tentunya sudah terlambat. Aku sudah pulang sejak sebulan yang lalu dan dia belum menemuiku lagi.
Aku sedikit kecewa padanya tapi, dia mencoba mengatakan bahwa dia sedang melakukan hal yang menyenangkan sehingga aku tidak perlu khawatir. Casey mengirimiku satu tiket konser debut pertamanya setelah dia dan teman-temannya mmanangkan sebuah kontes. The Fellow sudah dikenal banyak orang sekarang.
Dia berharap, aku akan datang. Kita akan bertemu lagi nanti. Tapi, aku sudah harus bisa berjalan. Supaya tidak merepotkan orang lain.
"Kau akan pergi?", tanya George padaku.
"Ya...ini tiket VVIP yang jarang didapat", jelasku.
----
Hari ini adalah hari peresmian Kids Country milik Granny. Sebuah tempat penitipan anak dengan fasilitas yang lebih lengkap. Kami mengundang tetangga untuk bersenang-senang. Para balita tampak mengisi setiap sudut ruangan dengan mainan berwarna-warni. Kegaduhan yang sangat terasa ke penjuru rumah.
Sean mengajak gerombolannya berlari dan dia menyebut dirinya Super-Sean yang akan menlindungiku dari orang yang jahat.
Aku pergi terapi sendiri saat Rachel.sibuk membantu Granny dan Mom. Dan kami bersyukur Mrs. Richard bersedia mengantarku dengan VW antiknya yang unik.
Semua berjalan dengan santai. Kecelakaan itu mengubah banyak hal. Sekarang adikku punya pacar yang selalu datang ke rumah dan kadang ikut membantu menjaga anak-anak.
Tapi, George, sejak dia mengantarkan titipan Casey mulai bersikap sentimen padaku.
Malam semakin larut. Kamar sebelah masih gelap. Seolah George tidak pernah kembali ke sana. Dia tidak.banyak bicara denganku dan itu membuatku sedih. Aku tahu dia cemburu.
Tapi, George seperti anak kecil. Dia tidak mau dewasa, seperti Peter Pan. Dia merajuk padaku dengan cara seperti ini...
"George benar-benar marah padamu...", celetuk Rachel yang bertandang ke kamarku.
Ia juga menyadari, George tidak pernah muncul dari jendelanya untuk sekedar menyapa.
"Kau benar-benar melukai hatinya...", komentar Rachel lagi.
"Kau kan sudah bisa berjalan lagi, kenapa kau tidak ke sebelah dan menemuinya?",.ujar dia,."Kalau kau.begitu persahabatan kalian juga akan hancur"
"Kenapa kau jadi mengurus urusanku!", cetusku kesal.
"George akan ke London! Dia diundang untuk pameran seni rupa di sana. Sekali dia pergi jauh, maka habislah! Apa kau sadar kalian akan benar-benar berakhir untuk selamanya?"
Masalahku hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Aku hanya mengela nafas. Aku sedikit kesal karena George tidak pernah memberitahuku soal pameran. Itu membuatku jengkel. Tapi, apa yang bisa kulakukan. Dengan hampa aku memandang ke seberang, jendela yang tak pernah terbuka lagi untukku.
Aku telah melukai hatinya...
---
2 bulan kemudian...
Aku menanti hari ini. Setelah lama tidak melihatnya aku merasa tidak sabaran dan sedikit menggerutu saat konsernya belum juga usai.
Meski aku pernah menjadi pacarnya dan pernah ikut-ikutan dengan teman-temannya, aku masih belum menyukai lagu-lagu bodoh mereka. Aku ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai sejak lama.
Casey sudah berada di tempat yang seharusnya. Di depan penonton yang meneriakan namanya dengan histeris. Dia menabuh drum dengan semangat. Kembali menindik telinga dan pelipisnya. Rambut acak-acakan. Serta memakai baju kaos hitam, jeans robek dan sepatu kets. Dia menikmati setiap jeritan para perempuan histeris.
"Kau sudah bisa berlari?",.tanya dia lega, melihatku datang dengan kruk, berjalan dengan susah payah untuk bersaing dengan para remaja yang menggilai mereka di pintu masuk. Untungnya, aku adalah orang yang sangat penting untuk hadir, layaknya tamu kehormatan. Di pintu masuk dua orang sekuriti menghampiriku dan mereka menunjukan jalan yang aman dari kegilaan anak-anak itu. Mereka bahkan mengantarku sampai ke tempat dudukku.
Aku tertawa kecil, "Belum", jawabku santai.
Riuh penonton masih terdengar hingga ke belakang panggung. Aku tahu Casey menikmatinya.
"Aku akan keliling Amerika untuk tour album perdana The Fellow", jelasnya dengan bangga padaku. "Aku ingin mengajakmu. Bukannya kau rindu untuk pergi kemana pun?"
"Apa?", aku terkejut dengan ajakannya. Aku hargai itu. "Aku? Mana mungkin?"
Dia tetap tertawa,."Aku kecewa...", kata dia, "Tapi, aku mengerti. Setelah sembuh total dan tur ini selesai, kita akan pergi ke tempat yang bagus untuk merayakan kemenangan ini. Ke mana pun yang kau mau"
Aku terdiam. Aku pernah sangat mengharapkan hal ini terjadi dalam hidupku, walau hanya sekali. Tapi, saat aku merasa demikian, aku masih berada dalam bayang-bayangnya. Mana mungkin aku melupakan semua yang dia lakukan?
"Apa kau akan menungguku sampai saat itu tiba?", tanya dia kembali, menawarkan kembali cinta yang dia rampas dariku lalu menghancurkannya.
"Tidak", jawabku tegas, menatap lurus ke matanya yang menatapku tidak percaya. Dalam-dalam. "Aku tidak bisa menunggumu. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku sanggup menunggumu"
Casey pasti tidak percaya dengan apa yang sudah kuputuskan. Dia menatapku membelalak.
"Menunggumu adalah hal paling membosankan bagiku. Seandainya kau bisa merasakannya bagaimana menderitanya aku tanpa kau...", jelasku, "Aku bukan apa-apa tanpamu...tapi itu dulu..."
Dia menatapku tanpa putus.
Lalu terdengar hela nafas panjang antara ketegangan dan kesedihan darinya.
"Baiklah",.dia berkata, mengontrol emosinya dengan baik. Dan rapi. Lalu dia palingkan tatapannya dari wajahku yang agak rusak. "Pantas saja...pantas saja aku tidak mendengar kau mengatakan masih mencintaiku. Seperti saat rasanya kau menghantuiku, ke manapun aku pergi...kau selalu ada di dekatku membawa semua rasa bersalahku dan amarahmu..."
"Aku menunggu sangat lama. Tanpa harapan", lanjutku,."Bahkan balasan.cinta yang aku terima darimu hampir tidak ada artinya..."
Casey mengangguk. Mencoba menerima ucapanku, mengakui kesalahannya sekali lagi. Aku memeluknya untuk yang terakhir. Sambil berharap, setelah dia temukan apa yang dia cari, mudah-mudahan dia menemukan seseorang yang pantas untuknya.
Yang bukan aku.
"Lakukanlah sesuai keputusanmu", katanya lagi, "Aku tidak ingin lagi mencampakanmu lebih-lebih aku tidak ingin menyakitimu lagi seperti yang selalu kulakukan. Tapi, pastikan kau akan bahagia melebihi apa yang pernah kuberikan padamu"
"Aku akan mencarinya, Casey", kataku, "Kau juga..."
"Dan satu hal lagi, aku tidak pernah meninggalkanmu karena aku tidak mencintaimu lagi. Aku pergi karena aku tidak bisa mengatasi kepedihanku sendiri dan terlalu berat mengakui aku seorang pengecut", katanya.
Aku menyaksikannya pergi dari hadapanku.
Casey sudah melakukan banyak kesalahan dan aku menerimanya begitu saja. Kecuali satu hal. Dia tidak datang pada saat yang tepat. Pertama kali mataku terbuka, bukan dia. Bukan dia yang ada sampingku saat itu.
Walau Casey menangis saat datang padaku mengetahui aku masih hidup, aku telah mati rasa.
Tak ada lagi.
---
Aku menepikan gorden yang menghalangi cahaya masuk ke ruang gelap kamar yang tampak semraut. Lantai kotor dan kayu-kayu kecil nyaris membuatku terjatuh.
Sudah jam 11 siang, dia masih tertidur pulas di ranjangnya. Aku menarik selimutnya dan dia terkejut!
"A...apa yang kau lakukan di kamarku?!", jeritnya beringsut ke sudut "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?!"
"Kau tidak semang aku sudah bisa ke sini sendiri?!",.cetusku kesal
George merengut padaku. Tidurnya terganggu dan ia tampak tidak mengenakan apapun di balik selimutnya.
Aku sudah gila atau aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan orang bodoh ini?
Aku menarik nafas panjang saat duduk di tepi ranjang. "Aku sudah lelah", kataku menatapnya sungguh-sungguh. "Apa tidak ada hal yang ingin kau katakan padaku?",
George hanya menatapku.
"Apa pun yang kau katakan padaku, aku akan bilang iya", kataku padanya mengakhiri jalan berliku yang kami tempuh hanya untuk bisa bersama. Sebelum masuk ke sini aku berkata pada diriku, aku harus bisa meyakinkannya, Casey tak lagi ada di hatiku.
"Termasuk kau akan ke London bersamaku?", tanya dia.
Aku mengangguk dan dia mendekat.
Tubuhku menghempas ranjangnya. Dan aku sedikit kesakitan karena dia menindihku dengan tubuhnya yang besar.
Aku menatapnya dalam-dalam, dan merasakan sentuhan bibirnya yang manis. Setiap rasa yang dia berikan, kusimpan dengan baik dalam ingatanku. Aku merasa yakin tidak akan pernah melepaskannya.
"Kau menciumku di rumah sakit", aku mengingatkannya, bukan pertama kali aku merasakan ciuman seperti itu.
George cekikikan di telingaku, "Apa kau akan memaafkanku?", tanya dia berbisik.
"Tidak", celetukku lalu ikut cekikikan.
Dan kami sama-sama mendengar seruan Rachel dari seberang. Di mana ia memperhatikan kami sejak tadi. Bersama Harry, Rachel masuk ke kamarku untuk mengintip. Mereka juga cekikikan.
Aku bangkit sejenak dan gusar. Sebelum George berdiri dengan celana boxer-nya dan dia menarik gordennya untuk menghalangi pandangan mereka.
"Huuuu!!!", Rachel bersorak lagi. Tapi kami memgabaikannya.
Aku menunggunya kembali padaku dan aku tidak lagi melihat keluguannya yang khas di mataku. Dia membara seperti diriku yang sudah lama menginginkan ini terjadi di antara kami. Sejak kutemukan dia di sampingku ketika aku membuka mata, pertama kali.
Ekspresi bahagia yang dia perlihatkan ketika menggenggam tanganku dan dia menciumku dengan manis. Hal itu tak akan pernah terhapus dari ingatanku selamanya. Dalam kesakitan yang tidak tertahankan bagiku, dia adalah salah satu hal yang menguatkan aku untuk dapat melangkah kembali.
Dalam kepalaku mengalun satu lagu yang manis tentang cinta. Apa yang aku pikirkan adalah keinginan untuk bisa bersamanya. Terus.
Meski happily ever after tidak pernah ada dalam kenyataan tidak ada salahnya untuk terus mempercayainya. Aku harap Casey juga akan mempercayainya.
-End-
Komentar
0 comments