๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
The Last Smile
Waktu seakan melambat atau memang nggak berdetak sama sekali. Natha memandang keluar jendela. Pemandangan membosankan perkotaan yang hujan. Ini baru pertama kalinya dia melihat hujan turun di Jakarta. Kabarnya di mana-mana sedang banjir. Orang-orang terkepung genangan air.Karena itu hawa kesedihan begitu terasa di sini. Natha berpaling dari jendela ke seseorang yang baru saja datang.Pria itu lagi. Dia sering datang, hampir setiap hari, ia selalu duduk di samping Rory selama berjam-jam.Natha tersenyum padanya dan nggak pernah ada pembicaraan berarti. Pria berusia 50 tahunan itu, terlihat seperti duplikat dari Rory, atau malah sebaliknya. Tapi, dia selalu berwajah dingin.Dia melihat ke arah Natha yang baru akan pergi hanya dengan senyum simpul."Kamu," dia memanggil dengan suaranya yang berat.Natha terlonjak dan segera berbalik. "Ya, Om?," sahutnya."Kamu selalu di sini?," ia bertanya dengan keramahan pada suaranya yang melunak.Natha menghembuskan nafas lega. "Ya...," jawabnya murung dengan sedikit anggukan canggung.Pria itu tersenyum. "Terima kasih," ucapnya.Natha mengangguk lagi sebelum keluar dari ruang perawatan. Kemudian ia mendesah, menyandarkan punggungnya yang lelah kepada pintu yang tertutup.Suasana di dalam, hening, seperti biasanya. Pria itu jadi ingat, Rory bukanlah anak yang pendiam. Ia bertingkah seperti remaja belasan di rumah saat bermain dengan adiknya. Mereka baku hantam seperti di film-film dan dia selalu berhasil membuat Chris menyerah. Dia membuat seisi rumah menjadi gaduh saat turun dengan meluncur di pagar pembatas tangga sabil berteriak. Dia menyikut Chris atau melemparnya dengan bantal sofa lalu Chris membalas dan mereka mulai lagi.Dia juga menyayangi ibu tirinya. Dan nggak banyak yang tahu bahwa ibu kandung Rory, sudah tiada 24 tahun yang lalu. Pria itu nyaris nggak pernah menyinggungnya lagi, karena terkungkung kesedihan sepanjang usianya. Tanpa sadar waktu terus berjalan dan Rory sudah tumbuh menjadi sosok bocah yang nggak bisa dikendalikan.Ya, ia jadi membayangkan, bagaimana wanita muda yang tengah hamil itu menyayangi kandungannya. Dia terus membelai perutnya yang membesar dengan lembut sambil membayangkan seperti apa rupa sang bayi setelah lahir. Laki-laki atau perempuan bukan masalah, asal ia sehat dan nggak kekurangan sesuatu apapun.Pria itu juga mencintai darah dagingnya. Ia terbangun setiap malam menjaga istrinya penuh pengharapan yang sama. Kelak mereka akan menjadi keluarga yang sesungguhnya dengan lahirnya seorang penerus dari Wiradilaga. Pria itu mengharapkan seorang anak lelaki yang kuat dan patuh. Tapi, hasil USG menunjukan bahwa bayi yang dikandung istrinya ternyata perempuan. Ia nggak kecewa sedikitpun. Mereka akan mempunyai seorang atau beberapa anak lelaki lagi, kelak dan akan meramaikan rumah yang sepi itu.Angel Florisa Wiradilaga, adalah nama yang disiapkan sang ibu untuk si kecil yang akan segera lahir. Angel berarti malaikat, Florisa berasal dari kata 'Flores' kota kelahiran ibu-nya. Tapi, dia terlahir sebagai laki-laki. Pekikannya terdengar begitu keras, menggema sampai ke lorong-lorong rumah sakit. Dia memeluknya untuk pertama kali, merasakan kebahagiaan yang begitu besar yang nggak pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi, kebahagiaan itu segera sirna, ketika ia tatap istrinya yang tersenyum.Itu senyum terakhir yang ia lihat dari istrinya. Sebelum matanya terpejam untuk selamanya. Ia telah berjuang memberi kehidupan pada bayi ituHari-hari berikutnya setelah pemakaman, dia mulai mengurung diri. Menyerahkan bayi yang sudah dinamai sesuai keinginan mendiang ibunya kepada pengasuh dan ia bahkan nggak mau melihat seraut wajah yang mirip dengannya itu. Keinginan mendiang istrinya terkabul, jika bayinya terlahir laki-laki, ia haruslah mirip dengan ayahnya.Setahun kemudian, ia menikahi seorang wanita cantik untuk mengurusi bayi yang rewel itu. Tapi, nggak ada yang seperti sosok yang sangat dicintainya. Hidupnya menjadi nggak bahagia sejak bayi itu lahir. Dia sudah merenggut semuanya. Dia nggak mencintai bayi itu lebih dari ia mencintai apa yang telah pergi karenanya. Dia sesali itu. Dia sesali saat sang istri begitu menyayangi anak itu melebihi nyawanya sendiri.Tapi, perasaan cinta seorang ibu nggak akan bisa ia mengerti. Karena cintanya telah lama pergi dan dia nggak bisa mencintai lagi. Ia baru sadar akan hal itu, ketika ketakutan melihat Rory akan pergi juga. Ia jadi ingat, bagaimana Rory dijaga ibunya, dia nggak ingin terjadi apa-apa padanya. Tapi, dirinya sebagai seorang ayah malah membuat anak itu menerima penolakan selama 24 tahun.Apakah wanita itu marah padanya? Karena itu dia ingin menjemput, Rory? Karena dia disia-siakan seumur hidupnya?"Apakah ini cara kamu menghukum Papa, Rory?," ringisnya tertunduk, dengan tetesan penyesalan di matanya yang merah. "Papa nggak sanggup..."----Rory pergi ke kamar. Ia berbaring di atas tempat tidurnya. Namun, tiba-tiba dunia seakan berguncang! Rory turun dari tempat tidur, ia melihat bawah meja adalah tempat aman untuk berlindung seperti yang diajarkan di sekolah saat simulasi bencana gempa.Rory ketakutan, dia menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Hentikan..., pintanya. Lalu guncangan itu berhenti.Anehnya, nggak ada satu pun barang yang jatuh dari tempatnya. Rory berdiri di tengah-tengah kamar yang semua dindingnya berwarna hitam, tanpa perabotan. Kamar itu lebih luas dari yang pernah ia ingat. Di mana pintu begitu jauh darinya. Ia berlari dengan ketakutan, apakah Chris dan mamanya baik-baik saja?Tapi, begitu membuka pintu itu, Rory malah menemukan ayahnya sedang berbicara dengan ibu tirinya.Meskipun dia nggak dengar suara mereka dengan jelas, Rory tahu mereka sedang bertengkar. Lalu telinganya mendenging.Rory menutup telinganya karena itu membuatnya kesakitan. Tapi, sepertinya mereka nggak tahu soal gempa barusan. Ataukah merekalah yang sudah membuat guncangan itu?Chris terlihat di bawah meja makan. Berlindung dengan menutup telinganya. Dia amat ketakutan, seperti dicari-cari oleh setan yang marah.Rory menerobos di antara kedua orang tuanya yang seolah nggak melihatnya. Ia mengulurkan tangannya kepada Chris dengan membawanya keluar. Tapi, saat Chris akan meraih tangannya, Chris merosot ke belakang seperti ada yang menariknya. Rory memanggilnya, tapi nggak ada suara yang keluar. Ia menyaksikan Chris menghilang begitu saja dan perhatiannya pada kolong meja yang gelap teralihkan oleh sebuah pajangan kaca yang pecah di lantai, tepat di depan wajahnyaAyahnya sudah pergi. Meninggalkan wanita itu menangis sendiri, ia menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Semua yang bisa ia temukan melayang di udara dan salah satunya megenai wajahnya!---Ketika membuka mata, langit tampak terhalang kaca sejauh mata memandang. Rory semakin merasa dirinya terjebak. Sekarang, dia ada di tempat lain lagi. Tempat yang nggak pernah ia datangi sebelumnya.Ia dikelilingi tumbuhan-tumbuhan yang terawat dengan sangat baik. Ia menyusuri jalan setapak yang kecil dan bersih dari rerumputan liar di antara barisan tanaman-tanaman yang disusun sebaik mungkin dan beberapa dari tumbuhan liar itu merambat pada tiang-tiang kayu di tengah-tengah barisan. Dan ketika ia menyadari bahwa ini bukan hutan, ia langsung teringat pada suasana rumah rumah kaca yang sering keluar di TV. Rory memandang berkeliling dari atas. Tempat ini tertutup,diselimuti sebuah kubah yang besar yang terbuat dari kaca.Rory seketika merasa benci saat menemukan sebuah pintu lagi di ujung jalan setapak. Dia nggak ingin lagi dikejutkan oleh apa yang mungkin ada dibaliknya. Tapi, dia nggak melihat adanya pintu lain yang bisa ia buka agar menemukan jalan keluar dari tempat ini. Satu-satunya pintu yang akan membawanya ke dimensi lain.Namun, kemudian dia menemukan dirinya berada di sebuah kamar tidur serba putih yang seperti berada di puncak sebuah menara. Dikelilingi oleh dinding kaca, yang memperlihatkan hamparan langit biru cerah di luar sana. Dan Natha yang memakai gaun tidur berwarna putih tengah melemparkan sebuah vas bunga ke lantai. Ia sudah menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya.Kamar putih itu tampak baru saja diguncang oleh gempa hebat. Nggak ada satu pun benda yang berada di tempatnya dengan pantas, pecahan kaca tersebar di mana-mana.Natha belum berhenti. Dia terlihat berteriak, dia juga menangis. Wajahnya kusut, penuh air mata. Seperti itulah wajah Natha yang ia perlihatkan saat terakhir mereka bertengkar.Rory menyeberangi kekacauan itu untuk mendekat padanya. Menghentikan dia yang sedang menyakiti dirinya sendiri. Itu pasti karena dirinya. Cewek itu sedang berusaha mengatasi kepedihan sendiri namun ia bingung."Natha...," Rory memanggilnya.Natha baru menemukan Rory saat Rory sudah ada di dekatnya. Dia langsung luluh nggak berdaya. Tatapan Rory padanya seperti sebuah ungkapan kerinduan yang ia nggak sanggup lagi menanggungnya lebih lama.Apa yang terjadi padanya?, Rory mulai mempertanyakan itu sebelum menyandarkan Natha di tubuhnya. Wanginya masih sama dengan saat terakhir Rory memeluknya. Membuatnya terhanyut. Tapi, gadis itu malah menghilang dalam dekapannya. Menjadi udara.Ruangan serba putih berganti menjadi keramaian di mana orang-orang sibuk tampak berjalan menarik koper dan barang bawaan mereka. Rory berputar, mengawasi sekitarnya dan ini adalah bandara!Tempat pertama kali dia bertemu dengan Natha lalu jatuh cinta!Ia mulai merasa bahwa semua ini akan ada artinya. Rory mulai mencari di tempat yang luas itu. Natha pasti berada di suatu tempat.---Natha mendengar suara yang memanggil namanya. Ia rupanya tertidur. Mungkin karena terlalu lelah sampai berjam-jam telah terlewatkan. Pandangan Natha tertuju kepada sebuah jendela yang terbuka, mengirimkan cahaya matahari yang banyak. Ia yakin suara itu berasal dari luar.Namun di bawah, ia hanya melihat sekelompok anak perempuan tengah bermain-main dan menjerit kegirangan di halaman rumput yang hijau.Perasaan ingin bergabung itu seketika muncul tapi dia terkejut saat mendengar suara kaca pecah. Dia segera keluar dari kamar dan membuka pintu satu-satunya dan melihat seorang wanita berbaju tidur berdiri di jendela dengan senjata api di tangannya.Natha nggak ingin melihatnya karena dia tahu apa yang akan dilakukan wanita itu. Beberapa saat Natha menutup mata dan telinganya, dia tetap mendengar suara tembakan yang bergema bersamaan dengan jerit ketakutannya sendiri.Dia sudah berusaha melupakannya dengan pura-pura nggak pernah melihatnya. Namun ini selalu kembali dalam tidurnya. Natha ketakutan."Angel...," panggilnya meringis dan berusaha bertahan. Dia ingin Rory ada di dekatnya, karena mimpi itu nggak pernah datang lagi sejak Rory ada di sisinya...Natha berusaha bangkit dan begitu membuka matanya, dia sudah berada di tempat akrab dengan jiwanya. Natha mulai mencari tempat duduk bagi tubuhnya yang terasa lelah seperti baru mengalami kecelakaan.Ia ingat sekali perasaan seperti ini. Perasaan hancur yang ia bawa dari Munich setelah menerima telpon dari Kevin yang memutuskan hubungan. Natha baru terlihat konyol saat dia memaki seorang cowok yang nggak bersalah. Perasaannya campur aduk. Ia merasa begitu lelah. Sambil melihat sekitarnya, ia meluruskan sepasang kakinya yang terasa sangat pegal sambil melihat-lihat sekitarnya.Adakah seseorang yang akan membawanya pergi dari sini?Di kota ini dia nggak mengenal siapapun. Dia duduk di kursi tunggu sambil memikirkan apa yang selanjutnya dia lakukan.Lalu seseorang menghampirinya, dan Natha tersenyum lega. Ia akan membawanya pergi…---Ternyata sudah pagi. Natha benar-benar sudah bangun sekarang. Apapun yang dia alami dia belum bisa mengingatnya dengan jelas. Dia hanya ingat mimpi buruk yang pernah dialaminya di masa kecil kembali. Ketika dia membuka matanya, ia merasa begitu asing pada langit-langit kamar berwarna krem dan ini jelas bukan kamar rumah sakit, tempat ia biasa tertidur menunggu Rory sadar.Natha langsung ingat, kemarin malam, Chris mengantarnya ke sini. Kedua orang tua Rory menyuruhnya istirahat setelah ia nggak bisa tidur sambil terus berharap Rory akan bangun dan melihatnya. Tapi, penantiannya masih belum menunjukan akhir yang melegakan. Namun, ketika Natha bangkit dari ranjang empuk itu, ia sedikit merasa senang, karena kamar ini mempunyai banyak hal yang disukai Rory. Foto-foto yang hampir memenuhi setiap jengkal dinding. Seperti sebuah agenda yang menerangkan masa lalu hingga masa sekarang. Serta hal-hal menarik yang Rory temukan di jalan dan tempat-tempat yang pernah dia datangi. Teman-teman dan semua hal yang dia sukai.Termasuk Natha sendiri.Rory mempunyai beberapa foto Natha yang sepertinya diambil diam-diam. Kebanyakan sewaktu ia tengah tertidur. Gambar-gambar manis itu membuatnya menangis.Lalu ia mendengar seseorang memanggil namanya dari balik pintu yang terkunci.Mama-nya Rory."Kamu udah baikan?," ia bertanya dan wajahnya tampak gembira hari ini. Ada apa dengannya?Natha mengangguk pelan belum lepas dari apa yang membuat si Tante tersenyum demikian hangat padanya."Kamu cepat siap-siap. Dandan yang cantik. Kita mau ke rumah sakit," katanya. "Rory udah sadar! Barusan Papa-nya telpon"Natha tersenyum.Mimpi semalam kian jelas di ingatannya. Rory menghampiri Natha saat ia duduk seorang diri di bandara. Itulah yang ia lihat sebelum suara itu memanggil namanya dan menariknya keluar.Terima kasih, Tuhan...---Rory sadar pagi-pagi sekali saat Chris masih tidur di sisi ranjang dan adiknya itu dikagetkan oleh gerakan yang nggak biasa. Tangan Rory menjambak rambutnya sambil berkata 'Bangun...pemalas...'Nggak ada yang salah dengan dirinya. Dia jauh lebih baik daripada terbaring lemah.Semua yang dia sayangi ada di dekatnya. Ketika Natha diberikan waktu untuk bicara dengannya setelah hampir sebulan menunggunya sadar, ia begitu bahagia. Sudah lama terpikir menebus kesalahannya dan ia akan mengatakan nggak akan pernah pergi dengan cara seperti itu lagi.Tapi, Rory tampak nggak mengizinkannya. Ia menatap Natha asing!"Kamu siapa?," tanya Rory padanya.Damar, Erris dan Laras ada di sana. Menatap Rory dengan ekspresi terkejut."Nggak lucu...," cetus Natha, ia mencoba tertawa karena yakin Rory sedang mempermainkannya. Seperti dia yang biasanya. "Kamu nggak benar-benar hilangan ingatan, Angel..."Ketiga temannya juga merasa begitu. Dan candaan Rory akan semakin nggak lucu karena tatapannya terhadap Natha sangat asing. Senyumnya yang sinis, menunjukan ia tampak terganggu dengan panggilan yang terdengar konyol seolah ia mengingkari bahwa itu memang namanya."Kepala gue sakit!," kata Rory jengkel. "Kenapa sih kalian bawa cewek sakit jiwa ini ke sini?!"Natha syok. Berharap dia nggak keliru."Lo tuh yang sakit jiwa!," sembur Laras. "Renatha kan cewek lo, Ror!""Sinting! Candaan lo nggak lucu kali!," cetus Damar sambil menghampirinya. "Ini bukan sinetron! Pakai acara hilang ingatan segala lagi! Basi lo!""Sialan!," Rory nampak geram.Erris terpaku di tempatnya. Melihat raut Rory dengan seksama. Dan itu mengingatkannya pada sosok Rory yang pernah dia kenal sebelum ini. Sosok Rory yang pemarah, mudah tersinggung, seperti waktu mereka masih remaja. Dan sudah lama ia nggak melihat tatapan penuh amarah milik Rory yang seperti itu.Seseorang masuk ruangan memecah keheningan sementara yang menjengahkan bagi Natha saat ia mencoba mempercayai bahwa ini bukan permainan Rory semata."Uki?!," suara Rory terdengar saat melihat cewek bertubuh pendek itu masuk bersama Chris. Membawa buah-buahan dalam keranjang.Uki belum tahu apa yang terjadi. Dia tampak terkejut. Memandang Rory lalu Erris yang sengaja menoleh kepadanya.Rory tampak begitu senang, berubah seperti anak kecil.Ini sudah bukan permainan lagi. Semua berusaha memahaminya dan akhirnya percaya, ada yang salah. Ada yang salah dengan ingatan Rory di mana hanya Natha saja yang terhapus dari memorinya.ooOoo
Pria itu lagi. Dia sering datang, hampir setiap hari, ia selalu duduk di samping Rory selama berjam-jam.
Natha tersenyum padanya dan nggak pernah ada pembicaraan berarti. Pria berusia 50 tahunan itu, terlihat seperti duplikat dari Rory, atau malah sebaliknya. Tapi, dia selalu berwajah dingin.
Komentar
0 comments