[Hal.35][Ch.20] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Sawah dan Lumpur

Natha menghela nafas, memandang dari jendela di mana ia melihat halaman rumput belakang rumah yang sudah lama akrab dengannya hingga menjadi suatu bagian yang nggak terpisahkan dari dirinya. Sebuah rumah tingkat dua yang seratus persennya terbuat dari kayu-kayu yang kokoh dan hanya di-vernish sehingga tetap memperlihatkan warnanya yang alami, coklat tua dan motifnya yang unik. Rumah ini juga di kelilingi halaman yang cukup luas, dengan rumput dan tanaman-tanaman yang terawat dengan baik.
Ketika usianya sekitar 7-8 tahun, ia sering bermain dengan anak-anak sekitar. Anak-anak kampung dengan logat jawa yang kental dan Natha senang berteman dengan mereka. Melakukan permainan sederhana dengan nyanyian dan benda-benda di sekitar mereka seperti batu dan boneka buatan tangan yang dibuat dari kain perca.
Seingatnya ia dan adiknya sering menghabiskan sepanjang siang di sana. Main ayunan dan juga bertengkar memperebutkan sesuatu. Tapi, ketika masa liburan berakhir, mereka harus meninggalkan Surabaya dan kembali ke Munich.
Ibu adalah wanita yang patuh kepada Ayah yang egosentris. Semua harus menuruti apa yang Ayah katakan. Dan Ibu hampir nggak pernah mengeluh karena dia wanita Jawa. Kehilangan Ayah, berarti kehilangan tumpuan hidup satu-satunya. Dan rumah ini adalah tempat pulang sewaktu-waktu. Terakhir kali ke sini adalah setelah Ayah meninggal. Seorang dokter kejiwaan menyarankan ibu untuk pergi ke tempat yang tenang. Jadi, mereka semua pulang, bermaksud memulai sebuah kehidupan baru. Tapi, Ibu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Saat ia nggak sanggup merasa begitu kehilangan, ia memutuskan menyusul Ayah.
Tepat di depan jendela ini, ibu menghabisi nyawanya. Dan Natha berdiri di pintu. Menyaksikannya rubuh dengan mata membelalak.
"Natha, barang-barangnya mau Bi Ina taruh di sini atau kamar sebelah?," seorang ibu-ibu paruh baya muncul di pintu itu dengan sebuah koper pink yang tadi ia tinggalkan di ruang depan. Natha duduk di sisi ranjang dan memandangi wanita itu menyeret kopernya ke dalam.
"Ya, Bi. Di sini aja," jawab Natha tersenyum.
"Apa nggak apa-apa?," tanya Bibi itu lagi.
Natha menggeleng-geleng sambil menghampirinya. "Nggak apa-apa kok," ujarnya. "Saya udah nggak apa-apa"
"Kamu yakin mau tinggal di sini?," tanya Bibi lagi. "Di sini kampung lho, nanti kamu nggak betah..."
"Aku bisa tinggal di mana lagi, Bi," kata Natha, meyakinkannya agar nggak meragukan ketetapan hatinya untuk tinggal di sini, meski ia nggak tahu sampai kapan.
"Mau dimasakin apa? Nanti Bibi bikinin,"
"Nanti aja, Bi. Saya mau istirahat dulu,"
Bibi Ina segera keluar. Meninggalkan Natha yang kemudian berpindah ke tempat tidur sambil menyeret kopernya. Kemudian ia mulai sibuk mengeluarkan isinya, mencari-cari sesuatu yang ia butuhkan saat ini untuk menenangkan diri.
Hanya selembar foto. Dia dan Rory, yang ia ambil diam-diam di kamar Rory saat menginap di sana. Sebuah kenangan manis yang ingin ia peluk. Ketika mimpi buruk di rumah ini sudah memudar, yaitu bayangan di mana Ibu yang tewas dengan kekecewaan mendalam di dekat jendela sudah pergi.
Sekarang ia di sini, di tempat yang sama di mana mimpi buruk dalam hidupnya bermula.
---
Pagi-pagi sekali Natha berdiri di depan teras. Mengenakan kaos longgar dengan secangkir teh hangat sambil memperhatikan siapa yang lewat di depan rumah. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak berseragam sekolah serta petani dengan caping di kepala dan pacul di pundak mereka.Udara pagi terasa begitu segar.
Natha masuk ke rumah setelah rasanya cukup bernostalgia dengan lingkungan bersahaja yang dicintai almarhum ibunya yang berasal dari sini. Pergi ke dapur menemui Bibi yang sedang membuat makanan dari singkong untuk Pak Maman, suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun. Suami istri itu sudah menjaga rumah ini bertahun-tahun dan Ibu menganggapnya seperti keluarga sendiri. Natha mulai membantunya mengerjakan pekerjaan rumah karena dia nggak punya kegiatan lain. 
Ketika sendirian kerinduan kembali terasa. Yang bisa ia lakukan hanya memandangi foto lalu memeluknya sampai ketiduran. Lalu keesokan pagi ia memberanikan diri mengikuti petani yang melintas depan rumah pergi ke sawah. Untuk sekedar memperhatikan para petani bekerja di musim tanam, seperti mengairi sawah, dan seekor kerbau mondar-mandir menarik bajak dikendalikan seorang bapak-bapak yang memegang pecut.
Beberapa hari kemudian ibu-ibu mulai menanam padi. Natha ikut membantu saat ia merasa sudah cukup akrab dengan mereka karena sering memperhatikan mereka bekerja. Jadi dia nggak keberatan berlumuran lumpur yang mengotori tangannya. Orang-orang kampung nyaris nggak mempercayai bahwa ada seorang gadis cantik dari kayangan mau mengerjakan pekerjaan kotor itu. Mereka hanya nggak tahu, di Munich pun ia melakukan pekerjaan seperti ini. Mengurus tanaman rumah kaca, bertahan dalam ruangan yang penuh pupuk kompos dengan bau busuk seharian.
Natha menyeka keringat sambil memandang sekitarnya, yang hanya berupa hamparan sawah yang baru ditanami benih dan batas cakrawalanya adalah sebuah bukit hijau yang jauh seperti pulau di tengah laut. Dan butuh waktu beberapa bulan sampai masa panen. Tapi, ketika saat itu tiba mungkin dia sudah nggak di sini.
Besok Natha, harus ke Jakarta. Harus bertemu Rory.
Ketika matahari hampir di atas kepala, Natha naik ke pematang sawah. Dengan baju jelek yang sudah kotor sama sekali dan boot karet tua yang kebesaran di kaki panjangnya. Ia berniat pulang setelah pamitan dengan dua orang wanita yang harus mengerjakan beberapa hal lagi sebelum pulang.
Lalu dia melihat seorang laki-laki, dengan setelan celana jeans, kaos dan jaket kulit berdiri di kejauhan. Tampak berjalan ke arahnya dengan perlahan. Ia tampak berusaha keras melewati jalanan tanah berlumpur pematang sawah. Dengan terburu-buru sampai ia nyaris jatuh.
Natha terdiam di tempatnya hingga dia sampai di hadapannya lalu tersenyum lega.
---
Semua yang telah hilang belum akan kembali. Namun hanya dengan perasaan bahagia ketika melihatnya menjadi bukti bahwa Rory nggak cukup membutuhkan ingatannya untuk tahu seberapa dalam ia mencintai Natha. Ia membayangkan dirinya sebelum ini, yang datang jauh-jauh ke Jerman dengan frustasi dan jauh sebelum itu ia menjadi kacau karena nggak mampu mengingat. Diagnosa dokter juga lebih mencengangkan, yaitu amnesia permanen yang terdengar menakutkan, tapi sekarang sudah nggak lagi.
Namun, berhadapan dengan Natha sekali lagi membuatnya bingung. Karena Natha masih memandangnya tanpa berkedip dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena melihatnya lagi dan sedih karena lagi-lagi Rory yang mencarinya dan bukan sebaliknya. Juga terharu karena Rory sudah mengingatnya. 
Rory mulai kasak kusuk, matanya liar, nggak pernah terlihat kikuk. Lupa bahwa ia biasanya akan menggerutu, mencak-mencak lalu menyeret Natha pergi bersamanya. Tapi, ia malah hanya garuk-garuk kepala, bingung, seperti anak SMA yang akan menyatakan cinta pada teman sekelasnya. Pada akhirnya, ia melakukan lebih dengan menarik Natha ke sisinya.
Ibu-ibu petani menahan nafas sesaat sebelum geleng-geleng kepala. "Anak jaman sekarang...," mereka saling bergumam.
Natha mendengarnya dan menjadi malu. Ia pun hanya memberi Rory beberapa detik melegakan, sebelum mendorongnya agar menjauh.
Rory mengernyit, syok. "Apa?!," teriaknya tidak habis pikir. "Aku cuma dapat ini setelah kamu tiba-tiba pergi?!”
Natha mendengus. "Kamu pikir ini di mana?! Hotel?!," balasnya, melirik ibu-ibu yang saling bergosip sambil senyum-senyum, menggoda mereka. Saking malunya, ia malah pergi, meninggalkan Rory,
"Renatha!," panggil Rory sambil mengikuti Natha yang tampak gelisah. "Tunggu!"
Natha tersenyum, meski ia nggak mau menoleh, karena akan ketahuan bahwa ia ingin melompat kegirangan tapi tempatnya nggak mendukung kegilaan pikirannya. Berpura-pura tenang adalah senjatanya untuk sementara ini. Namun, begitu menoleh ke belakang karena mendengar suara berisik cipratan air, ia menemukan Rory berkubang dengan lumpur.
Rory tergelincir saat berlari mengejar Natha! Jatuh ke sawah dan sekarang terlihat menggelikan. "Sialan!!," jeritnya sebal dan jijik bersamaan. Ia bangkit memandangi dirinya yang kotor lalu Natha yang cekikikan
"Aku belum sembuh, Natha!," protesnya, sambil merentangkan kedua tangannya dan memandangi dirinya sekali lagi. Sadar, handphone-nya di dalam saku, ia segera mengeluarkannya. Itu makin membuatnya kesal!
"Udah, beli aja yang baru," ujar Erris yang tiba-tiba sudah ada di samping Natha. Bersama Henrietta yang tertawa-tawa sambil menggandeng lengannya.
Mereka nggak benar-benar serius kan?, Natha memandang mereka sangsi.
"Natha!," teriak Rory saat ibu-ibu menertawai kekonyolan pada dirinya. Tapi, Natha malah berpelukan dengan adiknya. Membiarkan Rory beberapa saat di sana sebelum Erris membantunya naik.
---
"Natha mana?," Bibi Ina menanyai Henrietta yang sedang santai di ruang depan sambil nonton TV. Ia melirik wanita itu sebelum memandang layar TV dengan bosan.
"Di kamar," jawab Henrietta.
"Trus Den Rory-nya?," tanya Bibi Ina lagi. Seingatnya tadi, anak itu datang dengan pakaian yang sangat basah dan tetesan lumpur mengotori lantai kayu. Bibi Ina baru selesai membereskannya dan sekarang ia bermaksud menanyakan pakaian Rory yang kotor karena Natha minta tolong untuk mencucikannya.
"Di kamar," jawab Henrietta.
Bibi Ina langsung pergi, ke kamar Natha.
Tiba-tiba Henrietta melompat dari kursinya, mengejar Bi Ina yang baru naik lantai dua. Ia sadar, Bibi Ina belum boleh ke sana, kalau nggak ingin, wanita tua itu menjerit histeris dan pingsan di depan pintu begitu membukanya.
"Bi Ina, nanti aja...," ujar Henrietta penuh maksud.
Bi Ina mengernyit. "Tapi,...bajunya..."
"Sst...!," ujar Henrietta lagi, sambil membawanya pergi. "Duh, Bi Ina, masalah baju ganti nggak usah dipikirin. Dia udah biasa tuh nggak pake baju..."
Bi Ina kelihatan nggak yakin tapi akhirnya menyerah. "Lho kok...? Masa tho?," ia tidak mengerti akan sikap Henrietta yang aneh.
"Biar aku yang ambilin..." ujar Henrietta.
"Bener ya?," Bibi Ina meyakinkannya, lalu geleng-geleng kepala. Lalu pergi ke luar menemui suaminya yang lagi membetulkan pagar belakang rumah.
Henrietta menghela nafas lega saat melihat Erris kembali membawa satu kantong belanjaan.
"Kamu dari mana sih?," tanya Henrietta sambil menghampirinya dengan riang.
"Rory mana?," ia malah bertanya. "Aku beli pakaian ganti"
"Baik banget...," komentar Henrietta menatapnya penuh arti. "Lagi sama Renatha di atas"
"Oh," Erris segera berlalu dan juga bermaksud naik ke lantai dua.
Tapi, Henrietta menarik tangannya. "Kayaknya Rory nggak butuh baju ganti deh," godanya yang menginginkan Erris untuk bersamanya.
Erris menghela nafas lelah. Ia mengerti mungkin sesuatu tengah terjadi di atas sana. Dan dengan hampa ia menatap Henrietta yang bersungguh-sungguh kepadanya. Seperti godaan.
---
"Aku amnesia permanen," kata Rory padanya.
Natha baru menyeret ember berisi pakaian kotor Rory dari kamar mandi. Genggamannya terlepas dari gagang embernya, berikutnya ia berdiri di depan Rory yang berdiri di pintu balkon kamar sambil memandang keluar. Natha nggak percaya tapi pasti terkejut.
Rory terdengar menarik nafas panjang, saat menatap Natha. Ada semacam perasaan lega, seperti baru kembali dari hutan setelah tersesat sangat lama tanpa makan dan minum. Di mana hanya keyakinan yang membuatnya bertahan.
"Aku nggak bisa ingat apa-apa soal kita," jelasnya, dengan raut sedih. Dengan memegangi kedua pipi Natha dengan tangannya, menatapnya dalam-dalam sebelum dahi mereka sama-sama bertemu, terasa sangat melegakan. "Tapi, aku percaya, aku mencintai kamu dan masa lalu aku nggak lebih penting daripada kamu..."
Natha mengangguk, apa yang ia dengar nggak semenyedihkan saat pertama kali mengetahuinya. "Maaf...seharusnya aku nggak pergi, aku terlalu sering pergi dari kamu,...," setetes air mata membuatnya tertunduk,  "Aku pikir, aku hanya perlu kasih kamu waktu untuk ingat semuanya karena dokter bilang hanya sementara. Aku merasa bersalah, setiap kamu lihat aku kamu kesakitan untuk mengingat semuanya, lagipula... semuanya gara-gara aku... kamu dipukuli sampai sekarat..."
"Aku udah nggak apa-apa...," ujarnya, sambil tertawa pelan, memandangi Natha yang tampak antara sedih dan bahagia. Rory berusaha tersenyum untuk membuatnya lebih baik lalu memeluknya. "Kalau kamu nggak pergi, aku nggak akan tahu apa yang hilang dan bikin pikiranku kacau... aku mungkin akan terus menyakiti kamu  dan rasanya aku sering ngelakuin itu, lihat kamu nangis, hatiku sakit... kalau kamu nggak pergi, aku nggak akan sadar, aku lebih butuh kamu daripada masa lalu-ku yang hanya bisa nyakitin... aku nggak akan tahu, yang aku butuhkan adalah kamu bukan masa laluku..."
Natha melepaskan kedua tangannya dari Rory, lalu memberinya senyuman yang sama, meski air matanya masih belum terhapuskan dan masih terus mengalir, sekalipun Rory menghentikannya. "Jadi kamu masih nggak ingat?," ia bertanya, setelah menghela nafas cukup panjang. "Kamu nggak ingat, menyekap aku di rumah kontrakan kecil yang jorok banget hanya gara-gara aku nggak bisa bilang maaf dan terima kasih?"
Rory mengernyit. "Kayaknya nggak butuh alasan kenapa aku nggak ngelakuin hal aneh itu," komentarnya. "Kamu cantik"
"Terus kamu juga nggak ingat kita berantem hampir tiap hari?," 
Rory menggeleng. "Aku nggak ingat, tapi aku yakin itu benar terjadi, karena kamu agak ngeselin," jawabnya sambil cekikikan dan Natha cemberut. Rory mengecup pipinya lembut. "Aku cuma ingat satu hal tentang kamu..."
"Apa?," Natha mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berharap itu adalah sesuatu yang manis. Tapi, bisikan Rory malah membuatnya kesal, sekaligus malu. Sontak ia menghindar dengan pipi yang memerah. "Kamu...begok!!," makinya.
Rory cekikikan. "Kamu kenapa sih?!”.
Natha makin gusar Rory mengikutinya dan salah tingkah.
"Siapa sih yang nggak bakal teler tiba-tiba ditinggal habis begituan?!"
"Kamu bisa diam nggak sih?!," cetus Natha gerah, mulai pura-pura mencari sesuatu untuk dilakukan sebelum Rory makin membuatnya malu sendiri. Ia sama sekali nggak ingin menoleh ke belakang, di mana ada Rory yang cuma pakai handuk di badannya. Tapi, sebelum sempat menyeret ember pakaian kotornya, Rory sudah menangkapnya. Memeluknya dengan erat dan kepalanya di atas bahu Natha.
"Jangan pergi...," pintanya manja, di telinga Natha. Sebelum melepasnya sejenak, dan membalikan tubuh Natha agar dapat memandangnya lebih dekat. "Aku nggak ingin kehilangan kamu, kalau perlu aku akan mengurung kamu selamanya..."
"Aku nggak akan ke mana-mana, Angel... Sampai sekarang pun, kamu masih mengurung aku kan?," balas Natha yang nggak lagi bicara begitu bibirnya terkunci. "I love you, Angel..."

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments

  1. avatar kinoi says:

    yaakkkkk UNI...!!!*q stress tingkat dewa*, sampai kpan Rory akn hlang ingatan???

    • avatar Unknown says:

      ih...rory sadar tp pke lupa ingatan lagi...kaciaan nathanya......lanjuin lg mba...penasaran...oh iya thanks mba udah diposting