[Hal. 8] WHEN I'M GONE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Alam membuat peraturan seperti itu dengan sendirinya sehingga kita yang hidup di dalamnya tidak perlu harus bertanya mengapa. Tapi, bagi Juny yang baru saja bisa melihat dunia tidak pernah tahu bahwa alam mempunyai peraturan seperti itu. Kemudian Rick mengajarinya dengan baik. Degan siksaan berulang-ulang dan pengkhianatan menjijikan, dengan sendirinya Juny merasa jauh lebih kuat daripada dirinya.

Malam itu dingin. Sebagian orang tengah menunggu turunnya salju tahun ini, sebagian lagi melakukan aktivitas seperti biasanya. Juny duduk di sudut ruangan  dan mengawasi situasi dalam gelap. Tempat ini, saksi bisu di mana ia berusaha bertahan degan siksaan yang luar biasa setahun belakangan ini. Namun, ia tak pernah mengingkari bahwa ia pernah merasa bahagia di sini walau itu semu. Kebahagiaan atau kesedihan hanya fatamorgana sementara, karena begitu mudahnya berlalu. Seperti saat kita tertusuk jarum lalu rasa sakit akan hilang dengan sendiriya dalam beberapa saat.

Orang-orang, datang dan pergi, selayaknya. Seuatu yang tak harus dipermasalahkan ketika kita merasa benci kepada seseorang dan berharap tidak pernah ada pertemuan. Karena pertemuan diciptakan untuk menghadapi sebuah perpisahan. 

Betapa aku ingin mengakhiri semua ini...

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Dengan cara yang sama seperti saat Rick memberi kejutan menegangkan, Juny tengah menunggu di kamarnya saat ia membawa seorang perempuan dalam keadaan mabuk. Rasa takut itu sudah hilang sama sekali.

Rick terperanjat. Ia masih menyepelekan gadis itu. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah tidak diterima lagi” katanya. “Atau kau ke sini untuk mengambil barang-barangmu? Silakan...tapi cepat pergi dari sini karena aku tidak ingin melihat wajahmu yang jelek itu”

“Kau menyimpan perempuan lain dalam rumahmu?” celetuk perempuan berambut pirang yang dibawanya dan juga sedang mabuk.”Apa-apaan ini?”

“Itu tidak benar, sayang...” jawab Rick yang teler. “Aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Sebentar lagi dia juga akan pergi”

Juny diam saja mendengarkan percakapan mereka yang memuakan baginya.

“Hei, tunggu apa lagi!” hardik Rick. “Cepat pergi dari sini!”

“Kau membawaku ke sini” kata Juny degan suara datar. “Kau habiskan semua uang yang ditinggalkan Wentz untukku dan setelah itu kau mulai memperlakukanku seperti sampah”

Rick tertawa. “Lalu apa masalahmu?” balasnya. “Aku sudah mencampakanmu. Apa kau mau memohon kembali kepadaku setelah memastikan pria brengsek itu mati?”

“Dia tidak mati!” teriak Juny marah “Justru kau yang akan mati!”

Seketika Juny menyerangnya dengan pisau dapur. Dengan cepat ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. tapi, Rick berhasil menghindar dan mendorongnya ke sudut hingga menghempas tempat tidur.

Perempuan yang bersamanya mulai menjerit-jerit ketakutan.

Pisau itu terlempar jauh darinya dan Juny sadar telah membuat perhitungan yang salah begitu melihat Rick mengarahkan senjata api kepadanya.

“Kau benar-benar gadis yang menjengkelkan...” gumamnya, dan benar-benar akan menembak.

“Apa kau sudah gila, Rick?!” seru perempuan itu bertambah ketakutan.

“Diamlah!” teriaknya. “Aku akan menghabisinya dan kau hanya perlu menutup mulutmu! Berhentilah berteriak, kau membuatku pusing!!”

“Aku tidak ingin terlibat!” kata perempuan itu dan mulai berdebat dengan Rick.

“Sudah kubilang diam!” hardik Rick marah. Mencoba fokus pada Juny sementara otaknya sudah tidak bekerja dengan baik karena mabuk.

Tapi, begitu melihat ke arah Juny ia terkejut karena gadis itu melemparinya dengan lampu meja yang ia temukan ada di dekatnya. Tanpa sengaja Rick melepaskan satu tembakan dan...

Juny menjerit kesakitan disertai teriakan teman perempuan Rick yang panik. Juny merasa perutnya telah tertembus sesuatu yang pamas dan ia pun tak kuasa menahan sakitnya. Ia menggenggamnya dan darah melumuri telapak tangannya yang putih pucat.

“Kau menembakya, Rick! Dia berdarah!” seru perempuan itu bertambah panik hingga Rick ikut panik.

Juny mencoba bangkit walau rasaya tak sanggup lagi. Darah mengucur deras. Pandangannya mulai kabur.

“Sudah kubilang...” kata Rick yang sebenarnya panik. Padahal ia hanya bermaksud mengancam agar Juny mundur dan meninggalkan rumahnya, tapi sekarang ia benar-benar sudah menembaknya. “Kalau kau mendengarkanku kau tidak akan...”

Tapi, secepat kilat Juny berlari mendorong Rick dengan tubuhnya. Sangat kuat dan cepat hingga Rick terpental menghantam dinding.

Sulit bagi Rick untuk melihat dengan jelas karena pandangannya terasa berkunang-kunang dan kepalanya sakit. Lalu ia sadari Juny sudah ada di depannya dan mengarahkan senjata miliknya sendiri tepat ke kepalanya.

“Sudah kubilang...” Juny kembali berkata di tengah rasa sakit yang tengah menyergap tubuhnya. “Justru kau yang akan mati...”

Perempuan itu kembali berteriak-teriak histeris seiring terdengarnya suara tembakan berkali-kali.

---

Salju turun juga, dingin sekali. Juny merasakan butiran dingin itu jatuh di wajahnya yang pucat.

Orang-orang mulai sibuk. Suara sirine mobil polisi terdengar di mana-mana. Juny mencari celah untuk kabur walau rasanya tak mungkin lagi karena luka  itu tak hentinya mengucurkan cairan merah berbau pekat. Ia akan kehilangan banyak darah. Namun ada sesuatu yang harus ia lakukan di saat polisi telah berpencar untuk mencarinya berdasarkan pengakuan perempuan yang berada di tempat kejadian dan menyaksikan sendiri bagaimana insiden itu terjadi.

“Mereka sempat bertengkar. Aku sangat ketakutan. Tapi, gadis itu terus menembaki Rick sampai pelurunya habis...” jelasnya dalam keadaan kacau dan menangis. “Dia sudah gila...dia benar-benar sudah gila...”

Ada juga beberapa tetangga yang melihat Juny keluar dari kamar apartment dengan terburu-buru.

“Dia terluka. Darahnya menetes di sepanjang koridor” jelas seorang pria tua yang sempat melihat Juny berlari terseok-seok keluar dari apartemen. “Aku kenal dia. Dia tinggal dengan laki-laki itu dua tahun ini dan aku sering mendengar mereka bertengkar. Kadang aku melihat gadis itu keluar dalam keadaan babak belur. Mungkin dia balas dendam karena laki-laki itu sering memukul dan menyiksanya”

Juny tak peduli.ia sangat berhati-hati setiap kali melewati keramaian karena jika tertangkap ia tak akan punya kesempatan terakhir. Jika memang pertemuan itu ada untuk menghadapi perpisahan, maka biarlah. Setidaknya perpisahan adalah awal dari hidup yang baru. Suatu bagian yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Juny memandangnya beberapa saat sambil menggenggam tangannya, Wentz yang dingin. Ia mendegar suara denyut jantungnya sangat lemah saat berbaring di sampingnya.

“Aku di sini...” bisiknya dekat-dekat. “Aku ingin, bermain di atas salju. Bukankah kau akan mengajakku ke sana?”

Beberapa hari lalu Wentz datang ke rumah sakit itu dalam keadaan mengenaskan. Kedua kaki dan tulang rusuknya patah. Bahkan saat itu jantungnya berhenti berdetak. Ia juga mengalami gegar otak berat. Dokter sudah berusaha keras mengembalikannya tapi mereka hampir mendekati putus asa sebelum Tuhan menunjukan keajaibannya. Meskipun ia harus melewati masa kritis yang mencemaskan hingga semua orang yang melihat keadaannya berpikir bahwa ia akan segera mati dengan luka-luka itu.

“Saljunya sudah turun...” ucapnya lagi dengan pelan sementara rasa sakit sudah menguasai seluruh tubuhnya. Darah tak berhenti mengalir seperti akan mengeluarkan semua yang masih tersisa di dalam. “Kau tidak perlu lagi menjagaku. Aku tidak mencintai diriku sendiri karena aku sudah mecintai seseorang. Aku tidak akan menyalahkanmu...”

Kemudian ia merasakan pergerakan dari tubuh yang terbaring di sampingnya. Juny memandang wajah Wentz yang tertidur lalu terbangun dan menoleh padanya dengan gerakan yang amat pelan. Juny tersenyum padanya.

‘Apa kita akan melihat salju?” ia bertanya pada pria itu.

Ya, kita akan ke sana...

----

Kecintaan pada sesuatu membawa kita pada arti hidup sesungguhnya. Sebagian orang sudah meemukannya dan sebagian lagi masih terus mencari. 

Juny berteriak kegirangan sambil melompat ke atas gundukan salju yang menutupi seluruh rumput taman. Ia berbaring di sana dan mulai mengepakan kedua tangan dan kakinya seperti anak kecil yang baru pertama kali mencobanya. Dan tiba-tiba wajahnya terasa dingin terkena es yang bahkan sampai masuk ke mulutnya. Ia lihat wentz di seberang sana tengah membuat bola-bola kecil untuk dilemparkan. Lalu melemparnya sekali lagi sambil tertawa-tawa.

Juny mulai membalas sambil mengejarnya. Wentz berlari sejauh mana taman salju itu membentang. Jauh sekali. Lalu butiran-butiran dingin itu kembali turun. Juny menengadahkan wajahnya ke atas dan tak pernah merasa sesejuk ini sebelumnya. Dingin salju terasa menyegarkan. Ia berputar untuk merasakannya lebih dalam menyentuh hatinya yang sudah lama tertekan.

“Juny!” seseorang terdengar memaggilnya.

Bukan Wentz yang masih berdiri di sampingnya dan memperhatikan gerak-geriknya.

Keduanya menoleh dan melihat seorang pria tua berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu didampingi oleh seorang wanita tua yang pasti adalah istrinya.

Salju menghampar luas, Musim dingin sudah datang ketika kau merindukan suaraku, aku sudah pergi...

Juny menoleh pada Wentz sambil tersenyum. 

"Selamat tinggal," ucap senyum itu.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments