๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku tersentak.
Aku terbangun di satu tempat asing. Jiwaku seperti telah diseret ke tempat lain.
Casey tengah tertidur sendirian. Meringkuk kesepian bagai terusir dari dunianya sendiri. Memandang tidurnya seperti hal yang membahagiakan sekaligus menyedihkan di saat yang sama. Aku tak benar-benar dapat menyentuhnya.
'Aku sudah lelahh', aku berbisik kepadanya. 'Apa aku tidak memiliki cinta yang bisa membahagiakanmu?'
Casey terlelap dengan setelan kerjanya, dasi masih terpasang di lehernya. Dia tampak lelah.
Kita hidup dalam kenyataan penuh perdebatan. Antara kepala yang sakit, otak yang selalu mengeluh, jari-jari yang lelah dan perut yang lapar. Mereka menuntut kita untuk berhenti tapi hati kita berkata kita harus tetap melakukannya sampai selesai.
'Aku sangat mengenalmu seperti aku mengenal diriku. Bila kau lelah, kau akan berhenti dan memulai lagi di saat yang paling kau inginkan, seperti itulah dirimu yang tersenyum mengira dunia ini selalu indah. Seperti itulah saat pertama kali aku melihatmu'
Casey membuat suara, menarik perhatian orang dengan kebodohannya lalu dia tertawa lepas. Kepada semua orang. Juga kepadaku.
Tapi, sekarang dia sudah tidak seperti itu lagi. Dia bahkan tak bisa tertawa. Seseorang memaksanya melakukan semua itu dan merampas kebebasan yang selalu ia agungkan. Betapa menyedihkan hidup yang kau jalani, Casey.
Apa yang orang tuamu sebut dengan cinta tak lagi seperti kedengarannya.
'Kau bukan mereka...'
---
"Ini sudah jam berapa?!", wanita itu membuntutinya lagi. Wanita yang dia panggil Vicky dan sepertinya mengatur hidupnya belakangan ini. "Kenapa kau bisa terlambat ke kantor?!"
Mereka memakai cincin yang sama yang tampak selalu mencibirku.
Casey terus berlalu.
"Rapat sudah dimulai. Bagaimana dengan presentasinya? Kau sudah siap?", tanya Vicky lagi pantang menyerah.
"Kau saja yang pergi", kata Casey dingib sambil terus melangkah.
"Apa?!" sembur Vicky yang tambah panik.
"Ini sudah jam 10, lanjutkan saja tanpaku", kata Casey masih belum merubah sikapnya.
"Tidak bisa begitu! Mereka sudah menunggumu!"
"Kenapa kau tidak bisa katakan aku berhalangan hadir?! Apa susahnya mengatakan itu?!"
"Ada apa denganmu?!", Vicky masih protes.
Pintu lift terbuka. Casey meliriknya sejenak sebelum masuk ke sana. Meninggalkan wanita itu.
Vicky terdiam memandangnya sampai pintu menutup dan membawa Casey pergi.
Casey menghembuskan nafas panjang lelah. Ia bersandar dengan sisa tenaga yang ia punya setelah bangun tidur dengan perasaan tidak nyaman. Seolah terjebak.
Beberapa tahun lalu ia masuk fakultas ekonomi karena paksaan ibunya. Jiwanya, jiwa seorang musisi yang bebas bagaikan burung. Terpenjara di sebuah gedung pencakar langit yang ikut andil dalan perekonomian Amerika. Orang-orang boleh menyebutnya hebat. Berkat memacari Vicky ia mendapatkan posisi yang demikian penting hingga membuatnya tersiksa.
Vicky mencintainya. Cintanya sama besar dengan cintaku. Meski begitu; aku berani bertaruh, di dalam hati Casey tak ada siapapun.
Hatiku tersayat. Namun seakan sudah biasa melihat kemesraan yang luar biasa panas. Aku duduk di kursi, seperti biasa. Memandang dengan hampa.
Vicky membujuknya untuk kembali fokus pada apa yang mereka lakukan.
Tatapan kosong Casey tertuju padaku, namun Vicky memalingkannya dariku. Dan dia mulai tampak seperti pelacur yang haus kenikmatan. Saat Casey tampak malas-malasan dan dia dengan cepat menyelesaikan permainan dan bahkan memunggungi perempuan itu begitu selesai.
"Belakangan ini kau kenapa?", Vicky bertanya, "Kalau ada masalah kenapa tidak mengatakannya padaku?"
Aku memandangi ekspresinya yang kebingungan dari dekat.
Tidak ada jawaban dari Casey yang menatapku tanpa berkedip. Dia seolah merasakanku ada di dekatnya hingga aku menangis.
"Aku sudah tidak bisa lagi menanggulangi kesalahan yang kau lakukan"
Casey tak peduli. "Aku tidak pernah memintamu melakukannya. Aku sudah menyatakan keinginanku untuk keluar dari sana tapi kau terus memaksaku", balas Casey.
"Aku melakukan ini agar kita terus bisa bersama!", kata Vicky tidak mau kalah. "Kalau saja kau katakan apa masalah yang sebenarnya..."
Casey berbalik untuk memandangnya, menegaskan ucapannya. "Kau mau tahu apa yang sebenarnya?" tanya dia serius, "Aku tidak sepintar yang kau kira, apa kau belum juga menyadarinya?"
Vicky terdiam.
"Aku tidak menginginkannya", tegas Casey.
"Jadi kau berbohong?"
"Ya, benar!", Casey bangkit, duduk di sisi tempat tidur, membelakangi Vicky yang mencoba mempercayai kata-katanya.
Vicky menangis. Mengingatkanku pada diriku yang dulu. Saat Casey mencampakanku.
"Kau hanya...salah paham tentangku", lanjut Casey. "Aku tidak benar-benar membutuhkan semua yang kau berikan...Aku sudah tidak tahan terjerat dalam duniamu..."
"Apa kesalahan yang sudah kulakukan? Bisakah kau memaafkanku"
Aku ada di belakang Vicky saat Casey menolehkan wajahnya. Aku tak bisa percaya ini sama seperti saat dia pergi meninggalkanku.
"Aku...", Casey ingin mengatakan sesuatu lagi. "Aku ingin memberitahumu satu hal yang tidak pernah kukatakan pada orang lain"
Vicky dan aku sama-sama menunggu.
"Aku bisa mendapatkan semua ini karena seseorang", jelasnya.
Aku tertegun.
"Se...seorang?", suara Vicky terdengar.gemetaran.
"Aku masih menyesalinya sampai saat ini. Ada seseorang yang sudah berkorban untukku, aku tidak bisa melupakannya begitu saja", lanjutnya. "Bukan aku yang pintar, tapi dia...Dialah yang seharusnya ada di posisiku sekarang..."
"Aku tidak peduli!", jerit Vicky, "Aku juga sudah mengorbankan banyak hal hanya untuk bisa bersamamu! Aku tidak peduli kau bodoh atau lebih buruk dari itu! Aku hanya tahu aku mencintaimu dan sudah terlambat bagiku untuk menyerah!"
Casey tetap akan pergi. Aku tahu dia. Dia akan pergi dengan seenaknya. Begitu saja. Dan dia tak akan menoleh lagi.
Aku harus melihatnya dua kali.
"Aku tidak akan bertahan denganmu lebih lama, Vicky. Semalaman aku berpikir mengenai hal ini. Semakin dipaksakan aku hanya akan menimbulkan masalah bagimu juga bagi perusahaan ayahmu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang kukerjakan...sama sekali tidak. Jadi berhentilah mengharapkan aku untuk terus ada di sisimu..."
---
Casey mengendarai mobilnya ke suatu tempat. Ia lepaskan jasnya dan melemparnya ke belakang. Lalu melonggarkan dasi yang terasa mencekik di lehernya. Sekarang dia hanya pria biasa yang tertekan. Seolah kembali ke titik awal di mana ia hanya seorang mahasiswa frustasi yang bermasalah dengan orang tuanya.
Aku terkejut dia mencariku.
Seorang lelaki membukakan pintu. Ia mengernyit memperhatikan sosok asing di depannya.
"Apa...Julie ada?", Casey bertanya padanya. Dengan sedikit canggung. Mengira aku tinggal bersama lelaki lain.
"Julie? Julie siapa?", tanya lelaki itu heran.
"Julia Oliver, dia tinggal di sini bukan?", Casey memperjelas dan ia baru menyadari aku memang sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi.
Tiba-tiba mencariku dengan datang ke tempat di mana jejakku telah terhapus. Aku telah menghantuinya dengan semua rasa bersalah selama ini. Dia telah membunuhku secara perlahan.
"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud. Aku baru saja pindah ke sini", jelas orang itu,."Kenapa kau tidak bertanya pada pemilik gedung ini"
Orang itu langsung menutup pintu karena merasa terganggu. Dan Casey setuju untuk menemui pria menyebalkan itu. Seorang pria tua keturunan Rusia yang kurus dan pucat. Mr, Ivanov, pemilik apartemen.
Yang kami tahu dia sangat pemarah dan cerewet.
"Mana aku tahu dia di mana?!", cetusnya menjawab pertanyaan Casey. "Apa setiap orang yang pindah aku harus bertanya mereka ke mana?!"
"Lalu apa kau ingat kapan dia pindah?", Casey bertanya lagi.
"Aku tidak ingat!", ia semakin marah, "Begitu banyak orang yang datang dan pergi, mana mungkin aku tahu! Pergilah!"
Casey nampak kesal. Ia mulai merogoh sesuatu di sakunya. Beberapa lembat uang yang membuat pria mata duitan itu urung menutup pintunya, "Apa kau tidak mau mengingatnya demi ini?", Casey menyodorkan uang itu ke depan wajahnya sehingga matanya membulat dan tangannya tak sabar hendak meraihnya.
Mr. Ivanov begitu menyukai uang. Terlambat membayar sewa beberapa hari saja dia pasti menggedor-gedor pintu tengah malam dan suara umpatannya terdengar hingga ke ujung lorong. Dia tampak melunak.
"Katakan", paksa Casey saat ia belum akan menyerahkan uang itu.
"Aku ingat gadis itu", kata dia, matanya masih tertuju pada uang di tangan Casey, "Dua bulan yang lalu ada seorang gadis yang membayar sisa uang sewa dan membawa semua barang-barang yang ada di dalamnya"
"Apa kau tidak bisa bicara dengan lebih jelas?!", Casey mulai geram.
"Aku sempat bertanya padanya kenapa penghuni apartemen itu tidak mengemasi barang-barangnya sendiri. Dia mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari penghuni lain dia adalah korban kecelakaan di depan gedung Baxter. Kecelakaan yang sangat tragis. Saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sangat menggenaskan. Dia tertabrak oleh mobil dan menimpa mobil dari arah berlawanan. Dia tidak selamat. Untuk apa kau mencari orang yang sudah mati?!", jelas pria itu gusar dan begitu ada kesempatan ia merampas uangnya dan langsung menutup pintu.
Casey belum beranjak dari tempatnya sedikitpun. Entah berapa lama dia terdiam di sana. Namun yang pasti, sangat lama...
---
Komentar
0 comments