[Hal.3] ALIVE- Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
George memang tidak pernah mengatakan sesuatu padaku. Tumbuh bersama dan hanya dibatasi oleh pagar kayu yang melintang di depan jendela kamar. Aku memperhatikan bagaimana kedua tangannya menciptakan benda-benda berseni tinggi. Beberapa ada yang dia berikan padaku sebagai hadiah dan aku menyimpannya dengan sangat baik di dalam lemari.

Karena saat itu, pemberian George lebih berharga dari kotak make-up bagi seorang gadis remaja.

George anak tunggal. Dia menyayangi adik-adikku seperti adiknya sendiri. Karena tertutup dia tak terlalu mempunyai banyak teman. Dan dia selalu punya pisau lipat di dalam sakunya untuk memahat kayu-kayu menjadi sesuatu yang bernilai.

Kami selalu bersama. Berbagi banyak hal. Tempat, makanan dan minuman serta masalah. Kami juga cekcok dalam banyak hal dan berdebat sampai salah seorang mengalah. Seakan tidak bisa dipisahkan lagi.

Seperti pasangan yang cocok, ke mana pun berdua. Jalan-jalan, nonton film, seperti sebuah kencan yang menyenangkan. Aku hanya terlalu malu menanyakan kenapa kami begitu dekat. Aku sering khawatir bila aku menanyakannya di saat George benar-benar hanya menganggapku teman. Aku akan membuat suasana di antara kami menjadi kacau. Aku begitu takut akan kehilangan saat-saat di mana kami bisa tertawa lepas, walau hanya sebatas sahabat. Aku tidak ingin ada yang berubah.

Bila saja George mengatakan apa yang ingin kudengar, kejadiannya akan lain.

Aku menyandar di pundaknya seperti itu adalah hal yang biasa aku lakukan. Meski perasaan ini hanya ilusi dan George yang memandangi Julie, tidak menyadarinya, aku tengah memikirkan saat aku akan naik bus meninggalkan Pennsylvania. Aku mungkin akan turun dari sana, berlari mengejarnya. Mengatakan bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Jika aku tahu, dia selalu menatapku dengan cara seperti ini.

Kita lahir dan besar di kota ini, maka juga akan mati di sini. Bersama.

Hanya saja kita, mengambil jalan berliku yang ujungnya tidak akan pernah bisa bertemu.

Ketika dia melepasku, aku menoleh sekali dan dia hanya memandangku. Dengan raut tidak terbaca. Mana aku tahu, dia tidak menginginkan aku pergi.

Andai saja...

---

"Apa kau sudah gila?!", Mom meradang. Sudah lama aku tidak melihatnya marah karena Mom memang tidak pemarah.

Rachel terdiam di hadapannya.

"Kau pikir California itu tempat apa?! Kau akan segera lulus! Seharusnya kau belajar untuk ujian masuk universitas!!, kata Mom. Suaranya meninggi dan seakan menggelegar ke penjurur rumah.

"Aku tahu, Mom! Aku tahu!", Rachel mencoba bernegosiasi, "Mom hanya perlu memberiku kepercayaan dan aku akan bertanggung jawab dengan tindakanku!"

"Tidak, Rachel!", Mom kembali mengecilkan hatinya, "Satu-satunya hal yang harus kau lakukan sekarang adalah belajar! Kau tidak cukup pintar untuk bisa lulus tanpa belajar!",

Mom mengakhiri perdebatan dengan meninggalkan Rachel yang tampak belum puas dengan keputusan Mom.

Rachel mengikuti Mom yang bergegas keluar. "Memang benar aku tidak bisa dibandingkan dengan Julie!", cetusnya nampak kecewa dan sedih, "Tapi, Julie kakakku! Mom tahu, jika aku menginginkan sesuatu aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkannya! Nyawa Julie lebih penting dari apapun juga termasuk sekolahku! Bila aku harus menunggu sampai tahun depan, juga tidak apa-apa, asalkan Julie bisa kembali lagi pada kita!"

Emosi Mom kembali terpancing, "Nyawa Julie tidak ada hubungannya dengan orang itu!", ia menegaskan, "Baguslah jika dia tidak muncul lagi! Itu akan lebih baik bagi Julie!"

"Tapi, Julie sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencarinya. Julie sangat ingin bertemu dengannya! Kenapa Mom tidaj juga mengerti?!"

"Kenapa kau terlalu yakin?! Apa yang membuatmu begitu yakin? Bukan berarti setelah kau mengorek rahasia pribadi kakakmu, kau jadi tahu persis perasaannya! Orang itu hanya akan membuatnya bertambah menderita!"

Rachel tertunduk, lalu menggeleng-geleng, "Aku sendiri juga tidak mengerti hal-hal semacam ini...", katanya gemetaran, "Semua orang yang berurusan dengan cinta, tiba-tiba menjadi begitu bodoh dan tidak masuk akal. Walau Julie mungkin membencinya karena terlalu sering menyakitinya, bukankah setidaknya dia harus tahu apa yang terjadi pada Julie? Karena...karena gara-gara dia...gara-gara dia Julie harus menanggung semua ini..."

"Sudah cukup, Rachel!", Mom benar-benar mantap dengan keputusannya. "Sudah cukup kau berkata sesuka hatimu dengan ide yang sama sekali tidak masuk akal!! Kau tahu kita di sini punya masalah yang lebih besar? Mom harus bekerja keras supaya kita semua bisa bertahabln hidup dan membayar biaya rumah sakit?"

Rachel terdiam. Sedih pada tatapannya tak mampu meluluhkan Mom yang mencoba berpaling darinya. Hanya supaya Rachel tak melihat betapa hancurnya kita saat ini.

"Kita harus bangkit dari keadaan ini", kata Mom lebih tenang setelah menyeka setetes air mata yang tanpa sadar jatuh di pipinya. "Itulah yang diharapkan Julie saat ini, bukan menghadirkan kembali masa lalunya yang pahit"

Sean juga menangis. Aku duduk jongkok di sampingnya. Mengawasi Rachel yang langsung masuk kamar dengan kecewa dan menutup pintu tanpa pernah keluar lagi.

Mom terduduk di kursi meja makan.

Apa yang mereka perdebatkan membuatku terhenyak. Tapi, aku jadi memahami, aku belum merelakan apa yang terjadi. Mengapa adikku yang belum pernah jatuh cinta bisa memahaminya melebihi aku sendiri?

Aku masih hidup...

---

"Kau sudah mulai dewasa...", tegur Granny.

Aku bangkit dari tidur ayamku di ranjang milik Rachel. Lalu adikku yang sedang bersedih menatap Granny dengan perasaan terluka.

Granny kami; adalah tempat kami bisa berkeluh kesah. Dia bukan wanita tua yang ortodoks dengan sweater pink muda jaman dulu yang terlihat kuno. Dia memang perokok berat tapi dia adalah satu-satunya yang kami punya saat Mom tidak ingin berkoalisi dengan kami atas apa yang ingin kami lakukan.

"Aku sama sekali tidak mengerti...", keluh Rachel padanya.

Mereka membelakangiku dan aku bisa rasakan hawa kepedihan yang makin pekat.

"Nanti juga akan mengerti", ujar Granny membelai rambut Rachel. "Aku akan bicara dengan Jenny"

Rachel mencoba tersenyum walau air mata sudah terlanjur menetes tanpa ia sadari. Lalu memeluk tubuh Granny yang masih langsing.

"Tapi, yang dikatakan ibunu tetap benar", ia berujar lagi. "Sudah, jangan menangis lagi..."

Granny akan bicara dengan Mom. Perdebatan sengit akan terjadi lagi. Karena seingatku mereka jarang sependapat. Mom terlalu kaku sedangkan Granny seorang wanita orang tua tunggal yang berpikiran terbuka. Dengan cara itulah Granny membesarkan Dad dan mengetahui Dad meninggal setelah menabrakan dirinya ke pembatas jalan membuatnya sangat shock. Karena menyayangi Dad, makanya Granny tinggal bersama kami dan menjaga kami bertiga selagi Mom bekerja.

"Tidak ada salahnya kau mendengarkan pendapat Rachel. Dia juga anakmu", Granny memulai saat Mom tampak tidak ingin berdebat saat ia sedang sibuk dengan beberapa tagihan di meja.

"Aku sudah mendengarnya", celetuk Mom. "Aku tidak mau membahasnya saat ini"

"Rachel 17 tahun! Apa menurutmu dia gadis yang normal?",

"Apa maksudmu?!", Mom kembali meradang, setelah berurusan dengan tagihan-tagihan yang membuat kepalanya terus berdenyut, sekarang ia harus berusaha bersabar dengan pendapat Granny, "Tentu Rachel gadis yang normal"

"Tidak, Jenny!", Granny meyakinkannya.

Masalah selalu ada tapi ada yang muncul di permukaan, ada juga yang tidak. Masalah ini mungkin sudah ada sejak lama, tapi tak ada yang memperhatikannya.

Meski aku juga pernah merasakannya, dengan jahatnya aku mengabaikannya. Aku pernah tahu Mom terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan diriku. Sebagai anak sulung; aku tidak terlalu memikirkan adik-adikku, khususnya Rachel.

Kami telah membentuk pribadi Rachel yang sekarang, berkat masalah yang pelik dan siksaan waktu yang amat panjang.

Aku merasa bersalah, saat dia mencoba menembalikanku pada keluarga ini. Rachel menyayangiku, tapi aku sebagai kakaknya bahkan tidak pernah berpihak kepadanya.

"Kau telah membentuk pribadi Rachel yang soliter!", jelas Granny, "Apa kau menganggap perkembangan Rachel beberapa tahun belakangan sangat normal? Apa kau tahu Rachel hampir tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya? Kau boleh menyebutnya mandiri tapi apa kau sadar mentalnya yang sangat keras artinya dia telah mengisolasi diri karena takut mengecewakan orang lain?!"

Granny membuat Mom terhenyak beberapa saat. Tapi, Mom bukan tipe yang akan mengakui begitu saja. Mom orang yang sangat keras kepala.

Ia menelan ludah,."Baiklah...", ia melanjutkan, "Semua adalah kesalahanku. Kegagalan anak-anakku juga adalah kegagalanku"

"Hanya itu yang bisa kau katakan?"

"Lalu apa?!", Mom kembali tidak tenang, "Apa kau ingin aku mengizinkan Rachel pergi mencari orang itu tanpa ada petunjuk sedikitpun?! Ibu macam apa yang akan membiarkan anaknya bertindak nekat?! Rachel juga harus mengikuti ujian masuk universitas, itu demi masa depannya!"

"Itulah masalahnya! Ibu macam apa yang tidak peduli dengan perasaan anaknya?! Kau selalu begitu, selalu menyepelekan Rachel karena menurutmua dia tidak sebaik Julie! Tapi; setelah yang begitu diharapkan gagal, kau menyerahkan tongkat estafet itu pada Rachel. Apa kau peduli padanya begitu dia harus mengemban tugas demi ambisimu sendiri?!"

"Itu bukan ambisi! Semua itu hanya demi kebaikannya sendiri! Agar mereka tidak harus seperti diriku..."

 "Kau tidak bisa menyamakannya seperti dirimu, kau begini karena kau butuh waktu yang lama untuk bisa menerima kematian Eric dan saat itu kau abaikan segala hal termasuk anak-anakmu! Padahal Sean juga masih terlalu kecil tapi kau tidak menghiraukannya dan terus menangisi Eric! Begitu kita dalam masalah ekonomi yang besar kau baru sadar kita harus bangkit dan 4 tahun yang lalu tidak ubahnya seperti sekarang! Kau sebut ini bangkit dari keadaan rumit, kau hanya mencoba untuk melupakan bahwa ini tidak pernah terjadi sekalipun Julie terbaring sakit di hadapanmu! Kau tidak melakukan sesuatu untuk mengembalikan semuanya menjadi baik, kau hanya memikirkan cara untuk mengatasi masalah uang! Kau menganggap ini beban! Kalau Julie tahu hal ini, aku pastikan dia tidak ingin kembali pada kita..."

"Itu tidak benar!" Mom berteriak, suaranya mengagetkan Sean yang bergidik berdiri gemetaran di pintu dan dia melirikku ketakutan.

Aku tersenyum pada Sean dan mengatakan semua akan membaik. Kupastikan itu, agar aku tak lagi melihat kekecewaan pada mata yang polos itu. Setiap kali orang dewasa meributkan masalah yang dia tidak mengerti.

"Aku sudah belajar untuk mengendalikan kesedihan. Julie harus hidup. Apa kau tahu aku berusaha untuk tidak menangis di depan Julie dan terus mengusahakan yang terbaik untuknya? Aku sengaja berjuang sekeras ini untuk dirinya dan jika aku tidak berusaha bagaimana kita.bisa bertahan setelahnya? Aku hanya ingin menunjukan padanya, walau dalam keadaan yang seperti ini, kita masih bisa hidup dengan baik. Begitu dia sadar...dengan begitu dia tidak akan beranggapan bahwa dia adalah beban..."

Semua tidak semudah itu bagiku. Jika aku satu-satunya penyulut masalah itu, dalam keadaan seperti ini, apa yang bisa kulakukan?

Aku tidak berdaya...

"Aku akan ke Santa Rosa", kata Mom, setelah mereka tenang untuk beberapa saat. "Aku akan bekerja di perkebunan..."

"Santa Rosa?", Granny mengernyit. Ia pasti berkpikir, Mom tidak mungkin pergi sementara aku masih dirawat di rumah sakit.

"Kita membutuhkan lebih banyak uang untuk biaya rumah sakit juga sekolah Rachel.", jelasnya,

Granny membalas tatapan sedih Mom dengan duka. Aku merasakan keharuan mereka melebihi apa yang aku rasakan ketika aku berkata tak ingin kembali. Namun, aku berubah pikiran.

Mom tidak datang lagi ke rumah sakit. Santa Rosa adalah tempat yang jauh. Mom ke sana seolah di ujung jalan yang ia tempuh ada masa depan kami di sana. Suatu saat juga pasti ia ingin melihatku berlari lagi dan memanggilnya 'Mommy'. Tapi, untuk sementara, kerinduan pada kami yang ia tinggalkan harus dibendungnya.

Setelah memastikan Rachel ikut ujian masuk universitas, Mom pergi ke Santa Rosa. Mom berjanji akan mengirimkan uang serta kartu pos untuk memastikan ia baik-baik saja. Katanya dia akan kembali setelah aku sembuh.

Entah berapa lamakah itu. Sehari, du.hari dan seterusnya tampak sama. Aku tak bisa menyentuh apapun. Aku dengan kesepian memandangi ragaku yang mengenaskan.

---

"Kau pasti benci ini...", Rachel berkata di dekatku. "Terbaring sangat lama begitu, apa tidak membuatmu lelah?"

Rachel tidak menyerah. Aku tahu dia kecewa yang belum mau mengerti, tapi itu tetap tak bis menghentikannya.

"Mom sudah pergi ke Santa Rosa. Dia berhasil memaksaku ikut ujian masuk Harvard tapi aku tidak yakin akan lulus.", katanya, "Belakangan ini aku sibuk mencari orang itu di situs pertemanan. Kau mau tahi berapa banyak orang yang bernama Casey Chase?"

Tentunya ribuan bahkan lebih.

Rachel mengambil sesuatu di dalam ranselnya. Secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat. "Aku menemukannya!", kata dia dengan bersemangat, "Diakah yang kau maksud?"

"Aku sudah mengirim pesan padanyq tentang keadaanmu sekarang", katanya, "Tidak lama lagi, dia akan datang..."
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: