[Hal.26][Ch.10] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Panic

Laras mendengus. "Oke, ratu pesta kita sudah datang…," katanya pelan, pada Natha yang duduk di sampingnya.
Natha meliriknya dan memastikan Laras melihat ke mana.
Ada seorang cewek baru, satu lagi, yang sekarang menjadi bagian dari mereka. Yaitu, gandengan Damar, Hilda yang katanya cantik selangit. Ia menghampiri semua orang dengan senyum dari bibir yang penuh lipstick peach. Ia harusnya berlenggak di catwalk dengan penampilannya malam ini. Benar, kabarnya Hilda adalah seorang model.
Hilda, berkulit putih, bentuk tubuh yang mirip seperti Laras, sedikit sentuhan feminin. Dia memakai high heels runcing dengan tinggi 11 cm bertali halus berwarna keemasan. Hot dress dengan belahan dada rendah, warna ungu muda. Mirip seperti Hayden Panetierre dalam klip Telescope.
“Aku nggak suka ungu," Natha mendesis, saat ingat Rory pernah membelikan satu untuknya dan dia nggak mau terlihat ‘sama dengan’, dengan cewek berambut lurus sebahu itu.
Laras cekikikan di sampingnya. "Aku nggak suka dia," sambungnya, mempertahankan sikap tenangnya, walau jelas-jelas ia melihat Damar dan cewek itu terlalu mesra. "Harusnya mereka cari kamar kosong”
Rory ikut cekikikan mendengar umpatan Laras pada pacar mantan pacarnya. Sambil memukul Erris di depannya, mengingatkannya untuk ikut tertawa juga, Damar membawa badut cantik ke perkumpulan mereka yang ‘ekslusif’.
“Hai semua," Hilda menyapa sambil mengambil tempat duduk di kiri Erris, diikuti Damar di sampingnya.
Sekarang Damar berhadapan dengan Laras. Rory mulai bercanda soal hari ini di kampus saat ia menjatuhkan puntung rokok dari atas atap gedung kampus dan mengenai Pak Subagja, dosen kalkulus-nya. Dia nggak takut sekalipun ini berakibat fatal baginya dan malah menjadikannya lelucon segar. Erris seperti orang mabuk saat berusaha mengikuti cerita dan berpendapat bahwa DO sudah mengancam; ia harus mengucapkan ‘bye’ kepada gelar SE -nya setelah ini.
Rory tertawa, ia  merokok lagi.
“Apa kalian nggak tahu perokok pasif kena efek yang lebih parah dari polusi ini?," gerutu Natha sambil mengipas udara di sekitarnya dari asap rokok yang menyerangnya sejak tadi. Ia batuk beberapa kali dan berpikir untuk menggeser kursinya agak ke belakang.
Rory langsung mematikan rokoknya di saat ia baru menyulutnya. Lalu tersenyum pada Natha. "Nggak perlu jauh-jauh lagi, Little Mermaid…," katanya dan cekikikan. Meminta Natha menggeser kembali kursinya ke depan.
“Sekarang kalian punya panggilan kesayangan rupanya…," celetuk Damar, ikut cekikikan.
Natha menyipitkan matanya kepada Rory maupun Damar - ekspresi paling lucu dan konyol yang pernah mereka lihat dari Natha yang biasanya berwajah cemberut. “Iya," jawab Natha. "Kalian nggak tahu aku panggil dia Mr. Stalker?”
Damar dan Laras tertawa makin keras, saat Rory melirik Natha dengan tatapan penuh peringatan, ‘stalker’ adalah julukan yang nggak dia sukai.
“Stalker?," Hilda berusuara setelah ia berpura-pura jaim dengan sikap yang tampak anggun dan terhormat, dia masih mengalahkan gaya perfeksionis Natha yang sangat alami “Itu panggilans buat penguntit kan?
Rory cukup tersinggung. "Ya, gue emang suka nguntit” katanya. “Laras perokok berat, Erris maniak dan Damar kolektor cewek”
Laras cekikikan lagi, melihat ekspresi Hilda yang lebih tersinggung.
Damar nggak mengatakan apapun, ketika pacarnya merasa nggak nyaman dengan teman-temannya yang lebih dari ‘kacau’. Ia malah ikut tertawa. "Itu hinaan," katanya memperingatkan Rory. "Gue punya banyak miniatur mobil klasik di rumah, bukan cewek”
---
Rory menggeleng. "Gue nggak ngerti sama apa yang ada dipikiran cewek itu," jelasnya.
Erris di sampingnya, melirik sebentar sebelum kembali lagi ke tempat di mana Laras dan Natha mengobrol dengan serius. Sementara Damar sibuk di lantai dansa bersama pacarnya.
"Lo jatuh cinta sama dia?"
Rory kembali tersenyum, entah apa yang dia rasakan. Terlalu cepat memastikan Uki sudah benar-benar hilang dari hatinya, namun, mengetahui Erris lah satu-satunya yang pernah dicintai Uki nggak lagi membuatnya kecewa. Mungkin saja, ia dan Natha bertemu di saat yang paling tepat untuk mengakhiri semua perasaan ingin tahu dan menggebu-gebu terhadap Uki.
 "Gue punya pandangan yang nggak terlalu bagus sama cewek bule," kata Rory. "Dan gue ingat betul saat Natha memohon sama cowok brengsek itu, nggak semudah itu buat dia bisa lupa..."
Erris mendengarkan tanpa komentar.
"Gue nggak mau jadi pelarian..."
"Apa dia kelihatan sedang jadiin lo pelarian?"
Rory angkat bahu. "Itu dia yang gue nggak ngerti," jawabnya. "Kadang dia suka dekat-dekat gue, tapi tiba-tiba dia juga bisa marah dan ngusir."
 "Kenapa nggak lo pastiin aja?"
"Gue nggak yakin secepat itu dia bisa berubah pikiran dari si brengsek itu lalu ke gue...," jawabnya terdengar sedikit putus asa. "Dia pasti bakal pergi juga
----
“Aneh kalian nggak punya hubungan apa-apa," tanya Laras yang hampir tumbang karena minum terlalu banyak dari biasanya.
Para cowok duduk di meja dekat bartender, mereka juga membicarakan masalah sesama dan mungkin nggak dimengerti cowok. Hilda sudah meninggalkan mereka dengan kesal karena nggak dipedulikan. Ia terlalu meremehkan Natha yang ia pikir cewek kuper tapi bisa mengendalikan suasana menjadi menyenangkan dengan sikapnya yang menjengkelkan. Bagaimana pun, geng ini memang berisi empat orang yang paling menjengkelkan yang pernah ada.
Natha punya Orange Juice  untuk diminum sampai mereka selesai. “Aku nggak minta dia ikut campur masalah aku," jelas Natha, datar.
“Rory nggak pernah pacaran," Laras mulai bercerita. "Aneh sih untuk ukuran cowok yang digandrungi cewek ke mana-mana nggak pernah punya pacar
“Oh, aku tahu masalah itu!," potong Natha. "Ini selalu berhubungan sama cewek yang kerja di supermarket itu kan?”                                                                                                                             
Laras megernyit, nggak menyangka Natha tahu soal Uki.
“Aku pernah ketemu," jelas Natha lagi. "Di beberapa tempat saat Mr. Stalker nggak bisa berhenti mandangin dia
Laras heran, cewek ini bisa dengan santai membahas sesuatu yang harusnya membuatnya cemberut. Laras hanya nggak tahu, Natha sedang mengungkapkan kekesalannya atas apa yang ia lihat. Membahas Rory dan gadis itu, seperti menyayat lukanya sendiri, tapi dia nggak bisa berhenti bicara karena kesal.
“Oh ya?”
“Sampai itu ada hubungannya dengan Erris, aku nggak tahu persis kejadiannya. Tapi, saat itu Mr. Stalker marah-marah sama aku tanpa sebab," Natha berceloteh dengan santai. “Dia berteriak…dan aku merinding”
“Terus?”
“Ya, itu aja sih," jawab Natha santai. Dia minum jus jeruknya dari sedotan, sedikit lalu menatap Laras.
Natha nggak bisa menjelaskan ia sudah tahu karena banyak melihat.
Laras juga nggak tahu mereka tinggal serumah dan ia harus menjaga rahasia dengan nggak banyak bicara.
Lalu Rory datang membuat pembicaraan mereka terhenti sejenak. Ia langsung duduk sambil menatap Natha seperti hendak mengatakan sesuatu yang penting. Semoga bukan kabar buruk bahwa ia terlalu mabuk untuk mengendarai motor. Tapi, Rory memang nggak pernah minum belakangan ini sejak mereka berakhir di hotel dekat klub.
“Kamu pulang sama Erris ya?," katanya. "Aku ada urusan sebentar”
---
Mobil melaju, santai dan pelan. Erris sangat berhati-hati di tikungan dan nggak pernah berkendara melebihi kecepatan 70 km per jam. Dia nggak banyak bicara sejak mereka meninggalkan klub.
Laras tertidur di belakang dan Erris selalu bertanggungjawab atas dirinya. Sementara Damar pulang dengan mobilnya sendiri.
Natha duduk di samping Erris, memandangi setiap jengkal jalan di depannya yang terbentang. Cahaya lampu jalan dan gedung-gedung yang menjulang. Semua tampak membosankan dari atas mobil. Belakangan Natha terlalu sering naik motor yang melaju kencang bersama Rory yang ugal-ugalan dan dia memeluknya dari belakang sepanjang jalan, bersandar pada punggungnya dan sering membuatnya nyaris ketiduran karena terasa nyaman.
“Kamu punya berapa hari lagi sebelum masa berlaku visa-nya habis?," tanya Erris.
“Masih cukup lama, kenapa?”
“Kamu belum berencana kembali ke Jerman?”
“Adik aku sudah mengurus semuanya kok, tinggal berangkat kapanpun aku mau," jelas Natha, kembali tenang pada nada suaranya. “Jangan berusaha bikin aku merasa bersalah karena harus pergi, Mr. Stalker bakal baik-baik aja dan kalian kayaknya terlalu paranoid soal kita”
“Mungkin kamu udah terbiasa, menjalani hubungan tanpa ikatan lalu pergi, dan untuk beberapa kebiasaan barat dan timur jauh beda," jelas Erris.
“Aku tahu ujung pembicaraan ini ke mana, kalian hanya nggak kenal aku," potong Natha. “Aku memang tumbuh sama budaya barat, tapi aku nggak minum-minum dan belum pernah ke klub seperti yang kalian lakuin tiap malam seumur hidup aku. Dan sekarang kamu nuduh aku meracuni teman kamu, jadiin dia korban dari perbuatan aku!”
“Tapi, kenyataannya begitu, Renatha!”
“Terserah kamu sekarang. Aku nggak mau ikut campur urusan kalian dengan bilang ini, kamu menghancurkan dia sampai sekarang gara-gara mengambil apa yang dia cintai! Dan dia bisa jadi lebih gila setiap saat setiap ingat itu!”
Erris menepikan mobil di pinggir jalan tol dengan rem mendadak.
Mereka mendengar bunyi ‘tuk’ saat Laras terjatuh dan masih bisa tidur di bawah jok.
“Kalau kamu tahu seperti itu kenyataannya kenapa kamu kembali ke rumahnya?," tanya Erris. "Apa yang kamu mau dari dia, Renatha?”
“Bukan urusan kamu!," balas Renatha, seperti saat Erris memakinya dengan cara yang sama. Natha jadi ingin mengatakan yang sebenarnya. “Dia mainin aku! Dia menginginkan aku tapi juga belum bisa lepasin mantan pacar kamu! Dia begitu  saat di depan aku, di depan cewek itu dia berubah jadi orang yang lain lagi! Dia nggak akan tersiksa setelah aku pergi! Dia punya banyak pilihan dan kenapa semuanya harus nyalahin aku?!”
---
“Little Mermaid ngapain tidur di sini?," Rory membangunkannya di saat Natha baru terlelap beberapa saat di atas sofa miliknya.
TV masih menyala, membiaskan cahaya ke wajah Natha yang lesu, terusik tidurnya. Ia duduk dengan baik, menarik ujung gaun yang ia kenakan menutupi kakinya. Natha merah padam, Rory melihatnya dan itu mungkin akan mempengaruhi cowok itu dalam sesaat. Tapi, ekspresi Rory tetap biasa saja. Hanya kelelahan yang ia perlihatkan saat duduk di sofa dan ia mengambil remote untuk mengganti chanel.
“Aku pikir kamu nggak pulang," kata Natha di sampingnya.
“Kalau nggak pulang aku mau tidur di mana?," balas Rory menjatuhkan punggungnya di atas sandaran sofa merahnya. "Kamu nggak tidur lagi?”
Natha segera berdiri, dengan kikuk, ia bergegas meninggalkan Rory di sofanya. Sedikit berat hati, melihatnya tepar seperti baru saja menjadi kuli bangunan. Rory menyimak tayangan di TV sementara sinar matanya meredup. Sekarang, Natha jadi tahu arti semuanya. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Rory memperhatikannya masuk lewat sudut matanya dan ia meluruskan kakinya ke depan sambil menguap dan menghembuskan nafas panjang yang terdengar lelah. Lalu setelah merasa cukup meregangkan pinggangnya yang sakit, ia membungkuk untuk melepaskan sepatunya dan menaruhnya di lantai sisi kanan sofa. Setelah ia menggeliat, ia baru merasa yakin ia akan tidur pulas.
---
“Aku ada kelas pagi," kata Rory sambil mengambil minum dan ia telah rapi sekitar setengah jam yang lalu, namun ada yang aneh dengan suaranya. Terdengar seraklendir mengisi penuh hidungnya.
“Kamu demam," kata Natha yang sedang membuat sandwich.
“Aku bersyukur aku bisa sakit juga," katanya begitu selesai minum dan menaruh botol airnya di meja. Lalu langsung keluar dari dapur untuk mengambil sepatu dan memakainya.
“Kamu yakin?," tanya Natha mengikutinya keluar.
“Yap," jawabnya sambil memastikan sepatunya sudah terpakai dengan  pas di kakinya, ia mengambil ranselnya dan bergegas ke pintu.
Harusnya nggak usah ke kampus, pikir Natha melihat Rory pucat dan sangat sakit. Rory mungkin terlalu takut membuat kesalahan lagi dan dikeluarkan, dia sangat serius dengan pendidikannya walaupun, kemungkinan orang sepertinya nggak akan bekerja di bidang yang dia pelajari bertahun-tahun itu.
Natha tahu, Rory punya SLR  dengan lensa panjang di dalam tas-nya dan selalu membawanya ke mana-mana. Dia mungkin akan menjadi street fotografer dan hidup dari menggelar pameran. 
Natha masih berdiri di dekat pintu dapur, saat tiba-tiba Rory kembali kepadanya.
Rory menghampirinya dengan cepat, meraih tengkuknya dan mengecup dahinya. Natha membeku di hadapannya.
Kenapa Rory lakukan itu? Rory nggak mengatakan apa-apa, senyum dan lesung pipinya seolah mengatakan dia akan baik-baik saja dan akan segera kembali.
Sedih rasanya untuk tahu bahwa mereka akan berpisah. Natha masih membeku, setelah pintu depan tertutup.
---
Rory batuk beberapa kali. Ia pergi ke dapur untuk minum dan menepuk-nepuk dadanya yang sakit. Dia nggak pernah terlihat semenyedihkan ini. Dan bukan dirinya bila ia terlihat sangat lemah, namun ia baru sadar ia mempunyai batas kemampuan. Ia batuk lagi dengan membungkuk, tenggorokannya seperti terbakar. Dia sudah menemui seorang dokter sepulang kuliah dan memberinya obat-obatan berwarna-warni seperti permen.
“Kenapa yang kuning nggak dimakan?," tanya Natha yang melihat bungkusan pil kuning masih rapi, nggak pernah dibuka.
“Itu obat tidur," jawabnya, mengumpulkan semuanya dan menyimpannya di tempat yang kering. “Aku nggak mungkin tidur”
“Apa yang nggak mungkin?," Natha terdengar ketus. "Dokter kasih obat tidur supaya bisa istirahat”
“Tapi, aku sama sekali nggak bisa istirahat," kata Rory tenang, kembali duduk di sofa, mengambil sepatunya untuk dipakai.
“Jangan bilang kamu mau pergi lagi”
“Aku nggak perlu bilang kalau kamu lihat sendiri," Rory tampak sangat acuh.
“Seberapa pentingnya pekerjaan menguntit dari kesehatan kamu sendiri?”
“Aku nggak mau bertengkar," tandas Rory, malas-malasan bicara. "Apa kamu nggak bosan selalu teriak-teriak di telingaku?”
Perbedaan sikapnya dengan yang tadi pagi sangat jauh.
Natha membiarkannya pergi karena nggak ingin ribut. Setelah mendengar suara motor Rory yang nyaring telah benar-benar hilang, ia masuk ke kamar. Mencari koper-nya dan memasukan semua barang-barang-nya.
Rumah kecil itu sunyi sebelum handphone-nya berbunyi. Natha menyeka air matanya dan menarik nafas panjang sebelum menyentuh tombol jawab. Dia nggak ingin terdengar sedih oleh satu-satunya orang yang mencemaskannya saat ini.
---
 “Hei,," sapa wanita muda berkulit sawo matang itu saat Rory mengambil tempat di kursi kosong di depannya. “Kamu telat”
“Jakarta macet," jawabnya santai. Dan tersenyum.
“Jangan becanda. Jakarta udah macet dari 30 tahun yang lalu…," celetuk perempuan berambut sangat pendek itu sinis. "Jadi kamu ikutin Andrew kemana?”
“Jakarta – Bandung – Jakarta," jawab Rory. Sambil mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sebuah amplop kuning yang kemudian ia serahkan pada perempuan itu.
“Kamu yakin nggak melewatkan apapun?," perempuan itu menerima amplop-nya untuk langsung membukanya sambil memandang Rory dengan sudut matanya.
Rory menggeleng dengan santainya, menunggu reaksi perempuan itu saat melihat hasil jepretannya.
Perempuan itu nggak melihat satu persatu lembaran yang diberikan Rory, ia memasukannya kembali ke dalam amplop dan mengembalikannya kepada Rory. Dia nggak membutuhkannya lagi, juga nggak ingin membawanya.
Selama riwayat pekerjaannya, baru sekali ini dia bertemu dengan seorang klien yang sangat aneh. Mungkin saking kayanya dia nggak tahu lagi akan menghamburkan uangnya kemana. Dia seorang perempuan yang cukup ‘berantakan’. Dia nggak bermasalah dengan kekasihnya, tapi justru dialah yang mencoba mencari masalah dengan sebuah ujian konyol.
“Kamu ikuti dia terus," katanya memberi perintah, untuk sebuah amplop putih yang dia taruh di atas meja. "Aku nggak akan menelpon, kamu yang telpon aku jika ada sesuatu. Kuharap jumlahnya lebih dari cukup sampai kita bisa ketemu lagi”
Rory heran saat perempuan itu berlalu dari hadapannya.
Perempuan itu memang klien yang paling aneh, tapi ini pekerjaan paling santai. Ada seorang pria yang ia ikuti selama seminggu belakangan dan dia nggak melakukan sesuatu yang nggak diinginkan terhadap kekasihnya. Dia seorang pria kantoran biasa, yang selalu mengendarai mobilnya seorang diri ke mana pun dan mengetahui kekasihnya menghilang ia tampak begitu frustasi.
Rory sudah membuktikan pada perempuan ini bahwa nggak ada hal yang mencemaskanperselingkuhan; dan menurut Rory jika pria itu akhirnya mencari pasangan lain, itu bukan salahnya. Seharusnya dia kembali karena kekasihnya sangat frustasi. Tapi, dia tampak punya rencana lain dengan meminta Rory terus menguntit kekasihnya dan menghilang.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

6 comments

    • avatar Midnight says:

      Saya postingnya tiap hari kok...habis pulang krja...thanks udah baca. jgn lupa baca yg lain jg ya...

      • avatar lee imahminsun says:

        hallo m'ba salam kenal, aku pembaca setia cerita m'ba di sini cuma G pernah ninggalin jejak aja hehe... maaf ya ,aku suka semua cerita nya apa lagi pasangan Rory dan Renatha mereka walau tiap hari berantem tapi... secara engga langsung saling n membutuhkan apa lagi natha yg asing di negara orang pastinya Rory jadi tongkat kehidupannya menuju jalan, lanjuttt ya m'ba

        • avatar Midnight says:

          hm....makasih banget...+lee,
          aku juga nikmatin banget saat nulis ini, dan sebenarnya masih ada lanjutannya, a man with roses judulnya (terus terang aku paling suka sama Erris, heheheh)

          • avatar Unknown says:

            Kok sukany sma erris mbak? Kn dia kliatanny nyebelin bgt..-_-
            Oh y mbak.. Tdi ad slah ktik tuh.. Dri Rory jdi Reno..:)

            • avatar Midnight says:

              Hm...nanti kita bakal tahu di A Man with Roses...(Saking sukanya waktu nulisnya, aku sampai begadang alias gak tidur lho untuk pertama kali...hahahaha)