“Kenapa lagi sih?," tegur Damar yang akan menemaninya di sisa siang setelah semua kelas hari ini selesai.
Di tempat yang sama, di tempat mereka sering menjatuhkan puntung rokok, tanpa peduli kepala siapa saja bisa tersengat olehnya, nggak terkecuali dosen killer. Untungnya belum pernah ada kejadian seperti itu.
Hari ini bersama Damar, di saat Erris masih ada kelas.
Rory tersenyum simpul, menggeleng beberapa kali, mempercayai belakangan ia banyak melakukan hal yang lebih gila dari yang sudah-sudah. Rory tertawa misterius saat Damar membicarakan Hilda, pacar barunya. Dia membayangkan, hari-hari ke depan pasti akan terasa sangat panjang.
“Sinting…," gumam Damar menggeleng-geleng melihat kelakuannya. “Jadi gimana sama cewek itu?’
“Hah?," Rory menoleh padanya dengan senyum yang belum sirna dari bibirnya. "Apanya?”
“Cewek yang lo ceritain hari itu. Dia…lebih cantik, atau…lebih jelek dari Uki?," tanya Damar penasaran sekali.
“Lebih cantik dari Hilda," jawab Rory puas melihat raut Damar berubah.
“Ya deh…," katanya cemberut. "Terus?”
“Baru sekali ini ketemu cewek yang berusaha menghukum gue," jelasnya.
“Wow…," Damar tertawa. "Kalau gue pasti suka sama hukumannya…”
“Gue nggak suka dihukum”
“Nggak seru lo! Masa gue dapat ceritanya doang, kenalin dong”
“Ya, nanti gue kenalin…," kata Rory datar.
---
Chris datang ke rumah malam-malam. Dengan banyak pertanyaan yang seperti benang kusut di kepalanya. Hubungannya dengan Uki nggak berjalan baik, dia menyiratkan itu pada tatapannya.
Rory melihat raut wajahnya yang kusut, seperti kalah perang. Dia nggak seperti biasanya. Meski selama ini Rory selalu terus terang padanya bahwa Chris terlalu angkuh, tapi pada saat ini Rory nggak berani mengatakan adiknya itu 'kualat'. Kualat karena dia berpikir belum akan membutuhkan perempuan dalam hidupnya.
Namun, Rory nggak banyak berkomentar. Karena yang menghukum adiknya adalah gadis yang sama yang selalu mematahkan hatinya. Dan sekarang juga telah menghancurkan hatinya menjadi kepingan.
“Gue ditolak selama tujuh tahun," jelas Rory, mau nggak mau harus membicarakannya juga. Dan memang nggak ada yang bisa ia komentari lagi selain, mengatakan apa yang pernah ia rasakan. Meski itu sama sekali nggak membantu. "Kita kenal lama dan sering ke mana-mana bareng, tapi gue nggak pernah tahu apa yang dia mau. Setahu gue dia nggak pernah punya pacar”
“Dia pernah, Ror," cetus Chris, duduk di teras berhadapan dengan Rory yang duduk di motornya. “Sekali”
“Oh ya?," Rory jelas terkejut. Setahunya nggak pernah. Dia sudah ‘menyantroni’ Uki sekian lama dan memastikan nggak ada yang mendekat pada Uki. Kasarnya, dia menyingkirkan semua orang yang berusaha mendekati Uki!
“Dia sendiri yang cerita," sambung Chris. "Dia pernah pacaran lalu putus.”
“Dia pasti bohong," kata Rory. "Itu cuma alasan. Kalau benar, dia pasti juga pakai alasan yang sama buat nolak gue”
Chris lebih percaya Uki daripada Rory, dia masih ingat raut wajah Uki saat berterus terang padanya. "Dia nggak ingin disakiti,",
Rory menghela nafas. "Gue juga nggak tahu," katanya, dan ikut bingung. Kembali ke masa-masa yang sudah dia anggap kekeliruan besar. Tanpa sadar waktu berjalan cepat dan dia nggak peduli banyak hal yang ia lewatkan hanya untuk menunggu seseorang yang nggak akan pernah bisa mencintai dirinya. Menyedihkan.
Tapi, Rory tetap menjadi dirinya yang biasa. Dia kuliah, bekerja, bertemu teman-teman dan bersenang-senang. Sedangkan Chris, hanya punya dirinya seorang di saat ia nggak bisa mengatasi kesepiannya. Dulu, setahu Rory, Chris punya seorang pacar dan sahabat. Tapi, keduanya sama-sama menghilang, meninggalkan Chris sendiri.
“Gue udah pikirin ini semalaman," kata Chris. "Gue merasa ada yang aneh, gue hanya…nggak ngerti sama sikapnya Uki. Apa dia bakal menolak semua cowok yang mendekati dia sama alasan itu?”
Rory mengangkat bahunya. Dia ingin mengakui, dia nggak tahu apapun soal cewek. Dia nggak tahu bagaimana cara mereka berpikir. Kalau Rory tahu, dia akan bisa ‘menjinakan’ Natha dengan mudah.
“Lo pernah tahu alasan dia nggak pernah suka sama lo?," tanya Chris, wajahnya tampak putus asa.
“Dia cuma bilang itu nggak mungkin," jawab Rory malas-malasan. Apapun alasan Uki menolak sudah ia buang jauh-jauh dari pikirannya, dan itu terjadi secara nggak sengaja. Dia nggak mau mengingat kenangan itu lagi di benaknya meski masih tersimpan di suatu tempat di hatinya yang paling dalam.
“Gue merasa…Uki menghindari kita, karena kita ada hubungan dengan sesuatu yang nggak dia inginkan, Ror,"
Oke, Chris memang mempunyai analisa dan nalar yang tinggi, itu membedakan dia dengan Rory. Masalahnya, perbedaan itu malah membuat Rory jadi sama sekali nggak mengerti. Dia terlalu malas berpikir.
Chris gemetaran, Rory tahu itu. Dia nggak pernah uring-uringan, nggak pernah terlihat sekacau ini sejak sahabatnya Vincent, meninggal dunia karena sakit dan sang pacar mengkhianatinya. Dia bercerita dengan singkat, lalu pergi bersama mobilnya. Entah ke mana. Kemungkinan besar dia nggak akan pulang ke rumah. Kemungkinan yang lebih besar lagi adalah dia akan tetap memaksa Uki menerimanya.
---
Komentar
0 comments