[Hal.22][Ch.6] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar

Heartbeat

Natha tertawa, dia membicarakan Damar terlalu banyak. Seakan semua indra perasanya yang sekian lama tertidur mengalami disfungsitelah bangun begitu melihat Damar.
Apa istimewanya dia? Rory sedikit menggerutu, ada apa dengan dunia ini saat kebodohan Damar itu menarik bagi cewek angkuh seperti Natha? Mereka berkenalan dan Damar melawak. Lalu mereka bertingkah seperti pasangan heboh yang terlihat menggelikan.
Natha sekarang terlihat seperti gadis 15 tahun bertemu cinta pertama-nya, atau Rory terlalu berlebihan pada situasi di café tadi. Mereka tertawa. Damar mengajak Natha turun ke lantai dansa, memegang tangannya dan menari bersama. Jika Rory nggak melarangnya, Natha akan setuju untuk minum dan pulang dalam keadaan mabuk.
Sesungguhnya, hanya ingin menghindari situasi itu. Melihat Natha mabuk, satu kesempatan bedebah akan mengambil alih dirinya dan dia akan menyesali itu selamanya. Akan terasa lebih baik saat seorang gadis menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar, meski itu juga bukan perbuatan terhormat. Tapi, dalam kondisi tertentu, Natha seolah terlihat menginginkannya namun bisa berubah dalam sesaat sehingga cewek itu pasti langsung menendangnya dari kamar.
Aku akan mati, pikirnya sambil membaringkan tubuhnya yang lelah di atas sofa merahnya.
“Aku pikir kamu berteman sama tipe yang sama," komentar Natha saat ia berjalan menuju ke kamarnya.
“Tipe yang sama?," Rory mengernyit. Ia bangkit kembali, mengikuti Natha ke dalam dan mereka perlu bicara soal sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya.
“Erris itu ngebosenin, Laras terlalu ‘cowok’ untuk ukuran cewek, dan kamu…kamu Mr. Stalker," jelasnya.
 “Jangan sering-sering dekat Damar, kamu nggak sadar Laras melototin seakan matanya mau loncat dari rongganya?," ia memperingatkan dengan serius Natha yang akan masuk ke kamar mandi.
“Mereka nggak berhubungan kan?”.
“Dulu mereka pacaran lalu putus,," ucap Rory. “Masalah itu masih kebawa sampai sekarang. Aku sama Erris berusaha agar semuanya normal, dan kamu tahu akibatnya kalau masalah di antara mereka panas lagi?”
“Dunia nggak akan kiamat kan, Mr. Stalker?," balasnya, sudah berada di balik pintu kamar mandi dan hendak menutupnya.
“Dunia bakal nangisLittle Mermaid…," kata Rory. "Percaya sama ucapanku”
“Separah apa sih kalau mereka ribut?”
“Lebih dari yang bisa terbayang oleh kepala cantik kamu itu, Sayang," Rory meyakinkannya sambil mendekat dan menahan pintu, ingin masuk. “Aku pikir kita bisa memperbaiki hubungan kita, yah, walaupun… cuma sedikit…”
Natha malah mencibir dan mendorong pintunya sampai tertutup rapat.
Udara menampar wajah Rory di depan pintu. Natha melakukannya lagi.
---
“Leher gue sakit…," keluh Rory, sambil menggeliat, meregangkan semua otot dan persendian yang belakangan mulai bermasalah.
Siapapun termasuk Erris nggak tahu, cewek yang semalam ia bawa ke perkumpulan mereka tinggal serumah dengannya. Ia memang harus tidur di lantai karena sofa terlalu pendek untuk tubuhnya. Tersiksa setiap malam demi seseorang yang menganggapnya penyakit menular. Sekarang Natha selalu menghindari tatapan matanya.
“Lo nggak punya kerjaan baru?," tanya Erris. "Harusnya perabotan di rumah itu ditambah”
“Tunggakan bulan kemarin banyak. Sewa rumah, air, listrik, motor dan uang semester. Bayaran terakhir gue habis…," jelas Rory sambil memijat lehernya sendiri. "Gue punya satu klien sekarang”
“Ibu-ibu yang suaminya selingkuh lagi?,"
Rory menggeleng, lalu menggeliat lagi dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanansekali sentak. Menimbulkan bunyi ‘trek!’ yang lumayan keras.
“Terus?”
“Bayarannya gede dan kerjaannya santai”
“Lo nggak nemenin tante-tante kesepian kan?”
“Sembarangan lo!," Rory sewot, meninju lengan Erris. “Gue juga nggak serendah itu kali”
Erris menunggu.
Rory menarik nafas. "Natha tinggal di rumah gue sekarang. Dia bukan WNI, dan sebentar lagi juga visa-nya habis," jelas Rory lesu.
“Lo sinting ya?!," nada suara Erris meninggi. "Lo mau dituduh menculik WNA?”
“Dia yang minta untuk tinggal dan bilang mau membalas perbuatan gue," Rory nggak bisa menahan tawanya teringat akan ekspresi Natha ketika mengancamnya, Natha bilang nggak akan melepaskannya sampai sakit hatinya terbalas. Sakit hati karena apa? Rory bertanya padanya tapi dia tidak menjawabnya dengan pasti. Dan satu-satunya alasan yang dia katakan adalah karena pernah menyita passpornya dan mengurungnya selama itu di tempat yang kotor.
“Perbuatan apa?”
“Gue cuma pernah sita passport-nya Natha kira-kira seminggu," jelas Rory. "Sejak kejadian di kantor polisi itu, gue hanya ingin kasih sedikit… pelajaran”
 “Tinggal serumah, berantem macam kucing dan anjing, nggak pernah ngapa-ngapain, gue nggak pernah tahu ada hubungan yang seperti itu. Lo nggak lagi menyiksa diri sendiri kan?”
 “Gue bukan pelarian buat cewek yang kepribadiannya bermasalah.”
---
“So, kamu tahu dia seorang…stalker?," Natha menatap Erris datar tapi penuh kehati-hatian.
Erris nggak menjawab tapi tampak mengiyakan dengan anggukan pelan, nggak sedikitpun mengalihkan matanya dari sosok yang selalu memakai baju putih itu.
“Jadi…kamu juga orang pertama yang tahu kalau aku tinggal di sini?," tanya Natha lagi.
“Rory nggak pernah menyembunyikan apapun dari aku," jawab Erris datar.
Emang kamu pacarnya?," tanya Natha, mengejek.
“Pulang sana ke Jerman," tandas Erris, suasana menjadi dingin tiba-tiba.
Natha membelalak padanya. "Siapa kamu berani ngusir aku?”
“Rory nggak akan sanggup karena dia nggak pernah kasar sama perempuan," jelas Erris, dan Natha baru menemukan lawan seimbang yang sama ketus dengan dirinya. "Dia sudah punya banyak masalah”
“Maaf ya, apapun itu nggak ada urusannya sama kamu,," Natha berdiri, jika perlu ia akan mengusir Erris.
“Aku tahu semuanya, Renatha," Erris menjelaskan. "Dia bukan pelarian dari sakit hati yang kamu rasain. Cari aja cowok lain untuk melampiaskan itu”
Natha terdiam, nggak percaya perkataannya yang sok tahu,
 “Sekarang apa? Harusnya kamu segera pergi sebelum bikin kacau!”
“Kamu nggak ngerti, gimana tersiksanya aku selama di sini gara-gara dia!”
“Tapi, kamu juga bahagia kan?! Impas!," Erris berteriak lebih keras. "Pergi sebelum Rory kembali dan menemukan kamu masih di sini”
Natha terhenyak, menatap Erris dengan mata berkaca. Cowok pendiam itu tampak bengis. "Dia pergi ke mana?," suara Natha mulai gemetaran.
“Bukan urusan kamu!”
---
“Wow, wow, Rory nggak datang," kata Laras, terdengar seperti gerutuan. "Dia nggak sibuk sama cewek itu kan?”
Erris menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya sampai mati, asap terakhir mengepul dibawah sepatunya. "Mereka nggak pacaran," jelasnya. “Paling nggak Rory bisa lepas dari bayang-bayang Uki”
“Yang semalam itu apa?," tanya Laras,”Mereka romantis”
Erris hanya mengangkat bahu, lalu melirik Laras yang menyulut rokoknya. "Sejak kapan?," tanya dia soal kebiasaan Laras itu.
“Apa?," jawab Laras setelah menyembulkan asap tebal dari mulutnya.
“Kalau Damar lihat dia nggak akan suka," kata Erris mengingatkan soal rokok yang terselip di antara dua jari tangan Laras, yang dia nikmati dengan santai.
“Dia nggak peduli," kata Laras acuh. "Dia nggak akan berada di tempat yang sama dengan gue, kemarin juga pasti terpaksa datang”
“Heran…kita bukan anak kecil lagi," keluh Erris padanya. “Tapi, masih mau terjebak sama masa lalu”
“Lo hanya nggak ngerti, Ris," tukas Laras. "Gimana rasanya jatuh cinta”
 “Gue juga pernah putus pacaran. Memang nyakitin, lihat orang yang pernah kita cinta setengah mati dekat sama orang lain," jelasnya.
Laras tersenyum, menoleh padanya, ingin tahu. "Hah? Masa sih? Kok kita nggak tahu lo pernah pacaran?”
“Ya…ada beberapa hal yang mungkin bakal bikin suasana kacau waktu  itu…,"  jawabnya mengambang antara benar dan tidak. Tapi, lebih mengacu pada kebenaran, karena Erris nggak pernah bohong. Dia hanya seorang penjaga rahasia yang baik. Dengan nggak mengatakannya bukan berarti dia bohong. Walau kelihatannya begitu.
Handphone Erris berbunyi. Ia segera melihat layar handphone dan nama Rory muncul. “Ya?," dia mengabaikan Laras dengan melempar pandangan ke keramaian di sisi kanannya.
Laras masih menunggu dengan penasaran.
“Sama Laras, di tempat biasa, lo di mana?... sampai ke Bandung?...Ya, Natha udah gue usir…ya karena lo nggak bakal mau ngelakuinnya," Erris masih bicara di telpon. "Rory?...Rory?”
“Rory ke Bandung?," tanya Laras begitu Erris memastikan bahwa telpon terputus.
Erris nggak menelpon balik. Dia menyimpan kembali smartphone-nya dan duduk di tempat semula. Entah mengapa dia tersenyum getir, sambil menundukmengusap leher belakangnya. "Kalau Rory tahu, dia pasti bakal marah sama gue, Ras…," katanya, terdengar mendekati putus asa dan… merasa bersalah.
---
“Halo?," suara itu terdengar serak.
“Aku udah sampai," kata Rory, ada kecemasan yang begitu besar pada suaranya. "Kamu di mana-nya?”
“Aku…aku nggak tahu…," jawab Natha sambil menyeka air matanya dan melihat sekeliling tempat ia menunggu selama lebih dari tiga jam. Natha sudah bilang dia  berada di sekitar hotel tempat mereka pernah menginap dulu.
“Tunggu di situ," kata Rory sebelum menutup telponnya.
Natha duduk termangu, ditemani kopernya. Ia melipat kedua tangannya di dada, menahan dingin yang menusuk. Mengabaikan tatapan orang-orang yang lewat di depannya. Dia kelihatan jelas nggak punya tujuan karena membiarkan bus lewat begitu saja. Dengan putus asa, ia menengok ke layar handphone-nya.
Natha seperti gadis buta yang biasa berjalan dengan tongkat, ketika tongkat itu hilang entah ke mana, dia nggak bisa berjalan sendiri. Kegelapan tampak lebih menakutkan. Dia hanya bisa duduk, menunggu seseorang mengembalikan tongkatnya.
Rory belum menelpon lagi, malam akan larut di sini, dan dia nggak ingin tatapan mengawasi di sekitarnya, seperti mata harimau di kegelapan. Natha memeluk dirinya yang gemetar, sedih dan bingung. Air matanya seperti air mancur yang ada di depannya. Terus mengalir, jatuh dari pipi ke gaunnya.
Cahaya lampu jalan seperti meredup di depannya. Ia seolah duduk di kegelapan sekarang. Lalu Natha mengangkat kepalanya, bayangan seseorang telah membungkus tubuhnya yang dingin. Menyadarkannya, ia selamat.
Natha langsung berdiri memastikan itu benar-benar Rory. Jalanan memudar dalam visinya. Tubuhnya rubuh saat Rory menariknya ke dalam pelukan dan berkata mencemaskannya. Seperti itu juga Natha saat ini yang melupakan bahwa ia terlahir lemah dan penyakitan, lalu tekanan menjatuhkannya seperti ini. Rory nggak menemukan tongkatnya yang hilang, dia bersedia untuk mengulurkan tangannya menuntunnya menemukan jalan pulang. Menjadi tongkat itu sendri.
---
Dia diam hanya pada saat tidur. Dan suasana rumah kembali hening. Rory hanya pergi setengah hari, namun Erris mengacaukan banyak hal selama itu. Cara Erris bukan cara yang baik untuk menyatukan dia dengan Natha.
Rory duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah lemah itu dengan rasa bersalah yang tersangkut di tenggorokannya. Sekaligus keraguan akan membelai rambutnya atau membiarkannya saja sampai pagi. Dia selalu marah dan merajuk. Dia selalu ingin semua sesuai keinginannya. Dia sangat keras kepala. Dia juga nggak menyukai Rory. Dia selalu mengeluh, saat Rory merokok di sofanya. Dia juga pernah menyiram rokok milik Rory dengan air, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Setiap kali melihatnya, betapa Rory ingin mengakhiri siksaan ini. Terlintas di pikirannya untuk mencium Natha, agar dia mengerti bahwa sekarang mereka nggak bisa menjadi teman apalagi musuh. Mereka nggak juga pernah menjadi keduanya. Mereka hanya bertemu untuk saling melihat bahwa apapun bisa terjadi, untuk bercermin dan menyadari mereka punya kesamaan.
Rory menarik diri dari keinginan terbesarnya. Ini menggelikan saat berpikir, dia akan - hanya mendapatkan Natha apabila gadis ini dalam keadaan nggak sadar-, sementara Rory nggak bisa menaklukan Natha pada kenyataan sebenarnya. Akhirnya  ia menjauh dari sisi tempat tidur.
Rory  melangkah ke luar kamar untuk mengangkat handphone-nya yang berbunyi.
Ini sudah jam sembilan, dan Chris harusnya tahu dia butuh istirahat, apalagi setelah perjalanan melelahkan tadi. Ia mengikuti targetnya sampai ke Bandung, begitu mendengar bahwa Erris tanpa seizinnya mengusir Natha dari rumahnya. Rory nggak bisa berkonsentrasi lagi pada targetnya. Dia menghubungi Natha dan gadis itu menangis saat mengangkat telponnya!
Yang disadari Rory kemudian adalah dia sudah berada di jalan menuju ke Jakarta. Natha tengah menunggunya. Dia membayangkan preman-preman jalanan mungkin akan melihat Natha sebagai sasaran empuk mereka. Sungguh, dia hampir menabrak orang, dan semakin frustasi bertemu macet. Dia seperti bukan dirinya, sebelum melihat gadis itu. Takut dan frustasi lenyap hanya dalam hitungan detik begitu melihatnya duduk seorang diri di pinggir jalan.
Natha sudah mengambil separuh dari dirinya. Jika Natha hilang, dia bukan dirinya lagi.
“Apa lagi sih?," tanya Rory kesal, sebelum ia mendengar suara Chris di seberang sana.
“Gue ada di luar!," katanya terdengar tidak tenang. "Ada urusan penting!”
Rory segera membuka pintu depan dan sudah melihat Chris berdiri di dekat mobilnya. Menunggunya muncul untuk sesuatu yang entah apa lagi, namun Rory berniat mengusirnya untuk kembali besok karena ia ingin tidur.
“Lo pasti nggak tahu soal ini, Ror," katanya memulai sambil menghampiri Rory dengan panik. Matanya melebar dan tegang, nggak pernah ia terlihat begitu tertekan seperti sekarang. Kulit-nya yang putih nggak bisa menyembunyikan bahwa wajah Chris sebenarnya pucat.
“Apa?," tanya Rory ketus, berharap Chris menyelesaikan bicaranya dan nggak akan membuat ini seperti drama seri yang ditayangkan oleh TV,  “Apa ini soal gue dan Uki lagi?”
“Bukan, ini soal Erris!," jawabnya dengan lantang.
“Erris kenapa? Kenapa tiba-tiba ngomongin Erris?," tanya Rory heran dengan dahi berkerut.
Chris menatapnya, lalu menggeleng dengan tawa nggak jelas. "Dia sahabat lo, tapi lo nggak tahu apa-apa soal dia, ya kan?”
“Maksud lo apa sih?!," Rory mulai geram, mengepal tangannya hendak memukul adiknya agar bicara seperti lelaki, tegas dan  jelas.
“Dia pernah pacaran sama Uki, lo nggak tahu?! Waktu SMA mereka pernah pacaran! Dia satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab  atas apa yang terjadi sama Uki sekarang!,"  jelas Chris, tapi kalimatnya yang terakhir seolah bergema di kepala Rory.
ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

3 comments