[Hal.4] Alive - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Menunggu membuat keyakinan akan sesuatu memudar. Aku benci itu. Rachel juga. Dia mengirim pesan itu setiap hari. Jangankan datang, Rachel bahkan tidak pernah menerima balasannya.

Rachel mencemaskan bila mana aku memburuk. Setiap aku kejang semua orang seakan menahan nafas mereka seolah mereka lah yang akan mati melihatku tersiksa. Adikku kembali pada rencana awal yang pernah digagalkan Mom.

"Tidak ada yang bisa menghalangiku...", dia berkata padaku, "Granny bilang, sebelum bertanggung jawab terhadap orang lain, kita harus bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Aku sudah memenuhinya. Aku sudah menyelesaikan apa yang aku mulai. Setelah hasil ujianku keluar aku akan ke California."

Aku ingin memeluknya dan membisikan aku begitu menyayangi dirinya.

"Aku sudah janji akan membawanya ke sini...", katanya lagi, "Dan kalau kau sudah sadar, kita akan ke salon untuk memperbaiki dandananmu. Kau kelihatan payah!"

Aku tersenyum.

"Kau tahu apa yang aku pikirkan, Julie?", ia bertanya lalu menjawabnya sendiri, "Kau membuatku berubah pikiran. Atau setidaknya membuatku mengerti. Walau kau menulis dengan mengiba-iba, dari sekian banyak pertanyaan di kepalaku kenapa kau begitu bodoh, aku ingin tahu seperti apa rasanya jatuh cinta? Aku tidak punya teman untuk bercerita. Karena itu aku ingin sekali mendengarnya darimu, bisakah?"

Dia seperti aku. Bagaimana rasanya jatuh cinta? Itu luar biasa indah.

"Apakah aku akan jatuh cinta?", tanya dia lagi.

Tentu, Rachel.

"Sampai sekarang aku tidak tahu karena di sekelilingku hanya ada orang-orang yang menyebalkan...", keluhnya.

Adikku sedikit ketus dan acuh. Aku tidak pernah melihatnya bergaul selain dengan tetangga kami karena keluarga Richard sudah seperti keluarga. Dia agak pemarah dan sensitif. Sifatnya yang tidak mudah percaya pada orang lain membuatnya tidak punya teman dekat. Setahuku dia memang tidak terlalu disukai karena cuek dan dingin. Tapi, dia juga tetap orang yang membutuhkan orang lain untuk bisa berada di sisinya.

"Aku merasa bersalah padamu", dia kembali bercerita, "Karena pernah sangat membencimu. Aku selalu merasa walaupun kau kakakku tapi kau tidak pernah bersikap demikian. Tampaknya kau tidak merasa punya aku dan Sean. Mom sangat mengharapkanmu, tapi kau malah memgcewakannya dan yang terburuk Mom mulai memaksaku mengikuti jejakmu. Mom memastikan aku tidak akan gagal sepertimu dan itu sangat melelahkan. Aku jadi semakin benci padamu, tapi...waktu dikabari polisi bahwa kau sekarat, aku sangat ketakutan. Aku berpikir kau pasti mati. Aku sangat takut..."

Aku menatapnya tanpa berkedip.

"Bagaimana pun kau adalah kakakku. Sebelum kau mempunyai impian yang besar kau adalah kakak yang hebat. Kita melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bahagia saat Sean lahir, akhirnya kita memiliki saudara laki-laki. Saat itu Dad masih hidup kita, pergi berlibur dan berkemah. Banyak hal yang bisa kita lakukan bersama-sama sekalipun kematian Dad membuat kita semua terpukul dan terpuruk. Mom membiarkan kita begitu saja. Kau mencoba bangkit dengan sungguh-sungguh, suatu saat kita bisa berlibur lagi. Bahagia lagi dan kita beruntung ada Granny. Aku sadar, karena menjadi anak sulung kau punya beban yang lebih berat dariku. Kau juga merasa tertekan. Kau menjadi ambisius semata-mata bukan karena keinginanmu sendiri..."

Aku pernah menulis, kadang aku ingin menjadi orang lain dengan keadaan yang jauh berbeda dari yang sebenarnya. Aku sudah lelah belajar dan mengabaikan kesenangan pribadi. Aku menghindari pergaulan merugikan dan tanpa sadar menjadi kolot. Aku mengabaikan ejekan anak-anak sebayaku. Aku hidup di jalanku walaupun di dalam sini hatiku menangis dan tersiksa. Suatu hari aku akan bahagia, hanya itu yang menjadi kekuatanku.

Perasaan ingin melarikan diri mulai begitu kuat saat aku nyaris gagal di salah satu ujian. Aku merasa sudah belajar dengan keras tapi hasilnya tisak sesuai. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku mendekati putus asa serta tahap mencemaskan. Aku semakin ingin lari dari kenyataan dan Casey membukakan pintu itu.
Aku merasa seperti bercermin saat melihat Casey. Casey menunjukan padaku, sekalipun kita punya taraf hidup yang bagus tidak menjamin kebahagiaan kita. Jika kebebasan telah dirampas dari seseorang maka orang itu tidak akan bisa hidup. Tidak akan bisa jatuh cinta. Dan jika tidak bisa jatuh cinta maka dia adalah orang yang sama sekali tidak beruntung.

Maka kami mencari jalan pembebasan itu dengan cara kami sendiri.

"Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti yang kau lakukan. Aku akan menempuh jalan hidup yang kuinginkan", kata Rachel padaku. "Aku tidak akan jatuh"

Beban sedikit berkurang ketika ada seseorang di sampingmu.

Aku merasa lepas untuk pertama kali saat bersama Casey. Walaupun aku tahu dia adalah masalah.Melakukan hal yang gila dan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku ke klub, minum-minum, mabuk dan merokok. Tertawa cekikikan. Aku pergi ke mana pun yang aku mau.

Aku menyadari ada beberapa hal dalam hidup yang tidak perlu ditanggapi serius. Seperti anggapan orang, perkataan merendahkan mereka serta senyum bodoh mereka yang merasa mereka adalah segalanya. Kita hidup untuk diri kita sendiri. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan berkeluh kesah. Merugilah orang-orang yang menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian.

'Dan kau pun, jangan seperti aku yang terlena dengan semua itu. Karena kejamnya kenyataan mampu menghancurkan mimpi indah yang kau punya. Pokoknya jangan seperti aku'

"Aku tidak akan sebodoh kau, Julie...", kata dia. "Kau sudah memberi contoh yang sangat baik. Aku hargai itu..."

Rachel memandangku, sambil tersenyum sebelum seseorang membuka pintu dan masuk.

"Ah, George? Kau sudah datang?", Rachel menghampiri George yanga baru saja menutup pintunya kembali.

"Hai", George menyapanya.

"Baiklah, aku harus segera pergi", kata Rachel sembari menyandang ranselnya, "Jaga kakakku, dan jangan bicara macam-macam padanya"

George hanya membalasnya dengan tawa kecil.

Sekarang, ia terlibat dalam urusan menjagaku. Karena Granny juga ikut membantu Mom dengan mengasuh anak. Entah darimana ia mendapatkan ide itu. Tapi, ia mempromosikan tempat penitipan anak yang dia kelola kepada semua tetangga kami.

---

Hari ini cerah. Tapi. aku tidak merasakan apapun di sini. Tanpa sengatan mentari atau ataupun angin semilir khas perkebunan anggur.

Aku memperhatikan Mom menjalani kesehariannya yang berat. Mom tampak lusuh dengan setelan jelek itu,.antara kaos garis kuning yang kumal dan jeans longgar yang warnanya sudah pudar sekali, dan boots karet berlumpur. Tapi, aku melihatnya tersenyum saat satu kali dia memetik anggur dari pohonnya yang merambat. Dia membayangkan kami tengah berbahagia di satu hari nanti, entah kapanpun itu.
Saat aku sadar dari tidur panjangku dan Rachel memberitahunya bahwa ia mendapatkan beasiswa penuh di Harvard.

Rachel berjalan dengan tenang. Naik bus yang biasa ia naiki ke sekolah. Hari ini hasil ujiannya diumumkan. Aku sangat berdebar , menantikan dia mungkin akan kecewa.

Tapi, Rachel tampak tidak peduli.

Tahun-tahun saat aku menjalani masa remajaku di sini, aku sama berdebarnya dengan Julie sebelum aku tahu aku akan gagal atau tidak. Begitu melihat namaku tertera di sana aku begitu senang. Aku memeluk George yang ikut senang melihatku gembira.

Meski begitu, dia tampak tidak mempermasalahkan kami akan berjauhan untuk waktu yang sangat lama. Tapi, aku merasa sudah salah paham terhadapnya sejak Prom Night, dia menggandeng Rosalyn Baker dan aku kecewa padanya.

Kilasan itu terlintas di benakku dan aku langsung melepaskan pelukanku darinya. Itu adalah sejarah terburuk di masa SMA-ku saat aku tidak punya siapapun bersamaku. Hanya bisa memperhatikan orang yang aku pikir akan mengajakku berdansa dengannya malah bersama orang lain.

Dia tidak menyukaiku.

Aku terdiam beberapa saat dan meninggalkannya dengan kecewa.

Seperti baru kemarin, aku dan George bertele-tele soal perasaan sampai salah seorang pergi. Itu aku. Meski seringkali berada di saat yang tepat untuk menyampaikan segalanya. Mengakhiri kepura-puraan kami hanya bisa menjadi sahabat. Pada akhirnya tak ada yang terlontar dari bibir masing-masing.

"Rachel! Tunggu!", seseorang memanggil adikku yang tampak ingin meninggalkan sekolah dengan buru-buru.
Seorang anak lelaki. Nafasnya terengah-engah dan ia mencoba mengatakan sesuatu sementara Rachel cemberut padanya.

"Jangan menatapku begitu", kata anak itu padanya, "Kenapa kau buru-buru sekali?",

"Ya ampun, aku cepat-cepat pergi supaya tidak perlu berurusan dengannya...", gumam Rachel yang berwajah gusar.

"Apa?!", dia merasa mendengar sesuatu dari Rachel yang terdengar seperti umpatan.

"Apanya yang apa?!", cetus Rachel, makin gusar padanya. "Katakan ada apa lagi sekarang?"

"Kenapa kau tidak bisa ramah sedikit padaku?" balasnya, "Kau tahu aku mencarimu ke mana-mana dan sekolah ini terlalu besar!"

"Aku tidak menyuruhmu mencariku!", Rachel semakin ketus, "Sudah, aku mau pulang!"

"Kau benar-benar gadis melelahkan!", anak itu bergumam tapi masih tetap membuntuti Rachel yang tampak menghindari perdebatan.

Rachel tiba-tiba berbalik,."Apa kau bilang?!", tandasnya.

"Lupakan", anak itu tersenyum hati-hati padanya, berkelakar dan kedengaran membujuk, "Aku datang dengan damai"

Aku mengikuti di belakang.

"Aku tidak melihat namamu di pengumuman. Kenapa?"

"Kau tanya aku, aku tanya siapa?"

Mereka mulai lagi.

"Sedikit-sedikit marah. Hidupmu benar-benar membosankan!"

"Apa kau tidak bisa berhenti bicara, Harry?! Berhentilah mengikutiku! Apa tidak ada orang lain yang bisa kau ganggu?!"

"Memang tidak ada. Tapi, sudahlah tidak ada yang peduli soal.itu. Aku sudah bersikap baik padamu kau mengabaikanku begitu saja. Apa aku baru akan terlihat keren di matamu setelah aku mengorbankan nyawaku?!"

"Jangan mengoceh lagi! Setiap bertemu denganmu aku selalu sial dan aku tidak mau berurusan dengan mainan barbie-mu yang selalu mengira aku perusak!"

"Itu ucapan paling kasar yang pernah pernah kuterima hari ini. Kai masih punya yang lain?" Harry kembi tenang, "Aku tidak menjalin hubungab dengannya dan apa yang dia katakan padamu hanya supaya kau makin membenciku"

Mereka semakin ribut, memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas. Rachel tidak suka tapi terus saja meladeninya. Dan kenapa juga aku ada di sini melihat mereka bertengkar?

"Sudahlah! Aku sudah tidak tahan lagi!", Harry bersuara lebih keras sehingga Rachel terdiam,"Kita bisa lebih baik dari ini andai saja kau tidak lebij dulu mengatakan hal yang begitu menjengkelkan seolah aku melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan!"

Rachel masih merengut.

"Apa aku pernah menciummu dengan paksa?! Apa aku pernah melecehkanmu?! Aku bahkan tidak pernah memaksamu untuk menyukaiku!"

Rachel terdiam. Tampak bingung dan ia masih emosi terhadap semua kata-kata yang dilontarkan teman sekelasnya itu.

Kalau aku jadi Rachel aku pasti akan menghentikan segala macam perdebatan yang tak ada artinya. Ada orang yang begitu tulus mencintai dirinya, dan apakah akan disia-siakan begitu saja?

"Kita tidak akan bertemu lagi", ?Harry mengingatkan tahun-tahun SMA mereka sudah berlalu, "Apa kau senang dengan itu?"

Rachel tidak menjawab dengan cepat. Kalau dia senang dengan itu dia pasti akan langsung menjawab, 'Baguslah' tapi dia diam saja sampai Harry akhirnya pergi.

"Yang benar saja, mana mungkin aku suka pada orang seperti itu...", gumamnya masih kesal.

'Mungkin saja', kataku, 'Kalian tidak akan bertemu lagi, apa kau tidak akan merindukan kebisingannya itu? Semua yang dia katakan tentangmu benar, apa salahnya kau mengakui itu? Cinta tidak datang dengan mudah, Rachel...kejar dia, sebelum nanti kau merindukannya sambil menangis...'

"Tidak akan", dia tampak bersikeras tapi tangannya mengepal dengan begitu kuat memandangi Harry berlalu semakin jauh.

'Ini hari terakhirmu untuk bisa melihat dan mengingat wajahnya dengan baik...'

Hari ini juga aku merasa senang. Aku berbalik pergi ke tempat lain saat Rachel berlari pergi ke arah yang berbeda denganku. Aku perlu kembali ke masa lalu untuk mengunpulkan sisa-sisa kebahagiaan yang ada bersamaku.

"Brengsek!!", suara Rachel bergema di sepanjang koridor yang kulewati. "Kau pikir kau siapa berani mengancamku?!"

Dia sudah ada di hadapan Harry yang tidak bisa bicara sepatah kata pun karen terlalu senang.

"Kau pikir setelah semua yang kau katakan, aku akan membiarkanmu pergi?!", makinya dan Harry pun tertawa.

Semua orang bangkit demi aku. Kenapa aku masih di sini...

Tunggu aku...

---

Mom mengirim kartu pos. Bercerita singkat soal Santa Rosa dan ia berkata baik-baik saja. Semua jadi lebih bersemangat.

"Granny!", Rachel memanggil tergesa-gesah di antara anak-anak kecil yang merengek di kakinya, "Granny?!"

"Ada apa? Kenapa kau juga ikut ribut?" tanya Granny yang sedang menggendong bayi perempuan yang sedang minum susu.

Rachel tersenyum manis. "Aku pergi dulu"; dia pamitan.

Granny memandanginya dari ujung kaki ke ujung kepala. Rachel terlihat begitu cantik. Tidak biasanya ia berdandan. "Bukannya kau akan membantu mengasuh anak-anak?", tanya Granny sedikit kecewa.

"Aku sungguh tidak bisa...", Rachel terdengar memohon, "Harry sudah menjemputku, please..."

"Harry?", Granny mengernyit. Namun terpaksa ia mengangguk saja. Membiarkan Rachel pergi begitu mendengar klakson mobil yang menjemputnya.

Harry masuk dan ia disambut segerombolan balita termasuk Sean yang menggapai-gapai di kakinya. "Wow! Wow!", dia berseru saking serunya melihat jagoan-jagoan kecil itu berusaha melumpuhkannya.

Kami akan bahagia seiring berjalannya waktu.

"Julie?"

Aku mendengar suara yang menyebut namaku. Suara yang akrab dan begitu aku rindukan. Casey.
Aku masih terbelenggu antara hidup dan mati.

"Casey?", aku sebutkan namanya walau tidak percaya aku telah bangkit dan merasakannya menggenggam tanganku. Hingga bahkan aku bisa memeluknya dengan sangat erat.

---
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments