๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Setiap bertengkar dengan orang tuanya, dia datang padaku. Menjelaskan bahwa ketidakseriusannya pada kuliahnya menjadikan mereka marah. Aku berusaha menghilangkan sindrom panik Casey yang parah setiap kali ia tidak sanggup bertahan. Casey butuh waktu lama untuk bisa berubah.
"Kita bersama selama tiga tahun lebih tapi aku tidak pernah tahu kau punya rumah sehebat ini. Orang tuamu sangat glamor persis seperti di film-film. Sementara kau, waktu itu di luar sana kau terlihat seperti gelandangan denga stik drum bodoh di kepala. Kau lari ke tempatku, aku semakin yakin bahwa kau sudah menipuku..."
Dia tak mendengarku. Kekecewaanku pun sehampa diriku saat ini.
Aku berbaring di atas ranjang empuk miliknya yang nyaman. Sementara ia masih sibuk di depan komputernya. Melakukan hal yang tampaknya dia benci karena dia belum bisa berhenti.
Aku tahu perasaan semacam ini hanyalah ilusi bagiku. Aku memandangi sosok belakangnya yang sangat kukenali. Dia tidak bertambah tinggi, hanya sedikit lebih dewasa dengan sentuhan formal. Tanpa rambut berantakan, tindik di telinga dan pelipis kanannya.
Kamar ini bergaya klasik dan mewah. Aku menyempatkan diri memeriksa setiap sudut sebelum kembali ke sini untuk mengamati setiap ekspresi yang dia perlihatkan dengan putus asa.
Casey jauh berubah. Namaku sudah terhapus dari ingatannya. Seperti file komputer yang sengaja dihapus permanen dan kita tidak akan pernah menemukannya lagi.
Aku duduk di atas meja; di samping komputernya yang masih menyala, 'Casey...', panggilku. Aku bisa melihat wajahnya yang lelah dan panik.
Dia mengetik sesuatu dengan cepat sekali lalu tiba-tiba berhenti. Seperti marah. Seperti bosan. Tapi, ia.terus memandang ke sana. Dia tidak bicara. Hanya kebingungan yang dia perlihatkan.
'Aku menyelamatkan hidupmu berulang kali tali di sana aku sekarat. Kau membiarkanku tersiksa terlalu lama, Casey...aku pikir kita akan selalu bersama...'
Casey benar-benar berhenti.
'Aku punya banyak impian bersamamu. Menikah, punya anak-anak dan membesarkan mereka. Keluargaku pun pasti bahagia melihatku bahagia...Jika takdir berkata lain, tetap tidak akan memupus cintaku untukmu...Kau masih Casey yang aku cintai dengan seluruh hatiku...'
Aku berbaring di sisinya saat ia menyerah pada komputernya yang seolah menguasainya sejak tadi. Sama-sama memandangi langit-langit kamar. Dan beginilah kami saat itu. Membicarakan masa depan yang seakan menjadi nyata di kemudian hari. Tapi, hari ini dengan begitu sedih aku merasa langit-langit ini begitu asing.
Aku adalah hantu yang menginginkan pembalasan...
'Kau tidak mengatakan apapun padaku...Semua bahagia yang kita rasakan begitu berkesan saat kau pergi. Kesan yang sangat buruk. Kau ingat saat kau membereskan semua pakaianmu dan berkata tidak akan kembali? Aku mencoba mempercayainya dan ternyata kau benar-benar pergi...Kau bilang padaku tidak usah menunggumu. Katakan bagaimana bisa aku menjalaninya sendirian? Aku memohon supaya kau tidak pergi. Di saat yang sama juga aku mencoba mengingat semua kesalahan yang aku lakukan dan bahkan meminta maaf berulang kali hanya...hanya supaya kau tidak pergi. Aku sangat putus asa saat berjanji akan memperbaiki semua kesalahanku...aku bahkan berlutut, bukan? Kau tidak mengatakan apapun padaku dan tetap pergi...Kau juga tidak menoleh ke belakang sekali pun, Casey...Hidupku hancur, tapi kau tidak peduli...'
Lama setelah Casey pergi, aku masih berharap bisa dipertemukan dengannya lagi. Aku memaksakan diri untuk terus mencarinya seakan harapan itu masih ada. Tapi, Casey benar-benar sudah menghilang.
Aku tidak pernah tahu dia tinggal di mana.
Dan di sinilah persembunyiannya. Apa yang baru kuketahui semakin meyakinkanku bahwa Casey tidak benar-benar menginginkanku untuk terus di sisinya.
Salahku.
Aku sudah lama tahu dia adalah masalah. Tapi, mengabaikannya.
"Aku melihatmu, aku mengejarmu dari seberang jalan sebelum kau sempat menghilang lagi. Lalu aku ada di sini...Kau tahu rasanya bagaimana rasanya tertabrak mobil dan memghempas jalanan dengan tidak berdaya? Kau tahu bagaimana keadaanku sekarang? Kedua kakiku patah, wajahku rusak parah, dan mau tahu yang lebih buruk? Aku mengalami pendarahan otak yang sangat parah. Aku mungkin akan buta, atau menjadi bodoh atau hilang ingatan! Sementara kau di sini, tidur dengan nyaman, bermesraan dengan kekasih barumu! Kenapa harus aku?! Kenapa harus aku, Casey?!'
----
"Kau yakin sudah mengambil semua barang-barang kakakmu?", Mom menanyai Rachel yang baru kembali dari apartemenku.
"Ya, aku sudah membawanya pulang tapi aku belum sempat menyusunnya di kamar Julie", jelasnya.
"Tidak apa-apa. Aku akan segera pulang untuk membereskannya", kata Mom sambil berdiri dan ia mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu. "Kau bisa menemaninya sampai aku kembali?"
Adikku tersenyum, "Tentu"; sahutnya saat Mom membuka pintu lalu menghilang dari pandangan.
Rachel sudah mengosongkan apartemenku.
Tubuhku belum bisa bergerak seakan tak ada harapan. Aku memandangi diriku. Jika aku bertahan bagaimana bisa aku tetap hidup dalam keadaan yang seperti ini?
Rachel mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya.
Aku terkejut saat tahu itu komputerku. Dan aku jadi ingat, catatan harian yang tersimpan di sana. Catatan yang sengaja aku buat untuk membuat jejak perjalanan hidupku. Agar suatu saat ketika aku membacanya lagi, aku akan ingat betapa kekanakannya diriku lebih dari yang bisa kuingat.
Rachel tengah membacanya dan sebentar lagi dia akan tahu apa yang telah hilang dariku.
"Ah, Rachel, kau di sini ya?", seseorang masuk dan menegurnya. "Mana Jenny?"
Rachel menutup komputerku dan lansung menoleh ke belakang, "Oh, Hai, Mrs. Richard...Apa kabar?", sahutnya lalu menghampiri wanita paruh baya yang membawakan sekeranjang buah dan satu buket mawar putih. "Mom baru saja pulang. Aku menggantikannya karena Mom harus membereskan barang-barang Julie..."
Mrs. Richard adalah tetangga kami. Tetangga yang paling baik dan perhatian. Sudah seperti keluarga dekat. Aku sering berkunjung ke rumahnya untuk bermain dengan putra tunggalnya, George, yang menjadi sahabatku. Tapi, sejak aku pindah ke California, kami tidak lagi sedekat saat kami masih kanak-kanak.
"Gadis malang...", Mrs. Richard bergumam. Ia tidak sanggup memandangku terlalu lama, lalu berbalik.
George muncul. Dia mengenakan setelan kemeja dan jeans. Tak ada yang berubah darinya. Dia hanya lebih tinggi dan.berotot. Rambutnya hitam dan lurus dengan poni yang agak panjang menutupi dahinya. Dia terlihat agak acak-acakan.
Rachel menemani Mrs. Richard keluar.
"Hai", sapa George. Seolah tubuh itu akan menyahutinya. George duduk di samping ranjang. Dia terdiam beberapa saat lalu tertunduk. Seolah tidak tahan memandangiku terlalu lama. Tapi, kemudian dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan padamu saat ini. Kau mungkin bisa mendengarnya, tapi...mungkin juga tidak..."
Aku tersenyum melihatnya, tertawa sendiri sambil garuk kepala. Dia masih saja kelihatan kikuk. Walaupun dia tahu aku mungkin tidak melihat tingkahnya, tetap saja begitu canggung.
George orang yang pemalu dan canggung.
"Hei...seperti apa rasanya sekarang?", dia bertanya. "Ma...maksudku...kau mungkin hanya tidak bisa bergerak, karena tubuhmu sakit semua atau...kau terlalu malas menggerakkannya....hahahhahha....tapi...apa kau berada di tempat lainkah? Apa kau kebingungan mencari jalan pulang? Hm...seperti bukan kau saja...Tapi, saat ini apa yang sedang kau lakukan?"
Aku tertegun. Memandangnya tertegun di sampingku.
Aku tersesat, itu yang mau kukatakan padanya. Tapi, aku juga tidak ingin kembali...
Aku menyebutnya sahabat. Dia orang yang lurus dan lugu. Aku mengenalnya sejak kecil dan kami tumbuh besar di Pennsylvania. Menjalani keseharian yang berwarna setiap harinya. Aku adalah siswi pintar di sekolah, dan George termasuk siswa yang tidak terlalu suka di sekolah. Dia pemalu dan penyendiri. Tetapi kedua tangannya sangat terampil memahat kayu.
George mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans lusuh-nya. "Dulu kau suka pinokio kan?", dia bertanya sambil memperlihatkan apa yang dia bawa.
Sebentuk boneka kecil, dari kayu. Berhidung panjang dengan topi lucu di kepalanya. Pahatan yang sangat detil dan rapi. Dia membuatnya sendiri.
"Seperti pinokio, kalau kau berbohong pasti langsung ketahuan. Dan aku tahu kau hampir tidak pernah berbohong soal apapun", jelasnya memandangi mainan itu lalu aku yang terbaring.
Aku mengambil benda itu dari tangannya, memandangi betapa jelasnya setiap ukiran dan pahatan pada lekukan boneka kayu yang tak lebih besar dari telunjuk orang dewasa.
George berdiri.
Aku tersadar dari ilusi saat menyentuh hadiahku. Dan kuperhatikan dia menaruh benda itu di meja dekat tempat tidur. Untuk menemaniku.
"Besok aku akan datang lagi", kata dia, "Aku akan datang setiap hari sampai kau sadar, bagaimana?"
Aku termangu pada tatapan sedih yang dia tunjukan pada diriku yang putus asa itu. Sampai aku menyaksikannya pergi dan menghilang seiring terdengarnya suara pintu yang ditutup dari luar.
Aku seakan meleleh.
Bagaimana bisa aku kembali? Hidup pun akan menjadi beban orang lain.
Rachel kembali, menghampiriku. Dan dia nampak terkejut. "Julie?", tegurnya saat memperhatikan lebih seksama ada tetesan air di sudut mataku. Mengalir jatuh ke ke bantal yang langsung menyerapnya dan meninggalkan bekas basah.
Dia menoleh ke pintu di mana George dan ibunya baru saja pergi.
---
Aku duduk di atas ranjang yang selalu aku rindukan. Kesederhanaan yang menjadi bagian dari hidupku selama ini. Dan aku ingat sekali, aku menempeli banyak foto di kaca agar aku bisa mengenang apa yang bisa terlihat dari lembaran-lembaran itu. Hal itu selalu membuatku bersemangat setiap pagi. Keluargaku dan orang-orang yang aku cintai. Tapi, saat itu aku belum mengenal Casey.
Sejak kuliah, aku hanya pulang sesekali dan sisa liburan aku habiskan dengan Casey. Aku tidak pernah mengenalkannya pada keluargaku karena tidak ingin Mom jadi tidak mempercayaiku.
Jika aku ingat saat itu, rasa bersalah seakan mencekik leherku saat ini.
Aku memperhatikan Mom merapikan barang-barangku dengan sangat hati-hati. Seolah mungkin aku akan kembali menghuni kamar ini lagi. Tapi, tiba-tiba Mom menangis!
Di tangannya ia memegang sebuah fotoku. Fotoku dengan Casey, yang berwajah bahagia.
"Jenny?", tegur Granny yang kebetulan melintas di depan kamar dan menemukan ibuku menangis.
"Tidak...", Mom menggeleng, menyeka air matanya sendiri setelah menyimpan benda itu di tempatnya semula.
Granny menggenggam pundaknya yang gemetar, "Julie akan baik-baik saja...", ujarnya menenangkan, "Dia pasti bertahan. Percayalah pada keajaiban Tuhan"
Tidak. Julie tidak akan bertahan lebih lama. Dia tidak akan hidup lagi...
Aku mempunyai sebuah permohonan. Aku ingin keluargaku bangkit meski tanpaku. Rachel harus tetap sekolah dan Sean masih kecil.
'Maafkan aku, tapi aku tak ingin kembali'
"Mommy?", Sean sudah berdiri di pintu dan cukup lama memandangi mereka saling berpelukan dengan sedih.
Mommy mengulurkan tangannya, "Kemarilah, sayang...", ajaknya dan kemudian meraih tubub mungil Sean untuk memeluknya.
Aku masih duduk di atas tempat tidur. Memandang mereka dengan pilu sekaligus menemukan bahwa adikku yang masih 5 tahun tengah menatap ke arahku dalam pelukan Mom.
Dia melihatku. Jelas-jelas menemukanku ada di sekitar mereka selalu. Dia hanya memandangku dengan sedih...
"Julie ada di sini, Mommy...",.dia berucap dan matanya masih padaku.
Mom melepaskannya dan tersenyum untuknya. "Mom tahu, sayang...", ucapnya.
Anak-anak ternyata lebih sensitif daripada orang dewasa.
Aku tersenyum pada adikku. Sambil memikirkan bagaimana baiknya.
Kalau saja waktu bisa terulang kembali, tidak akan kulakukan kesalahan itu.
Aku menutup mataku. Membayangkan kesahajaan Pennsylvania dalam hidupku.
---
"Dokter!", suara Rachel terdengar panik. Ia berlari keluar sambil terus memanggil-manggil.
Tidak ada yang bisa kulakukan. Melihat perpanjangan jiwaku tersiksa. Sementara aku masih di sini. Entah sampai kapan harus bertahan dengan rasa sakit. Bila semua ini memiliki arti, mengapa tidak juga berakhir? Tidak akan ada gunanya jika tetap hidup, kenapa Tuhan tak juga menghentikan rasa sakit ini?
Aku sudah tidak sanggup.
Seorang dokter wanita datang dengan langkah terburu-buru. Rachel mengikutinya di belakang dan tampak semakin tidak tenang.
"Tiba-tiba dia kejang...", jelas Rachel panik, di telpon "Aku sudah memanggil dokter dan sekarang sedang diperiksa..."
Tidak lama Mom datang. Dia kembali menangis. Rachel ikut menangis.
Bukankah aku jadi membebani mereka?
Mom duduk di kursi sementara Rachel berdiri di pintu. Setelah satu ketegangan berlalu, suasana muram masih pekat terasa di ruangan serba putih ini.
"Mom", panggil Rachel sambil menghampiri.
Mom menoleh dengan murung.
"Bagaimana jika aku tahu apa yang membuat kuliah Julie berantakan?", Rachel bertanya dengan penuh kehati-hatian.
Sudah kuduga, dia akan mengetahuinya.
"Entah ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami Julie tapi aku tahu setahun belakangan Julie merasa sangat tertekan", jelasnya.
"Apa yang kau bicarakan?",
"Aku membaca semua yang dia tulis di catatan harian di komputernya. Di sana dia menjelaskan bagaimana dia dicampakan kekasihnya. Waktu Mom menerima surat pemberitahuan dari universitas bahwa Julie gagal diwisuda, aku juga penasaran kenapa bisa seperti itu. Dan sekarang aku tahu kenapa Julie gagal"
Mom menunggu penjelasan berikutnya dan tampak tidak sabar. Ia tidak bersuara sedikitpun. Bibirnya membentuk garis tipis yang menunjukan dia sangat shock untuk beberapa saat sebelum Julie menjelaskan. Dan mungkin ia bisa lebih buruk dari itu setelah tahu apa yang kusembunyikan selama ini.
"Julie memberikan tugas akhir yang dia tulis pada kekasihnya itu. Tapi, kemudian orang itu meninggalkannya", sambung Rachel.
Aku tahu kebodohan macam apa yang aku lakukan. Jika ada yang bertanya, aku menjawab aku terlalu banyak bermain dan membuang-buang waktu. Tampaknya itu alasan yang biasa dan masuk akal. Hanpir semua mahasiswa melakukannya. Setelah itu aku berusaha menutupinya.
Sebagian dari diriku telah hancur. Aku tidak lagi datang ke kampus. Aku berakhir menjadi seorang pelayan restoran cepat saji dengan seragam konyol dan mengumpulkan uang untuk mencari Casey. Semua uang dan waktu kuhabiskan hanya untuk mencarinya dan memperbaiki kesalahan yang kulakukan.
Aku hampir putus asa saat belum juga menemukannya. Dan ternyata dia tidak pernah pergi jauh dari lingkungan tempat kami pernah bersama. Aku sedang duduk di pinggir jalan, setelah bosku memecatku karena sering tidak datang.
Aku yang mengenakan seragam pelayan yang aku tutupi dengan jaket, termenung di depan sebuah gedung pencakar langit tempat dia dan stelan jas mahalnya baru saja keluar. Aku mengejarnya. Melintasi jalan yang padat. Aku berlari dan kemudian mendengar suara rem berdecit keras lalu suara jeritan ngeri pejalan kaki yang kebetulan lewat di trotoar.
Dan yang kulihat selanjutnya adalah aku yang berada di tengah kerumunan orang-orang yang memandangku dengan pilu. Tergeletak bersimbah darah di depan sebuah mobil yang nyaris melindasku jika pengemudinya tidak mengerem.
Aku lihat keramaian yang tertuju di sana. Jalanan yang macet dan suara klakson bersahutan. Lalu ambulans. Aku sudah melihatnya turun dari mobil bersama seorang wanita, menembus keramaian dengan berjalan kaki menuju stasiun subway. Kemacetan tampak menghalangi upayanya untuk segera pergi.
Aku terdiam sekali lagi. Memandangi dia yang semakin lama semakin jauh...memudar dalam penglihatanku yang nanar.
---
Rachel tampak sedang berpikir. Rautnya tampak gelisah. Sekalipun aku sudah kembali tenang dalam tubuhku. Sebenarnya adikku lebih cerdas dariku. Tentunya dia tidak akan bernasib sama denganku. Karena Rachel lebih berpendirian dan bisa mengatur cara hidupnya sendiri.
George duduk di sisi tempat tidur. Memandangiku. Dia sudah di sana sejak dua jam lalu, sejak dia datang dengan cemas begitu mendengar aku kejang dan mesin itu berbunyi amat panjang. Seakan jantungku berhenti berdetak.
"Kau sudah lama suka padanya kan?", tegur Rachel. "Kalau mau mengatakannya sekarang sudah terlambat!"
George tampak terkejut, tapi dia berusaha untuk tenang. "Aku tahu...", balasnya muram.
"Kesalahan yang sering dilakukan orang baik sepertimu adalah terlalu baik!", celetuk Rachel, tampak gusar pada George. "Kau akan jadi penggemar rahasia selamanya!"
"Ya, itu pun juga tidak apa-apa", kata George. Masih berusaha tenang, "Aku tidak ingin mengacau saat Julie bahagia dengan hidupnya"
Bahagia? Kata itu membuatku ingin menangis.
"Jangan bilang itulah yang disebut cinta! Benar-benar bodoh!", Rachel geram, emosi kian jelas di wajahnya.
"Mungkin kau memang belum akan mengerti. Tapi, pasti jika kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apa saja demi kebahagiaannya...", George berkata, menatapku tanpa menoleh sedikitpun pada adikku yang kacau.
"Aku memang tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti!", Rachel setengah berteriak. Wajahnya merah padam, antara amarah dan sedih. Matanya seakan ingin menangis begitu kembali memandangiku, "Berkorban demi orang lain sampai jadi begini, bukannya mengerikan?! Jika cinta membuat orang jadi tidak peduli orang-orang di sekitarnya, aku tidak akan jatuh cinta! Paling tidak aku tidak akan sebodoh Julie atau kau!!"
Rachel melangkah keluar dengan terburu-buru. Pintu tertutup dengan keras. Dia benar-benar marah.
Seandainya aku tahu apa yang dia rasakan...
---
Komentar
0 comments