๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malam itu tak selalu ada bintang. Bulan terkadang sendirian. Terkadang juga bersembunyi karena sedih, lalu langit pun menangis. Matahari yang pergi, esok akan kembali, entah dengan kegembiraan bersama teriknya atau kesedihan bersama mendung yang melanda, langit berubah keabu-abuan, daun-daun jatuh ke tanah, kekuningan dan kecoklatan. Saat itulah mereka bertemu untuk pertama kali. Jika diingat lagi Wentz Neville hanya melakukan hal-hal yang tidak berguna saja. Ia sering terlihat bersama teman perempuannya sepulang kerja, selanjutnya pulang dan meninggalkan wanita itu. mungkin setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi.
Setiap hari Wentz bekerja sebagai designer interior dan cukup berpengalaman. Seringkali ia sengaja lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu. Senggang ia gunakan untuk bersenang-senang dengan teman-teman, ke klub, minum-minum dan bertemu wanita cantik. Kadang wentz membawanya pulang. Keesokan pagi ia harus kembali bekerja dan mengulangi kejadian yang sama seperti kemarin.
Di rumahnya, ia tinggal sendiri. Di usianya yang menjelang 30 tahun, Wentz belum juga mempunyai istri. Bahkan kekasih pun Malam itu tak selalu ada bintang. Bulan terkadang sendirian. Terkadang juga bersembunyi karena sedih, lalu langit pun menangis. Matahari yang pergi, esok akan kembali, entah dengan kegembiraan bersama teriknya atau kesedihan bersama mendung yang melanda, langit berubah keabu-abuan, daun-daun jatuh ke tanah, kekuningan dan kecoklatan. Saat itulah mereka bertemu untuk pertama kali. Jika diingat lagi Wentz Neville hanya melakukan hal-hal yang tidak berguna saja. Ia sering terlihat bersama teman perempuannya sepulang kerja, selanjutnya pulang dan meninggalkan wanita itu. mungkin setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi.
Setiap hari Wentz bekerja sebagai designer interior dan cukup berpengalaman. Seringkali ia sengaja lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu. Senggang ia gunakan untuk bersenang-senang dengan teman-teman, ke klub, minum-minum dan bertemu wanita cantik. Kadang wentz membawanya pulang. Keesokan pagi ia harus kembali bekerja dan mengulangi kejadian yang sama seperti kemarin.
Di rumahnya, ia tinggal sendiri. Di usianya yang menjelang 30 tahun, Wentz belum juga mempunyai istri. Bahkan kekasih pun tidak. Ia menyukai kebebasan untuk berkencan dengan wanita manapun dan komitmen pernikahan hanya akan mengekang dirinya. Sungguh, Wentz tak punya keinginan untuk memiliki anak. Cinta baginya hanya nafsu yang nyaris tak ada artinya. Wanita pun demikian, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya dari sang pria, dia pun bisa pergi dengan cara yang menyakitkan.
Keluarga tinggal jauh darinya. Kedua orang tuanya pun lebih ingin menghabiskan sisa hidup mereka berdua saja setelah anak-anak mereka dewasa. Saat ini mereka tinggal di Minessota, sementara adik perempuan Wentz, Lindsey, sudah menikah dan mempunyai putri bernama, Jane, dan tinggal di Florida bersama suaminya. Sesekali Wentz mengabari mereka, namun pertanyaan yang sering mereka ucapkan adalah ‘Kapan kau akan menikah?’ dan ‘Apakah kau sudah menemukan wanita yang pantas?’
Dulu ada, sekiar 10 tahun lalu. Wentz memacari gadis berkebangsaan Inggris bernama Nicole Zalch selama 4 tahun menempuh pendidikan di universitas yang sama di Boston. Lalu, tidak lama setelah lulus hubungan itu pun berakhir. Sekarang Wentz tinggal di San Fransisco. Tinggal di rumah sendirian dan melakukan banyak hal untuk melarikan diri dari hidupnya yang datar-datar saja. Tanpa kekasih. Tanpa cinta. Hanya dengan melewatkan musim dengan lamunan panjang di depan jendela kaca yang menghadap ke halaman rumah dan jalan perumahan penghubung satu blok degan blok lainnya.
Dari jendela besar itu, ia bisa melihat berbagai macam orang lewat dan menjadi pemandangan yang sangat biasa. Dengan ditemani secangkir kopi, ia duduk di sofa, sambil berpikir. Lalu sepasang orang lanjut usia lewat. Mereka berjalan dengan sangat pelan. Si wanita bertumpu dengan sebatang tongkat sementara si pria masih cukup kuat memegangi tangannya. Meski kesulitan, kaki-kaki tua yang lelah itu terus melangkah.
Mereka pasti bahagia, pikir Wentz memandangi mereka melintas yamg bagaikan adegan slow motion di film. Tapi, tampaknya nenek itu tidak akan bertahan lebih lama. Dia akan segera meninggalkan pria tua itu dan begitulah ironi kehidupan manusia yang mengagungkan cinta di atas segalanya.
Dan di satu kesempatan duduk di depan jendela itu lagi, pemandangan itu kembali ia jumpai. Pria kesepian ini pun menyadari kesendirian membuatnya begini.
Dan andai semua bisa diputar kembali. Pasti saat ini, ia tidak akan duduk sendiri seperti ini. Andai saja ia menjemput Nicole lebih cepat tentu kekasihnya itu tidak dinikahi orang lain. Walau setelah itu ia coba merampas dirinya kembali, tetap tak akan ada artinya.
Di kesempatan lain setelah itu, pasangan tua tak lagi terlihat lewat di depan rumahnya. Saat itu musim gugur menjelang. Daun-daun menguning dan jatuh. Terpikir olehnya utuk mencari pekerja yang bisa membersihkan halaman yag terutup daun berguguran. Tapi, ini pemandangan khas musim gugur di mana ia duduk dengan sebotol anggur malam hari lalu tertidur sampai pagi di atas sofa.
Hari minggu, jalan depan rumah biasaya ramai oleh anak-anak tetangga yang bermain sepeda atau skateboard. Tapi, karena udara cukup dingin hanya sedikit anak yang terlihat dan terdengar tawa renyahnya. Mereka sekitar 7-12 tahun. Ada juga sepasang remaja melintas dengan gelagat yang menunjukan mereka sedang jatuh cinta. Pekikan dan tawa riang membuat musim gugur ini terasa hidup walau daun-daun terus berjatuhan dari dahannya.
Lalu, lewatlah si kakek tempo hari dengan cucu perempuannya yang buta. Wentz sudah lama tahu, tetangga yang tinggal di ujung blok itu mempunyai seorang cucu perempuan. Tapi, tidak pernah melihatnya sebelum ini. Baru-baru ini Wentz juga sudah mendengar bahwa Ny. Dunstmore meninggal dunia, hanya saja tidak sempat melayat karena terlalu sibuk dengan serba-serbi dirinya.
Cukup aneh memang, tapi ini pertama kalinya Wentz melihat orang buta. Tepatnya, orang buta itu adalah seorang gadis muda dan mengherankan baginya karena gadis itu berpenampilan sangat rapi. Rambutnya yang kecoklatan dikepang dua. Tak mungkin si kakek tua itu yang melakukannya. Gadis itu, usianya sekitar 15 tahun. Ia mengenakan gaun terusan berwarna hijau dengan stoking putih. Kedua kakinya yang panjang memakai boot berwarna coklat tua serasi dengan topi rajutannya yang bergaris putih. Dengan sebilah togkat ia meraba-raba jalan di depannya.
Setelah mereka berlalu. Wentz meninggalkan cangkir kopinya di atas meja lalu meraih gagang telpon. Dedaunan itu harus dibersihkan.
----
Pagi esok hari, seorang mengetuk pintu depan. Wentz tahu pasti tukang kebun yang biasa ia hubungi kemarin.
“Maaf, aku datang ke sini karena Philip sedang ada pekerjaan lain. Jadi dia memintaku untuk menggantikannya” seorang kakek tua berdiri di hadapannya di saat ia cukup terkejut melihatnya. “Apa anda tidak keberatan, Tuan?”
Wentz sempat terdiam beberapa saat memandang pria tua berambut putih itu. “Oh, tentu” jawabnya kikuk. “A..aku sama sekali tidak keberatan...”
Masalahnya bukan karena pria itu sudah terlalu tua untuk mengerjakannya. Tapi, kakek tua itu membawa serta cucu perempuanya yang buta.
“Dia Juny, cucu perempuanku satu-satunya.” kata Tn. Dunstmore memperkenalkan gadis yang ia bawa. “Dia tidak bisa melihat jadi aku megajaknya karena pekerjaan ini tidak lama”
Gadis itu tersenyum. Kedua bola matanya yang kaku menjurus ke depan. Namun berbinar. Sungguh indah. Membuat Wentz terpaku beberapa saat sebelum Tn. Dunstmore mulai bekerja dan cucu perempuannya duduk di bangku taman menunggu kakeknya sembari mendengarkan musik dengan zune-nya. Ia tampak tenang dan asyik mendengarkan lagu.
Wentz memperhatikannya dari kejauhan. Dari dalam rumah, dari tempat saat pertama kali ia melihatya lewat. Bagaimana dia bisa bertahan degan keadaan seperti itu?
“Terima kasih banyak, Tn. Neville” ucap Tn. Dunstmore saat menerima sejumlah uang sebagai bayaran atas pekerjaannya hari ini. Ia menolak masuk karena harus mengerjakan hal lain.
Juny, si gadis buta masih duduk di bangku taman menunggu kakeknya.
“Tapi, ini terlalu banyak...” katanya lagi begitu menyadari jumlah yang diterimanya lebih dari yang ia
kira.
“Tidak, ambillah” ujar Wentz “Untuk cucumu juga”
“Oh, terima kasih, Tuan. Anda baik sekali” ucap Tn. Dunstmore lagi.
Wentz mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu sejenak.
“Cucumu itu...sejak kapan dia tidak bisa melihat?” tanya Wentz.
Tn. Dunstmore menoleh ke cucunya. “Dia sudah buta sejak lahir” jelasnya “Setelah tragedi 11 September, ayahnya dikirim ke Timur Tengah dan tidak pernah kembali. Putriku, Julia, meninggal dunia setelah mendapat kabar bahwa suaminya gugur dalam peperangan”
Wentz diam.
“Baiklah, Tn. Neville. Kami harus segera pergi...” kakek itu pamitan.
“Ya, terima kasih, Tn. Dunstmore” balas Wentz sambil tetap mengamati Juny dari pintunya.
Selangkah demi selangkah, Tn. Dunstmore meninggalkan teras untuk menghampiri cucunya. “Juny, ayo kita kembali” ajaknya memberi tanda bahwa ia harus segera berdiri dan pergi.
“Apa kakek lelah?” tanya gadis itu dengan suara lembut.
“Tidak. Kakek tidak lelah” jawab Tn. Dunstmore.
“Apa kakek mau aku buatkan kopi begitu kita sampai di rumah?”
“Ya, tentu, aku pasti menyukainya...”
“Tn. Dunstmore!” panggil Wentz tiba-tiba sambil berlari menyusul mereka yang asyik mengobrol.
“Ada apa, Tuan?” sahut Tn. Dunstmore membalikan badannya.
“Apa kau bisa kembali besok hari? Aku punya pekerjaan untukmu” Wentz memberi tahu. Tapi, tak tahu pekerjaan apa yang dimaksudnya. Ia akan memikirkannya sebelum esok tiba.
“Tentu, Tuan. Aku akan kembali besok”
Apa pekerjaan ringan yang sekiranya bisa dikerjakan orang tua itu?
Wentz orang yag rapi, setiap sudut rumah tertata dengan baik. Tapi, mana mungkin Tn. Dunstmore akan membereskan rumah? Dia dibayar bukan untuk pekerjaan seperti pembantu.
---
“Silakan masuk, Tn. Dunstmore”
Kakek tua itu kelihatan canggung. Ia biarkan Juny masuk lebih dulu dengan meraba-raba. Lalu keduaya duduk di sofa sementara Wentz membuatkan teh untuk mereka.
“Di rumahku tidak ada apa-apa” jelas Wentz yang hanya bisa menyuguhkan dua cangkir teh saja. “Aku sering makan di luar karena sibuk bekerja”
“Itu saja sudah cukup, Tn. Neville” jawabnya. “Kami tidak mau terlalu merepotkanmu...”
“Sebenarnya kemarin terpikir olehku untuk mengecat dan menata ulang rumah ini. Karena itu kemarin aku memintamu datang. Tapi, pekerjaan itu pasti sulit bagimu. Hanya saja, aku sudah tahu, kau bisa mengerjakan apa saja. Kudengar kau punya toko furnitur “
“Itu tidak ada hubungannya, Tuan” kata Tn. Dunstmore. “Aku sudah menjualnya”
“Aku hanya berpikir untuk meambahkan perabotan baru. Karena design interior rumah ini sangat membosankan...” jelas Wentz. “Apa kau mau memberiku referensi, sebagai orang yang sangat berpengalaman?”
“Well, jika kau minta saranku...bukankah rumah ini sudah sangat bagus dan design nya sudah sangat pas?” tanya Tn. Dunstmore setelah megamati sekitarnya. “Design seperti ini pasti tidak dikerjakan oleh sembarang orang”
Ketahuan juga. Dirinya hanya mencari-cari pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dia sendiri pun seorang designer interior. Dia sendiri-lah yang menata rumahnya dengan sangat apik.
“Ini sulit bagiku, tn. Neville. Aku hanya menjual furnitur biasa. Lagipula di usiaku yang sudah tua ini, banyak hal yang sudah berubah. Design dan bahan furnitur sekarang sangat beragam. Tapi, kalau kau mau aku masih punya kenalan yang bisa membantumu mendapatkan semua kebutuhanmu” ujar Tn. Dunstmore.
“Itulah maksudku, Tn. Dusntmore. “ katanya. “Aku...aku sangat bosan dengan suasananya. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya karena jarang ada di rumah. Tapi, saat ini aku sedang cuti”
Wentz melirik Juny.
Gadis itu hanya tak bisa melihat. Tak ada lagi yang menarik untuk dipikirkan. Lagipula usianya 15 tahun, mana mungkin? Pikirnya penasaran dengan pikirannya sendiri. Apa yang ia rasakan hanya perasaan kasihan. Tapi, apa bila memang hanya itu, di jalanan pun ia melihat banyak orang yang keadaannya jauh lebih menyedihkan, dan ia bisa melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Beberapa hari ini, ia seperti orang gila. Seperti peramal gila yang mencemaskan hari kiamat akan tiba.
Tapi, perasaan itu tak lantas membuatnya menyadari dan berkata ‘Inilah takdirku, bersamanya’. Tidak, bukan itu pula yang diinginkannya. Tidak bisa dipungkiri, wajah cantik yang membuatnya tertarik dan tatapan kosong ciri khas orang buta, yang ketika menatapnya ia seakan ingin menangis. Sepasang mata indah berwarna kecoklatan yang tak bisa melihat. Pertama, itulah yang membuatnya jatuh cinta. Lalu, suaranya yang lembut dan terdengar lemah.
Aku bukan pria yang baik untuk seorang gadis 15 tahun yang begitu naif tentang dunia yang tak pernah ia lihat, pikirnya. Firasat menggelisahkannya lebih dulu, sebelum ia sempat menepis dugaan perasaannya sendiri. Kegelisahan yang tak bisa dihilangkan oleh secangkir kopi, menghisap berbatang-batang rokok, minum anggur dan tidur bersama wanita cantik. Pada akhirnya menyerah juga.
---
“Aku merasa sangat merepotkanmu. Ketidakmampuaku mejaganya seorang diri membuatmu harus terlibat dalam masalah kami. Tapi,...tidak ada yang bisa menampung Juny. Walaupun dia bisa membuat kopi, bisa mengepang rambutnya sendiri, dan bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah. Dia mempunyai banyak keterbatasan...apabila aku sudah tidak ada... siapa yang akan memperhatikannya...”
Seharusnya Juny dioperasi, tapi mereka tidak berdaya.
“Aku yang akan menjaganya” kata Wentz tiba-tiba tapi ia sendiri juga merasa tidak enak, seperti memaksa. Seperti serigala jahat, yang ingin memangsa si kerudung merah dengan tipu muslihat. Seperti itulah dirinya saat ini. “Aku tahu...aku...aku juga bukan orang yang baik tapi aku bisa mengawasinya...”
“Aku mengerti, aku senang...” balas Tn. Dunstmore. “Sebelum ini kami hanya bertemu dengan orang-orang yang memanfaatkan keadaan Juny untuk kesenangan mereka. Aku kasihan padanya, dia hampir menjadi sasaran empuk para berandal jalanan. Seingatku, itu sering terjadi, karena itu aku tak pernah membiarkannya pergi sendirian... orang-orang menyepelekannya karena dia buta, tapi bagiku dia sangat berharga. Dia gadis yang pintar dan kuat...”
“Aku tahu. Aku sendiri juga heran...dia mungkin beruntung”
“Kami hanya beruntung bertemu denganmu, Wentz...”
Entah mengapa harus gadis itu...
---
“Sedang memandangiku ya?” tegur Juny saat ia lagi-lagi terpana pada matanya.
Wentz pikir ia tidak akan menyadarinya, karena sepasang mata yang membuatnya terpana itu buta.
Wajah gadis itu datar, ia termenung di sudut selama perjalanan naik kereta. Dia tidak bicara sedikitpun dan Wentz juga tidak mengajaknya mengobrol. Dia selalu murung, tapi dia orang yang berbeda saat bersama kakeknya. Ya, Juny memang tidak suka beramah tamah dengan Wentz.
Hari ini, jika bukan karena terpaksa ia tidak akan sudi pergi berbelanja dengan Wentz. Tapi, hari ini adalah hari istimewa bagi Tn. Dunstmore karena hari ini adalah ulangtahunnya yang ke-81. Wentz menawarkan diri menemaninya belanja agar Tn. Dunstmore tetap tinggal di rumah tanpa melakukan apapun. Satu hari ini hanya untuknya. Mereka akan merayakannya dan makan malam bersama.
“Bagaimana kau tahu?” Wentz balas bertanya dengan tenang dan datar.
“Kau selalu melakukannya...dan itu membuatku gerah...” jawabnya ketus.
Gadis ini sangat jujur. Walau tidak bisa melihat tapi ia tahu bagaimana perilaku Wentz yang tidak disukainya. Juny tahu, Wentz suka mempermainkan wanita karena pernah satu kali ketika Juny datang ke rumahnya untuk mengambil zune-nya yag tertinggal, Wentz tengah bertengkar dengan seorang wanita. Juny mendengar langsung pertengkaran, bagaimana Wentz memutuskan hubungan degan wanita itu secara paksa, tanpa sepegetahuan Wentz sebelum Wentz mendapatinya terdiam di depan pintu dan merasa sedikit bersalah. Tapi, gadis itu pergi begitu saja dan tidak mau lagi terlalu banyak bicara dengannya. Bahkan Juny tidak mengucapkan terima kasih saat akhirnya Wentz mengantar zune miliknya.
Tapi, Wentz jadi tahu lagu apa yang paling sering didengarkan Juny. Chiquititta dan Dancing Queen. Dia juga suka lagu-lagu yang dinyanyikan Celine Dion dan Diana Ross. Wentz juga sudah lama tahu makanan kesukaan Juny dan beberapa kebiasaan yang sering dia lakukan di pagi hari dan menjelang tidur. Minum coklat panas, mendengarkan musik. Menyisir dan mengepang rambut. Juny suka sekali dengan musim dingin. Sayanng, Wentz ,menjadi satu-satunya hal yang tidak disukai Juny. Dia pun Cuma tersenyum saat bisa memandanginya tanpa ketahuan.
Suatu saat, aku akan membuka matamu agar kau melihat seperti apa rupaku. Tapi, perasaan Juny terlalu kuat akan dirinya. Seakan bisa membaca niat jahatnya itu. Karena Juny tahu, usia Wentz terpaut jauh, 14 tahun, dan pria ini tertarik padanya. Pria ini tengah mengincarnya.
Tn. Dunstmore menyambut mereka gembira. Tapi, wajah Juny selalu cemberut dan gadis ini tidak pernah bersikap demikian terhadap orang lain sebelum ini. Kakeknya tahu bahwa Juny tidak terlalu menyukai Wentz dan ia sangat terpaksa pergi dengannya. Namun, ada kalanya Juny harus membiasakan diri karena hanya Wentz satu-satunya orang terdekat mereka saat ini. Meskipun sulit. Bagi Tn. Dunstmore Wentz memang bukan laki-laki yang baik, tapi dia orang yang sangat baik.
Malam itu mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk yang terakhir kalinya bagi Tn. Dunstmore. Tidak berselang lama setelah makan malam bersama, di mana Juny terlihat tertawa bahagia bersama kakek yag dikasihinya. Wentz mengingatnya dengan baik. Semua orang yang menyayangi gadis itu, pergi meninggalkan dirinya.
Gadis itu berdiri tidak jauh dari peti mati. Ia tidak bicara, juga tidak menangis.
Wentz sedang bekerja sewaktu, seseorang menghubunginya bahwa Tn. Dunstmore meninggal dalam tidurnya. Ia buru-buru ke rumah kakek tua itu.
“Wentz...?” Juny berbalik dari peti mati, begitu ia mendekat. Gadis itu sudah merasakan kehadirannya lebih dulu sebelum Wentz sempat mengatakan sesuatu. Itu pertama kalinya, gadis itu memanggilnya dengan namanya sendiri. Seketika gadis itu menangis, mengira ia akan sendirian. Selamanya.
‘Kau masih punya aku...” katanya saat memeluk Juny dan membagi dukanya pada Wentz.
tidak. Ia menyukai kebebasan untuk berkencan dengan wanita manapun dan komitmen pernikahan hanya akan mengekang dirinya. Sungguh, Wentz tak punya keinginan untuk memiliki anak. Cinta baginya hanya nafsu yang nyaris tak ada artinya. Wanita pun demikian, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya dari sang pria, dia pun bisa pergi dengan cara yang menyakitkan.
Keluarga tinggal jauh darinya. Kedua orang tuanya pun lebih ingin menghabiskan sisa hidup mereka berdua saja setelah anak-anak mereka dewasa. Saat ini mereka tinggal di Minessota, sementara adik perempuan Wentz, Lindsey, sudah menikah dan mempunyai putri bernama, Jane, dan tinggal di Florida bersama suaminya. Sesekali Wentz mengabari mereka, namun pertanyaan yang sering mereka ucapkan adalah ‘Kapan kau akan menikah?’ dan ‘Apakah kau sudah menemukan wanita yang pantas?’
Dulu ada, sekiar 10 tahun lalu. Wentz memacari gadis berkebangsaan Inggris bernama Nicole Zalch selama 4 tahun menempuh pendidikan di universitas yang sama di Boston. Lalu, tidak lama setelah lulus hubungan itu pun berakhir. Sekarang Wentz tinggal di San Fransisco. Tinggal di rumah sendirian dan melakukan banyak hal untuk melarikan diri dari hidupnya yang datar-datar saja. Tanpa kekasih. Tanpa cinta. Hanya dengan melewatkan musim dengan lamunan panjang di depan jendela kaca yang menghadap ke halaman rumah dan jalan perumahan penghubung satu blok degan blok lainnya.
Dari jendela besar itu, ia bisa melihat berbagai macam orang lewat dan menjadi pemandangan yang sangat biasa. Dengan ditemani secangkir kopi, ia duduk di sofa, sambil berpikir. Lalu sepasang orang lanjut usia lewat. Mereka berjalan dengan sangat pelan. Si wanita bertumpu dengan sebatang tongkat sementara si pria masih cukup kuat memegangi tangannya. Meski kesulitan, kaki-kaki tua yang lelah itu terus melangkah.
Mereka pasti bahagia, pikir Wentz memandangi mereka melintas yamg bagaikan adegan slow motion di film. Tapi, tampaknya nenek itu tidak akan bertahan lebih lama. Dia akan segera meninggalkan pria tua itu dan begitulah ironi kehidupan manusia yang mengagungkan cinta di atas segalanya.
Dan di satu kesempatan duduk di depan jendela itu lagi, pemandangan itu kembali ia jumpai. Pria kesepian ini pun menyadari kesendirian membuatnya begini.
Dan andai semua bisa diputar kembali. Pasti saat ini, ia tidak akan duduk sendiri seperti ini. Andai saja ia menjemput Nicole lebih cepat tentu kekasihnya itu tidak dinikahi orang lain. Walau setelah itu ia coba merampas dirinya kembali, tetap tak akan ada artinya.
Di kesempatan lain setelah itu, pasangan tua tak lagi terlihat lewat di depan rumahnya. Saat itu musim gugur menjelang. Daun-daun menguning dan jatuh. Terpikir olehnya utuk mencari pekerja yang bisa membersihkan halaman yag terutup daun berguguran. Tapi, ini pemandangan khas musim gugur di mana ia duduk dengan sebotol anggur malam hari lalu tertidur sampai pagi di atas sofa.
Hari minggu, jalan depan rumah biasaya ramai oleh anak-anak tetangga yang bermain sepeda atau skateboard. Tapi, karena udara cukup dingin hanya sedikit anak yang terlihat dan terdengar tawa renyahnya. Mereka sekitar 7-12 tahun. Ada juga sepasang remaja melintas dengan gelagat yang menunjukan mereka sedang jatuh cinta. Pekikan dan tawa riang membuat musim gugur ini terasa hidup walau daun-daun terus berjatuhan dari dahannya.
Lalu, lewatlah si kakek tempo hari dengan cucu perempuannya yang buta. Wentz sudah lama tahu, tetangga yang tinggal di ujung blok itu mempunyai seorang cucu perempuan. Tapi, tidak pernah melihatnya sebelum ini. Baru-baru ini Wentz juga sudah mendengar bahwa Ny. Dunstmore meninggal dunia, hanya saja tidak sempat melayat karena terlalu sibuk dengan serba-serbi dirinya.
Cukup aneh memang, tapi ini pertama kalinya Wentz melihat orang buta. Tepatnya, orang buta itu adalah seorang gadis muda dan mengherankan baginya karena gadis itu berpenampilan sangat rapi. Rambutnya yang kecoklatan dikepang dua. Tak mungkin si kakek tua itu yang melakukannya. Gadis itu, usianya sekitar 15 tahun. Ia mengenakan gaun terusan berwarna hijau dengan stoking putih. Kedua kakinya yang panjang memakai boot berwarna coklat tua serasi dengan topi rajutannya yang bergaris putih. Dengan sebilah togkat ia meraba-raba jalan di depannya.
Setelah mereka berlalu. Wentz meninggalkan cangkir kopinya di atas meja lalu meraih gagang telpon. Dedaunan itu harus dibersihkan.
---
Pagi esok hari, seorang mengetuk pintu depan. Wentz tahu pasti tukang kebun yang biasa ia hubungi kemarin.
“Maaf, aku datang ke sini karena Philip sedang ada pekerjaan lain. Jadi dia memintaku untuk menggantikannya” seorang kakek tua berdiri di hadapannya di saat ia cukup terkejut melihatnya. “Apa anda tidak keberatan, Tuan?”
Wentz sempat terdiam beberapa saat memandang pria tua berambut putih itu. “Oh, tentu” jawabnya kikuk. “A..aku sama sekali tidak keberatan...”
Masalahnya bukan karena pria itu sudah terlalu tua untuk mengerjakannya. Tapi, kakek tua itu membawa serta cucu perempuanya yang buta.
“Dia Juny, cucu perempuanku satu-satunya.” kata Tn. Dunstmore memperkenalkan gadis yang ia bawa.
“Dia tidak bisa melihat jadi aku megajaknya karena pekerjaan ini tidak lama”
Gadis itu tersenyum. Kedua bola matanya yang kaku menjurus ke depan. Namun berbinar. Sungguh indah. Membuat Wentz terpaku beberapa saat sebelum Tn. Dunstmore mulai bekerja dan cucu perempuannya duduk di bangku taman menunggu kakeknya sembari mendengarkan musik dengan zune-nya. Ia tampak tenang dan asyik mendengarkan lagu.
Wentz memperhatikannya dari kejauhan. Dari dalam rumah, dari tempat saat pertama kali ia melihatya lewat. Bagaimana dia bisa bertahan degan keadaan seperti itu?
“Terima kasih banyak, Tn. Neville” ucap Tn. Dunstmore saat menerima sejumlah uang sebagai bayaran atas pekerjaannya hari ini. Ia menolak masuk karena harus mengerjakan hal lain.
Juny, si gadis buta masih duduk di bangku taman menunggu kakeknya.
“Tapi, ini terlalu banyak...” katanya lagi begitu menyadari jumlah yang diterimanya lebih dari yang ia
kira.
“Tidak, ambillah” ujar Wentz “Untuk cucumu juga”
“Oh, terima kasih, Tuan. Anda baik sekali” ucap Tn. Dunstmore lagi.
Wentz mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu sejenak.
“Cucumu itu...sejak kapan dia tidak bisa melihat?” tanya Wentz.
Tn. Dunstmore menoleh ke cucunya. “Dia sudah buta sejak lahir” jelasnya “Setelah tragedi 11 September, ayahnya dikirim ke Timur Tengah dan tidak pernah kembali. Putriku, Julia, meninggal dunia setelah mendapat kabar bahwa suaminya gugur dalam peperangan”
Wentz diam.
“Baiklah, Tn. Neville. Kami harus segera pergi...” kakek itu pamitan.
“Ya, terima kasih, Tn. Dunstmore” balas Wentz sambil tetap mengamati Juny dari pintunya.
Selangkah demi selangkah, Tn. Dunstmore meninggalkan teras untuk menghampiri cucunya. “Juny, ayo kita kembali” ajaknya memberi tanda bahwa ia harus segera berdiri dan pergi.
“Apa kakek lelah?” tanya gadis itu dengan suara lembut.
“Tidak. Kakek tidak lelah” jawab Tn. Dunstmore.
“Apa kakek mau aku buatkan kopi begitu kita sampai di rumah?”
“Ya, tentu, aku pasti menyukainya...”
“Tn. Dunstmore!” panggil Wentz tiba-tiba sambil berlari menyusul mereka yang asyik mengobrol.
“Ada apa, Tuan?” sahut Tn. Dunstmore membalikan badannya.
“Apa kau bisa kembali besok hari? Aku punya pekerjaan untukmu” Wentz memberi tahu. Tapi, tak tahu pekerjaan apa yang dimaksudnya. Ia akan memikirkannya sebelum esok tiba.
“Tentu, Tuan. Aku akan kembali besok”
Apa pekerjaan ringan yang sekiranya bisa dikerjakan orang tua itu?
Wentz orang yag rapi, setiap sudut rumah tertata dengan baik. Tapi, mana mungkin Tn. Dunstmore akan membereskan rumah? Dia dibayar bukan untuk pekerjaan seperti pembantu.
---
“Silakan masuk, Tn. Dunstmore”
Kakek tua itu kelihatan canggung. Ia biarkan Juny masuk lebih dulu dengan meraba-raba. Lalu keduaya duduk di sofa sementara Wentz membuatkan teh untuk mereka.
“Di rumahku tidak ada apa-apa” jelas Wentz yang hanya bisa menyuguhkan dua cangkir teh saja. “Aku sering makan di luar karena sibuk bekerja”
“Itu saja sudah cukup, Tn. Neville” jawabnya. “Kami tidak mau terlalu merepotkanmu...”
“Sebenarnya kemarin terpikir olehku untuk mengecat dan menata ulang rumah ini. Karena itu kemarin aku memintamu datang. Tapi, pekerjaan itu pasti sulit bagimu. Hanya saja, aku sudah tahu, kau bisa mengerjakan apa saja. Kudengar kau punya toko furnitur “
“Itu tidak ada hubungannya, Tuan” kata Tn. Dunstmore. “Aku sudah menjualnya”
“Aku hanya berpikir untuk meambahkan perabotan baru. Karena design interior rumah ini sangat membosankan...” jelas Wentz. “Apa kau mau memberiku referensi, sebagai orang yang sangat berpengalaman?”
“Well, jika kau minta saranku...bukankah rumah ini sudah sangat bagus dan design nya sudah sangat pas?” tanya Tn. Dunstmore setelah megamati sekitarnya. “Design seperti ini pasti tidak dikerjakan oleh sembarang orang”
Ketahuan juga. Dirinya hanya mencari-cari pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dia sendiri pun seorang designer interior. Dia sendiri-lah yang menata rumahnya dengan sangat apik.
“Ini sulit bagiku, tn. Neville. Aku hanya menjual furnitur biasa. Lagipula di usiaku yang sudah tua ini, banyak hal yang sudah berubah. Design dan bahan furnitur sekarang sangat beragam. Tapi, kalau kau mau aku masih punya kenalan yang bisa membantumu mendapatkan semua kebutuhanmu” ujar Tn. Dunstmore.
“Itulah maksudku, Tn. Dusntmore. “ katanya. “Aku...aku sangat bosan dengan suasananya. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya karena jarang ada di rumah. Tapi, saat ini aku sedang cuti”
Wentz melirik Juny.
Gadis itu hanya tak bisa melihat. Tak ada lagi yang menarik untuk dipikirkan. Lagipula usianya 15 tahun, mana mungkin? Pikirnya penasaran dengan pikirannya sendiri. Apa yang ia rasakan hanya perasaan kasihan. Tapi, apa bila memang hanya itu, di jalanan pun ia melihat banyak orang yang keadaannya jauh lebih menyedihkan, dan ia bisa melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Beberapa hari ini, ia seperti orang gila. Seperti peramal gila yang mencemaskan hari kiamat akan tiba.
Tapi, perasaan itu tak lantas membuatnya menyadari dan berkata ‘Inilah takdirku, bersamanya’. Tidak, bukan itu pula yang diinginkannya. Tidak bisa dipungkiri, wajah cantik yang membuatnya tertarik dan tatapan kosong ciri khas orang buta, yang ketika menatapnya ia seakan ingin menangis. Sepasang mata indah berwarna kecoklatan yang tak bisa melihat. Pertama, itulah yang membuatnya jatuh cinta. Lalu, suaranya yang lembut dan terdengar lemah.
Aku bukan pria yang baik untuk seorang gadis 15 tahun yang begitu naif tentang dunia yang tak pernah ia lihat, pikirnya. Firasat menggelisahkannya lebih dulu, sebelum ia sempat menepis dugaan perasaannya sendiri. Kegelisahan yang tak bisa dihilangkan oleh secangkir kopi, menghisap berbatang-batang rokok, minum anggur dan tidur bersama wanita cantik. Pada akhirnya menyerah juga.
---
“Aku merasa sangat merepotkanmu. Ketidakmampuaku mejaganya seorang diri membuatmu harus terlibat dalam masalah kami. Tapi,...tidak ada yang bisa menampung Juny. Walaupun dia bisa membuat kopi, bisa mengepang rambutnya sendiri, dan bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah. Dia mempunyai banyak keterbatasan...apabila aku sudah tidak ada... siapa yang akan memperhatikannya...”
Seharusnya Juny dioperasi, tapi mereka tidak berdaya.
“Aku yang akan menjaganya” kata Wentz tiba-tiba tapi ia sendiri juga merasa tidak enak, seperti memaksa. Seperti serigala jahat, yang ingin memangsa si kerudung merah dengan tipu muslihat. Seperti itulah dirinya saat ini. “Aku tahu...aku...aku juga bukan orang yang baik tapi aku bisa mengawasinya...”
“Aku mengerti, aku senang...” balas Tn. Dunstmore. “Sebelum ini kami hanya bertemu dengan orang-orang yang memanfaatkan keadaan Juny untuk kesenangan mereka. Aku kasihan padanya, dia hampir menjadi sasaran empuk para berandal jalanan. Seingatku, itu sering terjadi, karena itu aku tak pernah membiarkannya pergi sendirian... orang-orang menyepelekannya karena dia buta, tapi bagiku dia sangat berharga. Dia gadis yang pintar dan kuat...”
“Aku tahu. Aku sendiri juga heran...dia mungkin beruntung”
“Kami hanya beruntung bertemu denganmu, Wentz...”
Entah mengapa harus gadis itu...
---
“Sedang memandangiku ya?” tegur Juny saat ia lagi-lagi terpana pada matanya.
Wentz pikir ia tidak akan menyadarinya, karena sepasang mata yang membuatnya terpana itu buta.
Wajah gadis itu datar, ia termenung di sudut selama perjalanan naik kereta. Dia tidak bicara sedikitpun dan Wentz juga tidak mengajaknya mengobrol. Dia selalu murung, tapi dia orang yang berbeda saat bersama kakeknya. Ya, Juny memang tidak suka beramah tamah dengan Wentz.
Hari ini, jika bukan karena terpaksa ia tidak akan sudi pergi berbelanja dengan Wentz. Tapi, hari ini adalah hari istimewa bagi Tn. Dunstmore karena hari ini adalah ulangtahunnya yang ke-81. Wentz menawarkan diri menemaninya belanja agar Tn. Dunstmore tetap tinggal di rumah tanpa melakukan apapun. Satu hari ini hanya untuknya. Mereka akan merayakannya dan makan malam bersama.
“Bagaimana kau tahu?” Wentz balas bertanya dengan tenang dan datar.
“Kau selalu melakukannya...dan itu membuatku gerah...” jawabnya ketus.
Gadis ini sangat jujur. Walau tidak bisa melihat tapi ia tahu bagaimana perilaku Wentz yang tidak disukainya. Juny tahu, Wentz suka mempermainkan wanita karena pernah satu kali ketika Juny datang ke rumahnya untuk mengambil zune-nya yag tertinggal, Wentz tengah bertengkar dengan seorang wanita. Juny mendengar langsung pertengkaran, bagaimana Wentz memutuskan hubungan degan wanita itu secara paksa, tanpa sepegetahuan Wentz sebelum Wentz mendapatinya terdiam di depan pintu dan merasa sedikit bersalah. Tapi, gadis itu pergi begitu saja dan tidak mau lagi terlalu banyak bicara dengannya. Bahkan Juny tidak mengucapkan terima kasih saat akhirnya Wentz mengantar zune miliknya.
Tapi, Wentz jadi tahu lagu apa yang paling sering didengarkan Juny. Chiquititta dan Dancing Queen. Dia juga suka lagu-lagu yang dinyanyikan Celine Dion dan Diana Ross. Wentz juga sudah lama tahu makanan kesukaan Juny dan beberapa kebiasaan yang sering dia lakukan di pagi hari dan menjelang tidur. Minum coklat panas, mendengarkan musik. Menyisir dan mengepang rambut. Juny suka sekali dengan musim dingin. Sayanng, Wentz ,menjadi satu-satunya hal yang tidak disukai Juny. Dia pun Cuma tersenyum saat bisa memandanginya tanpa ketahuan.
Suatu saat, aku akan membuka matamu agar kau melihat seperti apa rupaku. Tapi, perasaan Juny terlalu kuat akan dirinya. Seakan bisa membaca niat jahatnya itu. Karena Juny tahu, usia Wentz terpaut jauh, 14 tahun, dan pria ini tertarik padanya. Pria ini tengah mengincarnya.
Tn. Dunstmore menyambut mereka gembira. Tapi, wajah Juny selalu cemberut dan gadis ini tidak pernah bersikap demikian terhadap orang lain sebelum ini. Kakeknya tahu bahwa Juny tidak terlalu menyukai Wentz dan ia sangat terpaksa pergi dengannya. Namun, ada kalanya Juny harus membiasakan diri karena hanya Wentz satu-satunya orang terdekat mereka saat ini. Meskipun sulit. Bagi Tn. Dunstmore Wentz memang bukan laki-laki yang baik, tapi dia orang yang sangat baik.
Malam itu mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk yang terakhir kalinya bagi Tn. Dunstmore. Tidak berselang lama setelah makan malam bersama, di mana Juny terlihat tertawa bahagia bersama kakek yag dikasihinya. Wentz mengingatnya dengan baik. Semua orang yang menyayangi gadis itu, pergi meninggalkan dirinya.
Gadis itu berdiri tidak jauh dari peti mati. Ia tidak bicara, juga tidak menangis.
Wentz sedang bekerja sewaktu, seseorang menghubunginya bahwa Tn. Dunstmore meninggal dalam tidurnya. Ia buru-buru ke rumah kakek tua itu.
“Wentz...?” Juny berbalik dari peti mati, begitu ia mendekat. Gadis itu sudah merasakan kehadirannya lebih dulu sebelum Wentz sempat mengatakan sesuatu. Itu pertama kalinya, gadis itu memanggilnya dengan namanya sendiri. Seketika gadis itu menangis, mengira ia akan sendirian. Selamanya.
‘Kau masih punya aku...” katanya saat memeluk Juny dan membagi dukanya pada Wentz.
Komentar
0 comments