๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Gelap. Jalanku tidak pernah segelap ini sebelumnya. Aku sudah gila ataukah aku sedang terjebak?
Ya Tuhan, apapun itu, tolong selamatkan aku. Aku mohon....
Aku merasa telah terjadi sesuatu. Tadi, aku merasa sangat kesakitan. Tapi, mengapa semua hilang begitu saja?
Mungkin aku tengah bermimpi. Mimpi di siang bolong. Sekarang semua tampak lebih nyata bagiku. Hanya mimpi, mimpi yang tak pernah kuinginkan.
Aku sudah pulang. Aku sudah meninggalkannya.
Hanya saja aku merasa aneh. Aku memandangi sekelilingku. Aku tidak mengerti. Pikiranku terus bertanya-tanya, lalu aku kembali ke rumah. Pasti keluargaku sudah menungguku. Mereka pasti ingin menanyakan banyak hal padaku.
"Mom?!", aku berseru di depan pintu dan menunggu seseorang akan membukanya. Entah itu Granny atau Rachel.
Tapi, tak ada jawaban. Mungkin tak ada seorangpun yang berada di rumah saat ini.
Sambil menunggu, aku berpikir. Apakah yang telah terjadi padaku? Kenapa perasaanku sama sekali tidak enak? Oh, aku sangat benci firasat.
Kenapa mereka tidak ada di rumah?
Kenapa bisa-bisanya mereka tidak ada di rumah?
---
"Sudahlah, Rachel, kau harus istirahat...", suara Granny terdengar di saat aku hampir putus asa menunggu.
"Kalian dari mana saja?", aku menghampiri mereka yang baru menginjakan kaki mereka di teras.
Sean, adikku yang paling kecil, menangis tersedu-sedu dalam gendongan Rachel, adik perempuanku yang berusia 17 tahun.
"Apa dia akan baik-baik saja?", Sean bertanya pada Granny dengan terisak-isak.
"Ada apa? Apa yang terjadi?", aku menanyai mereka sekali lagi.
Mereka tidak menjawab. Rachel malah ikut menangis dan Granny memeluk mereka berdua.
"Ayo kita masuk...", ajak Granny.
"Hei, kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?!", aku mulai berteriak dan mengikuti langkah mereka yang gontai.
Granny membuka pintu dengan kuncinya. Aku lihat mereka masuk begitu saja dan menutup pintu. Mereka menghiraukanku!
"Aku tahu aku salah!", kataku, sambil membuka pintu itu dan masuk. "Aku tahu itu, tapi aku berada di saat yang sulit...aku sangat menyesal karena sudah berbuat bodoh..."
Aku menghampiri Granny yang duduk tertegun di sofa sementara kedua adikku sudah masuk kamar.
"Aku menyesal...", ucapku berlutut di sampingnya.
"Kenapa kau begitu, Julie...", ia terdengar bergumam, lalu malah ikut menangis.
"Maafkan aku...", ucapku dan setetes air mata tak cukup mampu melukiskan penyesalanku.
"Kau gadis yang baik, tapi kenapa nasibmu begini...", ia bergumam lagi, terisak.
Aku ikut menangis. Tidak tahu harus bagaimana mengucapkan kata maaf. Seolag tak akan ada yang menerimanya.
"Julie...", dia memanggilku, sedih dan getir.
Tiba-tiba Rachel keluar. "Granny?!", ia cukup histeris melihat Granny yang biasanya gaul dan ceria,.terlihat begitu terpukul.
Aku pun makin merasa bersalah.
Granny mulai meratap dengan kedua tangan terkatup rapat, dan gemetar di depan wajahnya. "Kenapa ini terjadi padamu, Julie...",
"Granny...", Rachel menatapnya iba.
MEREKA SEAKAN TIDAK MELIHATKU. TIDAK MENYADARI KEHADIRANKU.
"Kenapa kalian menangisiku?! Aku di sini! Aku sudah pulang!", teriakku pada mereka yang tengah berpelukan dengan sedih. "Aku di sini! Apa kalian dengar?! Ini sudah tidak lucu lagi, ini bukan april mob! Sudah cukup! Aku tahu kalian mendengarku! Aku sudah pulang..."
----
Sejak kecil aku hidup dengan banyak mimpi. Aku punya banyak cita-cita yang hebat san keluargaku selalu mendukungku. Mereka menyekolahkanku di tempat yang hebat pula. Kami mengalami kesulitan yang hebat sepeninggal Dad yang memilih mengakhiri hidupnya karena beratnya cobaan hidup. Kami berusaha bangkit dan aku menjadi satu-satunya tumpuan harapan. Karena itu mereka lakukan semua yang terbaik untukku seorang. Dan aku berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan apa yang kumiliki.
Setidaknya, itulah Julie yang dulu.
Sekarang, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku mencoba menyentuh tubuhku yang terbaring di ranjang rumah sakit, penuh luka.
Kau sangat malang, kataku padanya. Kenapa kau harus mengalami ini?
Dia tidak bergerak. Walau bisa bernafas tapi belum sadar juga. Mungkin karena aku masih di sini. Dia pasti tak ingin bangun dan menanggung penderitaan yang berat.
AKU JUGA TAK INGIN KEMBALI...
Tapi; tahukah, aku jadi mengetahui segalanya. Orang-orang di sekitarku, aku bisa melihat betapa sedihnya mereka. Namun, aku takut kembali.setelah menghancurkan harapan mereka?
AKU TAKUT.
'Aku sudah tidak menggenggam mimpi itu lagi. Aku melepasnya begitu saja. Bila Mom dengar ini, pasti kau akan kecewa padaku dan aku tidak ingin melihatnya...", aku berkata pada ibuku yang duduk di sisi ranjang. Yang membelai wajahku yang terluka.
Aku bisa melihat gurat kelelahan di wajahnya.
Aku bahkan tak berani mengucapkan "Sudahlah', walau ia tak akan mendengarku.
--
Aku berjalan, mencari-cari dirinya yang telah menghancurkanku. Tapi, apa gunanya itu sekarang bila menyebut namaku saja dia sudah tidak sudi.
Aku pergi ke tempat di mana terakhir kali aku bisa melihatnya setelah pencarian panjang melelahkan yang kulakukan sebelum mobil itu menabrakku. Dia ada di tempat yang hebat, pasti telah 'mengubur'-ku di satu tempat. Dia mengenakan setelan mahal dan tampak berkelas sekarang. Dia adalah masa depan yang berubah menjadi mimpi buruk. Dia adalah orang yang mengirimku ke tempat ini. Dia adalah orang yang paling kubenci sekaligus aku cintai. Dia, Casey Chase.
Beberapa saat memandangnya aku membeku. Tatapan kedua bola matanya yang biru sudah lama melumpuhkan akal sehatku. Dan aku menyebutnya jatuh cinta. Cintanya itu jugalah yang menghancurkan mimpiku.
'Kita memulai dengan sangat baik...Kita berteman, keren; tapi semuanya pura-pura bukan?', kataku berbisik ke telinganya saat ia duduk di depan komputernya dan mengerjakan sesuatu yang menyita seluruh perhatiannya.
'Kau sudah tidak butuh teman-teman band bodohmu lagi sekarang. Kau sudah meraih ini dengan sepebuh hati tapi tampaknya kau tidak puas. Aku senang bila itu karena aku tidak ada di sisimu, tapi sebenarnya bukan itu...'
Katakanlah apa yang tidak aku ketahui, Casey...
"Casey?", seorang wanita masuk ke ruangan. Tanpa mengetuk pintu dan sudah akrab sekali rupanya.
Aku duduk di meja Casey dan lelaki itu mengalihkan perhatiannya dari laptop ke wanita kantoran itu.
"Oh, hai...", Casey menyapa dengan sedikit canggung dan wanita itu mendekatinya.
Dan tragedi berlangsung di depanku. Hatiku hancur saat aku tahu hubungan mereka tak hanya sekedar rekanan. Mataku tak dapat berkedip. Terpana walau hatiku begitu sakit. Aku menahan tangis.
Aku mulai membanting semua yang kutemukan di dekatku. Buku-buku, lembaran-lembaran dokumen penting; laptop, telpon, semua yang bisa kuraih dengan tanganku yang gemetaran.
Aku tidak bisa berdiam diri menyaksikan itu. Aku berpikir mereka akan berhenti menyiksaku jika aku membuat kegaduhan.
Tapi; tak ada yang menyadarinya. Aku seperti udara. Apa yang kusentuh hanya menjadi ilusi. Semua yang aku lemparkan ternyata masih berada di tempatnya. Aku tak bisa menyentuh apapun dengan tanganku.
Tidak ada yang menyadari kehadiranku. Walaupun aku menangis, berteriak, memaki, tak ada yang mendengarku.
Aku baru sadar. Apa yang telah kulakukan untuknya telah menjadi sia-sia...
Casey tidak hanya mencampakanku. Lebih dari itu, dia telah memanfaatkanku dengan kisah sedihnya akan hidupnya yang terhempas. Dengan dirinya yang nyaris gila dan tertekan. Dirinya yang bodoh dan menginginkan kematian untuk mengakhiri masa frustasi yang panjang. Dirinya yang menipuku dengan kejam...
---
Casey dan teman-temanny, A.G, Davis dan Torant; dengan band bodoh yang mereka sebut Thw Fellow, mengobral mimpi-mimpi mereka dengB lagu ciptaan sendiri yang terdengar norak. Mereka terkenal bukan karena disukai tapi karena menjadi lelucon sejak acara kampus di mana mereka pernah dilempari sampah karena A.G tidak bernyanyi dengan lebih baik.
Tapi, mereka pantang menyerah. Casey terlalu banyak menghabiskan waktu bersama mereka dan mengabaikan kuliahnya.
Sedangkan aku, Julia Oliver, si kutu buku yang tidak gaul dan sedapat mungkin menjauh dari masalah. Tapi, Casey duduk di belakangku, kami sering bertemu dan dia selalu menyapaku. Setidaknya hanya dia yang tidak menganggapku berbeda.
Casey selalu tertawa. Tawanya seperti tawa anak kecil yang mengira dunia ini selalu indah. Dia kadang menggangguku dengan cara yang kekanakan dengan menuliskan sesuatu di buku milikku yang dia pinjam, atau menggambar ekspresi konyol hanya untuk membuatku tertawa.
Aku belum tahu bahwa sebenarnya Casey tengah melarikan diri dari keadaan yang tidak dia inginkan. Sampai aku menemukan dia tergeletak di toilet wanita dengan beberapa butir obat penenang di tangannya. Aku kasihan padanya dan semua itu mulai berubah ketika kusadari dia sangat membutuhkan aku untuk berbagi semua rasa sakit dan masalah.
Keadaan membuat aku terlena pada tatapan matanya yang kosong dan menyiratkan kepedihan. Seolah hanya aku yang bisa menghapuskannya, aku jatuh terlalu dalam dan tak bisa keluar lagi.
---
Komentar
0 comments