[Hal. 8] WHEN I'M GONE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kecintaan pada sesuatu membawa kita pada arti hidup sesungguhnya. Sebagian orang sudah meemukannya dan sebagian lagi masih terus mencari.

Juny berteriak kegirangan sambil melompat ke atas gundukan salju yang menutupi seluruh rumput taman. Ia berbaring di sana dan mulai mengepakan kedua tangan dan kakinya seperti anak kecil yang baru pertama kali mencobanya. Dan tiba-tiba wajahnya terasa dingin terkena es yang bahkan sampai masuk ke mulutnya. Ia lihat wentz di seberang sana tengah membuat bola-bola kecil untuk dilemparkan. Lalu melemparnya sekali lagi sambil tertawa-tawa.

Juny mulai membalas sambil mengejarnya. Wentz berlari sejauh mana taman salju itu membentang. Jauh sekali. Lalu butiran-butiran dingin itu kembali turun. Juny menengadahkan wajahnya ke atas dan tak pernah merasa sesejuk ini sebelumnya. Dingin salju terasa menyegarkan. Ia berputar untuk merasakannya lebih dalam menyentuh hatinya yang sudah lama tertekan.

“Juny!” seseorang terdengar memaggilnya.

Bukan Wentz yang masih berdiri di sampingnya dan memperhatikan gerak-geriknya.

Keduanya menoleh dan melihat seorang pria tua berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu didampingi oleh seorang wanita tua yang pasti adalah istrinya.

Salju menghampar luas, Musim dingin sudah datang ketika kau merindukan suaraku, aku sudah pergi...

Juny menoleh pada Wentz sambil tersenyum.

---

Tidak salah lagi. Ia pernah melihat pasangan tua itu seringkali lewat di depan rumahnya. Tapi, sudah lama sekali mereka tak terlihat.

Pria itu tersenyum padanya seolah mengucapkan terima kasih.

Senyum seperti itulah yang  ia lihat diwajah Juny sebelum dia membaku dalam tidur panjang. Itu adalah kematian pertama yang pernah ia saksikan. Di dekatnya. Namun dalam mimpinya, ia merasa kehadiran Tn. dan Ny. Dunstmore adalah untuk menjemput cucu kesayangan mereka. Ia juga merasa melihat pasangan suami istri yang menunggu Juny tidak jauh dari kakek dan neneknya. Pasti mereka orang tuanya karena Juny perah cerita bahwa keluarga nya seolah memanggilnya untuk ikut dengan mereka. Untuk pergi ke tempat yang indah seperti yang pernah diucapkannya.

Karena dia sendirian di dunia ini.

Sudahkah kau berada di tempat yang indah yang paling kau inginkan?

Juny pernah berbisik “Hiduplah untuk bahagia...”

Ketika ia tersadar, ia melihat Nicole berada di sampingnya. Wanita itu kembali untuknya. Yang bahkan ikut menangis saat menemukan Juny telah tewas di samping Wentz ketika ia baru datang. 

Tapi, wanita itu tidak serta merta mau meberimanya kembali. Ia hanya datang karena Kevin ingin melihat ayahnya. Lalu ia pergi lagi dan datang sesekali untuk menengok.

“Setelah sembuh apa rencanamu?” tanya Lindsey, adik Wentz yang sengaja datang jauh-jauh untuk menjaganya di rumah sakit.

“Aku masih punya pekerjaan...” jawab Wentz singkat.

“Baguslah” kata Lindsey. “Tapi, perjalanan masih sangat panjang. Sebelum itu kau harus kembali belajar berjalan. Kau butuh waktu lama untuk sembuh”

“Aku tahu”

“Tidakkah terpikir olehmu untuk meminta Nicole kembali? Kau butuh seseorang yang bisa mengurusmu”

Wentz tersenyum kecut.,“Aku sudah terlalu sering melukainya. Entah dia masih bisa bertahan atau tidak nantinya”

“Kau jauh berubah, Wentz” Lindsey berpendapat. “Kau melakukan hal-hal yang membingungkan semua orang. Mulai dari menjual rumah mewahmu untuk biaya operasi seorang gadis buta yang hanya tetangga sebelah. Lalu kau jatuh cinta padanya tapi menikahi Nicole. Tiba-tiba kau kembali pada gadis buta itu dan mengalami hal ini. Aku tahu berat bagimu untuk menerima bahwa gadis itu telah tiada, tapi perbaikilah hidupmu dari sekarang”

‘Ya,...aku tentu akan melakukannya” jawab Wentz pelan dan bertahan dari rasa sakit di sekujur tubuhnya yang masih terasa amat menyiksa.

“Aku ingin keluar membeli makanan. Oh ya besok aku harus kembali. Tapi, Mom mungkin akan ke sini untuk menjagamu.” Kata Lindsey sambil berdiri dan bersiap hendak keluar. “Oh ya pastikan kau mendengarkan semua kata dokter dan...kuharap setelah keluar dari sini kau tidak akan mengencani perawat yang menjagamu”

Wentz tertawa. Lindsey pun ikut tertawa.

‘Sampai nanti”

Masih terlalu lama. Setiap hari harus bersabar dengan rasa sakit. Ya, keadaan ini memang luar biasa sulit. Tapi, untuk bangkit kembali memang tidak mudah. Setiap hari pula ia harus mengikuti terapi penyembuhan yang menyakitkan dan kadang membuatnya putus asa. Susahnya untuk bisa berjalan kembali. Ayah dan ibu datang bergantian untuk menjaganya di rumah sakit hingga terapi penyembuhan yang berlangsung lama itu selesai.

Jika ada mereka Wentz tidak perlu merasa kesepian. Tapi kadang, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Begitu ia lihat pasien lain yang didampingi oleh keluarganya ia merasa iri. Beginikah rasanya setelah menyadari apa yang sudah hilang?

Apa yang kupikirkan? gerutu batinnya yang kesepian menahan kerinduan untuk bisa bersama keluarga kecilnya lagi.

Musim panas, matahari cerah bersinar dari singgasananya. 4 bulan berlalu sejak hari-hari yag ia lalui dengan terkungkung di rumah sakit. Setidaknya ia sudah bisa berjalan dengan tongkat walaupun masih kesulitan. Akhirnya Wentz bisa pulang. Ia berencana untuk pulang ke rumahnya karena ingin berada di sana saat ia merasa merindukan anak-anaknya. Ia tengah menyiapkan tas bawaan berisi pakaian untuk dibawa selagi menunggu jemputan taksi yang sudah dipesannya. Wentz sengaja tidak memberi tahu orang tua dan adiknya bahwa ia berencana pulang lebih cepat dari yang direncanakan dokter karena tak mau merepotkan mereka.

Lalu seseorang mengetuk pintu.

“Masuk” serunya sambil memasukan pakaian ke dalam tas sebelum melihat siapa yang datang.

“Apa kau keberatan jika aku membantumu...Wentz?”

Wentz segera menoleh. Ia melihat Nicole datang! Lalu tersenyum melihat anak-anaknya juga ikut menjenguknya. Kevin sudah agak lebih besar dan Kelly sudah bisa berjalan dan mengucapkan beberapa patah kata. Betapa bodoh dirinya yang telah menyia-nyiakan mereka.

“Dad sudah bisa berjalan?” tanya Kevin.

“Sepertinya Kelly lebih pandai” jawab Wentz tersenyum. “Hai, jagoan! Kau sudah lebih besar. Apa kau selalu mejaga ibumu dengan baik?”

‘Tentu, Dad!” sahutnya.

Wentz mengalihkan perhatiannya pada balita yang baru bisa berjalan. “Ayo kemarilah, Princess” panggilnya hingga bocah itu mendekat tapi sayang ia belum bisa meggendongnya.

Nicole meraih Kelly dan mendekatkannya pada Wentz agar bisa menciumnya.

“Daddy...” panggil Kelly sambil menggapai-gapai.

“Oh sayang, Daddy belum bisa menggendongmu...” ujar Nicole membujuknya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?” Wentz menanyai Nicole.

Nicole mengangguk-angguk. “Ya, seperti yang kau lihat”

Wanita ini terlalu sabar. Membuat Wentz makin merasa bersalah.

‘Kau tidak menghubungi Lindsey atau orang tuamu?” tanya Nicole.

“Aku sudah bisa berjalan” jawabnya “Walaupun harus memakai tongkat tapi setidaknya ini lebih baik”

“Kau tetap harus hati-hati” ujar Nicole. “Kalau kau terjatuh kakimu bisa patah lagi”

Wentz tidak menjawab dan tiba-tiba merasa caggung. “Aku sudah menghubungi taksi. Sepertinya sudah datang” katanya memberitahu Nicole bahwa ia ingin segera meninggalkan tempat yang sudah menjadi kamarnya 4 bulan belakangan ini. Lalu ia mulai melangkah dengan kedua tongkat yang menopang berat tubuhnya. Dan tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan.

Nicole langsung menahannya sebelum ia sempat rubuh.

“Aku belum lama memakainya” jelas Wentz soal kedua tongkatnya. “Kelihatannya sederhana tapi ternyata sangat sulit...”

“Aku akan membantumu” ujar Nicole bersedia untuk memapahnya.

Wentz tidak kuasa menolak. Ia membiarkan Nicole menahan tubuhnya selagi berjalan dan sepertinya tampak sangat merepotkan. Sementara Kevin membantu membawakan tasnya yang berat sambil membimbing Kelly bersamanya.

“Sepertinya aku akan sangat merepotkanmu...” kata Wentz.

“Tidak apa-apa” jawab Nicole.

‘Maafkan aku...” ucap Wentz lagi. “Aku tidak akan melakukannya lagi, aku bersumpah”

“Sudahlah, jangan membicarakannya sekarang. Sebaiknya kita pulang” ujar Nicole.

Ya, kita pulang...

End

 ---

Leaves are on the ground,

winter comes,

You long to hear my voice,

 But, I'm now gone...

~When I’m gone [Alter Bridge]


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: