๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jalanan padat merayap, pemandangan biasa dari halte bus, di mana berbagai macam orang berdiri menunggu bus tujuan. Deru mesin dan klakson mobil bersahutan seperti musik tanpa melodi. Udara dan cuaca panas nggak bersahabat. Beberapa waktu lalu hujan sempat mengguyur dan banjir di mana-mana. Kita yang tinggal di sini jadi nggak punya pilihan yang lebih bagus. Musim kering atau musim hujan, mereka membawa bencananya masing-masing.
Tapi, bagi Uki, Rory juga termasuk bencana kecil dalam hidupnya beberapa tahun ini. Meski nggak pernah terluka karenanya, Rory seperti global warming, perlahan tapi pasti. Namun, saat ini dia orang yang sangat memperhatikannya. Yang datang saat dibutuhkan dan pergi saat Uki sedang mau sendiri. Karena itulah ini bisa bertahan sangat lama.
Trouble is Rory, istilah itu sudah lama ada sejak mereka masih berusia belasan. Rory tampak nggak punya kekurangan, dia gagah, berbadan tegap dan atletis dengan tinggi 176 cm. Kulit kuning langsat, rambut lurus dengan model short spike dan sekarang dicat pirang gelap. Dia mudah marah dan terpancing, nekat juga berani. Dia nggak pernah terlihat tanpa jaket kulit dan sepatu kets, seperti identitas yang sama pentingnya dengan KTP dan SIM.
“Apa kamu bikin masalah lagi?," Uki mempertanyakan menghilanganya Rory selama seminggu, tepatnya sebelum Rory bilang padanya mereka akan bertemu setelah Uki pulang kerja.
Setelah itu Rory hanya sesekali menghubunginya.
“Ah, nggak kok," kata Rory. Ia duduk di samping Uki, tanpa maksud tertentu. Dia hanya tahu, minggu ini Uki dapat shift pagi jadi bisa pulang jam dua. Harusnya mereka merencanakan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi, yang mereka lakukan cuma nongkrong di halte bus yang reyot dengan atap bolong di mana-mana dan tempat duduk yang sudah nggak nyaman lagi.
“Setiap kamu bilang nggak artinya iya, beritanya keluar di TV ," Uki mengingatkannya karena suatu pagi-pagi teman serumahnya memberitahu bahwa Rory berkelahi di klub malam sampai berurusan sama polisi. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baru baginya selama 7 tahun mengenal Rory.
Rory cuma cengengesan. "Aku pikir, kamu nggak nonton," kilahnya.
Uki tertawa pelan. Dia manis saat sedang tertawa. Rambut pendeknya yang berponi rata, tertiup angin berdebu saat panas makin menyengat kulit. Uki lebih terlihat seperti gadis berumur 18 tahun daripada 23 tahun. Tubuhnya hanya 158 cm, dan berkulit gelap. Uki mempunyai sepasang mata besar yang hitam dan sayu. Pakaian dan dandanannya pun sederhana.
“Kita pergi yuk," ajak Rory sambil mengulurkan tangannya setelah ia berdiri.
Uki tampak malu-malu padanya, tapi ia juga jengah, pada saat ini.
“Ke mana?," tanya Uki.
“Yah, ke mana aja," jawab Rory.
Uki berdiri tanpa meraih tangan Rory, dia akan mengatakan sesuatu yang penting. "Udahlah, Rory…," ujarnya. "Aku nggak bisa boncengan naik motor sama kamu lagi”
---
“Anak SMP juga tahu kalau itu namanya ditolak," kata Damar cekikikan, saat mereka menghabiskan siang duduk di lantai paling atas gedung kampus. Membolos satu mata kuliah sementara Erris dengan serius belajar satu setengah jam ke depan. “Udah bertahun-tahun, begok masih aja dipelihara.”
Damar Prasetyo adalah seorang cowok berbadan besar –agak gendut dan sedikit gila. Kulitnya putih dengan rambut hitam legam dan agak gondrong. Saat ini, si Gorila –julukan Damar, kuliah di jurusan hukum dan hampir di setiap semester selalu mengulang.
Rory menggeleng saat memandang layar handphone-nya. Dia nggak mendengarkan Damar dan sibuk sendiri, membalas sebuah pesan.
“Ada yang baru?," tanya Damar lagi, ikut tersenyum, merasakan Rory masih bisa gembira padahal ia baru saja selesai berurusan dengan polisi karena berkelahi lagi dan ditolak Uki entah untuk yang ke berapa kalinya.
“Pastinya...," jawab Rory, sumringah, membayangkan pertemuannya nanti dengan cewek yang marah-marah dalam SMS yang barusan ia terima.
“Apa dia mirip Uki?," tanya Damar, mengejek, dan ia terlalu mahir membuat suasana hati Rory menjadi keruh kembali.
“Sama sekali nggak mirip Uki," jawabnya.
Rory menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang sisanya ke bawah, dan memperhatikan benda kecil berasap itu jatuh di bawah kakinya. Dan nggak terlihat lagi untuk beberapa saat kemudian. Ia meniupkan asap keluar dari hidung dan mulutnya sambil menghadap langit cerah.
Damar terlihat penasaran.
---
Komentar
0 comments