[Hal.28][Ch.12] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Bidadari Angel

“Kita udah ngomongin ini kemarin! Apa mau dibahas lagi?!," teriak Damar, ia berada di belakang meja dapur dan masih mengenakan kaos putih yang dia pakai kemarin. Rambut spike Mohawk-nya acak-acakan, dia tampak kurang istirahat dan lelah. Tapi, masih harus menghadapi yang lebih buruk.
Sejenak Rory dan Erris seperti kembali ke masa-masa dahulu. Saat dunia menangis di depan mereka, ketika Damar berteriak pada Laras dan Laras membalasnya. Nggak pernah usai.
Erris menggeleng-geleng. Dia belum ganti pakaian dan tampak seperti 'tragedi' saat melepas kaca matanya untuk mengelapnya. Matanya yang sipit mengecil dan dia agak sedikit pusing karena belum tidur. Dia melirik Rory yang sedang berpikir, dan nggak terganggu dengan keributan di belakang.
Laras meminta mereka datang, untuk membicarakan soal taruhan sedangkan Rory belum tahu apa-apa soal itu. Tapi, keduanya dikagetkan saat tahu Damar menginap dan sekarang mereka bertengkar seperti suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah. Nggak  jelas apa yang mereka ributkan. Sejak datang,  amukan itu sudah seperti perang dunia.
“Bokap gue berulah lagi," kata Rory pada Erris.
Erris hanya meliriknya dan nggak ada yang bisa ia katakan. Ia nggak bisa bilang kepalanya terasa amat berat untuk diajak berpikir. Lagipula untuk masalah klise seperti itu, Rory memang nggak pernah meminta saran. Sudah jadi kebiasaannya untuk membiarkannya begitu saja.
Dan Rory terlihat sangat menggelikan karena suaranya yang serak dan wajahnya yang nggak bisa menyembunyikan bahwa dia terserang demam yang parah.
"Lo masih sakit?," tanya Erris.
Mereka duduk di ruang tamu. Dengan santai, bahkan terlalu santai untuk ukuran orang yang sedang bertahan di tengah gencatan senjata - kata-kata makian Laras dan Damar yang terdengar hingga ke penjuru ruangan-.
"Kepala gue pusing," keluh Rory, yang nggak berminat untuk merokok seperti Erris yang mulai tampak seperti pecandu.
"Kenapa bisa pusing?," tanya Erris. "Harusnya lo senang kan?"
Rory mengernyit. "Apaan sih lo?!," cetusnya sebal, dan mulai sadar arah pembicaraan Erris ke mana.
"Terus?," Erris bertanya dengan santainya, - bertanya penuh maksud terselubung pada tatapan di balik kaca matanya. "Lo masih tidur di sofa semalam?"
"Sialan lo!," sembur Rory. "Apa sih lo mau tahu urusan gue?!"
"Payah...," gumam Erris, yang sudah mengetahui jawabannya dari sikap Rory yang malu-malu itu. "Tapi...hebat juga pertahanan lo...salut..."
Melihat senyum penuh arti Erris, Rory mulai curiga. lebih-lebih ketika si jangkung itu berdiri tiba-tiba dan pergi ke belakang. Rory mengikutinya karena ingin tahu apa yang akan dia lakukan.
"Kalian udah berantemnya!," Erris berteriak, tampak sedikit kesal dan capek. "Uang gue mana?!"
Damar dan Laras melongo. Mereka baru saja saling berteriak dan menunjuk ke wajah masing-masing dengan emosi. Keduanya menatap Erris heran.
"Gue menang!," kata Erris memperjelas soal taruhan semalam. Paling nggak itu menghentikan keributan yang berlangsung sejak pagi ini namun menyulut keributan yang lain dari Rory.
 ---
"Nggak biasanya kamu datang ke sini,"
Rory memanggilnya Papa. Dia pria yang sangat mirip dengannya. Mata, hidung, bentuk wajah, semua nyaris sama. Pria itu hanya sudah berumur dan tua. Juga sangat dingin. Saat berhadapan dengannya Rory seperti sedang bercermin. Tampak seperti dua orang yang sama tapi bertolak belakang.
Pria itu duduk di kursi, di belakang meja kerjanya. Bersama berkas-berkas di depannya dan ia berhenti sejenak mengurusinya saat tiba-tiba Rory menerobos masuk tanpa menghiraukan sekretaris perempuan yang melarangnya masuk. Pria itu menatap Rory dengan sangat tenang seperti sudah tahu angin apa yang membawanya kemari.
Mereka jarang punya kesempatan seperti ini. Rory nggak pernah suka berhadapan dengannya. Di depan ayahnya dia lebih tampak seperti bajingan kecil daripada seorang anak.
"Apa Papa nggak bisa berhenti?," nada suara Rory terdengar lebih keras.
Rory sudah tahu ini sejak lama. Sejak masih sekolah dan ia berpura-pura nggak tahu. Demi adiknya, demi wanita yang sudah membesarkannya dan ia anggap seperti ibu kandungnya. Rory sudah menguntit sejak SMA, sejak ia tahu Papa-nya punya wanita lain. Dan ia mulai membayangkan; kebenaran akan menjadi sangat mahal harganya dan ia akan menjualnya pada orang yang sangat membutuhkannya.
Teman-teman Rory tahu, pekerjaan menguntit yang ia lakukan dimulai dari pengalamannya sendiri.
"Papa masih punya banyak kerjaan, Rory," kata sang ayah tegas, menghindari tatapan menusuk Rory dan dia tampak berusaha menyingkirkan gangguan yang disebabkan kehadiran Rory di tempat kerjanya.
"Papa nggak bisa menjadikan Mama alasan!," Rory tampak tidak puas dengan sikap Papa-nya. "Mama sudah meninggal! Kenapa Papa malah menghukum orang lain hanya karena nggak bisa menemukan yang seperti Mama!"
---
"Ngapain kamu di sini?," Rory terkejut mendapati pacarnya duduk di teras sendirian. Pada udara dingin di malam yang hampir larut.
Natha tersenyum lega melihatnya datang. "Aku bosan di hotel...," jelasnya dengan pelan dan manja saat Rory memeluknya sebentar. "Henry... ya kamu tahu dia mulai sibuk sama Erris..."
"Kenapa nggak telpon?"; tanya Rory sambil mengusap pipi Natha yang memerah kedinginan dan dia masih mengenakan gaun kesukaannya. Dan dari jauh dia terlihat seperti penampakan yang masih sempat membuat Rory merinding.
"Handphone kamu nggak aktif kan?," balas Natha.
Rory segera mencari-cari handphone-nya di dalam saku celana. Dan benda itu nggak mengeluarkan cahaya sama sekali. "Aku lupa cas batrainya," ucapnya cemas sambil merangkul pundak Natha dan membawanya ke dalam.
Rory menarik nafas panjang. Dia beruntung punya seorang bidadari di sisinya di saat ia hampir kehilangan dirinya dalam amarah.
Natha menghidupkan semua lampu untuk menerangi mereka. Lalu melihat Rory nggak hanya sekedar lelah setelah pulang entah dari mana. Mengingatkannya pada saat Chris datang membeberkan rahasia Erris dan Uki, Rory tampak bingung. Tapi, nggak. Rory nggak hanya bingung, saat ini lebih buruk dari itu. Rory tampak sangat tertekan. Natha nggak yakin ini kembali berhubungan dengan orang-orang itu; karena sekarang Rory memiliki dirinya.
Rory menaruh helm dan ranselnya di lantai dekat sofa tempat ia duduk dengan lelah, seperti baru kecurian barang berharga. Rory juga meringis tanpa sebab saat ia membungkukan badannya untuk mengambil remote TV yang tercecer di lantai.
"Kamu nggak apa-apa?," tegur Natha yang mendekat.
Rory tampak sangat berantakan dari rautnya yang kusut dan dia selalu seperti itu di saat ada yang membuatnya kesal. Dia hancur berkeping-keping bagaikan pecahan kaca yang tipis. Sangat rentan.
---
Natha terkejut. Tubuhnya ditarik dengan cepat dan Rory yang gemetar tengah memeluk pinggangnya. Natha terpaku pada rambut Rory yang acak-acakan di bawah dadanya. Ringisan Rory di perutnya terdengar kian jelas.
Ada apa dengannya? Kadang bahagianya meluap-luap hingga orang-orang di sekitarnya bisa terpengaruh, tapi bila dia bersedih, dia akan tampak seperti anak kecil yang ketakutan.
Natha membelai rambutnya dengan pelan dan hati-hati, takut-takut itu seolah akan membuatnya marah.
Rory mengangkat kepalanya sedikit, menengadah dan mendapati Natha ikut sedih melihatnya. Sungguh, ia nggak ingin terlihat lemah di depan gadis itu walaupun hanya sedikit. Tapi, inilah sisi lain dari seorang 'Rory' yang nggak banyak diketahui orang. Rory yang nggak pernah terlihat sedih.
"Aduh," Natha mengeluh saat pelukan Rory terasa makin kuat di pinggangnya. Dengan cepat Rory menjatuhkan tubuh kurus Natha di dalam dekapan kedua tangannya yang besar dan kuat.
Rory mendekap dengan semua tenaganya saat Natha terlipat di atas pangkuannya. Begitu ia melepaskan Natha, ia malah melihat Natha cemas saat memandang ke matanya yang merah. Mata yang nggak terlihat seperti api amarah yang meledak-ledak. Melainkan mata yang menahan tangis.
Natha nggak sanggup memandangnya lebih lama.
Rory sadar, Natha mencoba menenangkannya. Dan yang terpikir olehnya kemudian adalah melepaskan sebentuk hasrat tertahan terhadap seorang gadis cantik yang selalu menggoda hatinya belakangan ini. Betapa ingin ia memilikinya.
Rory memeluknya; menariknya lebih dekat sehingga nggak ada lagi jarak yang membatasi.
Tapi, tiba-tiba Rory tersenyum sendiri.
“Kenapa?"; tanya Natha heran.
"Nggak..."; jawabnya, segera membuang jauh-jauh pikiran tentang taruhan ketiga temannya yang iseng.
Natha masih bingung.
"Aku cinta kamu, Natha...," kata-kata itu menghapus kesakitan, juga kepedihan.
----
"Kami memang dominan," jelas Henrietta, menatap Erris di depannya "Itu sifat turunan dari orang tua kami"
Erris nggak pernah tahu soal itu. Natha sudah menjadi urusan Rory sepenuhnya dan apakah ia harus tetap tahu karena sepertinya gadis ini menunjukan ketertarikan terhadapnya?
"Renatha mirip ayah tapi dia rapuh seperti ibu. Kata Tante  aku duplikat ibu tapi semua sifat keras ayah diturunkan ke aku," sambungnya dan ini akan menjadi cerita yang sangat panjang.
Sementara itu pandangan Erris tertuju pada dua orang gadis yang sedang bersenang-senang di lantai dansa. Erris berusaha setenang mungkin agat Henrietta nggak melihat ada apa di belakangnya. Dia terlihat mendengatkan tapi kata-kata Henrietta lewat begitu saja dalam kepalanya.
Apa Uki sedang mencoba mempermainkan perasaannya lagi?, Erris bertanya pada hatinya yang menangkap adanya rasa cemburu pada gadis yang entah bagaimana bisa ada di tempat seperti ini.
Jika dia nggak bersama Henrietta sudah pasti Erris akan menariknya keluar dari kerumunan itu. Mereka akan berdebat panjang lebar soal kenapa begini atau begitu, seperti biasa, dan itu terasa kian menyakitkan mengingat apa yang baru dia alami karena terlalu saling memaksa.
"Kematian orang tua kami sangat mendadak," kata Henrietta.
Erris jadi memusatkan perhatiannya karena itu adalah sesuatu yang belum ia ketahui tentang Grishamm bersaudara yang cantik. Sejenak ia memandangi Henrietta.
"Kami terpukul," kenangnya dengan satu kaleng bir di tangannya yang belum ia habiskan karena ingin meminumnya dengan perlahan. "Apalagi Renatha. Selama delapan tahun dia seperti hidup di dalam kapsul. Tahu-tahu begitu dia bangun, dia harus menghadapi perubahan besar dan dia sama sekali nggak siap"
Ini akan menjadi cerita yang menarik atau unsur menarik itu berasal dari Henrietta sendiri. Dia terbuka dengan segala hal termasuk masalah, matanya memancarkan cahaya sehingga ia terpana padanya. Berbeda dengan Uki yang kekanakan dan semua keinginannya harus dituruti. Henrietta sangat dewasa dan pengertian.
"Dia nggak mau menerimanya sejak tahu orang tua kami dibunuh," kenang Henrietta.
"Dibunuh?"
"Ayah sangat dominan dalam segala hal dan banyak orang yang ingin dia mati. Tapi, ibu memuja dia. Waktu dapat kabar ayah tewas dalam kecelakaan yang disengaja, dia tertekan. Kami semua pulang ke Surabaya. Tapi, hanya beberapa tahun, sebelum Renatha lihat dengan mata kepalanya sendiri ibu menembakan pistol ke mulutnya. Sejak itu, Natha nggak pernah ingin pulang ke Indonesia"
Erris menatapnya tidak percaya.
"Jadi kamu ngerti kenapa dia...yah...sering nggak stabil dan ingin segala sesuatu menjadi nyaman buat dirinya sendiri?," Henrietta tersenyum sedikit. "Kami terkenal di Munich, sebagai 'anak-anak Grissham'. Kejadian yang merenggut orang tua kami adalah tragedi sosial yang bikin semua orang jadi kasihan. Rumah kaca tempat kerja Natha yang sekarang adalah tempat selain panti asuhan. Ada Tante yang menjaga Renatha yang nggak tersentuh modernisasi sampai dia kenal Kevin dan jadi gila. Seperti... gadis remaja yang jatuh cinta pertama kali"
---
"Kamu risau," cetus Natha, di sisinya. "Apa aku belum berhak tahu?"
"Tadinya...," Rory sedikit tertawa. "Aku beruntung punya bidadari"
Natha mengernyit, ia anggap sebutan bidadari adalah rayuan. Karena Rory selalu terdengar memanggilnya putri duyung, ikan mas atau Miss Broken Heart. "Sejak kapan kamu panggil aku bidadari?"
"Sejak pertama kita ketemu," jawab Rory menerawang pada hari di bandara di mana dia melihat Natha duduk sendirian di kursi tunggu dengan bingung. "Aku udah bilang kamu bidadari, tapi...bidadari itu malah panggil aku 'Angel'..."
"Bukannya itu memang nama kamu?," Natha nengernyit lagi. "Di kartu mahasiswa..."
"Tuh kan, kamu memang suka periksa barang-barangku...," godanya lalu tertawa.
"Itu karena kamu nggak mau balikin pasporku!"
Rory menghela nafas, dia sudah dipanggil Rory sebelum pandai bicara. 'Rory' adalah plesetan dari 'Flori' agar mudah diucapkan.
"Angel itu nama pemberian Mama-ku," jelasnya. "Dia pikir aku terlahir perempuan"
"Tapi, nama bisa diganti setelah tahu kamu terlahir laki-laki,"
"Dia nggak sempat menggantinya," kenang Rory agak sedih. "Dia meninggal supaya aku bisa hidup"
Natha terkejut, ia bangkit untuk melihat ekspresi Rory yang murung. "Mama-nya Chris..."
"Bukan," potongnya sebelum Natha melanjutkan. "Aku dan Chris cuma seayah..."
Natha terdiam sambil merapat ke sisi Rory. "Maaf…aku sama sekali nggak tahu..."
"Memang banyak yang nggak tahu," ujar Rory sambil mengusap-usap kepalanya dan nenunjukan dia sama sekali nggak sedih walaupun masa lalu baru saja mengguncang jiwanya dalam sesaat. Dia belum bisa menceritakannya karena ia sendiripun masih bingung. Tapi, hanya dengan memandang Natha saja semua beban itu seakan menjadi lebih ringan, karena Rory bisa mengintip sedikit masa depannya.
Ya, masa depan yang Rory nggak pernah memikirkannya. Ia mengejar-ngejar Uki karena nggak pernah tahu apa yang dia inginkan dari cewek itu. Mereka bersama setiap waktu, berbicara, bercanda dan menguntit untuk sejumlah bayaran. Tapi, ia mencintai Natha, untuk bisa bahagia. Hidup tanpa kesepian.
"Aku...kurang suka kalau kamu panggil aku sama nama itu...," katanya. "Aku bukan orang yang bisa...jadi seperti malaikat buat kamu. Aku lebih mirip iblis daripada malaikat. Aku mungkin nggak bisa jadi yang kamu mau. Tapi, yang pasti...seorang laki-laki sejati nggak akan mainin cewek yang dia cintai. Dia bahkan juga rela mati demi cintanya. Apa kalau aku bilang kalau aku adalah dia, kamu bakal cinta sama aku selamanya?"
"Malaikat...," Natha tersenyum pada langit-langit kamar. Lalu menatap Rory. "Malaikat di dunia nyata nggak harus seindah apa yang bias orang lihat dari luar. Bukannya malaikat bersayap, serba putih, itu cuma gambaran imajinatif dari orang-orang seni. Memangnya ada orang yang benar-benar pernah lihat malaikat, Angel?"
Rory mencoba untuk menerka-nerka apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Kamu malaikat, buat almarhum ibu kamu,," kata Natha, menatapnya lekat-lekat dengan belaian yang terasa lembut di pipi. "Itu yang dia pikirin saat mutusin memberi  kamu nama itu kan?"
Rory berusaha untuk tertawa sebelum malah memperlihatkan tangisnya. Mana pernah ada orang yang berkata seperti itu padanya?
"Kamu nggak harus jadi seorang malaikat supaya aku bisa nerima kamu," katanya lagi. "Dan aku nggak mau disebut bidadari kalau itu hanya bikin kita jadi jauh berbeda. Aku ingin jadi Renatha aja, dan kamu Angel. Itu sudah cukup kan?"

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: