๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Masa Lalu
Pertama kali datang ke sini, rasanya seperti mimpi. Beberapa bulan yang lalu di saat ia berpikir cintanya masih bisa diperjuangkan. Ia sengaja datang dari tempat yang jauh yang dia pikir neraka, untuk mencari seseorang yang sangat ia cintai. Tapi, hidup ini penuh kejutan. Ia bertemu seseorang yang mirip dengan Kevin, tapi hanya sosok belakangnya saja. Sisanya, mereka nggak sama untuk ukuran mirip.
Dia seperti disihir dalam beberapa saat menyadari kebodohannya. Lalu ada yang disebut dengan takdir yang sering diartikan sebagai kebetulan. Cowok itu lebih buruk dari yang ia lihat sekilas di bandara. Dia seorang gigolo yang menerima bayaran dari wanita kesepian. Tapi, dugaannya adalah sebuah kesalahan. Rory nggak seburuk yang pernah lihat. Dia indah. Dan Natha, jatuh cinta padanya. Semua terjadi begitu saja, seperti kita bernafas dan tertidur.
Natha nggak bisa memaafkan dirinya yang pergi meninggalkannya dan telah membuatnya terluka. Jadi, ia kembali ke rumah itu.
Dia pikir Rory masih menunggunya di sana. Masih mau tersenyum padanya, memanggilnya ikan mas, putri duyung, Miss Broken Heart, atau apa pun yang mungkin akan membuatnya marah, dan Natha memanggilnya Angel. Karena Natha merindukan suaranya dan hawa yang dia bawa ke mana pun dia pergi. Hawa dari seorang lelaki yang bebas dan penuh cinta.
Berharap Rory akan memaafkannya.
Natha jadi ingat satu kekacauan yang pernah mereka buat di apartemen Kevin. Natha merusak semua barang-barang kepunyaan Kevin dan meninggalkannya dalam keadaan kacau. Seperti itu jugalah, rumah kecil mereka saat ini. Kacau, berantakan, semuanya telah hancur. Tanpa pernah berpikir bahwa Kevin mungkin akan membalas kekacauan yang mereka buat.
Natha membuka pintu kamar dengan sedikit ragu-ragu. Ia baru pergi sebulan dan inilah yang terjadi.
Rory terbaring di lantai, tak bergerak; seperti mati.
"Angel?!," Natha berlari padanya. Mengangkat kepala Rory yang terkulai nggak berdaya.
Darah mengalir dari pelipis, hidung dan mulutnya. Dia sudah dipukuli! Dia nggak berdaya. Namun, begitu dia masih mampu membuka matanya dan menatap Natha dengan mata yang sayu dan lemah.
Natha menangis. Menyandarkan kepala Rory dalam peluknya.
Rory berusaha bicara. Tapi tenggorokannya seolah tersumbat batu. Ia memaksakan dirinya untuk mengatakan "Selamat tinggal, Natha....”
Natha menggelengkan kepalanya penuh permohonan. "Jangan...," pintanya.
Mata Rory terpejam. Tanpa gerakan dalam pelukannya.
"Nggaaaak!," teriakan itu menggema dalam kesedihan dan penyesalan.
---
Adakah mimpi yang begitu menyiksa dari ini?
Natha membuka matanya. Rory masih terbaring damai dalam tidurnya dengan bantuan peralatan medis yang berbunyi setiap detik, menandakan bahwa ia masih hidup.
Detak jantungnya masih teratur. Dan Natha selalu takut jika sewaktu-waktu dia kejang, seperti kemarin dan dokter menjadi kewalahan. Seolah itu akan benar-benar merenggut Rory dari sisinya untuk selama-lamanya.
Dan setiap desahan nafas adalah doa. Natha duduk di dekatnya, memandagi dia yang mungkin nggak menyadari penyesalan ini. Dan bukan hanya Natha saja yang ada di sisinya saat ini. Teman-teman,dan keluarga, termasuk ayahnya.
Kemarin Natha melihatnya duduk sangat lama di sini. Dalam diam. Lalu ia meneteskan air mata.
Natha baru diberi tahu Erris, apa yang membuatnya menangis. Sebuah penyesalan yang sama dengan yang Natha rasakan sekarang. Penyesalan karena menolak Rory yang nggak pernah merasa bisa dicintai siapapun.
Erris juga pernah duduk di sini beberapa waktu lalu. Sangat lama, ia terdiam di samping Rory seolah mereka bisa bicara dari hati ke hati. Dan saat itu, ia menatap Natha dengan benci seolah menyalahkannya.
Jika Natha nggak pernah hadir dalam hidupnya, dia nggak akan seperti ini. Dia pasti akan menemukan gadis yang benar-benar mau menerimanya.
Rasa bersalah ini nggak akan cukup untuk menebusnya. Saat keterangan dokter nggak pernah terdengar baik sejak pertama Rory dibawa dari rumahnya dalam keadaan mengenaskan oleh Erris yang menemukannya tergeletak di lantai. Motornya habis terbakar di halaman depan dan kamera hadiah ulang tahunnya hancur menjadi berkeping-keping di dekatnya.
---
Mereka tampak seperti sedang reuni. Erris, Damar, Laras dan Uki yang sengaja datang menjenguk. Natha berada di luar lingkaran mereka. Dia duduk di luar dan menunggu sebelum Natha pergi meninggalkan lorong itu, sambil menyeka air matanya. Pergi ke suatu tempat yang lebih tenang.
Ia berusaha untuk nggak menangis beberapa hari belakangan dan ini hari ke 12 Rory dinyatakan koma. Selama itu dokter mengatakan berbagai macam kemungkinan buruk sebagai imbas dari luka dalam yang dia alami. Dia mungkin akan buta, tuli, atau ada sedikit gangguan ingatan. Untung nggak ada bagian yang patah. Tapi, jika dibolehkan, Natha rela menggantikannya menerima semua itu. Karena salahnya telah membiarkan orang lain ikut campur masalah pribadinya.
"Apa kabar, Natha?," wajah Kevin terlihat sumringah sekalipun dia terkungkung di tempat sempit selama seminggu. Namun begitu, ia tampak puas walau Rory nggak mati. "Apa yang bikin kamu mau datang ke tempat kayak gini? Kamu mau bilang kalau si brengsek itu mati di rumah sakit?"
Natha menatapnya datar sebelum tangannya dengan cepat menampar wajahnya karena perkataan nggak akan cukup mengungkapkan kemarahannya.
Kevin nampak terkejut sebelum ia tertawa sinis, melirik Natha dengan sisa percaya diri yang ia miliki dengan kebanggaan yang konyol.
"Kamu pikir kamu hebat?!," maki Natha. "Mengereyok orang?! Dasar pengecut!"
"Dia sendiri itu apa?! Dia juga sama pengecutnya saat nyewa pelacur untuk mencuri dari aku, lalu masuk rumah orang tanpa izin!," teriak Kevin.
"Paling nggak dia nggak pernah menyuruh orang lain membalaskan dendam pribadi! Cowok rendahan!," maki Natha lagi. Mendekat selangkah ke arah Kevin dan dia dengan cepat menendang Kevin tepat di selangkangan hingga cowok itu tersungkur dalam keadaan terkejut dan kesakitan!
Seorang sipir datang menghampiri untuk menarik Natha sebelum gadis itu mengamuk lebih gila.
"Itu untuk Angel!," teriak Natha padanya sambil meronta sekuat tenaga. Begitu ia lepas ia nggak lagi menunjukan gelagat ingin menyerang Kevin sekali lagi sebagai penghabisan. Dia merasa sudah lebih baik melihat Kevin kesakitan, walau nggak akan seberapa bila dibandingkan sakit yang ditanggung Rory. Tapi, Natha ternyata mampu mengungkapkan kekesalan karena pernah dicampakan dengan cara yang selama ini dia inginkan diam-diam.
Namun, bila ini nggak terjadi, mungkin ia dan Angel nggak akan pernah bertemu.
---
Di satu tempat, Rory melihat sekelompok mahasiswa sedang mengobrol tapi nggak jelas apa yang mereka katakan. Seolah mereka bicara dengan bahasa lain yang nggak bisa dimengerti. Tapi suara itu lebih terdengar seperti dengungan lalat di telinga. Mengganggu.
Rory terus berjalan mengabaikan mereka. Ia ingat masalah terakhir dengan Pak Subagja soal puntung rokok yang membakar kepalanya. Rory dihantui ketakutan akan DO dan skripsi. Maka ia berjalan terburu-buru menuju kelasnya di ujung lorong.
Tapi, semua orang tampak memandanginya. Mereka seperti melihat seseorang yang berbeda dari mereka telah berada di tempat yang salah. Tatapan itu ia terima sepanjang jalan dan pikiran buruk ia singkirkan dengan tetap berlari. Namun gerakan mereka seperti terhenti. Tubuh Rory seketika merinding tapi ia berhasil meraih gagang pintu kelasnya dan masuk.
Sejenak ia merasa seperti pulang ke rumah. Ia berdiri di ruang depan. Ada sofa dan meja juga perabotan lain yang terasa sangat familiar.
Rory menginjakan sepatunya di atas karpet coklat tua mahal bercorak tanaman merambat yang ia ingat sekali itu sudah ada sejak dia masih kecil, melewati ruang tengah yang sunyi dan begitu sampai di dapur dia baru mendengar suara-suara orang bergumam.
Rory sudah berdiri di pintu, dan menemukan ayahnya berdiri sambil menelpon. Dia seperti ada di dunianya sendiri dan Rory segera meninggalkannya. Rory menuju sisi lain rumah yang berhadapan langsung dengan halaman belakang. Tempat ia dan Chris biasa bermain mobil-mobilan. Tapi, ia malah melihat Chris kecil menangis di pelukan Mama-nya. Dia selalu begitu saat Papa marah padanya.
Rory berbalik, dia kembali ke dapur tapi ayahnya sudah pergi. Rory melihatnya menyebrangi ruang tamu dan pergi terburu-buru. Rory mengejarnya. Tapi, begitu ia sampai, pintu sudah tertutup. Rory segera membukanya tapi ia melihat sekelompok anak lelaki berusia 8-9 tahun berlari ke arahnya dan mengeroyoknya!
Mereka ada sekitar 4 orang, dia nggak sanggup melawannya. Dia dipukul, ditendang, dan mereka tertawa. Tubuh Rory yang kurus dan kecil seakan mati rasa. Saat ia bangkit, ia sudah berada di sebuah lapangan hijau sepak bola. Anak-anak itu sudah pergi. Rory nggak ingat lagi wajah mereka, dan itu membuatnya sangat dendam. Anak-anak nakal yang kerap menjadikannya bulan-bulanan.
Tiba-tiba dia ditarik, tubuhnya berputar dan ia melihat ayahnya sudah berdiri di sana.
Di belakang Papa-nya, ada Chris dan Mama-nya. Mereka menatap dengan iba. Rory menoleh ke sampingnya, ke bayangan menyedihkan dirinya yang terpantul pada kaca lemari pajangan. Dia sudah kembali ke rumah dengan wajah terluka. Ayahnya marah, tapi Rory nggak tahu apa yang sedang ayahnya coba katakan. Rory hanya menatapnya karena sudah menebak, ia pasti dituduh berkelahi.
Rory nggak berkelahi. Dia terlalu takut melakukannya. Selama ini dia sudah berusaha menjadi anak yang baik agar ayahnya bisa menyayanginya, membanggakan dirinya. Dia nggak pernah membolos, selalu mengerjakan PR, dia belajar dengan rajin di sekolah dan bahkan dapat ranking satu. Tapi, dia selalu mendapatkan tatapan yang sama darinya. Saat ia dengan bangga memperlihatkan isi raport-nya, Rory sudah yakin ayahnya akan tersenyum. Tapi, ayahnya hanya mengusap kepalanya sambil berlalu pergi dari hadapannya.
Rory terdiam di sana. Wanita yang selama ini, dia panggil Mama, datang menghampiri untuk memeluknya. Ia iba. Rory tahu apa yang ada di pikirkannya saat itu. Jangankan Chris, Rory yang dilahirkan oleh wanita yang pernah sangat dia cintai saja nggak dia pedulikan.
Rory melihat ke arah adiknya. Mereka nggak disayangi. Mereka seolah nggak diinginkan lahir ke dunia.
----
Beberapa orang teman kampus dan dosen datang. Mereka didampingi Erris dan Damar, juga Laras. Mereka hanya datang sebentar dan kebetulan dan Mama-nya yang berniat menggantikan Natha karena belum pernah meninggalkan tempat ini sejak datang.
Wanita cantik itu, datang membawa bunga yang di taruh di dalam vas berisi air. Dia tersenyum setelah selesai menatanya dengan indah. Ia berusaha tampak tegar.
Sementara Natha membayangkan, tepatnya sadar, walupun Nyonya jetset ini tampak angkuh dari luar, dia adalah seorang ibu yang menyayangi putranya. Dia yang membesarkan Rory. Dia juga yang memberi nama panggilan itu saat Rory nggak suka dipanggil Angel atau Flori. Waktu kecil Rory selalu mengeluhkan namanya yang seperti nama perempuan.
"Tante bilang sama Rory, itu nama pemberian Mama-nya yang sudah meninggal," kenangnya, sambil tersenyum getir pada Natha di sampingnya. "Setelah itu Rory nggak pernah protes lagi..."
Natha tersenyum, ia jadi ingin tahu seperti apa Rory kecil. Apa dia susah diatur? Apa dia suka berkelahi?
"Rory itu pintar," sambungnya. "Dia sayang adiknya, dia sayang keluarganya. Dia rajin dan anak yang penurut. Tapi sejak SMP, dia mulai berubah. Satu kali, dia pernah pulang dengan baju seragam berlumuran darah, Tante kira dia dikeroyokin anak nakal karena dulu dia sering dikerjain teman-temannya sampai nggak mau ke sekolah. Ternyata Rory berantem. Tante takut bilang Papa-nya karena Rory pernah ditempeleng. Jadi, tante datang ke sekolah karena dipanggil. Ternyata Rory berantem sama Damar. Tante berniat mindahin sekolahnya, tapi Rory nggak mau. Dia nggak mau dibilang pengecut sama Damar. Tahu-tahu mereka malah temenan. Akrab banget"
ooOoo
gak sabar nunggu klanjutanna...