๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Lelaki yang memukulinya itu ternyata pacarnya sendiri” jelas Nicole saat menceritakannya pada Wentz di rumah sebelum tidur. “Aku sangat kasihan padanya. Kau tahu, dia sangat cantik. Hanya saja dia agak sedikit kotor dan kurus. Mungkin usianya sekitar 19 atau 20 tahun.”
“Lalu?” tanya Wentz yang tidak terlalu antusias.
“Tadi aku ingin membawanya ke rumah kita. Setidaknya luka di wajahnya harus diobati” sambung Nicole. “Tapi, dia menolak dan buru-buru pergi...”
Wentz diam.
Setiap hari seperti neraka. Begitu pula sekarang. Melihat Wentz begitu acuh. Tak ubahnya seperti dulu. Siksaan dari Wentz mungkin lebih pedih. Terlebih dia tidak pernah melakukan sesuatu untuk orang lain. Pernah ia bertanya, seperti apakah wanita yang saat ini telah merenggut hati dan jiwanya?
“Aku berpikir untuk memberinya pekerjaan.” Kata Nicole sebelum mereka mengakhiri obrolan mereka. “Besok aku akan menemuinya untuk memberi kabar baik ini”
“Apa kau yakin dia bisa dipercaya?” tanya Wentz.
Nicole mengangguk-angguk dengan sungguh-sungguh.
“Kalau begitu besok aku akan menyuruh Juny datang.” Katanya sedikit lebih bersemangat.
“Juny?” Wentz mengernyit heran.
“Iya, gadis itu. dia bilang namanya Juny” jelas Nicole.
“Sebaiknya dibatalkan saja” celetuk Wentz tiba-tiba. “Kau tidak mengenalnya dengan baik. Terlalu cepat untuk mengambil keputusan seperti itu apalagi kau baru bertemu dengannya sekali. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya nanti?”
“Tapi,..”
“Sebaiknya kau menghubungi anak tetangga kita. Kau bilang kemarin dia mau membantu.” Kata Wentz yang entah mengapa berubah pikiran.
“Melihatnya diperlakukan seperti itu, aku jadi ingat aku yang dulu. Kau tahu aku mengaalami kesulitan saat tinggal di London...” kenangnya dan seperti akan menangis, “Aku hanya...aku hanya tidak sanggup melihatnya jadi kupikir sebaiknya aku memang menolongnya...”
“Sudahlah” ujar Wentz mendekat lalu memeluknya. “Jangan pikirkan dia lagi...”
“Wentz?” Nicole heran, kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu.
“Di luar sana banyak orang yang seperti itu. kadang-kadang hidup memang tidak adil untuk mereka. Tapi, bukankah Tuhan tetap mencintai mereka. Jadi...kau tidak usah memikirkan hal itu” ujarnya lagi.
Sementara Nicole mengabaikannya karena tiba-tiba Wentz jadi baik padanya. Walaupun rasanya agak aneh tapi mungkin saja Wentz mencoba untuk lebih perhatian karena kesibukannya. Jika benar begitu, maka baguslah. Tapi, tetap saja, Nicole tidak tahu apa yang ada di pikiran Wentz saat mendadak ia menjadi begitu hangat.
------
“Apa kau punya masalah di kantor?” Nicole memberanikan diri bertanya setelah Wentz diam dan tampak memikirkan sesuatu sambil merokok dan menatap langit-langit kamar. Baginya, ini bisa jadi saat yang paling tepat untuk memperbaiki kerenggangan mereka.
“Tidak.” Jawabnya singkat, tapi masih kelihatan berpikir. Sepertinya ada banyak hal yang melintas di atas kepalanya saat ini.
“Lalu?” tanya Nicole lagi. Mendekat sambil bersadar ke sisinya. “Apa yang membuatmu seperti ini?”
“Tidak ada, aku hanya...” Wentz menjawab. Tapi dengan ragu-ragu ia berhenti dan diam. Lalu berpikir sejenak sebelum merangkul Nicole ke dekatnya. “Aku hanya lelah” jawabnya.
Keesokan hari, Wentz bangun pagi-pagi sekali. Keadaannya tampak tidak baik namun ia tetap mengenakan jas kerjanya dengan rapi walau ia tampak agak lelah. Karena semalam tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang kembali membuatya gelisah, namun ia terus mencoba untuk mengabaikannya dengan melakukan hal-hal yang sangat jarang ia lakukan. Seperti mengantar Kevin sekolah, lalu menjemputnya tepat waktu. Menungguinya saat latihan baseball dan pergi makan ke restoran cepat saji. Setibanya di rumah ia mulai sibuk dengan Kelly dan menemani Kevin main game hingga bocah itu tertidur kemudian memindahkannya ke kamar.
Wentz pulang tepat waktu untuk makan malam di rumah dan menemani Kevin belajar. Meski ia tidak terlalu banyak tersenyum, ia cukup menikmati apa yang dia lakukan. Jika masih belum tenang juga, ia bercinta dengan istrinya. Semua hanya untuk mengabaikan nama itu. nama yang masih tersimpan di hatinya sampai sekarang.
---
Hari Minggu datang lagi. Wentz mengajak Kevin bermain baseball di luar. Sementara Kelly bersama Lola, pengasuhnya, di rumah. Sedangkan, Nicole kembali pergi berbelanja dengan mobil ke tempat langganan. Ia ingin membeli sayuran, buah, susu, sereal, roti dan beberapa jenis makanan instan. Seperti biasa, ia mendorong troley untuk membawa barang-barang yang dibelinya. Saat itulah, ia kembali melihat si gadis malang tengah berjalan seorang diri di antara tumpukan apel merah nan segar sambil melihat-lihat.
Nicole terdiam beberapa saat, apakah ia akan meghampirinya? Wentz melarangnya untuk terlalu percaya pada orang yang baru dikenal. Lagipula, mungkin Wentz benar. Gadis itu mempunyai pacar seorang berandal yang pasti sering mencuri dan merampok. Bisa saja sesuatu yang buruk akan terjadi padanya bila ia sempat berurusan dengan gadis itu. Nicole pun hanya memperhatikannya dari kejauhan sebelum ia memutuskan untuk kembali berbelanja. Tapi, ia malah melihat gadis itu mengambil sebuah apel dan langsung menyempunyikannya di balik jacket.
Lalu dengan santainya ia berjalan mengira aksinya tidak ketahuan.
Nicole juga menyaksikan gadis itu ternyata dicegat oleh seorang penjaga yang kemudian menyeretnya.
Kasihan, dia bahkan harus mencuri sebuah apel yang harganya tidak seberapa karena tidak mempunyai uang sepersen pun. Maka iapun tidak bisa berdiam diri.
Gadis itu merasa malu padanya.
“Kau tidak ingat aku?” tanya Nicole saat menemaninya, memakan buah apel yang akhirnya dibayar oleh Nicole untuknya.
Gadis itu kelihatan sangat kelaparan. Lagi-lagi ada luka di pelipis kirinya.
“Ya” jawabnya singkat dan murung.
“Apa kau mau ikut ke rumahku?” ajak Nicole. “Aku punya banyak makanan”
“Tidak, terima kasih...” Gadis itu menolak dengan raut sedih. “Aku harus pergi, dan...terima kasih untuk apelnya...”
Tapi, Nicole memaksanya dan membawanya pulang. Nicole membuatkan makanan untuknya dan ia pun dengan lahap megahbiskan soup jagungnya.
“Suami dan anakku sedang keluar.” Jelas Nicole sambil menggendong Kelly. “Sebentar lagi mereka pasti kembali”
Juny tidak banyak bicara. Ia duduk diam, namun belum hilang ketakutan di wajahnya. Mungkin dia memang selalu begitu. Seperti ada sesuatu yang akan selalu datang mengejar untuk menangkapnya. Di manapun ia merasa tidak aman.
“Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur masalahmu, tapi...apa kau tidak merasa bahwa ini sudah tidak normal?” Nicole kembali mengajaknya bicara.
“Aku tidak punya siapa-siapa. Aku juga tidak punya tempat tinggal. Hanya dia yang aku punya...” gadis itu menjelaskan. “Jika aku meninggalkannya, aku harus hidup di jalanan. Aku pasti akan bertemu orang yang lebih buruk darinya...”
“Apa tidak ada anggota keluarga lain yang bisa menampungmu?”
“Mereka sudah tidak ingat aku” jawab Juny.
“Lalu...sebelum ini kau tinggal dengan siapa?”
“Dulu ada. Orang lain, aku tidak terlalu mengenalnya karena tidak pernah melihatnya...”
“Maksudmu?”
“Dulu aku buta” jawab Juny tertunduk. “Setelah operasi dia meninggalkanku begitu saja.”
“Kenapa kau tidak mencarinya?”
“Aku tidak menemukannya... lagipula untuk apa. Kalau dia masih mau menjagaku tentu dia tidak akan meninggalkanku...”
Nicole terhenyak. Malang sekali. Tuhan memberimu wajah yang sempurna, tapi mengapa Ia memberimu nasib yang sangat buruk.
“Mom!” Kevin terdengar memanggil dari ruang depan. Ia masuk sambil membawa bolanya.
“Hai, sayang. Mana Dad?” tanya Nicole menyambutnya.
“Bukankah Dad ada di atas? Kami sudah pulang dari tadi” jawab Kevin. “Aku pergi ke rumah Steve”
“Oh, benarkah?” Nicole melirik ke atas tangga dan berniat untuk memanggil Wentz agar turun supaya ia bisa mengenalkannya. Mudah-mudahan saja, Wentz tidak akan berpikiran buruk lagi tentangnya. “Tunggu sebentar ya, Juny”
“Eh...maaf, Nyonya..., em...aku rasa aku harus segera pergi...”
“Kenapa buru-buru sekali?”
“Aku tidak bisa menghilang terlalu lama. Kau tahu sendiri, aku...aku...”
“Tapi, aku baru akan mengenalkanmu pada suamiku...”
“Mungki lain kali, Nyonya...” jawab Juny canggung.
“Panggil aku Nicole saja” kata Nicole.
“Terima kasih untuk makan siangnya...” ucap Juny lalu pergi dengan murung.
Setelah mengantar Juny keluar, Nicole naik ke lantai dua untuk memberitahu Wentz bahwa ia mengajak gadis yang diceritakan tempo hari padanya. Apa yang akan dikatakannya nanti?
yahhh sayank belum sempat juny ketemu Wentz klau ketemu juny G kenal karna dia buta tapi... dari nama juny pasti sangat ingat, lanjutttt
Juny psti tahu klo itu Wentz..
Org yg dluny buta pny feeling yg kuat dgn org yg dikenalny.. Lnjuttt
Pasti ketemu kok....hahahaha
setahu aku sih biasanya orang buta bisa merasakan lebih banyak dibandingkan sama orang yang normal...
Sabar ya...