๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Wentz baru sadar bahwa saat ini musim gugur akan segera berganti menjadi musim dingin. Ia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela tanpa melakukan apapun selainmemamndang keluar. Ia selalu kelihatan berpikir dalam lamunannya. Kali ini, ia mengingat semua yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika ia telah sangat yakin menemukan kebahagiaan bersama seorang gadis yang sangat ia cintai. Ketika ia menangisi perpisahan yang telah terjadi .
Gadis itu pasti amat membencinya. Karena dia selalu menghindar dan tidak suka didekati. Sama seperti waktu itu. Ketika Juny yang buta bisa merasakan niat jahat yang ada di dalam dirinya, gadis itu pasti mengetahui ada gejolak yang besar dalam diri Wentz dan ingin menyakitinya. Tatapan Juny yang nampak benci, jika dia tidak benar-benar membutuhkan uang dia sudah pasti tak akan kembali ke rumah itu. seolah ia mampu bertahan dengan kebencian untuk meghadapi Wentz yang ingin menjeratnya lagi dengan cinta buta. Juny sudah 21 tahun, kepahitan hidup pasti telah megajarkannya untuk tidak jatuh di lubang yang sama. Melawan Wentz tentu bisa ia lakukan. Dan sekarang bagaimana cara agar dia tidak datang lagi dan mau mengikuti kata-katanya?
Meski ini perbuatan yang sangat jahat dan bisa melukai orang-orang yang menyayanginya, Wentz hendak menebus semua rasa bersalahnya pada gadis itu. Kembali pada masa lalu di mana perasaannya sudah tidak bisa dikembalikan.
“Apa maumu?!” Juny meronta sewaktu Wentz menariknya dengan paksa ke lantai dua. Dia memaksa, tapi Wentz lebih kuat menariknya ke atas lewat tangga. Juny bertahan sambil memukul-mukul tubuhnya sambil menjerit ketakutan. Bilamana Nicole melihat semua ini, apa yang akan terjadi. Tentu dirinya akan mengacaukan sebuah keluarga yang pada awalnya baik-baik saja. Rasa bersalah akan terus menghantuinya nanti. Seharusnya dia tidak datang, seharusnya dia mencari tempat lain untuk pergi. Tapi, ketakutan akan Nicole tak lebih besar dari rasa takut apabila Wentz melakukan hal yang sangat buruk padanya. Seperti saat pertama kali mereka bersentuhan, yang awalnya berasal dari pemaksaan Wentz akan cintanya.
Juny menangis. Dengan cara yang sama pulalah, ia terikat dengan Rick. Karena ia gadis yang kesepian dan menyedihkan yang tak punya tempat bernaung. Lalu dirinya disiksa dan dicampakan. Kenapa harus terjadi berkali-kali dalam hidupnya? Sesalnya dalam hati.
Karena lelaki itu tampak sangat marah, dan...penuh dengan hasrat terhadapnya.
“Aku hanya ingin hidup dengan cara yang baik! Aku sudah muak diperlakukan seperti sampah! Begitu orang sudah tidak membutuhkanku, mereka akan membuangku!” teriak Juny. “Aku tidak ingin hidup seperti ini, sampai rasanya aku ingin mati! Kau tahu bagaimana rasanya menjalani hidupku!? Semua yang kau berikan padaku hanya ilusi! Ini kenyataan hidupku! Kenapa kau juga tidak megerti?!”
“Aku sedang berusaha memperbaikinya!” balas Wentz memaki lebih keras . ia kelihatan sagat kacau dan berantakan. ”Apa kau tidak bisa melihatnya?! Aku gila karena memikirkanmu! Apa kau tahu?!”
“Aku tidak butuh!!” teriak Juny tepat di depannya. “Aku tidak pernah mengharapkanmu kembali! Bahkan alam bawah sadarku juga menolak untuk mengingat semua tentang dirimu!!”
Wentz terdiam dan membelalak. Gadis itu sudah berubah sama sekali. Kata-kata yang dilontarkannya terdengar amat kasar dan mengejutkan. Semua sudah hilang. Saat-saat mereka bersama tidak akan pernah kembali. Wentz terdiam amat lama.
“Kau sudah punya keluarga. Apa kau akan mengabaikan mereka demi aku? Dengan apa kita akan hidup setelah menghancurkan orang lain?” kata Juny masih melampiaskan kekesalannya dengan menangis. “Kau yang mencampakan aku...mana mungkin...mana mungkin...”
Wentz mendekat. Kedua matanya memerah. Ia tengah menahan tangis namun amarah masih terlihat membayang di sana. Wajahnya tegang dan bingung serta pucat.
Juny tak pernah melihatnya seperti itu dan kembali merasa sangat ketakutan. Ia tahu Wentz pasti akan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang sangat tidak disukainya. Dan ia terjebak di kamar itu. menangis atau berteriak pun percuma karena Wentz akan meredam semua itu.
Di sisi lain, Wentz malah kebingungan dan juga merasakan ketakutan yang sama. Bayangan masa lalu kembali menghantuinya, menyiksa batinnya yang terdalam. Tidak terbayangkan olehnya telah meggiring Juny ke dalam lubang hitam yang ia kira langkah awal bagi Juny untuk mencapai impian terbesarnya. Kenyataannya Juny memang tak pernah punya impian. Ia hanya hidup dan bersyukur untuk hari-hari yang telah diberikan kepadanya dan tidak pernah mengenal impian. Ia hanya mengenal sebuah harapan palsu yang disebut kebahagiaan. Hingga detik-detik yang memilukan ini.
Bagaimana bisa ia mencintai seseorang yang bukan dirinya?
Gadis itu memberi perlawanan yang luar biasa. Seperti orang yang kesetanan ia memukul, menendang sambil memaki dengan kata-kata yang kasar. Berkata benci dan mengutuk perbuatan Wentz padanya saat pria itu berusaha menyentuhnya.
Wentz menindih Juny dan gadis itu tidak bisa bernafas. Keringat mengucur deras dan membuatnya basah. Menetes ke wajah Juny yang tegang karena takut namun belum berhenti meronta dan berteriak. “Lepaskan!”. Wajahnya yang menunjukan kebencian amat dalam makin menyiksa Wentz yang terus kehilangan kendali dalam amarah dan nafsu. Juny menolak Wentz dengan tubuh dan perasaanya yang tak ingin lagi berurusan. Yang bahkan tak sudi lagi memanggil namanya. Kebencian memang tak bisa dihilangkan. Ia terus berteriak ‘aku benci padamu’ berulang kali.
Tenaganya yang luar biasa membuat Wentz kewalahan dan berhenti memaksa, seketika Juny memberinya sebuah tamparan keras di wajahnya begitu Wentz tersadar tak bisa memilikinya lagi.
“Aku akan pergi ke tempat di mana aku tidak akan melihatmu lagi, kau tahu itu!!” makinya menangis dalam keadaan yang sangat berantakan. “Aku tidak ingin melihatmu lagi!! Aku bersumpah aku tidak ingin melihatmu lagi, pembohong!!”
Wentz terdiam memandangi kemarahan yang tak pernah dilihatnya sebelum ini. Inilah Juny, gadis yang selalu ia pikirkan keadaannya dan ia bayangkan tengah berbahagia dalam hidupnya. Ternyata kenyataan tidaklah seindah bayangan. Seharusnya Wentz sadar akan hal itu sejak lama. Juny adalah gadis berandal yang kadang mencuri dan memohon belas kasihan pada orang lain agar tetap hidup.
“Ada apa ini?”
Nicole sudah berdiri di pintu dan cukup lama mendengarkan suasana dalam kamar yang gaduh. Ia lihat Juny menangis dan amat kacau sementara Wentz nampak tertekan. Ia sendiri pun juga tertekan dan ingin menangis, meski tak mengerti, setidaknya ia jadi tahu bahwa dua orang ini telah pernah saling mengenal dan terlibat hubungan khusus dan tidak bisa dipercaya. Inikah orang yang mampu membuat orang sedingin Wentz tertekan? Pikirnya sedih dan kecewa.
Juny merasa malu. “Maafkan aku...” ucapnya saat pergi terburu-buru dengan kepala tertunduk. Habislah semua, besok ia tak akan datang. Tidak akan pernah muncul lagi di hadapan mereka. Ia pun berlari menuruni tangga secepat mungkin, membawa perasaan bersalah dan marah.
“Aku sama sekali tidak mengerti, Wentz” katanya dengan suara bergetar. “Kenapa ini bisa terjadi...?”
Wentz tidak menjawab. Ia bingung, merasa bersalah dan tertekan. Ia tidak kuasa memandang Nicole tapi ia juga tidak ingin menjelaskan apapun.
Tanpa diduga, lelaki itu tiba-tiba pergi dengan buru-buru. Menuruni tangga dengan cepat lalu berlari keluar, pasti mengejar gadis itu.
Nicole terduduk di ambang pintu dan menangis seperti anak kecil. Sudah lama, sudah lama ia tidak meratap seperti ini. Rupanya ini. Ini lah jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Tentang siapa yang telah mengambil apa yang paling diinginkannya selama ini, cinta Wentz. Dan ini sudah saatnya untuk menyerah dan pulang.
---
“Kenapa kau mengikuti aku!?” cetus Juny terus berjalan terburu-buru dan bahkan berlari agar Wentz tidak dapat menyusulnya.
Wentz terus memburu langkahnya. “Aku sudah bilang aku tidak akan berhenti sebelum kau mendengarkanku” katanya bersikeras.
Mereka memasuki stasiun subway ketika Juny membiarkan dia membuntuti namun tidak ingin menoleh apalagi bicara padanya. Sementara Wentz terus mengoceh menyatakan penyesalannya dan semua rencana yang telah ia siapkan agar Juny bisa memperbaiki hidupnya. Tapi, ternyata gadis itu keras kepala dan terus-terusan menolak.
“Aku lelah!” celetuk Juny yang menunggu keretanya datang. Dan berharap itu segera datang agar ia bisa meninggalkan lelaki ini dan menghilang untuk selamanya. “Tidak bisakah kau lanjutkan hidupmu?”
Mereka lagi-lagi berdebat, mengingat-ingat masa lalu hingga pada akhirnya saling melukai perasaan. Mengutarakan kesulitan masing-masing sehingga tidak ada alasan untuk kembali hidup seperti dulu. Tak akan ada pertemuan yang lebih baik dari ini setelah Rick muncul tiba-tiba di hadapan mereka.
Juny lupa laki-laki itu sering berada di stasiun subway. Rick menghampiri mereka secara kebetulan dan menganggap ada sebuah gangguan yang harus ia tangani. Dan ia pikir Juny berkhianat darinya.
“Hei, Paman!” tegurnya. “Dia terlalu muda untuk orang tua sepertimu”
Wentz langsung berubah kesal dan marah. Setelah menebak-nebak mungkin lelaki bertato dan bertindik inilah kekasih Juny saat ini. Ia memandangi orang itu dengan tatapan seolah akan membunuhnya. Seolah akan membalas semua kejahatannya begitu membayangkan ia menyiksa Juny setiap hari dalam hidupnya.
“Jangan...” pinta Juny pada keduanya agar tidak berkelahi, ia menahan Rick dari keinginannya untuk memberi pelajaran pada pria yang tampak mengganggu pacarnya. “Rick, sudahlah,...kita pergi saja”
Tapi Rick tidak akan mundur. Ia membalas Wentz dengan tatapan yang sama bengisnya. Hingga keduanya mulai saling pukul, tendang, baku hantam tanpa ada yang berani melerai.
Wentz tidak bicara sepatah katapun saat menghadapinya tapi ia berhasil membuat Rick terkapar dengan kesakitan dan memalukan. Ia merasa sangat puas tanpa peduli Juny akan lebih marah padanya. Namun mengejutkan baginya, Juny malah berpihak kepada lelaki itu dan bukannya pergi saja meninggalkannya.
“Kau puas?!” cerca Juny yang menangis saat membantu Rick bagkit kembali,
Kenapa dia malah membela orang yang selalu menyakitinya? Apa hal yang tida bisa ia mengerti sekarang dari keadaan yang sama sekali tidak akan membaik lagi baginya?
Wentz terdiam karena shock dengan balasan Juny. Di depan mereka Wentz termangu dan kembali menyesali apa yang telah terjadi.
“Jangan ganggu aku lagi” pinta Juny padanya, “Pergilah...”
Wentz tetap memaksa, ia menarik Juny dari lelaki itu untuk membawanya pergi.
“Tidak!” Juny berontak. “Aku tidak mau ikut denganmu!”
“Aku tidak peduli! Siapa yang tahu apa yang aka dilakukannya setelah ini padamu!” Wentz berusaha keras membawanya pergi.
“Kau tidak mengerti!” sembur Juny. “Dia pernah menyelamatkan hidupku!”
“Tapi sekarang sudah tidak lagi!” balas Wentz tetap menarik paksa dirinya.
“Lepaskan!” maki Juny lagi. “Kau tidak mengerti apapun!”
“Ya memang!” balas Wentz lagi.”Kau tetap harus ikut denganku!”
“Aku bukan boneka yang bisa kau perlakukan seenaknya, Wentz!” teriaknya. “Kau datang, lalu pergi, kau pikir aku akan baik-baik saja tapi kenyataannya tidak! Apa kau tahu rasanya saat itu aku ingin mati!? Kalau aku tidak bertemu dengannya aku pasti sudah mati konyol karena dirimu! Lalu kau kembali seolah tidak melakukan apapun padaku!”
“Aku sudah bilang akan memperbaiki kesalahanku!” kata Wentz. “Sekarang biarkan aku melakukannya!”
“Bukankah aku sudah bilang aku tidak butuh!” Juny masih bertahan. “Lagipula kau di mana saat aku membutuhkanmu!”
Wentz terdiam dan sontak meghentikan langkahnya, menatap Juny yang menangis dan tampak sangat lelah.
“Kau menikah! Kau puya anak! Kau punya keluarga!” sambung Juny. “Aku tidak bisa bersamamu”
“Aku akan membereskan masalah itu. Tidak bisakah kau memberiku waktu?”
Juny menggeleng-geleng. “Itu tidak mungkin...” jawabnya terpaksa. “Denganmu, atau dengan siapapun aku akan tetap hidup menderita. Aku...sudah ditakdirkan seperti ini”
Wentz kembali terdiam.
“Aku sudah tahu ini sejak lama...” katanya lagi terdengar memohon agar Wentz segera pergi, pergi dari hidupnya. Meski ia akan kembali mengharapkan sesuatu aka merubah segalanya. Tapi, ketidakmungkinan itu terlalu besar. “Ini tidak akan berhasil..percayalah padaku...”
Akhirnya genggaman itu dilepaskannya. Wentz semaki bingung dan sakit ketika mendengar penolakan yang isinya tidak pernah berubah. Menginginkan perpisahan untuk selamanya.
“Aku tidak percaya ini terjadi...” Wentz mencoba mengungkapkan kembali apa yang ia rasa dan dengar bersamaan. “Aku tidak bisa...aku tidak bisa membiarkan ini terjadi karena kupikir kau...kau akan memaafkanku...”
Juny kembali menggeleng-geleng. “Aku tidak bisa...”
“Kau hanya ingin mengusirku bukan? Kau hanya mengatakan hal yang menyakitkan agar aku segera pergi!” kata Wentz “Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Besok kita bertemu lagi di sini jam 12 siang. Aku akan menunggu sampai kau datang”
“Apa yang kau katakan?” tanya Juny lagi-lagi menolak. “Aku jelas tidak akan datang”
Juny langsung pergi tanpa menoleh sekalipun kepadanya. Ia menghampiri Rick yang masih terduduk kesakitan lalu tampak membantunya berdiri hingga mereka meninggalkan stasiun. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Diusir seperti itu membuatnya tidak berdaya, ia akhirnya pergi juga dengan langkah gontai dan nampak lelah. Kembali ke rumah yang ia tinggalkan tanpa perasaan, menghadapi Nicole yang selama 3 tahun ini hanya mendapatkan penderitaan yang manis darinya. Untuk apa sebuah pernikahan yang hanya menjadi topeng. Tak ada yang lain. Keabadian hanya omong kosong yang diciptakan pujangga agar ia dikenal, agar orang-orang mempercayai teori yang hampir tak masuk akal di dunia ini, yaitu cinta. Yang tak bisa dijelaskan dengan logis, yang hanya menuntut air mata untuk menjadikannya sebuah kebahagiaan. Yang hanya menginginkan pengorbanan untuk pembuktian yang pada akhirnya membuat kita menyesal.
Yang pergi sudah tak ada lagi, sekali lagi maukah kau memaafkan semua kebodohan yang telah kulakukan?
“Aku akan kembali ke London” kata Nicole memberi tahu. “Aku akan membawa anak-anak karena kau tidak mungkin bisa menjaga mereka dan...aku sudah menghubungi pengacara untuk megurus perceraian kita. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menuntut apapun darimu”
Wentz termangu di sofa sementara Nicole mulai berkemas.
Putra mereka Kevin hanya bisa memandangi kedua orang tuanya yang kini sedang bermusuhan dengan perasaan sedih. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan namun harus dijelaskan. Tapi, sang ayah memang tak pernah peduli padanya, karena itu mereka harus berpisah lagi. Kevin pun membantu ibunya mengemasi pakaian. Mereka akan kembali ke London, tempat yang penuh dengan kenangan buruk.
Lalu ia menghampiri Wentz untuk memberinya sesuatu. Sebuah mainan berupa miniatur ultraman. “Ini mainan yang paling kusuka” jelasnya, “Kupikir, Dad akan sendirian lagi, jadi...ambilah.”
Wentz terkejut.
“Aku tidak ingin Dad merasa kesepian...” katanya lagi.
“Kevin!” panggil Nicole yang terlihat mengawasi mereka dari ruang tengah. Rupanya mereka akan segera berangkat.
Nicole tidak pamitan. Ia buru-buru keluar begitu mendengar suara klakson taksi memanggil beberapa kali. Ia juga hanya membawa beberapa tas berisi pakaian karena kepergianya sangat mendadak. Wentz juga tidak mengucapkan selamat tinggal dan hanya memandangi mainan itu. Entah sadar atau tidak istri dan anak-anaknya telah meninggalkannya sendiri lagi.
Pada akhirnya inilah yang terjadi.
---
akhirx yg ditunggu-tunggu...