๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
'Kenapa kau masih di sini?! Kenapa kau tidak menemui keluargaku?!' aku berteriak dengan putus asa kepadanya, "Aku masih hidup, Casey! Aku masih hidup! Aku masih menunggumu!'
Dia tidak mendengarku. Sejak dia menganggapku tiada dia malah lari memghindari semua orang. Terkungkung rasa bersalah yang tiada habisnya.
Aku kembali menahan sakit. Seperti ditarik-tarik. Aku tidak berdaya...
Adikku tersesat. Aku tahu dia sedang putus asa. Namun aku tidak bisa menolongnya.
"Kau siapa?! Kenapa kau berkata yang bukan-bukan?!", wanita yang dia temui tampak gusar.
"Aku mohon, Mrs. Chase...kakakku sekarat di rumah sakit", jelas Rachel. "Dia sangat membutuhkan Casey..."
"Aku tidak mengerti; apa hubungan Casey dengan kakakmu itu?!", wanita itu bertambah kesal.
"Kumohon...", Rachel setengah menangis. Padahal dia tidak perlu sampai harus seperti itu, "Casey harus menemuinya..."
"Kakakmu sekarat kenapa mencari Casey? Apa Casey yang membuatnya cetus ibu Casey.
"Memang tidak, tapi..."
"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu lebih jauh, Nona...Kami punya masalah yang lebih penting dari urusan kakakmu yang sekarat", tandas wanita itu dengan angkuhnya dan bersiap hendak menutup pintu, "Sebuah keluarga akan hancur, kau malah meminta Casey mengurusi kakakmu! Pergilah!"
"Tolong katakan di mana dia, Nyonya...Aku mohon...", pinta Rachel lagi.
"Kakakmu hidup atau mati tidak ada hubungannya dengan anakku. Kau berdoa saja pada Tuhan supaya dia selamat. Lagipula Casey tidak ada. Dia menghilang dan meninggalkan banyak masah. Kau datang ke sini setiap hari agar dipertemukan dengannya pun tidak ada gunanya!"
Pantas Casey melarikan diri. Dia punya keluarga yang seperti ini...
Adikku terusir dari rumah mewah itu.
Casey tidak akan datang. Dia tidak akan datang. Dia mengira aku sudah mati...
Aku mungkin akan mati...
---
Di tempat lain, Casey kembali mengobral mimpi lamanya. Tapi, dia tidak sebebas seperti yang biasa dia perlihatkan. Lari ke manapun aku terus mengikutinya.
Dia harus tahu, aku tidak ingin mati.
AKU TIDAK INGIN MATI!
Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan tanpa bisa mengatakan apa-apa padanya. Rasa sakitku adalah perasaan tercekik saat kudengar suara-suara cemas memanggilku.
Tapi di sini, hanya ada dentuman musik keras di bawah cahaya lampu merah. Aku berdiri di antara orang-orang mabuk yang menari dengan gila.
TOLONG AKU...
Aku menatapnya penuh harap. Dan kuharap satu keajaiban akan menyelamatkanku dari sini. Namun, aku melihatnya menerobos kerumunan, berjalan melewati para gadis yang tampak menginginkannya. Namun matanya yang sayu tertuju padaku.
Hanya padaku...
Dia berdiri di depanku...
"Kau kemana saja?", dia bertanya, matanya merah, berbinar seakan air mata akan mengalir dari sana, "Ada orang gila yang mengatakan padaku bahwa kau sudah mati...aku mencoba percaya bahwa itu tidak benar...itu tidak benar...Maafkan aku, Julie..."
"Casey! Casey!", suara itu memecah duniaku. "Kau tidak apa-apa?!"
Casey tidak tahu ia tampak begitu bodoh.
Seorang teman datang menyelamatkannya dan menyeretnya dari kerumunan. Ia sama sekali tidak sadar hingga pagi membangunkan pemabuk depresi seperti dirinya. Lalu melihat bahwa kenyataan di dunia yang ia tinggali adalah hal menyakitkan tentang kesalahan yang tak bisa diperbaiki lagi.
---
"Apa yang terjadi padamu?", A.G bertanya padanya,."Tiba-tiba kau kembali dan mengagetkan kami. Bukannya kau sudah punya pekerjaan yang hebat di Baxter?"
Casey diam. Ia merasa perlu menyiram kepalanya dengan sebotol air dingin agar bisa memisahkan ilusi dan kenyataan.
"Sebenarnya ada apa?!", Torant menjadi tidak sabar padanya.
Beberapa saat Casey seperti dikuasai amarah, namun tatapannya melemah dan ia tertunduk di sofa tempat ia terbaring tidak sadarkan diri selama beberapa jam.
"Julie sudah meninggal...", katanya. "Dia sudah meninggal..."
Pikirannya telah kembali dari satu waktu yang meyakinkan bahwa yang dikatakan pria Rusia itu benar. Satu hari yang naas bagiku, ia ingat pada saat bersamaan dia ada di sana dengan pekerjaan dan wanitanya.
Ia melempar pandangan pada kesibukan di belakangnya. Namun mengabaikannya karena ada urusan penting yang dia tidak bisa menundanya lebih lama lagi.
Vicky mengikutinya dan mereka naik mobil yang sama. Tapi, kemacetan menghalangi niat mereka.
"Sepertinya ada kecelakaan", kata Vicky kembali menoleh ke belakang.
Casey melirik sebentar. Lalu kesal, "Ya ampun! Kenapa harus di saat seperti ini!", keluhnya karena jalanan begitu padat di depannya. Casey keluar dari mobil dan kembali melihat keadaan di sana.
Keramaian yang luar biasa menjengkelkan dan orang-orang begitu heboh. Sehingga akhirnya dia keluar juga.
"Kita naik kereta saja!", ia memutuskan. "Kita harus sampai sebelum jam 3"
Vicky ikut turun dari mobil dan mengambil arah menuju subway terdekat.
"Kasihan sekali gadis itu", kata Vicky dalam langkah mereka yang terburu-buru, "Dia tertabrak dua kali sebelum menghempas jalanan. Untung mobil yang lewat segera berhenti kalau tidak dia pasti tergilas..."
Casey tidak berkomentar. Ia hanya berpikir untuk sampai di tempat kliennya lebih cepat.
---
Mereka tampak berduka. Keheningan menguasai mereka beberapa saat.
"Kalau begitu seharusnya kita mengunjungi makamnya kan?", usul Davis. "Walaupun sudah terlambat tapi bukankah dia teman kita juga?"
"Kau benar", sahut A.G, "Sudah seharusnya kita datang. Casey, apa kau bisa beritahu kami di mana dia dimakamkan?"
"Kurasa di Pennsylvania. Dia berasal dari sana...", jawab Casey murung.
"Jadi...kau tidak tahu pasti?", Davis mengernyit. "Kau juga belum mengunjunginya?"
"Aku baru mengetahuinya dua hari yang lalu...",jelasnya semakin sedih.
"Kau harusnya mengunjungi dia...", kata A.G. "Dan minta maaflah padanya..."
"Aku tidak akan datang...", Casey berkata.
'Aku belum mati. AKU HANYA SEKARAT!'
'Kenapa kau belum sadar juga aku terlalu lama menunggumu?! Kenapa kau selalu saja menyiksaku?!'
Kata-kataku pun sudah tidak berarti lagi.
Aku diam. Casey diam. Siapa yang akan memberi petunjuk?
Aku tak lagi memiliki hari esok. Sekujur tubuhku sakit.
Hari-hari yang telah kita jalani seperti ilusi. Kemarin hanyalah ilusi. Waktu adalah ilusi. Aku sudah lelah. Dan kurasakan sesuatu yang hangat menyentuhku.
Tak akan ada yang berubah.
"Julie!", suara itu memanggilku, tapi aku malah pergi.
Kudengar mereka menjerit. Kurasakan ketakutan bagai mimpi buruk. Dan suara 'tit' yang sangat panjang menandai saat-saat terakhir bagiku berkelana. Aku menunggu hal yang istimewa akan terjadi.
Semua akan baik-baik saja, hatiku berkata.
---
Komentar
0 comments