๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Wentz?” Nicole tidak melihatnya di depan komputer seperti biasanya.
Pintu kamar mandi tertutup dan dikuci dari dalam. Wentz pasti ada di dalam.
“Wentz?” Nicole mulai mengetuk pintu.
Tapi, Wentz tidak menjawab. Nicole pun kembali ke bawah. Mungkin dia sedang mandi jadi tidak bisa mendengar, pikirnya.
Tidak. Tidak seperti itu. Wentz malah terduduk di sudut dengan wajah ketakutan dan mata merah. Ia berusaha untuk tidak bersuara dan menahan air mata yang ingin menetes.
Teringat olehnya sosok Juny yang dulu pernah dilihatnya lalu membandingkannya dengan yang barusan ia lihat. Gadis itu kurus, dan kelihatan sakit. Dia tampak tak terurus dan lebih dari itu, ia mengalami siksaan mental yang luar biasa selama ini.
Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku malah membuatmu menderita?
Tapi, semua sudah terlambat. Apa dayanya sekarang? Juny sudah terlanjur megalami hal yang sangat ia takutkan selama ini...
---
“Kau dari mana?” lelaki itu bertanya dengan wajah gusar ketika melihatnya masuk.
“Aku...hanya membeli apel” jawab Juny gemetar denga memegang kantong berisi apel segar, “Kau mau?”
“Darimana kau dapat uang?” tanya lelaki itu seperti mencurigai.
“Seorang wanita menawariku pekerjaan, dia yang membelikannya”
Lelaki itu tersenyum, “Bagus kalau begitu, aku tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk keperluanmu” katanya. “Aku mau pergi, aku ingin begitu aku pulang, tempat ini sudah tidak berantakan lagi”
“Aku tahu...” katanya.
Lalu lelaki kasar itu pergi.
Juny mengambil nafas lega. Lebih baik jika dia pergi. Ia tidak perlu mendengarkan amukan dan cercaan serta siksaan menyakitkan untuk sementara. Ia bisa bekerja membereskan apartemen jelek itu dengan tenang. Tapi, ada kalanya ia menangis. Selain karena kesepian, ia juga merasa sangat tidak berguna. Kadang Rick memperlakukannya dengan baik, dengan membelikannya pakaian baru atau hal-hal yang membuat Juny memaafkan kesalahannya. Tapi, belakangan ini Rick lebih sering menyiksanya. Seakan tidak membutuhkannya lagi selain untuk membereskan rumah yang berantakan dan membuatkannya makanan. Beruntung jika Rick memakannya saja walau banyak komentar, tapi ada juga saat Rick memaksanya memakan makanan buatannya secara paksa karena dia pikir itu tidak enak. Atau dia akan membantingnya ke lantai sambil memaki-maki.
Akhirnya Juny, mengetahui alasan mengapa Rick memperlakukannya demikian buruk. Lelaki bertato itu tengah memacari gadis lain yang rupanya juga sering diajaknya ke rumah. Buktinya, Juny menemukan barang-barang perempuan yang bukan miliknya berada di antara pakaian Rick. Seperti lipstick, anting-anting, hingga pakaian dalam. Hatinya sakit. Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Jika Rick membuangnya ke jalanan, siapa yang akan menjaganya? Gadis rendahan seperti dirinya, sudah tidak sudi lagi dicintai oleh lelaki baik-baik. Karena lelaki seperti itu pasti selalu memandang rendah dirinya.
Juny tidak sekolah. Ia tidak bekerja, kadang Rick memberinya uang untuk membeli keperluannya. Hanya saja sekarang sepertinya ia harus berusaha sendiri agar ia tidak mencuri lagi.
Untung saja, ia bertemu wanita yang bernama Nicole itu.
Setidaknya di siang hari ia bisa meninggalkan tempat menyebalkan ini seharian penuh dan Rick tak akan marah. Bagus buatnya, apabila Juny tak lagi menumpang dengannya sehingga ia bisa mengajak gadis manapun untuk berkencan. Juny bisa bernafas lega walau hanya sejenak.
---
Keesokan harinya. Ia datang ke rumah itu tapa mengenali wanita itu lebih jauh, yang pasti dia baik sekali karena sering menolongnya dalam kebetulan yang sangat aneh. Wanita itu menyambutya sangat ramah lalu memperkenalkannya kepada keluarga kecilnya. Putranya, Kevin, putrinya yang masih bayi bernama Kelly dan suaminya, seorang pria bertubuh tinggi berusia sekitar 34 tahun dan tampan, bernama Wentz Neville.
Juny shock! Ia terdiam beberapa saat namun dengan cepat Wentz menguasai keadaan.
“Aku harus kembali bekerja” katanya sambil naik ke lantai atas.
Nicole mulai memperlihatkan seluruh isi rumah agar Juny terbiasa di saat Juny memutar otaknya kembali ke masa-masa itu. sebelum, ia bisa melihat semuanya. Tidak salah lagi...
“Kau tidak apa-apa, Juny?” tegur Nicole saat ia tak menjawab pertanyaan wanita itu.
“Aku ingin ke toilet...” kata Juny.
Nicole memberitahunya dan Juny langsung masuk. Ia duduk di atas toilet sambil mengatur nafas. Mencoba menerima kenyataan apa yang ia lihat dan rasakan memang benar. Tidak salah lagi. Suaranya sama persis...
Dan seperti itulah rupa yang pernah sangat ingin ia lihat dan selalu ia rindukan.
Juny berusaha untuk bisa menguasai dirinya sendiri agar Nicole tidak mengetahuinya. Namun ia malah menangis karena sedih. Kenapa aku bisa bertemu lagi dengan orang itu?
---
“Apa yang harus kulakukan sekarang?!” celetuk Juny, emosi dan marah. Separuh menangis dan kebingungan. Kedua tangannya terus bekerja tapi perasaannya tidak tenang. “Sudah kubilang, aku tidak butuh penjelasan, karena kupikir apapun alasanmu itu urusanmu”
Nicole sedang keluar menjemput Kevin sekolah. Sebentar lagi ia segera pulang dan Juny sama sekali tidak ingin wanita itu mengetahuinya. Wentz segaja pulang tengah hari hanya untuk menemuinya dan bicara karena hanya pada saat itu ia bisa punya kesempatan.
“Kau harus mendengarkanku, aku...” Wentz memaksa.
“Aku bukan gadis kecil lagi!” cetusnya. “Terlebih, aku juga tidak buta...”
“Aku tidak tahu semuanya akan seperti ini, aku pikir...”
“Semua juga tidak ada yang tahu! Lagipula kau kenapa? Seperti itukah kau memohon padaku agar aku memaafkanmu?” tandas Juny yang ingin Wentz segera menjauh. “Seperti bukan kau saja...”
“Entahlah, belakangan ini aku terus memikirkannya. Apa yang sudah kulakukan dan apa yang terjadi padamu” kata Wetz. “Dengar, aku bisa memberimu uang. Kau tidak perlu melakukan semua ini dan tinggalkan laki-laki itu!”
“Beri aku alasan kenapa aku harus kembali mendengarkanmu!” balas Juny. “Memangnya kau akan mejadikanku apa?!”
“Itu bukan masalah penting sekarang!” Wentz tetap memaksa sambil menggenggam tangan Juny seperti hendak membawanya pergi. “Kau ikut aku. Kau harus pergi dari sini karena aku akan mencarikan tempat di mana kau bisa tinggal dengan tenang!”
“Lepaskan! Kau pikir kau siapa?!” Juny meronta. “Aku bahkan tidak mengenalmu! Aku beruntung saat itu aku buta jadi 3 tahun ini aku tidak perlu mengingat seperti apa wajahmu dan merasa sakit hati!”
‘Apa?!” Wentz mulai marah da kembali memaksanya untuk ikut dengannya.
“Kau meninggalkanku!” teriak Juny. “Itulah masalahnya. Walaupun aku sudah tahu alasannya itu sudah tidak penting lagi bagiku! Jadi biarkan aku hidup seperti yang aku inginkan! Apa aku akan menyakiti Nicole yang sudah baik padaku?”
Tiba-tiba Kelly menangis. Juny melepaskan diri darinya untuk bisa mengambil Kelly yang sedang duduk di kursinya. Ia pasti ketakutan medengar pertengkaran mereka.
“Apa maksudmu kau sudah tahu?”
“Kau meninggalkan aku untuk mejemputnya ke London” jelas Juny sambil menggending Kelly da berusaha membuatya diam. “Setelah kupikir, jika aku mempermasalahkan apa yang terjadi itu juga tidak baik untukku, untukmu dan keluargamu”
Wentz terdiam.
“Hiduplah dengan baik” kata Juny, menahan tangis. “Kau terlalu banyak menyakiti orang lain. Apa kau masih bisa hidup dengan cara seperti itu?”
Suara mobil terdengar memasuki halaman depan. Nicole sudah datang!
‘Aku mohon...” pinta Juny agar Wentz segera pergi dan tidak mengganggunya lagi.
Wentz yang bingung pun kesal. Ia segera naik ke lantai dua. Kesal pada dirinya sendiri.
----
Komentar
0 comments