[Hal.29][Ch.13] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

The Plan

"So, apa kita akan ngobrol soal aku dan Renatha sampai pagi?," tanya Henrietta, dengan mata riang yang berusaha menghibur Erris yang tengah berputar-putar dalam pikirannya sendiri.
"Nggak ada yang menarik soal aku," katanya tenang setelah nggak lagi mendapati Uki dan temannya di lantai dansa. Tadi mereka terlihat duduk sebentar sebelum akhirnya pergi entah ke mana.
"Kamu nggak terbiasa bergaul dengan orang-orang selain teman-teman kamu yang biasa?," tanya Henrietta dan Erris hanya tersenyum simpul.
Cara bicaranya menarik. Entah karena sedikit mabuk atau kesal menemukan Uki di sini, di tempat yang sama sekali nggak cocok untuknya. Ya Tuhan, Erris segera sadar, mereka sudah berakhir dengan cara yang paling baik. Nggak  seperti saat Erris menjadi begitu pemaksa yang nggak terkontrol dan pertengkarannya dengan Uki bahkan bisa menjadi lebih parah dari keributan Damar dan Laras.
Gadis itu sudah berubah 180 derajat! Kata-kata saja nggak akan membuatnya berhenti melakukan apa yang seharusnya nggak dia lakukan.
"Terus?," Erris masih mencari-cari sosoknya dan ia terlau pandai berpura-pura.
Beberapa waktu lalu, di sini, ia begitu tersiksa saat menerima telpon dari Uki yang menginginkan keadaan membaik. Lebih-lebih karena nggak ingin disebut murahan karena kisah cintanya selalu berputar-putar di sekitar Erris. Antara Rory, sahabatnya dan Chris, adik sahabatnya itu.
Gila, ini lebih seperti hukuman bagi Erris. Melihat ada orang lain yang bisa mencintai Uki, seperti yang dia inginkan untuk bisa dicintai.
"Kami nggak pernah berpisah," Erris memulai setelah yakin Uki dan temannya itu sudah pergi. "Kami merasa nggak pernah bisa diterima orang lain karena punya latar belakang yang buruk"
"Semua punya, Ris," Henrietta mengingatkan bahwa dia juga sudah diajarkan oleh masa lalu yang pahit untuk bertahan hidup.
"Kita seperti anak manusia yang dimutasi jadi Frankenstein"
"Oh, itu aku baru dengar..."
"Laras punya ayah yang suka main tangan. Damar anak adopsi yang kurang dapat kasih sayang. Sedangkan Rory, dia dibenci ayahnya karena dianggap membunuh ibunya yang meninggal waktu melahirkan dia," jelas Erris. "Aku sendiri dibesarkan sama ibu yang pemabuk dan gila judi dengan dua kakak perempuan yang sering kawin cerai"
Henrietta termangu. "Wow...," ia menghela nafas panjang. "Kalian seperti kumpulan 'bencana' sepanjang masa"
"Aku nggak seperti yang kamu kira. Aku ini brengsek," kata Erris, tersenyum dingin. Nggak ada yang pernah melihat senyum Erris yang seperti itu sebelumnya. "Aku juga pemaksa, dan berurusan sama aku adalah mimpi buruk"
Henrietta terdiam, menatapnya sambil berpikir akan sesuatu.
Perjalanan kembali ke hotel berlangsung dengan hening dengan kecepatan rendah. Erris sangat tenang, dia nggak terbaca. Dan sikapnya itu menimbulkan rasa penasaran bagi Henrietta yang terlalu malas bicara.
Erris memang nggak seperti yang dia kira sebelumnya. Berpikir dia kutu buku dan nggak gaul, serta kaku dan membosankan. Erris lebih dari itu. Seolah ditakdirkan untuk hidup hanya untuk mencintai satu orang saja.
----
"Kamu nggak apa-apa?," tegur Natha waktu melihat adiknya masih di tempat tidur jam dua siang.
Henrietta membalikan badannya. "Eh, hei...," sapanya lesu. Harusnya dia bisa lebih bersemangat. Tapi malah kelihatan seperti habis mabuk berat semalam. Padahal ia hanya minum sekaleng bir dan diantar ke sini tanpa kurang sesuatu apapun. "Aku nggak apa-apa"
"Erris nggak menyebalkan kan?," tanya Natha sambil duduk di sisi tempat tidurnya. Dia mencium adanya sesuatu yang nggak beres dari adiknya.
Henrietta tampak malas-malasan dan dia hanya seperti itu jika sedang sakit atau...patah hati.
"Kayaknya kamu tahu betul deh...," Henrietta menguap.
Menurut pengalaman, iya, jawabnya dalam hati. "Sudah, nanti juga kamu lupa," ujarnya lalu berpindah ke meja rias untuk menyisir rambut. "Dia bukan tipe yang biasa kamu kencani."
"Aaah...aku mau cepat-cepat pulang!," keluhnya.
"Jangan bilang kamu patah hati cuma gara-gara cowok itu, Henry!,"
Henrietta sudah duduk di atas tempat tidurnya. "Enggak juga...," katanya.
"Mereka lebih rumit dari kita," Natha mengingatkan.
"Aku tahu..."; Henrietta kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang yang memantulkan tubuhnya ke atas sebelum ia bisa dengan tenang bernafas.
"Angel, Erris dan adiknya Angel pernah terjerat sama cewek yang sama," jelas Natha yang merasa adiknya harus tahu soal ini.
Henrietta bangkit kembali. "Apa dia cantik?"
"Dia terlalu sederhana dan... kecil," jelas Natha lagi. "Kalau aku dan Angel nggak pernah ketemu, Angel pasti masih mengejar-ngejar dia..."
Henrietta makin nggak bersemangat.
"Erris mungkin masih mikin dia," Natha berpendapat. "Tapi, aku juga nggak tau..."
"Kamu tahu aku nggak menyerah semudah itu untuk semua yang aku mau...,".gumam Henrietta. "Walaupun dia...'Frankenstein'"
Tawa terlompat dari mulut Natha. Frankenstein?
“Kita mungkin harus menemukan seseorang yang jauh beda dengan kita.," kata Henrietta getir. "Yang memahami kalau kita punya masa lalu yang buruk"
"Aku terlambat sadar soal itu," celetuk Natha berubah murung. "Saat Angel bilang aku adalah bidadari, itu sangat membebani aku..."
"Kamu mulai meragukan dia?"
"Nggak, ini bukan soal itu..."
"Terus?"
"Aku selalu takut terluka.. .tapi kayaknya dia bakal bikin aku menerimanya lebih banyak,"
Henrietta diam.
"Aku nggak tahu aku sanggup atau nggak..."
"Kalau nggak sanggup, kita pulang!," Henrietta memutuskan sebelum pemikiran Natha bermuara pada satu kemungkinan bahwa dia nggak akan bahagia.
---
Seorang wanita cantik menyambutnya dengan ramah dan hangat. Dia menyiapkan makanan kecil dan minuman di atas meja serta pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul dan pendidikan.
Nggak banyak yang bisa Natha jelaskan. Dia nggak mengambil pendidikan formal di sekolah, orang-orang menyebutnya Home Schooling, tapi Natha menjalani terapi khusus selama bertahun-tahun demi menghilangkan trauma psikis di masa kecilnya. Dia kedengaran hebat saat menjelaskan bahwa dia lahir dan besar di Jerman dan hanya tinggal di Indonesia kurang lebih selama 4 tahun sebelum nggak pernah kembali lagi. Tapi, Natha nggak mengikuti kuliah sejak menemukan pelarian lain di rumah kaca, di mana ia bisa bekerja dan belajar banyak tentang flora yang ada di dunia, meninggalkan dunianya yang gelap. Dia terlihat jelek saat mengenakan kostum pekerja dan dia menikmati itu seperti gadis-gadis lain menikmati masa pacaran.
Natha nggak pernah melakukan yang namanya pacaran. Dia hanya berpikir bahwa ia harus keluar dari rumah kaca karena waktu di luar sana telah bergulir tanpa sepengetahuannya. Dan dia keliru saat mengira Kevin yang cuma mahasiswa studi banding dari Indonesia akan membawanya pergi.
Sisanya, Natha nggak mengerti, harus ada hal-hal seperti ini dalam pacaran. Berkenalan dengan keluarga Rory dan berusaha untuk tetap tersenyum sekalipun ia merasa sangat jengah. Dia menggingit bibirnya beberapa kali saat kebingungan.
“Orang tua kamu gimana?," tanya Mama Rory dengan ramah dan manis. "Apa mereka nggak cemas kamu terlalu lama di sini?”
“Orang tua saya…udah nggak ada…," jawab Natha ragu-ragu dan tertunduk.
Mama Rory tampak terkejut. "Aduh, maaf, tante sama sekali nggak tahu…," ucapnya cukup menyesal. “Terus kamu tinggal sama siapa sekarang?”
Natha berusaha tersenyum. "Sama kerabat yang lain…," jawabnya,  mulai murung.
Rory yang menyadari Mama-nya terlalu ngotot mulai mengalihkan pembicaraan. Dia melirik Natha sambil mengedipkan sebelah matanya, dan melegakan Natha yang nggak tahan ingin segera pergi.
Natha duduk diam di sampingnya sambil menyadari, Rory bukan berasal dari keluarga sembarangan. Semua untuknya haruslah yang terbaik, apalagi pendamping. Mama-nya tentu mengharapkan.selain cantik, gadis itu haruslah pintar. Rory mungkin nggak mengerti bagaimana Natha menjalani hidupnya selama ini. Yang sebenarnya berkubang dengan tanah setiap hari, mengawasi pengunjung yang kemungkinan merusak tanaman-tanamannya. Dia orang yang menutup diri dan kolot.
Wanita itu menatapnya dengan ramah tanpa sadar sudah membuatnya nggak betah. Tapi, saat Chris datang, suasana agak berubah. Kunjungan selesai saat Rory akhirnya pamitan untuk pergi.
Sewaktu datang ke rumah itu, Natha menduga akan melihat sisi lain dari Rory. Semua cerita masa kecil dan remajanya yang berlalu di rumah ini. Bersama ibu tiri perhatian dan adik yang sedikit menjengkelkan.
Mereka sangat berbeda. Natha nggak pernah menyadarinya karena mereka tinggal bersama di rumah yang seperti satu dunia di mana hanya ada mereka berdua. Nggak pernah melihat adanya orang lain sebagai perbandingan. Lalu dunia itu seperti mencekam begitu mereka kembali.
Natha mengeluh saat tetesan hujan membasahi bajunya dan dia mulai benci mengenakan baju putih. Nggak  ada yang tahu bahwa semua ini hanya kamuflase, nggak ada yang tahu bahwa baju ini berhasil menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya dan pekerjaan kotor yang berhubungan dengan tanah, lumpur dan pupuk kompos berbau menyengat.
Namun ia terkejut saat mendapati suasana rumah sudah jauh berbeda. Mereka punya beberapa perabotan baru. TV yang lebih besar, karpet baru yang lebih luas, dibatasnya ada meja di depan TV dan bantal untuk duduk. Juga peralatan masak yang sudah tertata rapi di dapur.
---
Rory mengubah banyak hal seakan mereka akan tinggal bersama.Pemikiran yang amat sederhana dan kekanakan. Rory memang nggak pernah berpikir dua kali akan sesuatu yang mau dia lakukan. Dia harus punya seseorang yang bisa dia dengarkan. Meski akan sangat sulit bagi Natha.
"Aku mau pulang ke rumah," katanya. "Karena kalau masih tinggal di sini, Mama pasti sering-sering ke sini karena tahu aku punya pacar"
Natha nggak bisa tersenyum. Hanya satu hal yang langsung mencuat dalam pikirannya. Dari mana semua ini? Rory nggak punya pekerjaan tetap yang menghasilkan banyak uang, untuk barang-barang bagus ini.
"Kamu nggak perlu ngelakuin semua ini," katanya, menghindari tatapan bahagia Rory dengan sengaja. "Aku nggak bisa tinggal di sini"
"Kamu udah mau pulang?," Rory berwajah kecewa sekarang, ia mencari celah untuk bisa melihat raut wajah Natha saat ini. "Bukannya kamu masih punya sebulan?"
"Henrietta mau pulang, dia harus kerja lagi," jelasnya berkilah agar Rory berhenti menatapnya curiga bahwa Natha sudah mulai ketakutan dengan perpisahan yang pasti akan terjadi cepat atau lambat.
Kenyataannya mereka tinggal di negara berbeda, di benua yang sangat berjauhan. Sesuatu yang nggak pernah dia pikirkan sekarang muncul sebagai suatu masalah. Saat menarik Natha ke sisinya dia mulai merasakan ketakutan itu. Takut jika nanti nggak akan bisa lagi seperti ini.
"Aku hanya perlu lulus kuliah kan? Kita bisa menikah dan hidup bahagia. Aku 24 dan kamu 25, kita udah dewasa untuk bisa mutusin..."
"Dengan kerjaan kamu yang sekarang?," suara dingin Natha terdengar lebih menusuk dari saat Natha mendorongnya untuk melepaskan diri. Dia kembali membuang muka.
"Itu bukan kerjaan yang salah sepenuhnya kok!," jelas Rory. "Aku nggak bertaruh, nggak ngerampok, atau nipu orang! Aku cuma menjual kebenaran dengan harga yang pantas!"
"Aku nggak sama sekali nggak nganggap itu kerjaan yang menghasilkan uang haram!," Natha bersuara lebih keras, matanya membesar karena marah. "Tapi, kamu sadar nggak sih sedang bermain dengan apa?!"
Rory terdiam beberapa saat. Setiap kali Natha marah padanya ia seperti nggak punya pilihan lain selain menurutinya. Dia menyerah sepenuhnya.
"Bahaya!," Natha menjawab pertanyaannya sendiri. Dia hanya ingin Rory menjauhi masalah, dengan menjauhi masalah  mereka baru bisa hidup bahagia. Tapi, setelahnya Natha sepertinya baru saja sadar satu-satunya yang mencari masalah adalah dirinya. Dengan memilih orang seperti Rory, sementara ia sudah tahu betul Rory sendirilah yang disebut masalah. Menyadari ini akhirnya, membuat Natha kecewa. "Apa kamu nggak pernah kepikiran kalau seandainya kamu ketahuan?!"
"Aku masih hidup kok sampai sekarang. Aku nggak pernah ketahuan!," katanya menegaskan.
"Belum, Angel!," teriak Natha, semakin menghindar dan dia malah memunggungi Rory untuk mengambil nafas dalam-dalam.
"Aku harus kerja keras untuk diri aku sendiri!," Rory mencari pembenaran dirinya karena Natha belum tahu bagaimana hubungan dia dengan sang ayah yang membuatnya harus bisa mandiri. Betapa ia benci harus bergantung di saat nggak ingin. "Aku butuh uang! Untuk kuliah, untuk kita juga nanti, Sayang...," suaranya melemah diujung kalimat terakhirnya dengan harapan Natha bisa mengerti.
"Aku nggak butuh uang!," cetus Natha, membalikan badannya, menghindar, menjauh, dan berusaha untuk tidak mendengar. "Yang aku tahu uang cuma jadi sumber masalah!"
"Lalu aku harus gimana lagi?! Aku nggak punya kerjaan lain sebelum lulus kuliah untuk hidupku! Aku harus begini sampai kuliahku selesai dan juga harus nabung supaya kita bisa tinggal di tempat yang lebih bagus!"
Natha menggeleng-geleng. "Aku biasa tinggal di rumah kaca, takut sama dunia luar. Aku nggak sekolah, nggak kuliah! Aku hanya penghuni rumah kaca yang hidup tanpa uang! Kamu tahu kenapa?!"
Wajah Rory nampak tegang.
"Karena orang-orang pikir semua itu untuk masa depan!," jawabnya. "Masa depan di mana mereka bisa kaya dan hidup mapan sampai mereka lupa lalu menjadikan uang segala-galanya! Aku nggak mau seperti itu!"
Rory nggak mengerti maksud kata demi kata yang tampak keluar tanpa kontrol dari Natha yang hampir menangis.
"Uang bikin aku kehilangan segalanya!," teriak Natha dan bergema di telinga Rory saat itu juga. "Aku kehilangan keluarga dan masa kecil yang harusnya bahagia!"
Rory mendekat perlahan dengan sedikit menyesal.
"Ayah terobsesi sama uang hanya untuk bikini ibu senang! Dia hebat dan kaya, sampai semua orang ingin ngancurin hidupnya! Dia dibunuh dalam kecelakaan mobil yang disengaja!," jeritnya lalu merosot ke bawah dengan kepala berdenyut. Setelah bertahun-tahun ini pertama kalinya, Natha membicarakan mimpi buruknya. "Kamu tahu aku dan Henry terkenal karena semua orang di Munich ngomongin tragedi itu?! Gimana ibu aku menghabisi nyawanya sendiri dan aku melihatnya langsung saat dia menarik pelatuk pistol di depan mulutnya?! Itu nggak lama setelah kami kehilangan semua harta dan rumah?! Itu terjadi di negara ini!”

ooOoo
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments:

  1. avatar lee imahminsun says:

    natha mau pergi toh..?? pekerjaan rory emng mencurigakan, apa jangan itu cuma akal " an cewe itu aja yg mau membantu keuangan rory?