๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hard Crash
"Lo dari mana sih?," Erris bertanya begitu Damar duduk di sampingnya dan ia terlihat berbeda dengan setelan kemeja yang rapi.
"Tadi ada urusan sebentar," jawabnya santai.
Erris mengernyit sambil menatapnya. "Masa?"
"Gue bakal bikin perubahan besar-besaran dalam hidup gue, tahu nggak sih?," jelasnya mantap.
Erris mengangkat bahu, dengan alisnya yang ditarik masuk. "Lo balikan sama Laras?," tanya dia menebak-nebak soal pertengkaran setelah kejadian di klub malam itu.
Damar menggeleng, dan Erris semakin penasaran.
"Gue mau cuti kuliah supaya bisa kerja,"
"Lo mau kerja apaan?," tanya Erris sangsi.
"Asisten chef di hotel bintang lima, Ris," katanya dengan bersemangat.
Erris tersenyum. "Bagus...," komentarnya. "Tapi kenapa ya rasanya bukan lo banget?"
Damar tertawa. "Nggak semua orang tahu, itu masalahnya," cengirnya. "Tapi, cuma itu kerjaan yang bisa gue lakukan sekarang"
"Lo aneh, ada apa sih?," Erris bertanya lagi saat melihat Damar masih saja tersenyum lebar dan ceria.
Damar meliriknya sejenak sebelum dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak kecil berwarna abu-abu.
"Serius lo?," senyum terlukis di bibir Erris saat Damar membukakan tutup kotaknya dan ada sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya.
Damar mengangguk-angguk.
Erris menepuk punggungnya dan Damar nyaris jatuh ke depan di mana lapangan rumput sudah menanti di bawah. Setiap angin berhembus, tempat ini menjadi sejuk. Atap gedung kampus yang menghadap jalan raya dan mereka bisa menghitung kendaraan yang lewat sampai bosan lalu turun saat pelajaran di mulai. Erris akan meninggalkan kampus ini lebih dulu, hanya beberapa bulan lagi menjelang wisuda dan dia akan menjadi seseorang yang baru lagi setelahnya.
Ada banyak hal yang terjadi, hal-hal menyenangkan yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk setiap orang yang percaya Dia selalu ada di atas sana.
Erris mulai mencari-cari handphone-nya. Untuk memberitahu Rory bahwa salah seorang dari mereka akan mendahului memulai lembaran baru.
---
Seorang wanita cantik tampak keluar dari mobil yang baru saja selesai parkir. Dia menunggu pria itu keluar dan Rory menarik nafas panjang sambil mencoba menghubungi nomor itu lagi. Tapi, dia masih mendapat jawaban yang klise 'Nomor yang anda hubungi tidak dapat...bla bla bla'.
Rory segera mematikannya. Dia nggak mengerti kenapa dia harus ada di sini untuk mengawasi mereka. Semua sudah jelas. Perempuan aneh itu nggak pernah kembali lagi kepada kekasihnya yang sekarang sudah berpaling.
Suara senapan mesin itu kembali berteriak lewat handphone-nya. Dan nama Erris muncul di layar. Mata Rory masih mengawasi mereka yang sedang mengobrol akrab sambil tertawa. Pria yang selalu dia ikuti dan kekasih barunya yang cantik.
"Ada kerjaan sedikit...," ia menjelaskan. "Ya, gue tahu kok. Gue bakal berhenti karena Natha memang nggak suka. Tapi, ini bikin gue merasa terganggu..."
Kedua orang itu akhirnya berlalu setelah mereka menghilang di antara mobil-mobil yang parkir.
"Perempuan itu menghilang, Ris," jelas Rory. Nggak menyangka ia bakal terlibat secara emosional dengan seorang klien, artinya melanggar kode etik yang dia tetapkan sendiri. "Gue cuma mastiin kalau dia sudah mengakhiri ujian konyol itu... Iya, gue tahu kok itu bukan urusan gue...gue nggak menguntit lagi sekarang...iya deh iya, gue ke sana sekarang..."
Rory menghela nafas. Dia sudah memutuskan berhenti karena tadi pagi Natha mendebatnya lagi.
Dunia Rory yang Natha tahu persis adalah pekerjaannya sebagai mahasiswa yang nakal dan pembolos. Juga seorang stalker profesional yang katanya nggak pernah gagal sampai misinya selesai. Natha juga sudah lama tahu dia berasal dari keluarga mapan dan Rory hampir nggak pernah merasa kekurangan. Dia juga seorang pemberontak yang berusaha melakukan semuanya sendiri.
Rory balik kanan, berpikir untuk pergi ke kampus dan saat itulah dia melihat ada dua orang pria berbaju hitam sudah ada di belakangnya. Mereka mendekat dan Rory segera menghindar saat tahu bahwa mereka akan menangkapnya.
Mereka mengejar!
Sosok pria yang diikutinya sudah nggak kelihatan. Mungkin dia dijebak dan sudah lama ketahuan! Motornya jauh tertinggal di belakang. Rory terus berlari sepanjang area parkir, menghindari mobil masuk yang membunyikan klakson panjang saat ia nyaris tertabrak.
Kedua orang itu masih mengejar dan Rory mulai melihat pintu keluar yang menjanjikan ia akan lepas dari situasi itu. Setelah ini, ia bersumpah benar-benar berhenti dan merencanakan hal lain yang bisa ia lakukan.
Pintu keluar parkiran membiaskan cahaya terang dari panasnya siang yang terik. Meski ranselnya terasa cukup berat ia memaksakan diri untuk bergerak makin cepat. Dan saking cepatnya dia nggak bisa lagi mengontrol kedua kakinya untuk berhenti saat sebuah mobil masuk dan meluncur ke arahnya. Dan terlambat menghindar!
Tubuhnya terhempas keras dua kali setelah mobil 4x4 itu mengerem. Pertama menghantam kap mobil yang kuat sebelum jatuh nggak berdaya ke jalan yang keras. Seluruh tulang-tulangya seakan rontok dan entah apa yang terjadi bila si supir nggak mengerem mendadak!
Rory berguling kesakitan dalam keadaan sadar saat kedua pria itu menyeretnya pergi. Sementara si pengendara mobil mengucapkan sumpah serapah sebelum kembali melaju seiring panjangnya rentetan klakson di belakangnya.
Ranselnya diambil, dia ditarik ke suatu tempat yang nggak ia ketahui sambil berusaha untuk tetap sadar. Ia merasakan perih di siku dan lututnya yang pasti terluka. Sementara itu ia sama sekali nggak bisa memberi perlawanan.
---
"Kamu dari mana? Ada apa sih?," Natha menghampiri begitu ia dan tubuh lemahnya muncul dari balik pintu. Ia berwajah cemas dan takut sehingga Rory langsung memeluknya saat ia kembali merasa bersyukur.
Meski sekujur tubuhnya sakit dan lelah, semua seakan luntur ketika Rory menciumnya. Dia sudah akan berhenti membuat masalah demi gadis ini. Dia akan melakukan apa saja...
"Kamu kenapa?," tanya Natha lagi.
Rory menggeleng-geleng, membuang jauh-jauh bayangan perempuan menyedihkan yang ia temui waktu itu saat ia berusaha memikirkan kebahagiaan dirinya dan Natha.
"Jangan!," Natha menolaknya dengan dorongan kasar yang membuatnya terkejut.
Rory bergidik, menarik Natha saat ia hendak bangkit dan menghindar. Tapi, dia memaksa.
---
Entah perasaannya saja atau Rory tampak seperti binatang haus darah yang sedang memangsa buruannya. Hatinya sakit ketika memandang wajah itu. Seakan Rory sudah mulai menunjukan sifat aslinya. Yang keras dan pemaksa. Natha bahkan lupa bahwa dia seorang berandal yang nggak takut apapun.
"Aku bukan pelacur...," cetusnya dengan wajah sedih dan marah.
Menit demi menit berlalu dalam diam. Walaupun lelah, matanya belum mengantuk. Mungkin karena ia terlalu penasaran, kenapa Rory nggak bicara sepatah kata pun. Nggak ada perlakuan hangat seperti biasanya di mana Rory selalu memeluknya sampai pagi. Bahkan Natha nggak berani menoleh ke belakang sekalipun ia tahu, Rory juga belum tidur. Namun ia merasa Rory sangat gelisah. Apa yang membuatnya gelisah? Dan dari mana dia mendapat luka lecet di siku dan lututnya itu?
----
Pria itu pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan menyedihkan selama beberapa tahun. Dan entah ada angin apa, Syoffi, perempuan itu menguji kesetiaannya dengan menghilang dan meminta bantuan Rory untuk mengikuti pria itu untuk tahu bagaimana reaksinya.
Yang Rory tahu, lelaki itu sangat tertekan. Dia nggak bisa menerimanya tapi Syoffi belum ingin kembali.
Terakhir kalinya Rory masih bisa menghubunginya adalah dua minggu yang lalu dan dia mengaku sedang di luar kota. Dia juga meminta Rory terus mengikutinya. Meskipun bukan urusannya, Rory yang merasa iba bahkan memintanya untuk kembali tapi perempuan itu nggak menanggapinya dan malah menutup telpon. Sejak saat itu dia nggak pernah lagi bisa dihubungi. Rory bahkan nggak bisa memberitahunya bahwa Andrew mulai menjalin hubungan dengan wanita lain.
Hari ini Rory nyaris dipukuli orang berbaju hitam itu jika ia nggak menyebut nama Syoffi. Pria itu terkejut dan memaksa Rory memberi tahu di mana Syoffi. Saat Rory menggelengkan kepala sebagai ketidaktahuannya, ia panik. Dia mencoba sendiri menghubungi nomor yang biasa dipakai Syoffi. Tapi, jawabannya selalu sama.
Rory terbangun. Dia membayangkan bagaimana cinta tanpa kepercayaan dan dia ingin meminta Natha untuk mempercayainya dalam keadaan apapun juga. Dia nggak ingin seperti pria yang sama menyedihkannya dengan Syoffi. Begitu dia menoleh ke sampingnya, Natha sudah nggak ada...
---
"Erris barusan telpon aku!," Henrietta protes. "Aku nggak mau berakhir seperti ini bahkan di saat belum mulai!"
"Aku sama Angel selesai!," tegas Natha yang sibuk menarik kopernya. "Kalau kamu masih mau di sini juga nggak apa-apa. Yang jelas aku mau pulang"
"Apa sih masalahnya?," Henrietta belum mendengarkan penjelasan apapun. Tahu-tahu pagi-pagi begini Natha kembali dengan muka masam dan merengut. Masuk kamar mandi dan mengurung diri sangat lama lalu keluar sambil marah-marah.
Natha terdengar bicara di telpon dengan agen tiket dan meminta penerbangan yang berangkat hari ini juga. Dia nggak sedang main-main atau merajuk.
“Aku nggak tahu dia kenapa. Coba deh kamu tanya Rory!...Ini serius, Ris!," desak Henrietta sambil memandangi bayangannya di kaca kamar mandi dan jelek sekali. Dengan ponsel di telinga dan ia tergesa-gesa keluar untuk melihat sejauh mana persiapan kakaknya untuk pergi mendadak.
Sementara Natha berkemas dengan terburu-buru karena dia hanya punya satu jam sebelum check in bandara.
Henrietta cuma punya lima menit untuk cuci muka, gosok gigi dan ganti baju sebelum berkemas. Dia juga harus pulang, mengingat pekerjaan dan keadaan Natha yang berantakan seperti sekarang.
Natha menarik nafas panjang saat dia sudah mendudukan pantatnya di dalam taksi yang akan membawa mereka ke bandara. Sementara Henrietta tengah mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya diam-diam. Agar Erris segera memberitahu Rory bahwa Natha memang serius mau pergi.
"Dia mau bikin aku kembali ke masa-masa itu...," Natha mulai bicara dan supir taksi mengernyit kepadanya karena nggak mengerti bahasa mereka.
"Memangnya dia ngapain?," tanya Henrietta penuh perhatian.
"Dia menguntit orang untuk bayaran..."; jelas Natha dengan suara pelan dan dalam. Meluruskan masalah yang berkelebat di kepalanya sejak semalam karena luka-luka nggak biasa yang ia temukan di tubuh Rory.
"Paparazzi?,"
"Sejenis itu," sambung Natha. "Dia nggak pernah ketahuan. Tapi, sepertinya semalam dia ketahuan"
"Terus dipukuli?,"
"Mungkin... Aku nggak tanya dari mana luka-luka lecetnya"
"Siapa tahu aja dia jatuh dari motor,"
Natha menggeleng-geleng. "Motornya nggak apa-apa," jelasnya. "Tapi kartu memori di kameranya nggak ada. Pasti diambil"
Henrietta tercekat. Ia nggak mengerti tapi Natha tampak ketakutan seperti baru saja terguncang. Dia hanya bisa memeluknya dan ikut bersedih. Serta menyesali kekeliruannya di saat ia memberitahu Erris. Mereka pasti sudah ada di bandara.
"Dia sudah janji berhenti demi aku, tapi dia bohong," Natha mulai meneteskan air matanya. "Aku nggak mungkin hidup sama orang yang seperti itu..."
---
Rory menyeruak dari dalam mobil disusul oleh Erris. Dia tampak pucat dan sakit dengan langkah yang sedikit terseok, akibat dari hempasan keras yang ia tahan dari tabrakan mobil kemarin.
"Aku minta maaf, Natha...," ucapnya dengan sangat menyesal. "Aku nggak ada maksud buat bohongin kamu, Sayang..."
Henrietta menengahi. "Udahlah, Rory..." dia mulai nggak suka dan mematahkan semua penilaiannya bahwa lelaki ini baik. Dan dia memang nggak suka pada siapapun yang menyakiti saudarinya. Ia menarik Natha pergi, bermaksud menjauhkannya agar Natha nggak berubah pikiran.
"Nggak, Natha!," pinta Rory menarik paksa Natha ke sisinya hingga ia terlepas dari genggaman Henrietta. "Kamu harus tahu yang sebenarnya..."
"Tahu kalau sebenarnya kamu nggak bisa berhenti menguntit!," cetus Henrietta dan Erris sudah ada di belakangnya untuk menghentikannya merusak kesempatan terakhir Rory memperbaiki kesalahannya.
Natha menghindari tatapan memohon itu agar nggak luluh. Dia terlalu takut memaksakan hubungan yang mulai tampak seperti ketidakmungkinan.
Henrietta seolah menyuarakan isi pikirannya. "Hari ni kamu menguntit, besok apa lagi?! Merampok?!"
Erris menahannya untuk nggak mendekat walau selangkahpun.
"Please, Natha, maafin aku...," ucap Rory lagi, dengan mengabaikan Henrietta "Aku janji akan perbaiki semuanya"
Natha diam. Dalam pikirannya, ia berusaha menendang perasaan ingin kembali yang memaksa dalam dirinya. Ia memejamkan mata menahan pedih hatinya yang tergores karena semalam dan banyak fakta tentang Rory yang membuatnya takut.
Rory is trouble, julukan itu memang sangat tepat untuknya. Dia seperti api membara yang bisa menghancurkan apa saja.
"Aku tahu aku pembuat masalah! Aku sering nggak terkendali saat marah! Aku nggak bisa berpikir di saat merasa terganggu. Tapi, aku merasa itu udah lama dan aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku memukul orang tanpa sebab! Aku terkejut saat aku sadar aku jauh berubah dan aku berhenti main-main dengan hidupku. Berhenti membenci Papa-ku! Berhenti mengutuk hidupku yang sudah membuat Mama-ku meninggal! Semuanya karena kamu...," katanya,"Dan ini bukan hanya soal diri aku sendiri, aku seperti melihat masa depan dan ternyata hidupku bukan cuma untuk hari ini... semuanya karena kamu..."
Natha tetap nggak mau memandangnya.
"Kamu lebih dari sekedar itu buat aku...," Rory kembali memohon. "Aku bukan apa-apa tanpa kamu!"
Natha belum bicara sedikitpun. Dia mulai bingung. Dan terkejut saat Rory menariknya paksa karena nggak punya pilihan lain. Natha hampir menyerah melihat dan merasakan bagaimana harga diri Rory melayang semua di hadapan orang lain. Dia berbeda dari saat pertama Natha mengenalnya. Dia sedikit lebih tenang dan terkendali secara perlahan. Namun pertengkaran kemarin sangat melukai hatinya.
Natha melepaskan diri. Rory menakutkan saat marah. Di saat wajahnya merah padam, dan urat-urat di dahinya menonjol.
"Brengsek!!," makian Henrietta menggelegar bagaikan petir. Ia nggak pernah terlihat lebih marah dari itu. Dia mendorong Rory dan berusaha berkali-kali menyingkirkannya dengan pukulan bertubi-tubi.
Sekarang mereka seperti tontonan menggelikan di bandara.
Rory berusaha mengabaikannya dengan tetap memandangi Natha, berharap cinta akan membuatnya tinggal.
Erris menarik Henrietta lagi. Memegangi kedua tangannya dan mereka mulai berdebat.
Perhatian Natha terbagi menjadi dua. Antara Rory yang memohon dan Henrietta yang murka.
"Maafin aku, Angel...," ucapnya sangat menyesal.
Rory terpaku di depannya nggak bergerak sedikitpun menyaksikan akhirnya Natha berlalu dan menghilang perlahan. Mengejarnya pun sudah nggak berguna. Rory dan cintanya nggak bisa membuatnya berubah pikiran.
---
Mungkin mereka memang nggak ditakdirkan bersama. Rory mencoba mempercayai itu. Jika Natha masih menginginkan dirinya, dia nggak akan pergi. Ia nggak diinginkan siapapun. Ayahnya saja nggak menginginkannya. Bagaimana orang lain akan mencintainya?
Rory mengusir semua kenangan yang tertinggal walau rasanya hampir nggak mungkin. Dia nggak pernah sedekat itu dengan cewek manapun sebelum Natha. Bayangannya muncul sebagai ketakutan setiap kali ia mencoba tidur di tempat mereka pernah berdua. Begitu ia terbangun dengan perasaan takut, ia meregang dan tubuhnya basah oleh keringat dingin dengan nafas tersengal.
Rory sudah hidup semampunya. Dia pulang ke rumah. Dia pergi ke kampus mengendarai motor, mengebut sampai nyaris menabrak orang. Dia menemui beberapa orang gadis yang menunjukan minat terhadapnya dan sempat terpikir menjadikan mereka pelampiasan. Tapi ia merasa bayangan Natha masih tertinggal untuk mengawasinya. Nggak jarang, ia jadi sering membayangkan bilamana gadis itu datang membangunkannya dari tidurnya. Tapi, ia malah tampak seperti orang bodoh.
Dia rela bertemu Papa-nya setiap hari dan nggak pernah terlibat percakapan yang akrab layaknya ayah dan anak. Rory masuk ke kamar. Mengurung diri berjam-jam. Lalu keluar larut malam sendirian mengendarai motornya. Pergi ke klub dan berniat mengencani seorang cewek mabuk. Namun bayangan Natha masih mengawasinya.
Jadi dia pulang dengan perasaan sedih. Karena Natha seolah masih berboncengan dengannya di belakang dan memeluknya. Masih menemani malamnya dan fantasi itu kembali meracuninya. Natha mengikutinya ke mana pun ia pergi, membawa penyesalan untuknya.
Rory memandangnya sambil berbaring di atas tempat tidur. Dia menyatakan ingin berdamai dengan Natha yang sudah nggak lagi menjadi masa depan. Hanya masa lalu. Dan kemudian ia tersentak
Rory kembali lagi ke sana. Setelah memutuskan akan meninggalkan rumah itu untuk selamanya. Daripada terkungkung oleh bayangan Natha yang belum ingin berhenti menyiksanya. Walau berat.
Tapi, dia nggak menyangka. Seseorang telah merusak semua kenangan mereka. Seseorang telah mebgobrak-abrik seisi rumah dan menjadikannya sampah. Semua perabotan hancur dan berserakan di lantai. Meja-meja yang patah. Pecahan kaca di mana-mana. Rumah itu seperti baru diserang oleh kelompok anti teror. Berantakan...
Saat ia mencoba mempercayai apa yang ia lihat bukan mimpi, pemandangan seketika menggelap diiringi sakit yang menjalar dari tengkuk ke seluruh tubuh yang melemahkan semua anggota geraknya. Seseorang memukulnya dengan benda keras dari belakang...
ooOoo
Komentar
0 comments