[Hal.27][Ch.11] MENGURUNG BIDADARI - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Mrs. Bomber

Lepasin…," keluh Natha, berusaha melepakan pelukan Rory pada pinggangnya. Ini sudah berlangsung semalaman. Sekarang sudah pagi.
Malam sudah berlalu, cahaya matahari masuk dari jendela di atas Rory yang masih bermimpi. Natha sudah nggak sabar ingin melepaskan diri tapi pelukan itu terlalu kuat. Apa Rory memang masih kuat saat tidur atau dia hanya pura-pura tidur?
Natha diliputi kecemasan, harusnya dia kembali ke tempat adiknya menginap dan dia belum menghubunginya sama sekali. Natha berusaha meraih handphone-nya yang berada di lantai sambil memikirkan alasan apa yang akan ia berikan untuk adiknya.
“Aku lagi tidur, Natha…," gerutu Rory, matanya masih terpejam, dan tangannya merangkul Natha kembali ke dekatnya. Suaranya masih serak, tapi panasnya sudah turun.
“Ini udah pagi…," keluh Natha, kedua tangannya terkurung di dalam dekapan Rory. Punggungnya begitu rapat dengan dada Rory. Dia nggak bisa bergerak. “Aku belum kasih tahu Henrietta…dia bisa marah…”
Rory nggak peduli, ia terlalu nyaman bersandar di punggungnya. “Kamu wangi…," katanya. "Sepuluh menit aja, ya?”
Natha mendengus, apa yang bisa dia lakukan? Cahaya matahari menyinari mereka, menyusup dari bawah gorden. Mengusir kegelapan di tempat tidur, sekarang kamar menjadi remang-remang dan sunyi. Natha memejamkan matanya, untuk merasakan hawa panas yang tersisa dari Rory di tubuhnya.
Tubuh Natha yang kurus menghilang dalam dekapan kedua lengan besarnya. Dia akan terbiasa dengan ini. Bersyukur ada malam dengan kejujuran sebelum Natha kembali ke Jerman dengan perasaan sedih.  Juga ada pelukan seperti ini.
“Bagus, Rory!," seseorang menarik semua rasa syukur itu dalam sekejap, Chris sudah berdiri di pintu saat Natha bangkit dan Rory masih menggeliat di sampingnya. "Lo beruntung, bukan Mama yang masuk karena tadi dia bilang mau ke sini”
“Bagus, Chris…," gumam Rory, setelah memastikan itu cuma adiknya. Dia kembali menjatuhkan dirinya yang penat ke tempat tidurnya.
Chris menatap ke arah Natha yang sudah menjauh dari Rory dengan malu-malu. Ia mengambil handphone-nya dan melakukan sesuatu dengan itu untuk mengalihkan perhatian. Chris segera keluar dari kamar, mereka harus bicara tentang sesuatu yang sangat penting. Kalau nggak penting, dia nggak akan bolos di jam pertama kuliahnya hanya untuk datang ke sini dan menemukan mereka baru selesai.
Rory akhirnya bangkit, ia merangkak di atas tempat tidur, untuk memergoki apa yang dilakukan Natha. Dia sedang mengirim pesan kepada adiknya. Natha nggak menyadarinya, sebelum Rory mengecup dahinya sebentar lalu Rory mengedipkan sebelah matanya pada Natha saat ia di pintu hendak keluar.
Natha hanya memerah, dan kembali pada layar ponsel-nya. Dia heran, kenapa nggak ada telpon atau SMS dari adiknya itu?
--- 
“Lo begok atau tolol sih?," Chris sudah menjadi dia yang biasanya. "Lo lupa kunci pintu…”
Rory sadar, dia nggak melakukannya semalam. Dia cuma tersenyum simpul saat duduk di sofanya sambil menguap sementara Chris berdiri di depannya. “Ada apa sih?," ia bertanya dengan suara seraknya.
“Di rumah sedang gawat," kata Chris. "Mama sama Papa berantem
“Lagi?," Rory seakan nggak terpengaruh, itu sudah biasa terjadi.
“Kali ini bener-bener gawat," kata Chris. "Papa selingkuh, Ror!”
Rory hanya menghembuskan nafas panjang, dia berdiri kembali. "Sama siapa?," tanya Rory terdengar acuh.
“Gue nggak tahu," Chris kelihatan bingung namun ia merasa sikap Rory terlalu santai. “Semalaman Mama nangis, gue nggak tega lihatnya”
Rory diam saja. Dia malah memeriksa setiap saku celana jeans-nya seperti mencari-cari sesuatu, -rokok. Begitu dia menemukannya, dia menyulutnya dan menghisapnya dengan santai seperti dia menghembuskan kepulan asap dari hidung dan mulutnya. Rory memang nggak peduli.
“Lo gimana sih?," protes Chris.
“Kita nggak bisa ngapa-ngapain, Chris," kata Rory padanya, meyakinkan, bahwa mereka sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah orang tua mereka. “Lo hibur Mama deh sana. Itu  lebih baik daripada ngangisin Papa”
Chris jadi nggak mengerti. “Mama juga Mama lo, Ror," katanya.
“Ya gue tahu kok," suara Rory merendah. Dia sedang berpikir dan kata-kata Chris hanya akan membuatnya bertambah pusing. “Gue udah tahu kalau dari dulu Papa memang gitu. Nggak perlu disesali, dia memang nggak peduli sama Mama apa lagi kita. Jadi sekarang, lo urusin Mama aja”
“Ya udah deh," Chris berkata sebelum dia meninggalkan rumah Rory dan menutup pintunya.
--- 
Rory masuk, dengan sebuah tas belanjaan di tangannya dan tangannya yang satu lagi memegang rokok. Dia menghampiri Natha yang baru saja menerima balasan SMS dari adiknya dan dia tampak agak gelisah. Rory menaruh barang-barang itu di dekatnya. “Ini buat kamu," katanya.
Natha mendongak untuk mengintip ke dalam tas dan dia tahu kalau itu isinya baju. Bukan baju warna putih polos, pastinya. Dan Natha bersyukur itu bukan warna ungu seperti yang dipakai Hilda si menyebalkan. Natha mengernyit, kapan dia membelinya?
“Harusnya aku kasih ini kemarin, tapi begitu sampai rumah kamu udah nggak ada," jelas Rory, yang menganggap ini sebagai permintaan maaf atas pertengkaran kecil mereka kemarin. Rory menarik nafasnya karena hidung yang tersumbat membuatnya geli. Dia  masih flu berat. “Pakai ya?”
“Aku nggak punya baju ganti…," Natha menegaskan dia pasti memakainya.
Rory tertangkap basah sedang tersenyum kepadanya ketika Natha mengeluarkan isi tasnya. Lalu Rory menunduk, malu sendiri. Dia menghisap rokoknya lagi dan membuat kepulan asap di depan wajahnya. Natha mengipas wajahnya dengan tatapan merengut. Dia nggak suka bau asap itu. Rory hanya lupa, sesaat kemudian ia membuka jendela di belakangnya dan membuang rokoknya keluar. Ia kembali mendekati Natha seakan belum puas memeluknya dan ia melakukannya lagi.
Hari ini akan terasa panjang. Atau Rory nggak mempercayai akan adanya hari ini seperti mimpi. Jadi dia benar-benar berusaha meresapi hawanya, mengingat ini baik-baik sebagai kebahagiaan terbesar dalam hidupnya yang nggak pernah istimewa. Dagunya berada di atas pundak Natha yang membelai kepala belakangnya dengan lembut. Mereka seperti sepasang merpati yang sedang jatuh cinta di bawah cahaya matahari. Tanpa kata-kata dan hanya isyarat bahwa mereka saling membutuhkan untuk bisa bahagia.  Nggak  memerlukan syarat untuk bisa saling mengisi.

Terlalu mudah untuk terbawa suasana. Hanya berdua. Tapi,...
Alunan melodi dalam kepala mereka, kembali terganggu oleh suara senapan mesin yang dilontarkan berkali-kali dari handphone Rory! Itu bunyi yang paling jelek yang pernah Natha dengar!
Rory kesal, mengutuk siapa yang telah menghancurkan saat-saat terpentingnya.
Rupanya Erris. “Halo?," ia menjawab telponnya sementara tubuhnya bertahan dengan siku tangan kirinya. “Iya, udah…hah?...gue nggak masuk hari ini…ada kerjaan juga beberapa masalah lain…lo lagi ada masalah?...terus?...ya udah deh, nanti lagi…gue lagi sibuk…sialan lo!...apa sih ikut campur urusan gue!..iya iya, nanti deh…”
“Baru dengar ada percakapan kayak gitu," celetuk Natha yang berbaring di bawah dada-nya, dia tersenyum.
“Masa bodoh…," kata Rory melempar ponselnya ke samping Natha dan dia kembali mendekat untuk melanjutkan romansa yang berulang kali terganggu.
Tapi, Natha malah beringsut ke atas. "Mungkin nggak sekarang, Mr. Stalker…," ucapnya sambil bangkit dan segera berlari ke kamar mandi. Dia menoleh sebentar sebelum menutup pintu dan melempar senyuman manis pada Rory.
Rory meninju kasur dan menjatuhkan dirinya dengan perasaan gusar. Gagal lagi!, gerutunya.
--- 
Erris membelokan Honda Jazz-nya ke kiri saat ia merasa nggak yakin akan mengambil jalan lurus karena lampu merah di jalan ini bisa sangat lama. Dia menguap dan berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Dia sedang memikirkan satu tempat tujuan dan pada saat-saat seperti inibiasanya dia pergi ke tempat Rory atau Damar. Tapi, sekarang mereka sedang menikmati pagi indah mereka dan dia nggak mungkin datang untuk mengganggu.
Pagi ini terasa sangat hambar. Dia mengenakan kemeja hitam dan jeans-nya, sama seperti kemarin dan artinya dia nggak pulang ke rumah. Dan sekarang mata sipitnya mengantuk dan ingin tidur. Namun, dia nggak ingin pulang. Karena di rumah pun juga nggak ada siapa-siapa.
Pikirannya melayang ke masa-masa terang yang ia miliki ketika remaja. Dia pergi ke sana dari semalam, namun belum kembali sampai pagi ini. Erris enggan kembali ke masa sekarang, karena saat itu terlalu indah baginya untuk dilupakan, meski terlarang untuk diingat lagi. Uki seperti cahaya lilin kecil yang menerangi dunianya yang gelap. Ia masih mengingatnya dengan jelas. Langkahnya yang riang dan suara merdunya yang khas, dia menyihir ratusan pasang mata pada masa orientasi di hari pertama.
Mereka sering bertemu. Di perpustakaan, saat Uki mengerjakan tugas Bahasa Indonesia-nya dan tubuhnya yang pendek nggak bisa meraih buku yang diinginkannya. Erris nggak membantunya dan membiarkannya berusaha sendiri. Saat ujung jarinya menyentuh punggung buku, Uki tampak senang, dia meloncat dan berhasil memegang bukunya tapi buku itu terlepas dari genggaman dan terlalu lucu saat mengingat bagian ini. Bayangkan kamus Bahasa Indonesia yang tebal dan bersampul keras itu menimpa kepalanya.
Erris menyesal nggak menolongnya. Karena Uki hampir menangis menahan sakit dan dahi di balik poni ratanya memerah. Dia baru menghampirinya dan Uki tergagap melihatnya. Merasa malu sendiri dan sejak itu dia jatuh cinta. Tapi, Erris punya tiga serigala di belakangnya dan selalu disibukan oleh kelakuan mereka.
Erris tersenyum pada jalanan sebelum terpental ke depan, secara tiba-tiba. Dia refleks mengerem saat melihat seseorang melintas di depannya dan ia masih melaju. Orang itu terlihat jatuh di depan mobilnya.
Ya Tuhan!, Erris panik. Dia segera turun dari mobilnya dan menghadapi kenyataan bahwa dia baru saja menabrak orang sampai terluka! Seorang perempuan lagi, gerutunya bertambah cemas saat menghampirinya.
“Maaf, aku nggak sengaja…," ucap Erris padanya.
Perempuan itu menoleh kepadanya sambil meringis, kakinya tergores oleh plat mobil dan berdarah. Erris terpana padanya bukan karena dia sangat cantik, tapi mengingatkannya pada seseorang.
--- 
 “Dia kerja di konsultan pajak…," jelas Natha saat mereka melintasi trotoar jalan raya untuk pergi ke gedung yang ada di seberang jalan. Hotel tempat Henrietta –adik Natha, menginap.
Rory memegang tangannya sejak mereka turun dari motor. Ia mengikuti langkah Natha yang cepat memasuki lobi hotel dan dia berhenti di meja resepsionis untuk bertanya di mana restoran-nya.
Mereka mengambil jalan lurus, melewati pintu kaca besar dan berbelok ke kanan pada lorong-lorong mewah dengan ornament klasik pada dindingnya. Hanya sekitar lima meter, mereka menemukan meja-meja prasmanan yang tertata rapi di tengah-tengah ruangan. Orang-orang menyebar di setiap meja untuk mengambil sarapan pagi mereka.
Natha mulai mencari-cari sosok adik perempuannya di antara tamu-tamu hotel yang lain, tanpa melepaskan genggaman Rory. Lalu berhasil menemukannya tengah duduk di salah satu meja yang berada di luar ruangan. Dia sedang mengobrol dengan seseorang.
“Puji Tuhan, Renatha, kamu keluar juga dari baju mengerikan itu…," ia menyapa Natha yang menghampirinya dengan terengah-engah dan terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Natha memakai setelan kaos dan celana jeans. Ekpresinya bercampur antara ketakutan dan….terkejut melihat Henrietta sedang bersama siapa. "Erris?," mulutnya menganga.
“Hai," Erris menyapa Rory yang juga terpana melihatnya.
Henrietta menyuruh mereka duduk, dan dia sama sekali jauh dari gambaran yang diberikan Natha pada Rory. Dia ramah dan murah senyum. Suaranya lembut dan kata-katanya sangat teratur. Bahasa Indonesia-nya lebih fasih dari Natha dan dia lawan bicara yang sangat menyenangkan. Rambut Henrietta nggak terlalu panjang, lurus dan berwarna keemasan, kulitnya agak gelap. Dia juga berkaca-mata seperti Erris. 
Grissham bersaudara ini nggak terlalu mirip. Mereka seperti duo Cathy Sharon dan Jullie Estelle. Sulit untuk menentukan mana yang lebih cantik. Keduanya sama-sama menawan, memiliki aura yang berbeda. Renatha dengan sentuhan alami dan down to earth sedangkan Henrietta adalah cewek modern dengan kesan smart.
Mereka mengobrol dengan wajar. Soal liburan dan beberapa perbedaan tinggal di Indonesia dan Jerman berdasarkan pengalaman Henrietta yang ternyata sering bolak-balik ke sini dan punya banyak teman di Jakarta. Henrietta juga sangat humoris dan berkali-kali membuat Natha, Rory, dan Erris tertawa.
“Ini pertama kalinya aku diserempet mobil sampai luka, ," ia berkelakar, melirik Erris di sampingnya, lalu Natha dan Rory.
--- 
“Well, dia nggak lebih menyakinkan dari si ‘Mama Boy’, tapi… aku dengar dia sangat bereputasi sebagai perjaka terbaik," akhirnya Henretta berkomentar soal Rory. ‘mama boy’ adalah julukan Henrietta untuk Kevin. Dia sudah tahu semua yang belum sempat dijelaskan Natha dari Erris.
Bukannya bermaksud nggak baik. Natha bersyukur hari ini Erris menyerempetnya. Jika dia nggak bertemu Erris lebih dulu, maka Natha akan bingung memulainya dari mana. Dan mereka menyambung seperti sudah kenal selama bertahun-tahun. Natha tengah berkutat dengan pikirannya sendiri, saat merasa aneh adiknya mungkin tertarik pada Erris.
Dia mengurutkan semua kejadian dari awal. Dulu Erris dengan Uki, si penjaga supermarket. Mereka putus, gantian Rory yang mengejar-ngejar dia. Lalu adik Rory ikut-ikutan. Rory berhubungan dengannya sekarang, dan apakah Erris dan Henrietta juga begitu nanti?
Natha terlalu tidak menyukai Erris untuk banyak alasan. Dia pernah menjadi musuh dalam selimut, dia terlalu mencampuri urusan pribadi temannya dan itu mulai mengganggu Natha saat dia mengusirnya dari rumah Rory. Tercatat dalam ingatannya, mereka pernah berdebat dua  kali. Ini sudah merupakan suatu bencana, dan mengetahui sifat Henrietta hampir mirip dengan Erris, ini akan menjadi ‘double disaster’.
Henrietta nggak pernah kekurangan teman kencan. Dia bisa memilih siapapun yang dia mau, karena dia lebih dari sekedar menarik. Tapi, Erris nggak termasuk tipenya. Natha mulai memusingkan hal ini, saat adiknya nggak merasa sakit kakinya sekarang terluka. Dia berbaring di ranjangnya dengan pikiran menjulang ke langit-langit. Sudah bisa ditebak apa yang sedang dia pikirkan.
“Mereka masih punya dua lagi biang masalah," kata Natha padanya, mengingatkan. Cukup dirinya yang berhubungan dengan geng perokok dan peminum ulung itu.
Henrietta tersenyum padanya, penuh arti. Dia selalu yakin masalah adalah tantangan yang harus dia taklukan.
Sialan, Natha hanya bisa menggerutu.

ooOoo
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

5 comments

    • avatar Midnight says:

      Sabar....ngomong2 aku maunya dipanggil Uni karena aku orang Padang...heheheheh...hahahha

        • avatar lee imahminsun says:

          ok...makasih uni... akhirnya masalah penolakan uki ke rory terkuak juga aku berhrap rory mau mencoba melupakan uki, Udah G sabar menunggu hubungan rory dan natha, tapi... ko kadang ketemu nama rory jadi reno ya...??? di bab "sebelumnya jg kdang terselip nama reno hehe.... lanjutttt uni ^^~