๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Lost
"Gue merinding nih...," kata Laras memecah kebisuan dan memaparkan kebingungan yang ada di kepalanya. Ia melirik Erris yang berdiri nggak jauh dari pintu ruang perawatan Rory lalu beralih ke Damar di sampingnya yang menatapnya dengan pandangan yang sama. Bingung."Kata Dokter hanya bersifat temporer," kata Chris, tenang namun belum sepenuhnya lega sekalipun Rory sudah sadar. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit khawatir namun begitu melihat wajah ketiga teman Rory, ia jadi nggak bisa bicara banyak. Lebih-lebih Natha juga ada bersama mereka, walau ia tengah berdiri di ujung koridor di depan jendela, dengan jarak yang cukup jauh.Cewek itu tampak seperti diusir. Nggak ada yang bisa membantah Rory saat dia lebih menginginkan Uki untuk menemaninya. Meski sudah dijelaskan berkali-kali, Rory nggak mendengarkan teman-temannya dan malah berpikir mereka sinting."Kasihan Natha, tau nggak sih?," komentar Laras lagi."Berapa lama, Chris?," Erris bertanya."Tergantung. Luka di kepala itu efeknya bisa macam-macam," jelas Chris."Dijedotin lagi bisa normal lagi nggak tuh?," celetuk Damar, hanya berusaha untuk nggak ikut-ikutan rusuh."Beruntung dia nggak buta," ujar Chris. "Kita semua harus nunggu..."Hening kembali mengambil alih suasana yang mendadak suram lagi. Ketika mereka hanya saling tatap lalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Rory selalu mampu mengubah suasana. Dia seperti matahari, ketika cahayanya redup mendung akan datang, lalu hujan berupa air mata kesedihan akan turun. Namun, bila cerah, ia akan bersinar, membuat semua riang dengan tawa dan candanya.Seakan semua itu akan pergi dan nggak akan kembali lagi...Nggak lama, Chris pergi. Lalu Laras dan Damar. Meninggalkan Erris yang kemudian menghampiri Natha yang masih sendiri di sana. Meski nggak terlalu suka bicara dengannya, namun posisi mereka saat ini sama. Natha kelihatan lebih tertekan dari saat ia menunggu tanpa kepastian."Hanya sementara," Erris mengingatkan padanya bahwa dia harus lebih sabar karena Rory masih butuh waktu.Natha hanya meliriknya sejenak sebelum kembali ke jalanan padat yang sedang ia pandangi. Dan akhirnya dia menangis. Tanpa bicara.---"Apa hal terakhir yang bisa lo ingat?," pertanyaan Erris sederhana namun membuat Rory berpikir dengan keras.Rory agak mengeluh. Tentu dia berpikir dan begitu ia memaksakan dirinya mengumpulkan serangkaian kejadian yang kacau di otaknya, sakit itu menyerangnya. Ia meringis, memegangi belakang kepalanya yang baru saja bergejolak.Seperti menyentuh dinding yang dialiri listrik saat berpikir di balik dinding itu ada masa lalu yang ingin ia temukan kembali. Rasa sakit menyengatnya setiap ia berusaha keras untuk melihat apa yang ada di baliknya."Gue nggak ngerti maksud pertanyaan lo apa," celetuknya gusar. "Kepala gue sakit!""Pacar lo bukan Uki, tapi Natha. Dia tinggal di rumah lo dua bulan belakangan ini," kata Erris. "Lo ingat, rumah kecil yang lo sewa sejak lo minggat dari rumah karena berantem sama bokap lo""Apa?," Rory bahkan nggak mengingat bagian saat ia melawan ayahnya dan pergi dengan perasaan marah dari rumah, mengabaikan ibunya yang bersedih. Bahkan berani bersumpah nggak akan pulang."Lo ketemu Natha pertama kali di bandara, waktu kita jemput Laras yang baru pulang dari Australia," lanjut Erris."Gue jatuh cinta sama cewek itu?," Rory meyakinkan dirinya sekali lagi."Lo mau tahu apa yang bikin lo jadi kayak gini?," tanya Erris lagi."Lo sama Natha masuk ke rumah orang tanpa izin dan ngacak-ngacak tempat itu buat balas dendam.," jelas Erris. "Orang itu mantan pacarnya Natha dan lo bantuin dia melampiaskan sakit hati. Dan orang itu juga yang bikin lo kayak gini karena dia balas dendam balik.""Nggak mungkin gue ngelakuin hal yang kayak gitu...," Rory menggeleng. "Lo dari dulu tahu, gue cuma suka Uki. Sejak SMA, dan itu nggak pernah berubah"Erris terdiam sesaat. Ini menjadi lebih sulit. Dan dia jadi nggak bisa mengutarakan kebenaran yang sudah dilupakan Rory. Berterus terang hanya akan membuat kondisi Rory bertambah buruk. Kepalanya jadi ikut sakit.Apa yang bisa ia katakan sekarang? Rory hanya bisa mengingat kejadian sebelum mereka menjemput Laras di bandara, sebelum bertemu Natha. Karena terlalu memikirkan Natha, itu menjadi bagian yang terlupa.---"Semua orang harus bilang hal yang masuk akal sekarang...," Rory terdengar mengeluh. "Gue sama cewek kayak lo itu nggak mungkin..."Natha hanya menatapnya. Tanpa ekspresi di depannya. Tanpa kata. Semua sudah ia katakan meski ia tahu Rory nggak akan mempercayainya. Dan waktu akan menunjukan semuanya. Nanti. Tapi, dia harus bersabar. Dia sudah katakan itu berulang kali pada dirinya, jauh sebelum ini. Saat memutuskan akan bersama. Ia akan banyak terluka dan menangis, Natha menyanggupinya. Ia menyesali, mengapa saat pergi waktu itu, ia melupakannya begitu saja."Kita sama-sama nyebelin, kalau kamu mau tahu," kata Natha berusaha tenang. "Kita berantem hampir tiap hari. Kamu sering minta aku ngelakuin hal yang aku nggak bisa lakuin. Aku keberatan saat kamu ngerokok di tempat tidur, buang sampah sembarangan dan makan mie instan"Rory tersenyum, menggeleng-geleng, nggak percaya, dan kepalanya sakit lagi. "Kita sedekat itu?," tanya dia sangsi.Natha berdiri dari tempatnya untuk melihatnya lebih dekat "Angel...?," panggilnya. Namun, Rory menepiskan tangannya."Apa lo nggak bisa berhenti manggil gue pakai nama itu?!," tandasnya.Natha tertegun. Memandangi Rory yang tampak bagaikan orang lain yang nggak dikenal. Itu menyiksanya, tapi ia nggak boleh menunjukan bahwa ia lagi-lagi terpukul dengan sikapnya.Namun ada hal yang terasa lebih menyakitkan.--- Erris dan Uki bertengkar. Nggak pada saat yang tepat. Mereka saling tarik menarik. Erris terlihat sangat emosi dan Uki berontak seperti seorang bocah kecil yang ketahuan mencuri dan akan diseret ke kantor polisi."Aku udah bilang jangan datang lagi!," kata Erris yang menarik Uki pergi, dengan kasar dan Uki yang kecil tampak nggak berdaya."Erris! Lepasin!," Uki berteriak. Kesal dan marah."Apa?!," Erris semakin emosi, dia menghentikan langkahnya dan dengan kasar mendorong Uki ke dinding, menahannya dengan sekuat tenaga di sana, supaya melihat betapa marahnya ia pada suasana kemarin dan hari ini. "Kamu punya penjelasan apa sekarang?! Apa kamu belum puas nyakitin aku dengan sifat dan sikap kamu itu, hah?!"Uki menghindari tatapannya, karena itu menakutkan hingga membuatnya merinding. "Rory yang minta aku datang... dia sakit kan...," Uki membela diri."Erris!!," suara Rory bergema di sepanjang lorong rumah sakit. Ia sudah cukup lama berdiri memandang ke arah mereka sambil mencerna apa yang ia lihat dengan kepalanya yang terasa sakit.Natha di sampingnya mulai khawatir. Saat Rory melangkah ke arah mereka, dengan piyama rumah sakit yang kebesaran di tubuhnya yang kurusan serta amarah yang timbul dalam sekejap. Melihat sahabatnya tengah melakukan sesuatu yang membuatnya syok. Dan ia nggak menyangka akan disuguhi hal-hal seperti ini di saat ia belum tenang pasca siuman dari koma yang begitu panjang."Angel!," Natha mengikutinya saat Rory melangkah terburu-buru menghampiri Erris. Siap dengan tangan yang mengepal kuat, namun tiba-tiba rubuh. Natha menjerit ketakutan.Uki bersiap berlari ke arahnya "Rory?!," panggilnya. Tapi, tangannya ditarik dan Erris menahannya untuk nggak mendekat."Yang pacaran sama Uki itu gue, bukan lo! Dan lo juga udah tahu itu," Erris mengingatkan. Dia yang biasanya tenang, sekarang menjadi emosional."Omong kosong!!," teriak Rory yang makin kacau, kepalanya bertambah sakit."Gue udah nggak tahan lagi, Ror!," teriak Erris padanya, mengungkapkan betapa ia telah dikecewakan dan ia sudah nggak bisa berdiam diri seperti yang biasa ia lakukan untuk mendinginkan suasana. "Lo harus terima kenyataan sekalipun lo nggak bisa ingat apa-apa soal itu!"Bibir Rory gemeretak saking kesalnya. "Erris...," gumamnya kesal, nggak percaya teman yang dia percayai seorang pengkhianat, seakan ingin membunuhnya saat in juga. Tapi...Ataukah...memang antara ia dan Uki sudah nggak lagi menjadi masalah?, Rory mulai bingung begitu mendapati Natha di sampingnya.Erris berusaha tenang "Nanti lo juga ingat semuanya," dan akhirnya menarik Uki dengan paksa untuk pergi dari sana. Meninggalkan Rory yang belum bisa bangkit, karena sekujur tubuhnya yang lemah membuatnya nggak bisa berdiri dengan segera untuk mengejar."Uki!!," panggil Rory, suaranya mulai parau saat mereka semakin menjauh.Namun, Uki nggak mampu melepaskan dirinya. Bahkan nggak menoleh. Membenarkan semua perkataan Erris yang menyakitkan hatinya. Mereka mulai menghilang dari pandangan Rory yang merasakan sakit yang amat sangat seperti akan membunuhnya.Kenapa aku nggak bisa mengingat apapun?"Angel...," Natha tampak sedih, mencoba membuatnya tenang. Tapi, malah mendapatkan penolakan.Rory mendorongnya saat ia mencoba membantunya berdiri. "Minggir!!," teriaknya keras-keras.Natha mendadak kaku. Dayanya seketika hilang. Hanya memandangi Rory yang benar-benar telah kehilangan dirinya. Nggak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaannya.Semoga ini segera berlalu, harapnya.---"Sakit, Erris! Lepasin! ," jerit Uki saat lengannya dalam genggaman Erris mulai terasa perih.Ia sudah diseret sejauh mungkin dari Rory dan Natha. Dan siapa yang tahu apa yang dilakukan Erris saat emosi menguasai dirinya? Erris akan memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya di balik wajah tenang itu. Karena hanya Uki yang pernah melihat dan merasakan bagaimana mengerikan dia di saat marah. Amarah Erris adalah awal dari petaka yang terjadi dalam hidup mereka. Dan itu berhubungan dengan Rory. Saat Erris menjadi pemaksa dan nggak ingin apapun yang dia sukai diambil orang lain bahkan termasuk sahabatnya sendiri. Apa sekarang semuanya akan terjadi lagi saat semua benar-benar sudah berakhir?Erris belum bicara sedikitpun. Ia nggak bisa menguasai dirinya. "Aku muak, Ki!," teriaknya lagi. "Apa kamu pikir kamu bisa dengan bebas datang dan pergi ke sini seolah kamu sangat dibutuhkan?!"Uki masih meronta. "LEPASIN!" Jeritnya sambil menarik-narik lengan kecilnya yang kesakitan. Begitu dia punya kesempatan untuk lepas, ia makin nggak tahan untuk membalas dengan satu tamparan keras.Ya. Erris termangu. Seolah terbangun dari sesuatu yang baru saja membuatnya kehilangan diri sendiri. Menatap Uki di depannya dan pipinya terasa panas"Bukan aku, Ris!," teriaknya sekali lagi. "Bukan aku yang mulai semua ini! Kamu!"Erris terdiam menatap tidak percaya. Uki sekarang mampu melawan setelah biasanya ia diam dan tampak sangat menyesal. Uki masih menatapnya marah. "Kenapa kamu hanya ungkit kesalahan aku?!," tuntunan. "Apa kamu lupa sama apa yang sudah kamu perbuat ke aku?!"Kedua mata Erris menatapnya bingung."Kamu hancurin hidup aku, Ris... ," kata Uki mengingatkan. "Kamu yang bikin aku jadi kayak gini..."Nggak ada kata dari bibir Erris yang seakan terkunci rapat saat menatap lurus ke mata Uki yang basah dan sedih."Kenapa sekarang semua jadi salah aku?," Uki bertanya dan nyaris menangis. "Kenapa kamu pikir seolah-olah aku memang cewek murahan? Aku nggak serendah itu, dan kalaupun kamu tetap berpikiran kayak gitu juga semuanya gara-gara kamu!"Kembali ke tahun-tahun sebelumnya saat Uki lebih berkuasa. Yang bisa berbuat dan berkata sesuka hatinya. Erris hanya diam karena menganggap itu adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah kesalahan besar yang pernah ia lakukan. Maka ia kembali terdiam. Menatap Uki melampiaskan sisa kekesalannya dengan perasaan sakit.Kenapa bisa seperti ini? Erris bertanya pada dirinya sendiri. Perlahan tatapan liarnya di pada Uki mulai melemah.Andai saja semua ini bisa diakhiri...Erris masih terpaku menatap Uki yang kemudian berlalu seperti orang buangan. Bersama langkahnya pelan dan gontai, seperti baru terhempas dari tempat yang tinggi lalu membawa seluruh rasa sakit tanpa tempat yang bisa dituju.Ini adalah akhir yang sebenar-benarnya dari mereka...Erris nggak menoleh sedikitpun. Ini lebih baik, pikirnya. Ini lebih baik daripada saling menyakiti seperti selama ini.Maka dia biarkan begitu saja. Sambil menghitung-hitung berapa lama, dirinya merasa begitu tersiksa seperti ini, sejak SMA, 8 tahun. Dan selama itu dia nggak pernah bisa mencintai orang lain. Betapa lama waktu yang terbuang hanya untuk penantian yang sia-sia.---"Rory... kenapa kamu masih aja bandel...," wanita itu tampak antara jengkel dan sedih. "Kalau kamu bandel kapan sembuhnya sih?"Rory duduk di ranjangnya. Memandang sekitarnya di mana gadis itu masih memandang nanar dan ia mulai jengah. Segala hal terasa sangat menjengkelkan. Uki tampaknya nggak akan kembali namun banyak hal yang nggak bisa ia terima. Apa yang ia lihat di koridor beberapa jam lalu terasa merobek hati. Dan andai saja bukan sahabatnya sudah pasti ia akan membunuh siapapun yang mendekati Uki. Seperti yang biasa ia lakukan, ia menjauhkan Uki dari orang-orang yang akan merampasnya.Tapi, semua itu terasa hampa sekarang.Ada sesuatu yang hilang... bukan, bukan sesuatu lagi. Tapi, ada banyak hal dan itu membuatnya gila.Natha keluar dari ruangan karena menyadari bahwa Rory nggak ingin ia ada di sekitarnya untuk sementara. Lalu ia duduk di kursi tunggu sambil menahan tangis.Setiap berpikir ini hanya sementara, rasanya ia mampu bertahan. Tapi, setiap kali melihat tatapan asing Rory kepadanya, seolah ini akan berlangsung selamanya.Dokter mengatakan Rory harus selalu berada dalam keadaan yang stabil. Nggak boleh ditekan dan tertekan. Karena itu akan membuat pemulihannya menjadi lama."Keluar!!," teriakan Rory bergema dengan mengejutkan. Ia kembali mengamuk sehingga Mama dan adiknya segera pergi, sebelum ia membanting barang-barang."Udah, Ma... Rory kan masih sakit. Dia baru sadar... kita harus sabar," ujar Chris saat Mama-nya hanya bisa menangis begitu keluar dari sana."Berapa lama lagi...?," keluhnya makin sedih.Natha memandangi mereka yang tengah menghibur diri. Sekarang nggak ada lagi canda tawa ceria yang biasa Rory bawa. Semua orang harus menunggu sampai ia benar-benar kembali. Tapi, entah sampai kapan..Lalu pria itu datang lagi. Dia sendirian. Mengenakan setelan jas yang rapi seperti baru pulang bekerja. Begitu berpapasan dengan istri dan anaknya yang membatu di depannya, ia terlihat canggung."Renatha ," tegur Chris saat Natha menanam pria itu melangkah ke arah mereka. "Kamu masih mau di sini atau ikut kita pulang? Kamu harus istirahat juga"Natha menggeleng. "Aku masih mau di sini...," katanya."Oh, kalau ada apa-apa, telpon aku," kata Chris yang buru-buru membawa ibunya pergi dan semakin kelihatan tengah menghindari ayahnya.Natha jadi ingat Rory pernah bercerita sedikit soal ayahnya yang berwatak keras dan dingin. Mereka nggak cocok dan sering cekcok. Karena itu Rory memilih tinggal sendiri di kontrakan kecil dan membiayai dirinya sendiri dengan menjadi stalker. Kabarnya juga keluarga Rory sedang kacau karena Papa-nya berselingkuh dan Rory sempat ribut dengannya belum lama ini.Natha tersenyum padanya walau tetap terlihat seperti menangis.Pria itu ikut duduk bersamanya. "Rory marah-marah lagi?," tanya dia.Natha tersenyum simpul. "Dia marah setiap bangun tidur di tempat yang nggak dikenal. Kepalanya sering sakit...," jelasnya.Pria itu terdengar menghela nafas. Nggak tahu harus bicara apa. Tapi, juga nggak mungkin masuk di saat Rory baru saja mengusir semua orang.Natha dan pria itu sama-sama diam. Entah untuk berapa lama. Mereka tampak sama. Sama-sama menyesali cara yang mereka ambil untuk menolak Rory.
ooOoo
ooOoo
Komentar
0 comments