[Hal.33][Ch.18] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Jalan Baru

Jika tertidur, dia sangat tenang. Natha bisa duduk di dekatnya dan memandangnya tanpa takut Rory akan membentak atau mengusirnya.

Rory sudah lebih kurus.  Dia nggak mau makan apa-apa. Setiap perawat membawakan makanan ia lebih dulu menolak dan jika dipaksa dia akan membantingnya ke lantai.  Atau saat dia mencoba sedikit saja, ia akan memuntahkannya. Ia sering memaki Natha dan menyuruhnya keluar saat nggak ingin ditemani.
Itu membuat Natha terluka, namun segera terobati ketika malam tiba. Saat Rory tertidur dan nggak menyadari kehadirannya. Dia bisa memandangnya dan tersenyum untuk dirinya. Sambil mengingat sosoknya yang  sangat Natha kenal. Dari tato di lengan kirinya dan postur badannya yang besar. Hal-hal itu membuat Natha terhibur.
Natha membayangkan saat-saat mereka ribut lalu berbaikan. Rory yang pemalas dan lebih suka tiduran di sofa merahnya dari pagi sampai sore sambil nonton TV dan bahkan sampai ketiduran. Rory yang malas mandi dan dia selalu ingin ditemani Natha untuk bermanja-manja sebelum mereka meributkan masalah sepele.
Natha merindukan semua itu. Tawa dan sikapnya yang selalu sembarangan. Rambutnya yang acak-acakan dan lesung pipi  yang dalam saat tertawa. Sekarang semua itu seakan hilang.
Natha menyeka air matanya. Sedikit keberanian ia butuhkan hanya untuk sekedar menyentuh rambutnya yang memanjang dan tumbuh nggak teratur. Biasanya Rory selalu menepiskan tangannya.
Dengan ragu-ragu Natha mencoba membelai rambutnya untuk sekedar merapikannya atau melepas kerinduan. Tapi, ia tercekat saat Rory menangkap dengannya yang nyaris menyentuh rambutnya.
Rory terbangun!
Apakah akan mengusirnya lagi?, Natha sedikit ketakutan, saat Rory bangkit tanpa melepaskan tangannya.
"Lo beneran nggak mau nyerah ya?," tanya dia memandang Natha seperti memandang seorang musuh.
Natha memalingkan wajahnya dengan sedih dan takut. Lepaskan..., pintanya ketakutan. Supaya dia bisa lari dan nggak melihat tatapan asing itu lagi. Karena akan menyakitinya dan membuatnya menangis seperti anak kecil.
Tapi, genggamannya terlalu kuat. Meski Natha berusaha menariknya kembali Rory tampak nggak akan melepaskannya.
"Kalau lo beneran cewek gue, kita pernah sedekat apa?," tanya Rory terdengar menguji.
Natha terkejut. Ia menemukan tatapan sangsi Rory terhadapnya seperti menantangnya untuk membuktikan kebenaran yang selalu dia bantah. Natha menatapnya sejenak sebelum ia mendekat tanpa ragu untuk menciumnya. Melepaskan kerinduan akan rasa yang pernah diberikan Rory padanya.
Rory membeku. Ia menatap Natha terkejut.
"Apa kamu belum ingat juga?," tanya Natha begitu melepasnya.
Genggaman Rory melemah. Terpana padanya.
---
"Aku mencintai kamu...," ucap Natha berbisik ke telinganya dengan pelan. Lalu memeluk Rory yang masih beku. Memejamkan matanya untuk merasakan hawanya dalam-dalam. Tapi, Rory seketika menariknya agar terlepas dari kebingungan akan rasa yang begitu aneh namun nggak asing.
Natha menjerit kesakitan saat tubuhnya yang lemah menghempas kasur.  Rory di atasnya. Menatap liar dirinya dengan nafas tersengal seperti terbakar. Matanya yang merah. Keringat yang mengucur deras bahkan sampai menetes di wajah Natha. Menyiratkan kebingungan akan hasrat yang dia nggak bisa mengerti datangnya dari mana. Melihat wajah cantik Natha yang membawanya kepada jalan buntu akan siapa dia sebenarnya.
Meski nggak bisa diingkari, dia cantik seperti bidadari. Siapa yang nggak akan jatuh cinta pada cewek secantik ini?
Natha menyentuh wajahnya yang panas dengan kedua tangan yang gemetaran.  Merasakan bahwa Rory tengah berusaha mengingat apakah mereka pernah berada di dalam situasi seperti ini sebelumnya.
"Tubuh kamu nggak akan lupa bagaimana kita bersentuhan, Angel... ," kata Natha sambil merengkuhnya dengan erat dan bahagia mengisi penuh hatinya yang telah tersayat. Seakan menyembuhkan luka saat Rory nggak menarik dirinya. "Kamu harus ingat, Sayang..."
Ingatlah saat pertama kali kita seperti ini...
---
Rory menghilang. Ketika Natha terbangun di sisi tempat tidur, ia merasa kecewa. Semalam ia membayangkan akan terbangun di pagi hari dengan Rory yang sudah bisa mengingat dirinya.
Tapi, memang nggak semudah itu.
Mama-nya  datang pagi-pagi sekali dan sekarang menangis histeris.
Rory kabur dari rumah sakit!
"Rory... kamu benar-benar bikin Mama gila!!," rengeknya terisak di lantai dan Chris tengah memeluknya untuk menenangkannya.
Ayahnya  juga ada di sana. "Rory pasti ketemu," ujarnya dan tampaknya mereka sudah lebih baik. Sejak Natha pernah melihat mereka saling diam cukup lama dan nggak kelihatan seperti sebuah keluarga.
Sepertinya ia harus bersabar. Rory adalah miliknya. Segala sesuatu yang menjadi miliknya akan kembali padanya. Kepadanya seorang. Lalu apa yang ia takutkan?
Nggak ada yang perlu dia takutkan.
---

Pintu akhirnya terbuka setelah Rory mengetuk dengan nggak sabaran berulang kali. Ia masih mengenakan piyama rumah sakit dan perban putih yang melingkar di kepalanya.
"Rory?," seorang cewek yang membukakan pintu terkejut melihat ada seorang pasien kabur berdiri di depan pintu rumahnya. Dia bukan Uki.
Rory merasa pernah mengenalnya tapi ia nggak mau berusaha mengingatnya karena ada yang lebih penting. Menemui Uki dengan harapan semua pertanyaan akan siapa yang sebenarnya dia cintai akan terjawab.
"Mana Uki?," sembur Rory yang mendorong gadis itu begitu saja dan menerobos masuk. "Uki?! Uki!"
"Uki nggak ada! Kamu mau apa?!," teriak gadis itu sambil mengikuti ke mana langkahnya yang bingung menuju.
Tapi, di rumah itu memang nggak ada Uki.
Rory berbalik padanya. "Lo bohong! Uki pasti sembunyi!," teriak Rory lagi.
"Uki udah nggak tinggal di sini lagi. Dia udah pergi," kata cewek itu, setelah menarik nafas panjang. "Uki nggak akan kembali lagi ke sini"
"Uki pulang ke Semarang?," tanya Rory yang melemah seketika.
"Udahlah,  Rory...," kata teman Uki padanya. "Uki udah pergi..."
Rory semakin bingung. Kenapa hanya Natha saja yang hilang dari ingatannya?
Kepalanya kembali berdenyut.
"RORY?," gadis itu mendekatinya. Melihat Rory rubuh sambil menekan kepalanya dan merintih kesakitan.
Rory menjerit keras-keras melepaskan gangguan itu dari kepalanya.
---
Natha nggak lagi terlihat. Biasanya dia ada di ruangan ini dengan mengenakan gaun putih yang membosankan itu.  Apa dia sudah menyerah?
Sejak dia kabur dan diseret oleh Damar kembali ke sini, semua orang terkesan menjauhinya. Hanya Damar yang kadang datang menemani; dan Erris, sejak hari mereka berselisih nggak pernah lagi muncul. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Selalu seperti itu.
Namun hatinya terasa sakit. Lebih sakit dari kepalanya yang sering berdenyut anpa sebab. Dirinya seperti orang dungu yang nggak boleh beranjak dari tempat tidur dan nggak bisa menghindari menu membosankan rumah sakit seperti bubur dan kacang-kacangan yang nyaris nggak ada rasanya. Serta obat-obatan dengan bau menyengat yang membuatnya mual.
Biasanya cewek itu selalu memaksa agar ia menghabiskan makanan. Seolah nggak peduli pada kemarahannya yang nggak ingin diperlakukan istimewa oleh orang yang nggak dia inginkan.
Natha nggak pernah datang lagi. Membuat kekosongan di ruangan serba putih itu semakin terasa.
"Renatha pulang ke Jerman," jelas Laras.
"Bagus...," gumam Rory duduk di tempatnya dengan raut kesal entah pada siapa.
Ia selalu terlihat penuh marah. Selalu merasa kekurangan sesuatu yang dia nggak tahu persis itu apa. Dan nggak kunjung menemukannya.
"Sok banget lo. Ntar kalau lo udah ingat pasti lo  bakal kayak orang gila nyari-nyari dia...," gumam Laras.
"Apa lo bilang?," cetus Rory kesal mendengar umpatan Laras.
"Enggak!" tandas Laras. "Elo tuh nyebelin ya.  Coba kalau lo nggak sakit, udah gue hajar..."
"Orang sakit jangan dilawan berantem, Ras...," tegur Mama-nya Rory yang baru masuk dan terlihat lebih ceria.
"Eh, Tante...," Laras segera berdiri. "Rory bandel sih,  Tan..."
"Namanya juga Rory...," kata mama-nya yang datang dengan sekantong buah segar.
"Karena Mama lo udah datang, gue pergi dulu ya," kata Laras pamitan.
"Lho kok...," Mama Rory sedikit heran.
"Aku ada urusan, Tante..." jelas Laras. "Lagian juga bentar lagi Damar datang..."
Laras segera pergi. Dia merasa agak lelah karena belum tidur sejak semalam. Ia tengah membayangkan empuknya ranjang yang sudah menantinya di rumah saat melihat Damar berjalan sendirian dan menuju tepat ke arahnya.
---
"Lo mau pulang?," tanya Damar saat mereka berpapasan.
Laras menguap dan tampak lelah. "Gue ngantuk.," jawabnya, sambil berlalu dan melambaikan tangannya.  "Udah ya..."
Tapi, Laras tersentak saat Damar menangkap lambaian tangannya.
"Tunggu!," Damar menghentikan langkah yang akan Laras ambil untuk pergi seperti biasanya. Saat mereka bertemu lalu berpisah hanya dengan lambaian tangan.
"Apa, Mar?," tanya Laras penuh perhatian mengira Damar akan menanyakan bagaimana keadaan Rory atau apakah Erris sudah datang. Tapi sepertinya bukan itu.
"Ada hal yang mau aku omongin," kata Damar
Laras tertawa. menatap Damar yang tadi begitu biasa sekarang bingung. Ditambah lagi Damar menyebut dirinya 'aku' bukan 'gue'. Laras menunggunya bicara hingga Damar akhirnya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam dan Laras sudah menebak isinya serta apa yang akan dikatakan Damar selanjutnya.
"Ini rumah sakit, Mar...," Laras berkelakar sambil memperhatikan sekitarnya. Keramaian ruang tunggu di mana bermacam-macam orang –dari yang sehat sampai yang sakit, lalu lalang dan ini bukan tempat yang romantis. “Lo nggak bisa nyusun rencana apa kek gitu…”
Tapi, lebih dari itu, semua ini terlalu mendadak. Laras menunjukan bahwa ia belum siap memberikan jawaban jika Damar membutuhkannya sekarang juga.
"Jangan nolak," kata Damar.
"Gue harus bilang apa, Mar?," Laras masih terlihat santai. "Tato di punggung gue permanen, nggak akan hilang selamanya. Lo bisa terima?"
"Aku nggak peduli soal tato atau alasan apa pun yang mau kamu bilang. Aku nggak mau tahu," jelas Damar. "Jangan pura-pura kuat kamu bisa ngatasinnya sendiri".
Laras terdiam sejenak. Sebelum senyum sangsi terukir di bibir tipisnya. "Lo pasti nyesel hidup sama gue, Mar," katanya mengingatkan.
"Lebih dari sepuluh tahun, Ras. Dan aku juga sayang sama kamu selama itu. Apa itu nggak cukup?"
Laras menghela nafas panjang dan tampak bingung. "Harusnya lo ingat semua kejadian di Glebe. Gue sendiri nggak bisa terima perbuatan gue yang kayak gitu apa lagi lo, Mar"
"Aku nggak peduli!," cetus Damar, suaranya meninggi. "Dia nggak akan kembali, Ras... Lupain dia mulai sekarang... karena kamu masih hidup..."
Laras sedikit terguncang. Ia menatap Damar lalu sekitarnya untuk menenangkan perasaannya yang menjadi nggak enak.
"Aku udah siapin ini sejak lama, tapi belum sempat aku kasih karena tiba-tiba Rory masuk rumah sakit. Dan kalau aku nunggu lebih lama lagi, kamu pasti bakal pergi lagi...bisa jadi nggak akan kembali," jelas Damar sambil membuka tutup kotaknya dan melihat sebuah cincin emas putih dengan kristal-kristal kecil berpola.
Mereka menjadi pusat perhatian saat Damar tiba-tiba berlutut, menyodorkan cincinnya. Semua orang melihat. Laras tahu dan ia semakin bingung.
Apakah semua akan selesai dengan jawaban iya?. Laras meragukan itu. Tapi, setelah semua yang terjadi dan menghempaskannya dengan menyakitkan, di mana lagi tempat ia bisa berlindung?
---
Malam menjadi asing dalam sepi. Rory menghela nafas panjang dan berat. Tanpa sadar ia terus memandang tempat tidurnya sambil mengusap seprai putih tempat tidurnya. Semakin mengingatkannya pada Natha
Perasaan ingin mengulangi apa yang ia pernah lakukan dengannya hanya untuk mengingat sejauh mana mereka mencintai. Rory menjatuhkan dirinya kembali di atas tempat tidur dan mencoba untuk terlelap. Tapi, nggak bisa!
Kilasan itu kembali setiap ia memejamkan mata. Natha yang memandangnya penuh cinta, membelai lembut tubuhnya yang keras. Memanggilnya,  'Angel' , bisikannya yang dalam dan sampai saat ini masih terngiang di telinga. Setiap tarikan nafasnya mulai terasa akrab.
Rory merinding! Ia mulai gelisah. Kenapa Natha malah pergi setelah mengacaukan dirinya? Dan apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi perasaan seperti ini...? Perasaan ingin disentuh dan hal itu membuatnya tenang meski ia nggak mampu mengingat apa yang terjadi, namun nalurinya berkata, ia pernah dekat dengannya dan itu membuatnya bertambah gelisah...
Rory mengutuk dirinya sendiri. Hingga ia meninggalkan rumah sakit, tempat yang belakangan ini membuatnya merasa tersesat. Maka pulang terasa seperti kembali pada pangkuan seorang ibu.
Rory masih bisa mengingat kamarnya.  Berada di lantai dua, di lorong sebelah kanan. Dinding dan langit-langitnya berwarna krem. Dipenuhi gambar-gambar yang ia buat dengan kameranya yang hilang. Namun Chris memberitahunya kamera itu dirusak.
Kamar ini nggak terasa asing. Masih sama dengan tahun-tahun saat ia menghabiskan waktunya untuk menyusun foto-foto itu di dinding. Keluarga, teman-teman, Uki dan... sosok Natha yang tengah tertidur.
Dan mendadak kepalanya berdenyut!
Rory mengeluh, foto-foto itu membuatnya bertambah sakit! Dan ia pun menghancurkan semuanya, mencabutinya satu persatu agar nggak melihatnya lagi...
Natha sudah pergi! Meninggalkan banyak pertanyaan di kepalanya.Siapa dia sebenarnya?
ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments:

  1. avatar kinoi says:

    hancur hatiq melihat mereka berpisah
    plizzzz Rori jgn mati..... :,( tngu cintamu pasti kmbali... ^^