๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kau mau coba main-main denganku?”
Rick murka.
Juny sadar telah mengambil keputusan yang keliru. Ia sudah menjelaskan berulang kali siapa pria tiu sebenarnya namun Rick spertinya kesal karena dipukuli dan kalah telak. Rick tidak membutuhkan penjelasan, ia tjuga tidak peduli Juny berkhianat atau tidak, karena ia lebih dulu melakukannya. Dan keberadaan gadis ini membuatnya merasa amat sial.
Di sudut ruangan yang berantakan itu ia berlindung dari amukan Rick yang tak pernah lebih besar daripada itu. Semua ini akan segera berakhir, pikirnya ketakutan. Ke mana lagi ia aka pergi setelah ini? Inilah kemarahan terbesar Rick yang pernah ia lihat. Ia ditampar dan dicekik, dipukuli beberapa kali, serasa seluruh tubuhnya tak mampu bertahan karena terlalu sakit. Ia hanya bisa menangis. Jika tahu akan begini, tentu ia akan pergi dengan Wentz kemarin.
“Aku mohon...hentikan...maafkan aku...” ringisnya.
Rick tak akan mudah menerima maaf. Ia tahu lelaki ini akan berusaha membalaskan dendam. Jika tidak bisa melampiaskannya ia akan menjadikan Juny sebagai sasaran kekesalannya. Mungkin saja setelah ini, Juny akan mati karena dibunuh olehnya. Tiba-tiba lelaki itu menariknya, Juny tak bisa melawan karena semua tenaganya habis.
Juny membiarkan dirinya diseret ke kamar dan Rick mendorongnya ke dalam dengan kasar hingga Juny menimpa meja yang keras da langsung terkulai lemas tak berdaya. Kepalanya terbentur amat keras.
Jika waktu bisa diputar, aku ingin tetap berada pada masa-masa itu. kita tak perlu tumbuh dewasa, kita tak perlu memikirkan masa depan. Dan kita tak perlu harus punya impian untuk terus hidup. Dulu aku terlahir buta, dan nenek pernah berkata, bahwa anak-anak yang terlahir tidak sempurna sebenarnya diberkahi sekalipun mereka hidup penuh kesulitan. Tuhan punya rencana lain yang lebih indah untuk mereka. Karena Tuhan sangat menyayangi mereka. Tuhan, apakah kau masih menyayangiku?
Jika aku mati, apakah Kau akan membawaku ke tempat yang indah?
---
Daun-daun jatuh ke tanah, musim gugur sudah tiba dan sebentar lagi akan berganti. Langit biru berubah abu-abu.
Aku mencoba menutunmu, dan membuatmu utuh. Tapi, itu tidak pernah cukup. Aku harus pergi. Dan siapa yang akan menyelamatkanmu di saat aku pergi? Siapa yang akan menjagamu setelah aku pergi? Kau katakan padaku bahwa kau peduli, tapi meyembunyikannya dengan baik. Bagaimana kau mecintai seseorang yang bukan dirimu? Di saat aku pergi, siapa yang menghancurkan musim gugur-mu, siapa yang akan kau salahkan?. Aku tidak bisa melanjutkannya. Melihat kau kehilangan segalanya, lebih dari yang bisa kutahan. Siapa yang akan menyembuhkan rasa sakitmu? Siapa yang akan menghapus deritamu?
Ketika kau merindukan suaraku, aku sudah pergi...
Wentz menutup mata, dan kilasan itu kembali. Ia duduk di sana, di depan jendela kaca, menikmati secangkir kopi di musim gugur. Wentz menyaksikan daun berguguran, angin bertiup dingin. Lalu melihatnya lewat dengan langakah yang sangat pelan. Gadis itu bernama Juny Dunstmore. Dia buta dan selalu melewati kegelapan sejak lahir. Yang selalu berkata ‘selamatkan aku’ lewat tatapan kosongnya. Ketika itu dia masih sangat muda. Tapi, karena dia adalah segalanya Wentz melakukan apa saja.
Itu hanya cerita singkat yang terjadi beberapa tahun terakhir yang masih membekas dan memperngaruhi kehidupannya hingga sekarang.
Gadis itu bilang dia tidak akan datang, tapi Wentz tidak percaya. Ia masih bisa menyelamatkan gadis itu. Namun ia belum memikirkan keluarganya dan mungkin karena itulah ia harus dihukum.
Satu jam. Dua jam, tiga jam, terasa sangat lama baginya. Ia tetap berdiri dan menunggu. Cuaca dingin menusuk hingga ke tulang. Ia masih berdiri di peron kereta sambil mengawasi setiap pintu masuk sambil berharap sosok kecil dan kurus itu akan terlihat. Pada cuaca sedingin ini orang-orang masih tetap bepergian dan memadati stasiun. Wentz mulai khawatir saat memandangi mereka satu persatu karena Juny tidak kunjung muncul dan menimbulkan keraguan baginya.
Ya, gadis itu rupanya memang tidak datang. Setelah matahari terbenam pun ia tidak pernah muncul dari sudut manapun. Terpikir olehnya untuk pergi dan pulang, lalu tidur. Besok mungkin ia akan kembali bekerja, mencoba untuk mengabaikan semua kegelisahan dan ketakutan. Kemudian ia bergerak meninggalkan stasiun karena hampir larut malam. Tak ada pertanda dia akan muncul, namun hatinya amat gelisah. Apakah telah terjadi sesuatu sehingga dia tidak bisa datang?
Tak ada yang tahu pasti. Ataukah memang Juny tidak ingin melihatnya lagi karena benci. Ia pun melangkah cepat keluar dari stasiun. Setibanya di rumah ia akan memikirkan apa yang bisa ia lakukan nanti untuk kembali menemukan Juny. Saat ini belum ada yang memaksanya untuk merelakannya.
Tiba-tiba seseorang menarik lengannya. Wentz terkejut mendapati Juny tiba-tiba ada di depannya. Dengan nafas tersengal-sengal seperti habis berlari dari tempat yang sangat jauh.
“Juny?” ia tersenyum senang saat melihatnya dan langsung memberinya pelukan yang erat.
Dia masih mengenakan pakaian yang dipakainya kemarin dengan sedikit luka memar di wajah.
“Apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya Wentz sambil menyentuh luka itu dengan perasaan sedih sekaligus marah,
“Aku tidak apa-apa” jawabnya, dengan gelagat tampak terburu-buru sambil mengawasi sekitarnya. Ia juga kelihatan ketakutan dan bingung.“Kita harus segera pergi dari sini”
“Ada apa? Kenapa kau sangat takut?” Wentz bertanya padanya tapi Juny langsung menarik tangannya untuk buru-buru pergi seolah ingi meghindar dari sesuatu.
“Rick” jawabnya sambil menarik lengan Wentz dan mulai berlari. “Mereka mencarimu”
“Apa maksudmu?”
Mereka berlari menyusuri peron kereta. Mengambil arah sebaliknya karena Juny tahu persis di mana Rick yang tengah memburunya. Wentz jadi ingat dulu ia selalu menarik tangan Juny agar berlari lebih cepat untuk masuk kereta sebelum pintunya tertutup. Juny tidak pernah lagi menggunakan tongkat sejak tinggal dengannya karena memang tak pernah membiarkannya pergi sendirian. Hampir setiap hari mereka naik kereta untuk pergi ke manapun. Sampai kapapun ia juga aka terus mengigat hari-hari itu.
Seketika Juny terpikir untuk naik kereta dan meinggalkan stasiun. Tapi, begitu pintu terbuka semua orang menyerbu masuk ke dalam sebelum pintunya menutup. Mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya berhasil masuk. Dan begitu Rick menemukan mereka, kereta sudah melaju meninggalkan stasiun untuk berhenti di stasiun berikutnya. Mereka selamat.
“Aku mendengarnya bicara di telpon mengajak teman-temannya untuk mencarimu. Rick tahu kau pasti menunggu di stasiun” jelas Juny dengan nafas terengah-engah.
“Apa yang sudah dia lakukan padamu?” Wentz kembali menanyakan penyebab luka-luka yang ada di wajahnya.
Juny tidak menjawab dan hanya tertunduk. Wajahnya pucat. Ia belum makan apa-apa sejak kemarin dan tenaganya pun pasti dipaksakan untuk bisa sampai ke stasiun.
“Apa sakit sekali?” tanya Wentz.
“Setidaknya aku bisa keluar karena Rick mengurungku” jawabnya, mengabaikan pertayaan yang pasti sudah diketahui jawabannya oleh Wentz. “Aku sempat pingsan karena sakit sekali”
“Apa kepalamu terbentur?”
“Mungkin...” jawabnya sambil mengusap kepalanya dan sepertinya ada bagian yang rasanya amat sakit dan bengkak. “Dia menyeret lalu mendorongku ke kamar. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Sewaktu sadar aku dengar dia bicara di telpon...”
“Bagaimana caramu lolos?” tanya Wentz mulai geram.
“Aku hanya mendobrak pintu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Kupikir tidak akan bisa tapi ternyata aku berhasil...” jawabnya.
“Seluruh tubuhmu pasti sakit sekali...” kata Wetz maki geram. “Aku akan membuatnya membayar semua yang dia lakukan padamu”
“Ya...baru terasa sekarang...” jawab Juny, “Entahlah,...”
Mereka berhenti di stasiun berikutnya. Lalu masuk sebuah restoran untuk makan dan sekedar melapaskan rasa lelah dan ketegangan. Setidaknya Juny sudah bisa tertawa, walau keadaannya masih sangat berantakan. Ia kelihatan sangat lelah dan tertekan. Seberat apapun beban yang kini dipikul oleh Wentz, itu masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan yang dialami Juny.
“Mungkin bagimu memang semudah itu” Juny berpendapat. “Kadang aku merasa bahwa aku harus menghadapi semua kesulitan sebelum benar-benar bahagia”
Wentz diam saja. Ia tidak terlalu memahami hal-hal seperti itu karena telah terbiasa berpikir sesuai logika.
“Waktu aku pingsan, aku merasa bertemu dengan orang tuaku. Kakek dan nenek.” Jelasnya lagi. “Seakan mereka sangat merindukanku dan ingin aku ikut mereka. Kau tahu, bagiku ini mengerikan...maksudku aku belum memikirkan soal kematian meski sebenarnya itu selalu mengikuti kita. Entah hari esok masih ada atau tidak”
---
“Aku akan mengingat saat-saat ini” kata wentz ketika ia memperhatikan bayagan mereka yang terpantul pada kaca jendela kereta yang mereka naiki menuju tempat yang lain. Sambil merangkul pundak Juny dan tersenyum.
“Sebaiknya jangan” kata Juny. “Itu akan sangat membebaniku”
“Kenapa? Bukankah kita akan bersama lagi?”
Juny tersenyum getir. “Kau dan aku punya kehidupan masing-masing sekarang” jawabnya, “Jangan lagi menipu dirimu, karena sebenarnya aku hanya bagian dari masa lalumu. Begitu juga keberadaanmu dalam hidupku”
“Apa yang kau katakan?”
“Setelah ini aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh dan memulai semuanya dari awal lagi. Kau juga” jawabnya kembali tersenyum, memperlihatkan suka cita yang seakan sudah terbayang di depan matanya jika ia memulai utuk bangkit dan berdiri lagi. “Aku sudah memikirkannya sejak lama, aku merindukan ketenangan. Aku merindukan musim dingin yang putih dan aku bisa bermain di atas salju. Membayangkannya saja membuatku begitu bersemangat”
“Aku akan membawamu ke sana”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang ada saljunya.”
“Benarkah?”
“Tentu”
“Baiklah. Tapi, musim dingin belum tiba”
“Bersabarlah sebentar. Begitu saljunya turun kita langsung pergi”
“Tapi, berjanjilah satu hal”
“Apa?”
“Kau akan membiarkanku pergi dengan tenang”
“Aku tidak yakin”
Keduanya hening hingga turun dari kereta dan membawa mereka kesuatu tempat yag tak asing lagi. Stasiun yag dulu biasa mereka datangi untuk naik kereta. Membawa wajah yag muram dan sedih. Perpisahan dalam bentuk lain akan terjadi. Tapi, jika ini takdir Tuhan, tidak ada yang bisa merubahnya. Mereka berjalan beberapa menit. Sebelum sebuah kejutan menghampiri mereka dan suasana kembali menegangkan.
“Selamat malam” Rick menyapa, “Apa kalian menikmati malam ini?”
Rick tidak sendiri. Ia punya 8 orang teman yang semuanya adalah berandalan. Juny tahu betul bahwa kelompok itu sering berurusan dengan polisi dan mereka juga sagat brutal. 2 tahun ini ia bergaul dengan kelompok itu dan mereka seringkali berhasil menyembunyikan kejahatan mereka. Mulai dari mengedarkan obat terlarang, mengeroyok orang, merampok, hingga membunuh orang. Mereka sudah mahir melakukannya.
Mudah-mudahan Wentz tidak berpikir untuk menghadapi mereka sendirian. Tapi, mereka terkepung. Masing-masing membawa senjata dan pemukul. Rick pasti menganggap Wentz cukup tangguh sehingga ia harus melibatkan bayak orang.
Juny tidak mampu berkata apa-apa. Lari pun tidak mungkin. Melawan apa lagi. Bisa-bisa mereka mati atau sebelum itu mereka akan menyiksanya lebih dulu agar menahan sakit lebih lama dan menderita.
Satu per satu mulai mendekat.
“Tidaaaaak!!” Juny menjerit tatakala serangan malam itu dimulai tanpa perlawanan.
Dua orang dari mereka menangkap Juny lalu menahannya. Mengangkat kepalanya untuk bisa melihat apa yang terjadi pada pria naas itu. Ia dengar Wentz mengaduh kesakitan. Diaa terus dipukuli dengan tongkat kayu. Seluruh bagian tubuhnya menjadi sasaran empuk berandalan itu.
“Jangan melihatku” itu yang dia katakan dengan bibirnya yang mengucurkan darah merah segar, menetes di aspal jalanan.
Rick menoleh pada Juny dengan sebuah tongkat besi di tangannya untuk memberi tahu apa yang akan ia lakukan pada orang yang tempo hari memukulinya dengan sangat beringas.
Juny semakin gemetaran dan kemudian mendengar derak tulang yang patah bersamaan dengan jerit kesakitan yang sangat dalam menggema di jalanan sempit dan sepi itu. Tak hanya sekali.
“Hentikan!”
Tak ada seorangpun yang menolong.
Tuhan, jika keajaiban itu ada tolong selamatkan dia...
Kegaduhan seketika berhenti setelah tak ada suara yang kesakitan itu lagi.
“Sudah kubilang janga main-main denganku” kata Rick sebelum ia pergi sementara teman-temannya sudah ‘membereskan’ semuanya.
Mereka segera pergi dengan membawa serta peralatan yang mereka gunakan untuk membunuh Wentz.
Juny memejamkan mata. Berharap ini mimpi. Berharap ini tidak pernah terjadi. Berharap ia kembali ke masa-masa tiga tahun yag lalu saat mereka naik kereta saat musim dingin. Melihat pemandangan serba putih dan bermain di atas salju di halaman depan rumah.
Suatu hari nanti kita akan ke sana lagi, tapi kita harus berpisah untuk sementara waktu.
Malam yang mengerikan.
Wentz pasti mati.
Bukan kau, bukan kau yang harus membayar semua ini. Kupastikan itu...
---
Komentar
0 comments